Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Ranger Pink Berubah


__ADS_3

Semua murid sudah mengganti seragam olahraga mereka, dan hanya tinggal menunggu bel istirahat berbunyi. Blair sudah duduk manis di bangkunya, sedang melamun dengan tangan yang menopang dagunya.


Dan tak lama berselang, suara nyaring bel istirahat pun berbunyi. Murid-murid pun berhamburan keluar kelas, mulai memadati lorong-lorong. Ada yang duduk-duduk di taman sekedar mengobrol santai dengan teman. Ada yang lebih memilih tetap di kelas saja mengistirahatkan kepalanya yang panas karena pelajaran. Ada juga yang langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya, merasa lapar setelah gila-gilaan menyiksa otak mereka untuk belajar.


Blair adalah satu siswa yang tidak terbiasa beristirahat keluar kelas, karena dia tidak ingin di kerumuni oleh para fansnya di saat senggangnya waktu istirahat. Ada kalanya artis pun ingin memiliki waktu sendiri.


Dylan yang baru saja kembali itu pun masuk ke dalam kelas dan mendapati Blair sedang sendirian di dalam. Dengan tatapan mata kosong dan dagu yang di sangga.


" Hm ? " Alisnya bertaut penasaran. Dia berjalan mendekat.


" Kau tidak istirahat ? " Tanya Dylan seraya menarik kursinya dari arah belakang dan kemudian menyusup masuk dan duduk.


" Hemm " Hanya itu yang keluar dari mulut Blair. Dylan yang tidak pernah paham dengan apa isi kepala Blair hanya bisa mengedikkan bahunya, acuh. Otaknya yang terbiasa pintar dan seakan bisa membaca pikiran orang itupun di buat tak berdaya menghadapi Blair. Dia tidak bisa memprediksi apa isi kepala Blair di karenakan sifat polosnya yang luar biasa wow menurut Dylan.


Dylan mengambil tasnya yang tergantung di samping meja dan membuka resletingnya.


Ah uang saku dari kakak.


Batinnya saat melihat amplop coklat tebal di dalamnya. Dia lalu melirik Blair, teringat akan saran kakaknya yang menyuruhnya mengajak Blair pergi makan sebagai bentuk permintaan maafnya. Dia menimbang sesaat, berapa persen kemungkinan Blair akan menerima ajakannya atau tidak.


" Haaah... " Terdengar helaan napas panjang dari Blair yang sedang melamun tersebut.


Dylan mengernyitkan keningnya, penasaran lagi.


" Kenapa ? " Tanyanya.


" Tidak " Jawab Blair malas.


" Kau sakit ? " Tanya Dylan lagi.


" Tidak " Jawab Blair masih dengan nada malas.


" Lapar ? " Kejar Dylan.


" Tidak " Menghela napas panjang lagi.


" Ngantuk ? " Masih saja Dylan memberondongnya dengan pertanyaan tak penting.


" Tidak " Tak berubah sedikitpun.


" Bisa katakan hal lain selain tidak ? " Asal Dylan.


" Ya " Blair yang sedang tidak konsentrasi itu pun mengganti jawabannya. Dylan yang melihat tingkat konsentrasi Blair sedang rendah berniat menggodanya.


" Mules ? " Tanyanya dengan jahil.


" Ya " Tanpa sadar Blair pun mengiyakan pertanyaan Dylan.


" Hahahahah... " Gelak tawa Dylan membahana di seluruh penjuru kelas yang sepi, yang hanya di isi olehnya dan Blair.


" Apa ? " Blair terhenyak oleh suara tawa keras Dylan, dia menatapnya dengan wajah bingung.


" Kau ini lucu sekali sih " Dylan mengusak kepala Blair tanpa sadar sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa.


" Ish !! " Blair menepis tangan Dylan dengan keras, bukan karena tidak suka Dylan melakukan hal itu padanya, tapi kesal karena Dylan selalu saja menggodanya.


" Maaf maaf " Dylan mengatupkan kedua tangannya meminta maaf masih dengan suara tawanya yang nyaring.


Merasa kesal Blair pun hanya mendelik kepada Dylan, lalu membenamkan wajahnya di atas meja dengan bertumpu pada kedua tangannya.


" Jangan marah begitu dong " Dylan menyenggol lengan Blair, menghentikan tawanya.


" Aku minta maaf ya " Lanjutnya dengan suara lembut favorite Blair.


Aargh !! Jangan pakai suara itu, nanti aku kena serangan jantung lagi.


Teriak batinnya meleleh mendengar permintaan maaf Dylan, dia hampir saja mengangkat wajahnya untuk memaafkan Dylan. Namun buru-buru di tahannya saat bayangan Dylan sedang bersama Raline, yang sebenarnya adalah Ruby, saat dulu berkencan di mall itu kembali terputar di otaknya. Rasa kesalnya kembali muncul, lalu di imbuhi dengan bayangan yang baru saja di lihat di depan matanya, Dylan tersenyum manis kepada seorang wanita dewasa yang memberikannya sebotol minuman dingin, menambah kadar kekesalannya. Dan juga pernyataan Dera tentang bagaimana status hubungan Dylan dan Dera yang sudah memasuki tahap pendekatan seakan menjadi ekstra sambal pedas di atas makanan yang membuatnya merasa sakit perut.


Playboy memang beda, seperti ada modus-modusnya.


Batin Blair kesal, mempertahankan posisinya saat ini.


" Ya sudah kalau kau masih ingin seperti ini, aku akan membiarkan mu sendiri dulu. Jangan lama-lama ya marahnya " Ucap Dylan lembut lalu berdiri akan pergi berganti seragam.


Blair yang mendengar suara decitan bangku tertarik itu pun mendadak semakin kesal, dia tidak suka playboy semacam Dylan dekat-dekat dengannya, tapi dia juga tidak mau Dylan pergi darinya. Hatinya bergejolak, berdebat menimbang sikap apa yang akan di ambilnya, membiarkan dirinya berada di zona bahaya namun mendebarkan atau membiarkan dirinya berada di zona aman namun hampa ? Pilihan yang sulit untuk di ambil.


" Aku lapar " Pada akhirnya Blair membiarkan dirinya berada di zona berbahaya namun mampu membuatnya berdebar-debar daripada harus berada di zona aman namun hidupnya tidak memiliki genre yang jelas. Dia siap dengan segala resiko yang akan dia terima bila berada di dekat-dekat playboy cap palu seperti Dylan, versi pemikiran Blair.


" Hm ? " Dylan yang sudah ada di depan lokernya hendak membuka pintu loker itupun terhenti saat mendengar ucapan Blair, dia berbalik menatap Blair yang masih membenamkan wajahnya di atas meja.


" Kau apa ? " Tanya Dylan memastikan pendengarannya.


" Aku lapar " Ulang Blair lalu mengangkat kepalanya, menegakkan punggungnya dan berbalik menatap Dylan.


Setidaknya ambil keuntungan dari playboy cap palu ini.

__ADS_1


Begitu Blair membenarkan tindakannya saat ini.


" Ok Baiklah " Jawab Dylan mengangguk-angguk paham, lalu kembali berbalik badan dan membuka lokernya.


" Aku bilang aku lapar " Suara Blair semakin tegas. Ajak aku makan.


Dylan menghela napas sejenak, lalu kembali menatap Blair.


" Iya iya Neng " Jawabnya lembut.


" Aku akan berganti seragam dulu lalu kita pergi ke kantin untuk makan, ok " Lanjutnya sabar. Menghadapi Oneng memang harus memiliki hati seluas bajaj bajuri, dan itu yang sedang di lakukan Dylan saat ini.


Jleb !!! Satu serangan mendadak dari bom kemanisan tingkat tinggi itu pun di jatuhkan di zona berbahaya dalam hati Blair, membuatnya hancur porak poranda luluh lantak. Blair sudah tidak bisa menguasai hatinya lagi, berdegub kencang sekaligus berdenyut nyeri pada saat bersamaan. Dia meraba dadanya lalu meringis menahan perasaan aneh yang menggelitik dadanya.


Aku sedang bunuh diri, aku bunuh diri dengan cara paling menyakitkan di muka bumi ini, IKUT MELESTARIKAN JODOH SEMPURNA ORANG LAIN. Ya Tuhan kalau nanti dia tidak jadi berjodoh dengan Raline, maka masukkan aku dalam urutan pertama jodohnya, jangan yang lain.


Teriak batin Blair penuh harap.


" Aku ganti baju dulu " Pamit Dylan kepada Blair yang masih sibuk dengan sederet panjang doa lainnya yang dia panjatkan dalam hati. Dan sentuhan bom terakhir dari Dylan adalah dia sekali lagi mengusak lembut kepala Blair sebelum akhirnya benar-benar pergi keluar dari kelas.


Jadi teman tapi mesra pun aku rela.


Luluh sudah pertahanan diri Blair mendapati serangan bertubi-tubi penuh kemanisan yang di lancarkan oleh Dylan. Dia tidak ingin menjadi seseorang yang merebut kekasih orang lain, itu bukan perbuatan yang baik, tapi jika hanya menjadi teman tapi mesra yang ikut menikmati perhatian Dylan rasanya dia tidak terlalu berdosa dan merasa bersalah. Kalaupun berdosa dia siap menanggung dosa termanis yang tersaji di hadapannya saat ini.


Dengan perasaan yang tak karuan dia pun menunggu dengan sabar Dylan yang sedang berganti baju di toilet.


5 menit...


10 menit....


15 menit...


20 menit....


Dylan tak kunjung kembali, rasa antusias Blair perlahan memudar berganti dengan kekecewaan. Dia menatap jam dinding besar di atas papan tulis.


Belum melakukan dosa sudah mendapatkan karmanya.


Batinnya getir, seulas senyum penuh ironi tersungging di bibirnya. Dylan membodohinya, begitu pikir Blair. Hingga jam istirahat hampir berakhir Dylan tak juga kembali.


Perasaan Blair terhadap Dylan seperti menara pasir, di bangun indah lalu tersapu ombak, lalu kembali di bangun indah dan tersapu ombak lagi, begitu seterusnya. Ya memang, ini lah zona berbahaya yang di pilih Blair, membangun istana pasir yang rapuh di tepi pantai, jadi dia harus siap kapan pun istana indahnya di sapu ombak.


Dengan gontai dia berdiri, ingin pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya yang sudah pasti terlihat suntuk, tidak ada gairah dan motivasi untuk tersenyum.


" Tapi Dylan... " Sebuah suara yang merengek itu terdengar samar-samar di telinga Blair.


Blair berhenti, bukan suara rengekannya yang membuatnya berhenti, tapi nama Dylan yang di sebut yang membuat kakinya tidak bisa di gerakkan.


Dengan hati yang berdenyut nyeri Blair mencari asal suara itu. Dia berjalan perlahan mengendap-endap.


Di depan sebuah ruangan kosong Blair melihat Dylan dan Dera sedang berdiri berhadapan, mengobrol.


Apa ?!?!


Blair mendelik kesal melihat Dylan yang sedang asyik berduaan di sini dan melupakan janji manisnya.


Jadi dia sedang enak-enakan tebar pesona di sini dan membiarkan ku menunggu di kelas sendirian !!


Makinya kesal, kemarahannya sudah tak terbendung lagi. Dia benar-benar kesal dan darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.


" Ayolah... ya ? ya ? " Rengek Dera lagi, Blair yang akan menjauh pergi itu pun tertahan, merasa penasaran apa yang di bicarakan oleh kedua orang itu.


" Maaf aku tidak bisa " Suara Dylan terdengan putus asa bercampur jengah, bisa di rasakan oleh keonengan Blair sepertinya Dylan sudah menolak Dera berkali-kali, entah menolak untuk alasan apa.


" Memangnya kau ada rencana apa ? " Suara Dera terdengar sedih saat menerima jawaban dari Dylan.


" Entah, aku sendiri juga belum yakin dengan rencanaku " Jawan Dylan asal.


" Hah ? " Dera mengerutkan keningnya. Jadi dia menolak untuk jalan-jalan dengan ku demi sebuah rencana yang belum yakin ?


" Sudah belum ? " Tanya Dylan gelisah, dia bolak balik melihat jam tangannya, sungkan karena membiarkan Blair menunggunya terlalu lama.


" Belum " Saut Dera cepat, dia tidak ingin sedikit pun menyia-nyiakan momen kedekatannya dengan Dylan, tidak walau hanya untuk memalingkan wajah sekalipun.


" Apa lagi ? " Tanya Dylan sedikit menggeram, kesabarannya seakan sudah mencapai ambang batas. Namun Dera seperti tidak peka terhadap sikap Dylan yang sudah terlihat jengah. Dan Dylan sendiri tidak ingin lagi berkata kasar terhadap perempuan setelah mendengar nasehat dari Kiran selepas pelajaran olahraga tadi.


Ruangan Kiran yang memang tidak jauh dari lapangan indoor itu pun membuat Kiran mampu melihat anak-anak yang sedang berolahraga, dan adegan antara Dylan juga Blair yang layaknya sebuah syuting drama romantis itu pun tak luput dari pengamatan Kiran.


Dia kemudian membelikan Dylan minuman dingin sebagai alasan agar bisa mengobrol dengannya sebentar nanti.


" Kalau memang kau tidak suka pada Dera, jangan memberinya harapan, tapi juga jangan terlalu kasar menolaknya. Aku hanya ingin kau tau, bahwa terkadang ada manusia yang tidak bisa menerima penolakan secara terang-terangan, itu akan mengguncang mental mereka dan bisa berujung pada tindakan nekat " Nasehat


Kiran.


Dia kemudian mengambil contoh dari orang-orang di sekitar keluarga mereka, bagaimana dulu Lucas nekat menculik Ruby hanya karena cintanya di tolak. Lalu ada Ignes yang menggila hanya karena tidak bisa mendapatkan Rai, dan yang terparah adalah Ganung, paman sekaligus ayah tiri Dylan yang telah merubah hidup mereka berdua kedalam kegelapan. Menggiring mereka ke tebing kehancuran. Semua itu bermula dari sebuah perasaan tak terbalas yang bernama cinta, dan berujung menjadi cinta buta.

__ADS_1


" Kapan kau bisa kalau begitu ? " Kejar Dera lagi, masih berusaha.


" Aku tidak tau " Dylan mengedikkan bahunya malas. Dia menengok jam tangannya lagi. Lalu berdecak tidak sabaran.


" Kalau begitu nanti malam saat kau tidak jadi pergi dengan siapapun itu, kau harus menghubungi ku ya " Rengek Dera setengah memaksa, bukan setengah lagi tapi 3/4 memaksa.


" Aku tetap tidak bisa janji " Saut Dylan tegas.


" Dan aku tetap akan menunggu kabar dari mu sampai kau menghubungi ku " Pungkas Dera tak ingin kalah. Dia harus menang, terkadang pendekatan perlu sedikit pemaksaan sebagai awalnya. Dan dia yakin dia mampu membuat Dylan akhirnya jatuh hati kepadanya.


" Iya nanti ku hubungi lagi " Dylan mengalah, pembicaraan ini tidak akan berujung jika tidak segera di akhiri. Dia harus segera kembali ke kelas menemui Blair yang pasti sudah menunggunya.


" Janji ya " Dera berjingkrak girang.


" Iya ayo cepat balik " Ajaknya buru-buru. Dylan lalu segera pergi dari sana.


Blair yang melihat mereka sudah mengakhiri pembicaraannya itu pun segera pergi dari sana, berlari ke sembarang arah yang penting dia tidak ketahuan sedang menguping.


Brugh !! Karena terlalu terburu-buru Blair menabrak seseorang hingga jatuh.


" Aduh " Rintihnya lirih meringis melihat sikunya yang memerah lecet.


" Blair maafkan aku ya " Seru Andromeda lalu berlutut membantu Blair berdiri.


Cih ! Kenapa harus dia sih.


Rutuk Blair malas.


Jatuhnya Blair memancing keributan di lorong, semua murid sedang mengerumuni Blair saat ini.


" Apa itu ? " Gumam Dera melihat kerumunan murid-murid.


" Blair yang jatuh "


" Dia baik-baik saja ? "


" Sepertinya berdarah " Percakapan beberapa orang yang ada di sekitar Dylan membuatnya terhenyak.


Mendengar nama Blair dan kata berdarah membuat Dylan seketika itu juga panik. Dengan cepat dia membelah kerumunan murid-murid, merangsek maju ingin melihat kondisi Blair.


Di hadapannya saat ini terlihat Blair yang sedang meringis kesakitan meniup-niup sikunya yang merah lecet. Di sampingnya ada Andromeda yang berusaha ikut meniupnya.


Bagai sebuah pom bensin yang di sulut api, tubuh Dylan menegang karena marah. Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan raut wajahnya mengeras. Marah melihat kejadian di hadapannya saat ini.


" Kenapa Blair ? " Tanya Dera setelah berhasil sampai di samping Dylan.


Namun Dylan tak menjawabnya, dia maju ke depan menghampiri Blair. Tanpa permisi langsung meraih tangannya.


" Hah ?!? " Blair berjengit kaget, dia menoleh ke samping. Dylan sudah berdiri di sebelahnya dengan wajah penuh kemarahan.


Lalu detik berikutnya dia sudah menarik Blair, membawanya pergi dari sana.


" Hei !! " Teriak Andromeda kesal.


Dylan mengabaikannya dan terus saja berjalan. Blair yang bingung itu pun hanya bisa mengikuti langkah Dylan.


" Hei anak haram " Teriak Andromeda untuk yang kedua kalinya.


Mendengar makian Andromeda Dylan pun menghentikan langkahnya. Menghela napas panjang, berusaha meraup oksigen mencari kesabaran menghadapi Andromeda.


Saat ini otaknya tidak bisa berpikir jernih, yang dia pikirkan hanya bagaimana caranya menghancurkan Andromeda, bahkan jika harus secara curang menggunakan kekuasaan ayahnya.


" Jaga bicara mu " Hanya itu yang bisa Dylan ucapkan. Lalu kembali menghela napas.


" Kenapa ? " Seringai Andromeda sinis, dengan tatapan mengejek dia membusungkan dadanya.


" Anak haram " Ulangnya dengan nada mengejek yang kental.


Habis sudah stok kesabaran Dylan, dia melepaskan tangan Blair lalu dengan gerakan cepat berlari menerjang Andromeda, menghadiahinya dengan bogem mentah tepat dihidungnya.


Andromeda yang tidak siap dengan serangan mendadak itu pun jatuh tersungkur, kesempatan itu di manfaatkan oleh Dylan untuk mencengkeram kerah baju Andromeda.


" Panggil ke sini ayahmu yang katanya berkuasa itu, lalu lihat siapa yang akan di belanya " Bisik Dylan lirih di telinga Andromeda.


" Aku yakin dia akan dengan senang hati mematahkan tangan mu jika aku memintanya " Lanjutnya dengan nada penuh ancaman. Terdengar menyeramkan jika di ucapkan oleh Dylan yang anak seorang pembunuh itu, setidaknya begitulah yang di rasakan Andromeda.


Dengan tatapan tajam penuh kemarahan Dylan menatap Andromeda tepat di matanya, lalu menyentakkan dengan keras tubuh Andromeda. Kemudian bangkit dan kembali menghampiri Blair, membawanya pergi dari sana.


Semua murid yang melihat kemarahan Dylan itu pun memberikan jalan lewat baginya, mereka semua bergidik takut ketika Dylan melintas. Tak terbayangkan jika Dylan akan menggila lalu berbuat seperti ayahnya, jadi mereka tidak ingin mencari masalah dengannya.


Sementara itu dari jauh, Ken yang melihat kejadian itu hanya tersenyum lalu mengambil ponselnya.


" Dia sudah jadi seorang Loyard sejati, baru saja dia bermain baseball dan home run " Lapornya kepada Rai melalui sambungan telepon.


" Akhirnya ranger pink sudah berubah " Jawab Rai tersenyum miring mendengar laporan Ken.

__ADS_1


__ADS_2