
Blair sedang mematut wajahnya di cermin saku yang dia bawa, mengamati setiap sudut wajahnya. Seperti biasa, wajahnya cantik, mulus tanpa keriput. Namun hal itu rasa-rasanya masih belum cukup untuk Blair.
Rupanya dia bukan mencari letak kesalahan atau keanehan di wajahnya, dia mencari tanda-tanda bekas ciuman Dylan semalam. Berulang kali dia menggerakkan bibirnya, monyong ke depan, tersenyum lebar, miring kesamping, tapi tetap saja bibirnya terlihat normal.
" Aku tidak mungkin mimpi kan ? Itu sungguh Dylan atau bukan ya ? " Gumamnya. Lalu dia segera menutup mulutnya dengan tangan dan mengeluarkan napasnya lewat mulut.
" Tidak bau alkohol, jadi aku tidak mabuk kan ? " Gumamnya lagi, menyangkal ucapan pembantunya yang mengatakan bahwa dia pulang dalam keadaan sempoyongan semalam.
Sekali lagi dia meraba bibirnya, mencari setiap perubahan kecil sebagai pertanda bahwa kejadian ciuman semalam yang di lakukan oleh Dylan memang kenyataan dan bukan mimpi atau sekedar delusinya dalam keadaan mabuk.
Namun di cari sampai bagaimanapun tanda-tanda ciuman Dylan tidak juga ada.
" Nona Blair kita sudah sampai " Suara Manager Yo membuat Blair terhenyak kaget, sejak kapan mereka sudah berhenti di depan gerbang sekolah.
Dia mengintip melalui kaca jendela, melirik ke kanan dan ke kiri. Mendadak jantungnya berdegub sangat kencang.
Aku belum siap-siap, bagaimana aku bertemu Dylan nanti ? Pasti canggung sekali, apalagi aku juga belum yakin semalam itu cuma mimpi atau bukan. Aish !! Bagaimana ini ?
Rengek batinnya bingung sendiri.
Manager Yo yang melihat tingkah aneh Blair pun cuma bisa menggelengkan kepala dan menghela napas.
" Bagaimana penampilan ku hari ini ? " Tanya Blair mencondongkan wajahnya ke arah kursi pengemudi.
" Wajah anda cantik seperti biasanya, dan jangan lupa jaga image anda " Jawab Manager Yo datar.
Mendengar hal itu Blair pun memincingkan matanya kesal, tidak membantu sama sekali, begitu pikir Blair.
Merasa sudah tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di dalam mobil, dia pun memutuskan untuk keluar.
Jatuh cinta sungguh aneh, Blair yang biasanya santai dan percaya diri itu pun berjalan dengan canggung. Matanya awas melihat sekeliling, mencari keberadaan Dylan. Dia ingin melihat apakah Dylan segugup dan secanggung dirinya juga.
Tapi sepanjang perjalanan menuju kelasnya dia sama sekali tak berpapasan dengan Dylan, dia melihat jam di tangannya, masih jam setengah tujuh pagi dan dia berangkat cukup pagi untuk ukuran dirinya, tidak seperti biasanya.
Tentu saja dia berangkat terlalu pagi, bagaimana tidak, semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya hingga akhirnya dia bersiap-siap berangkat sekolah satu jam lebih awal.
Jatuh cinta memang aneh. Begitu kiranya yang Blair rasakan saat ini.
Blair sudah duduk di bangkunya, murid-murid yang lain pun sudah tidak terlalu seheboh seperti hari pertama kedatangan Blair. Mungkin karena mereka telah terbiasa dengan adanya seorang artis di lingkungan sekolah mereka, atau juga mereka telah puas mendapatkan foto juga tanda tangan Blair. Yang jelas suasana sudah normal layaknya Blair seorang murid pada umumnya.
Dengan gelisah Blair menunggu kedatangan Dylan, dia berusaha mengusir rasa jenuhnya dengan menghentak-hentakkan kakinya dan terus mengawasi pintu masuk.
Satu, dua .... begitulah dia menghabiskan waktunya. Menghitung setiap murid yang masuk ke kelasnya.
Hingga akhirnya pucuk di cinta ulam pun tiba. Dylan datang.
Blair membenahi posisi duduknya, otot-otot di perutnya mendadak langsung menegang dan serasa mengaduk-aduk. Dadanya juga berdebar sangat cepat.
Dia berusaha mengatur napasnya yang tiba-tiba saja seperti kehilangan iramanya.
" Pa-pagi " Sapa Blair tergagap saat Dylan menarik kursi di sebelahnya dan duduk.
" Pagi " Jawab Dylan santai, senormal biasanya.
Hati Blair mendadak pias, dia menatap Dylan yang terlihat biasa saja. Bersikap layaknya tidak terjadi sesuatu di antara mereka berdua.
Dylan sendiri sedang mengeluarkan buku pelajarannnya dan kemudian membacanya.
Apa-apaan ? Kenapa dia seperti itu ?
Batin Blair bingung. Dirinya sudah setengah mati berusaha tenang tapi tidak bisa, sedangkan Dylan dengan mudahnya bersikap biasa.
" Ba-bagaimana pagi mu ? " Tanya Blair membuka mulutnya.
Tidak mungkin dia bisa setenang itu, dia pasti juga sama gugupnya dengan ku.
Batin Blair yakin.
" Baik " Jawab Dylan masih dengan santainya.
" Kalau malam mu ? " Blair mengerutkan keningnya tidak percaya Dylan masih saja senormal biasanya.
" Hm ? " Sekarang ganti Dylan yang mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Blair. Dia memincingkan matanya bertanya maksud ucapan Blair.
" Maksudku tidurmu. Apa tidurmu semalam nyenyak ? " Ralat Blair dengan cepat. Nadanya menuntut jawaban dengan sedikit kesal.
" Ya nyenyak " Jawab Dylan singkat lalu tersungging senyuman bingung di sudut bibirnya kemudian menggelengkan kepalanya samar-samar.
Ha ? Nyenyak dia bilang ? Astaga ! Aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak lebih dari 5 menit tapi dia dengan santainya bilang kalau tidurnya nyenyak ?!?
Batin Blair mulai kesal sendiri. Dia merasa hanya dirinya yang terlalu bersemangat tentang hubungan mereka berdua. Dan itu sedikit membuat hatinya berdenyut nyeri.
" Senang mendengarnya " Jawab Blair ketus lalu membating tas yang sedari tadi di pangkunya ke atas meja. Cukup keras hingga membuat beberapa murid yang ada di sekitarnya terhenyak kaget.
Mereka menatap Blair dan Dylan bergantian, lalu memilih mengabaikannya.
Bisa Blair dengar sebagian dari mereka berbisik bahwa hal normal jika seseorang kesal saat berada dekat dengan Dylan. Justru akan sangat tidak normal jika merasa baik-baik saja.
" Kasihan Blair " Suara iba dari seberang bangkunya itu terdengar cukup keras.
Namun Blair memilih mengabaikannya dan mengeluarkan buku pelajarannya juga. Dengan sedikit sentakan keras dia membuka bukunya.
Hal itu pun tidak luput dari lirikan mata Dylan, dia menghela napas panjang tanpa suara. Mengira Blair mengalami pagi yang buruk dengan siapapun itu selain dirinya, jadi dia memutuskan membiarkan Blair memiliki sedikit privasi.
Hah ? Dia bahkan tidak bertanya kenapa aku kesal !! Apa begini yang namanya pacaran ?!? Ughh !! Menyebalkan !!
Dengan kasar Blair terus saja membolak balik halaman bukunya.
Hingga bel masuk pun berbunyi membuat Blair terpaksa memutuskan kekesalannya dan menyimpannya sendiri.
__ADS_1
Dua jam pelajaran terlewat sudah, detik-detik yang mengerikan. Setidaknya begitulah yang tergambar di wajah para siswa saat kembali menatap papan tulis. Disana masih terlihat coretan coretan tangan guru kimia dalam menjelaskan pelajarannya.
Alkaline, molekul atom, dan istilah-istilah asing yang tentunya membuat otak berpikir keras.
Tapi semua itu tergantikan dengan jam istirahat. Dan mereka langsung menutup buku-bukunya lalu mengemasnya dengan sangat cepat agar bisa segera keluar dan menghirup udara segar.
Namun tidak bagi Blair, ini adalah kesempatannya untuk bertanya pada Dylan kenapa dia bisa begitu tenang dan santai, berbanding terbalik dengannya yang terus saja salah tingkah dan gugup.
" Bagaimana akhir pekan mu Blair ? " Suara riang Merry terdengar setengah berteriak saat membalikkan badannya menghadap Blair.
Ugh !!!
Batin Blair menggeram, tidak tepat waktu, begitu pikirnya.
Jika pada suasana biasa, Blair akan sangat bersemangat menceritakan pengalamannya bekerja menjadi model di akhir pekan, karena memang itulah cita-citanya. Tapi tidak saat ini, saat dia merasa membutuhkan waktu berduaan saja dengan Dylan untuk membahas masalah hati.
" Ya. Menyenangkan. Seperti biasa " Jawab Blair singkat-singkat. Seolah memberikan sinyal " Tolong beri aku privasi " kepada Bella dan Merry yang sudah sepenuhnya menghadapkan tubuh mereka ke arah Blair.
Namun kedua anak itu terlalu tidak peka untuk menangkap sinyal yang Blair berikan. Mereka malah semakin asyik menceritakan pengalaman akhir pekan mereka.
Blair yang harus menjaga imagenya tetap ramah dan sopan itu pun mau tidak mau terpaksa mendengarkan mereka berdua yang terus saja mengoceh.
Sesekali dia mengangguk atau tertawa bila di rasa perlu, sebagai bukti bahwa dia mendengarkan.
" Fix dia itu cuma main-main dengan mu " Suara Merry tiba-tiba meninggi dengan kesal.
" Benarkan Blair ? " Lanjutnya dengan serius.
" Eh ? Oh... Ya tentu saja " Jawab Blair gelagapan tapi dengan nada mantap meyakinkan, karena dia tidak menyimak apa yang Bella ceritakan barusan. Dia terlalu sibuk melirik Dylan yang masih saja santai membaca buku di sampingnya.
" Apa menurutmu begitu ? " Tanya Bella dengan sedih sembari menatap Blair dengan lekat, meminta dukungan.
Sial, ini tentang apa, tadi tentang piknik, lalu spagheti, terus apa lagi ya...
Batin Blair bingung tapi tetap saja dia menunjukkan raut wajah teguhnya, yakin dengan jawabannya dan kembali memberikan anggukan.
" Nah kan " Seru Merry bersemangat karena mendapat dukungan dari Blair.
" Di lihat darimana pun dia itu seorang penggoda, Blair saja berpendapat begitu " Saut Merry dengan cepat yang membuat Blair terpaksa ikut mengangguk mengiyakan pendapat Merry.
Bella langsung terlihat sedih dan menundukkan wajahnya, sementara Blair menghela napas panjang tanpa suara.
Huuuhh... selamat, kalau tidak bisa-bisa aku di sebut tidak sopan karena mengabaikan ceritanya, sebaiknya aku iya iya saja deh dan sependapat dengan Merry.
Batin Blair lega, lalu mengedikkan bahunya serta menggelengkan kepalanya dan memutuskan kembali serius menanggapi cerita teman-temannya.
" Lihat Blair saja merasa jijik dengannya " Ucap Merry sembari menepuk pundak Bella yang sedang tertunduk lesu.
Bella langsung mengangkat kepalanya dan menatap Blair dengan tajam seolah menunggu keputusan.
" Ya itu lumayan menjijikkan " Jawab Blair salah tingkah, padahal dia sendiri tidak tau apa yang sedang di bahas.
Ini tentang apa sih ? Jijik ? Mungkin makanannya, minumannya, atau tempat pikniknya.
Batin Blair menimbang-nimbang.
" Makanya apa ku bilang, harusnya kau waspada dengan cowok model begitu " Suara Merry mulai melembut dan mengusap punggung Bella.
Lah ? Cowok ?
Blair langsung membelalakkan matanya ke arah Bella. Oh tidak ! Dia berharap tidak melakukan kesalahan.
" Tapi aku tidak bisa, kau tidak tau sih dia seperti apa ? Pesonannya, ketampanannya dan sikapnya yang manis membuatku mati gaya " Rengek Bella setelah membuka kedua tangannya.
" Tunggu dulu " Sela Blair memberanikan diri.
" Kau... " Ucapnya ragu-ragu.
" Iya iya aku tau aku terlihat aneh, tapi mau bagaimana lagi. Saat dia mendekat dan menunjukkan tanda-tanda kalau dia ingin mencium ku, aku membeku seperti patung, tidak bisa bergerak " Jawab Bella lesu, namun raut wajahnya berbeda, dia terlihat memerah dan malu-malu.
" Tapi tetap saja mana bisa kau berciuman dengan cowok yang bahkan bukan siapa-siapa mu " Jawab Merry ketus.
Blair yang mulai sedikit paham itupun kembali mendengarkan dengan seksama.
" Tapi ku rasa dia juga menyukai ku " Sanggah Bella dengan yakin.
" Apa dia sudah menembak mu ? " Tanya Merry kesal.
" Belum " Geleng Bella lemas.
" Lalu tau darimana kalau dia juga menyukaimu ? " Kejar Merry sinis.
" Dari sikap manisnya " Jawab Bella lirih.
" Kau yang terlalu baper, bisa saja dia juga bersikap manis kepada siapapun " Ketus Merry.
" Tunggu dulu " interupsi Blair lagi.
" Bisa jelaskan dari awal lagi, aku sedikit tidak paham " Ucapnya ragu-ragu.
Merry menghela napas panjang dan melirik Bella dengan kesal lalu memutar bola matanya kemudian dengan serius menghadap Blair.
" Jadi begini, Bella ini sedang dekat dengan seorang laki-laki dan dia menyukainya. Dia merasa laki-laki itu juga menyukainya karena bersikap manis padanya jadi dia membiarkan cowok itu menciumnya meskipun dia belum menembaknya " Cerita Merry dengan singkat.
" Ka-kau di cium ? " Pekik Blair sembari menutup mulutnya.
Otak Neng oneng baru saja terconnect.
" Iya dan bahkan cowok itu belum menembaknya " Imbuh Merry menambahkan.
__ADS_1
" Belum di tembak ? " Pekik Blair lagi, membuat Bella semakin malu sekaligus sedih.
" Kacau kan ? " Ejek Merry dengan kesal.
" Kacau sekali " Gumam Blair sembari mengangguk pelan.
Kalau itu sih lebih dari kacau.
Imbuh batin Blair.
" Nah lihat kan " Merry menjentikkan jarinya merasa menang.
" Kalau aku salah mana mungkin Blair mendukungku " Lanjutnya percaya diri.
" Tapi menurutku dia juga menyukai ku " Bella kembali menyanggah, namun dengan sedih.
" Dari tadi kau terus mengatakan hal itu, memangnya darimana kau tau kalau dia menyukai mu ? " Tantang Merry keras kepala.
" Ish kau ini, susah memang kalau kau tidak merasakan sendiri rasanya berada di posisi ku " Cibir Bella kesal.
" Tetap saja kalau aku jadi kau, aku tidak akan segampangan itu jadi cewek " Balas Merry mencibir Bella.
" Cewek gampangan ?!? " Pekik Bella meninggikan suaranya.
" Ya tanya saja pada Blair " Jawab Merry ikut meninggikan suaranya.
" Benar kan Blair, kalau kau belum di tembak seorang cowok apa kau mau di cium olehnya ? " Tanya Merry.
Blair pun menggeleng dengan yakin.
Yang benar saja, mana mau aku di cium tanpa di tembak lebih dulu.
Batin Blair jijik.
" Tapi kan... " Sanggah Bella kesal.
" Semua itu ada urutannya nona muda. Pertama dia menyukai mu, lalu menembak mu baru kemudian boleh mencium mu " Potong Merry dengan cepat dan di sambut anggukan mantap dari Blair.
Semua pembahasan tentang ciuman itu membuat ingatan Blair tentang semalam kembali melintas di pikirannya. Dia yakin seratus persen kalau Dylan memang menciumnya, tapi bagaimana bisa Dylan tetap begitu santainya saat bersebelahan dengan Blair saat ini ? Pertanyaan itu terus saja berulang-ulang di kepalanya.
Dengan cepat Blair menggelengkan kepalanya, mengusir semua pertanyaan itu. Dia akan menyimpannya dan menanyakannya nanti saat situasinya sudah tepat. Sekarang dia harus fokus mendengarkan perdebatan kecil dari kedua teman yang ada di hadapannya.
" Memangnya dia pernah mengatakan " aku menyukai mu " atau " aku suka padamu " begitu ? " Suara Merry kembali tertangkap indera pendengaran Blair yang sudah aktif.
" Tidak juga sih " Jawab Bella ragu-ragu.
Ok si cowok belum pernah mengatakan dia menyukai Bella.
Blair menyimpulkan dalam hati, takut kalau-kalau dia harus kembali di todong jawaban.
" Dia pernah bilang " ayo kita pacaran " atau " ayo kita berkencan"" ? " Kejar Merry lagi.
Namun Bella tidak menjawab tapi malah menggeleng lemas.
Ok dia bahkan tidak mengajak Bella berpacaran.
Blair langsung bergidik.
" Nah lalu kenapa dia mencium mu ? Itu tandanya dia memang cuma main-main dengan mu, dia cuma menggoda mu " Sekali lagi Merry merasa menang.
Dan Blair pun menyetujui hipotesa yang di buat Merry kalau cowok yang sedang dekat dengan Bella adalah cowok penggoda.
Eh tapi tunggu dulu...
Batin Blair seperti teringat sesuatu. Entah kenapa dia merasa kisah itu tidak asing baginya. Tapi buru-buru dia segera menggelengkan kepalanya, menyangkal bahwa cerita Bella mirip dengan kisahnya saat ini.
Dylan kan sudah...
Batinnya riang, namun detik berikutnya wajahnya berubah pias. Dia mengingat-ingat lagi semua pembicaraannya dengan Dylan. Tidak ada satupun kata-kata Dylan yang juga menyatakan kalau dia menyukainya atau mengajaknya pacaran atau kencan.
Tidak mungkin, tidak mungkin.
Blair semakin panik, lalu tanpa sadar tangannya sudah menggebrak meja yang ada di hadapannya. Membuat Bella dan Merry yang masih berdebat itupun terlonjak kaget.
" Ada apa Blair ? " Tanya Bella bingung.
" Memangnya apa salahnya kalau di cium bahkan sebelum di tembak ? " Kata-kata itu mendadak meluncur dari bibirnya bahkan sebelum dia sempat menyaringnya.
Merry dan Bella memandang Blair dengan bingung. Rasa-rasanya beberapa menit yang lalu Blair mendukung Merry dan setuju bahwa tindakan Bella tidak benar, di cium tanpa di tembak, tapi sekarang mendadak Blair malah berbalik 180 derajat ganti mendukung Bella.
" Iya benar, apa salahnya ? " Bella yang merasa mendapatkan suntikan dukungan itupun kembali melawan Merry.
" Bisa saja kan kalau cowok itu memang benar menyukainya " Ucap Blair dengan yakin, dia juga berusaha melawan logika anehnya yang mengatakan Dylan tidak mungkin mempermainkannya.
" Tapi kan memang begitu seharusnya, kalau cowok itu menyukaimu dia harus menembakmu dulu baru bisa mencium mu. Masa belum pacaran dia sudah main cium saja " Jawab Merry tak mau kalah.
Blair dan Bella sama-sama terdiam, omongan Merry seratus persen benar, tidak bisa di ganggu gugat sama sekali. Hanya saja Blair tidak bisa menerimanya.
" Pfft.. " Tiba-tiba saja Dylan kelepasan tawanya karena mendengarkan perdebatan mereka semua.
Blair yang memang sudah memendam kekesalannya pada Dylan pun langsung menoleh dan menatapnya dengan sengit.
" Kenapa kau tertawa ? Apa kau juga meremehkan ku karena aku senasib dengan Bella ? " Teriak Blair penuh emosi.
Bella dan Merry semakin bingung. Senasib ? Memangnya Blair di cium siapa ? Batin mereka bertanya-tanya sendiri.
Tapi belum sempat mereka membuka suara Blair sudah berdiri dan pergi meninggalkan mereka.
Dylan hanya bisa menghela napas panjang. Inilah melelahkannya berkencan, hal-hal sepele saja bisa memicu pertengkaran.
__ADS_1