
" Sejak kapan ? " Tanya Ruby langsung pada pokok permasalahan.
" Sejak pertama kali ayah anda di pindahkan kemari, saya selaku dokter yang di tunjuk langsung oleh Tuan Rai sudah memberitahukannya bahwa kemungkinan untuk ayah anda terbangun hanya di bawah 50 persen, tapi tuan Rai bersikeras ingin agar ayah anda tetap hidup " Jelas Dokter Noh gelisah, di tatap oleh Ruby yang notabene adalah " wanita tidak pernah salah " dan juga " Dia adalah bos " maka selesai sudah hidupnya jika sampai dia melakukan kesalahan.
" Jadi dari awal dia tau ? " Ulang Ruby semakin merendahkan suaranya dan mencengkeram erat tangannya, sampai buku-buku jarinya terlihat memutih.
" Minum dulu nyonya " Dengan tangan yang gemetaran Dokter Noh mengulurkan sebotol air mineral yang telah di siapkan oleh perawat. Dokter Noh berusaha meredakan kemarahan Ruby dan juga mengalihkan pembicaraan.
" Terima kasih " Dengan sinis Ruby meraih botol yang terulur kepadanya, membukanya dengan gerakan kasar hingga menimbulkan suara kemeretak tutup botol yang segelnya terlepas.
Glek !! Dokter Noh lagi-lagi menelan ludahnya, usahanya sia-sia, Ruby seperti semakin terlihat mengintimidasi dengan kuatnya.
" Lanjut " Perintah Ruby dingin.
" Tuan Rai sudah mencoba mencari donor jantung untuk ayah anda, tapi karena memang kondisi ayah anda tidak memungkinkan untuk melakukan transplantasi jantung, kami selaku dokter harus menundanya. Kami tidak punya pilihan nyonya, jika bukan ayah anda yang meninggal maka kami yang akan meninggal " Ucap Dokter Noh ketakutan.
" Maksudnya ? " Ruby mengernyitkan keningnya bingung.
" Tuan Rai mengancam, jika operasi transplantasi ayah anda gagal, dan ayah anda meninggal, maka kami semua juga akan ikut... " Dokter Noh tidak mampu melanjutkan kalimatnya dan bergidik ngeri sendiri mengingat ancaman Rai kala itu. Lalu dengan gemetaran, tangan dokter Noh membuat gerakan menyayat lehernya.
" Haaah... " Ruby menghela napas jengah. Selalu saja mengancam, begitu pikirnya.
" Lalu ? " Lanjut Ruby lagi.
" Para dokter yang akan mengoperasi ayah anda langsung saja mundur pelan-pelan karena takut dengan ancaman tuan Rai, kami para dokter bukan tukang sulap yang jika sudah memulai pekerjaan hanya bilang jadi apa.... "
Prok, prok, prok !!! Dokter Noh mengakhiri penjelasannya dengan tepukan tangan sebanyak 3 kali.
" Lalu taraa.... semua kembali normal " Lanjutnya masih dengan gemetaran.
Ruby yang mendengar penjelasan dokter Noh semakin jengah dan memutar kepalanya. Disaat genting seperti ini kenapa Dokter Noh bahkan menjelaskannya dengan cara seperti itu.
" Lalu apa maksud pesan yang anda kirimkan untuk Rai, kalau keluarga pendonor ingin meminta uang 3 miliyar ? " Tanya Ruby mulai kesal.
" Ada seorang pasien yang kebetulan juga sedang mengalami koma, dan keluarganya sudah menyerah, lalu berniat mendonorkan seluruh organ pasien kepada yang membutuhkan, dan saya melakukan tes ternyata jantung pasien tersebut cocok dengan jantung ayah anda, jadi saya berbicara kepada keluarga pasien, dan mereka bilang meminta imbalan 3 miliyar " Jawabnya takut-takut.
" Hei !!! " Ruby yang sudah meminum habis air di dalam botol itu meremas botol kosongnya hingga tak berbentuk lagi.
" Itu namanya mereka menjual organ tubuh keluarganya, bagaimana bisa mereka melakukan itu ? " Teriak Ruby marah.
" Saya tidak tau nyonya, saya hanya menyampaikan keinginan keluarga pendonor " Jawab Dokter Noh semakin mengkerut ketakutan di kursinya.
" Lalu bagaimana dengan mu ? " Tanya Ruby lagi setelah berhasil menguasai emosinya.
" Maksud anda ? " Tanyanya bingung.
" Bagaimana menurut anda masalah ini, apakah akan berhasil jika ayahku di operasi ? " Tanya Ruby kesal.
" Maafkan kami nyonya, kami tidak bisa memberikan kepastian " Jawab Dokter Noh semakin takut, kembali teringat oleh ancaman Rai.
" Perlu ku beri tahukan pada anda, ayahku sudah mengucapkan salam perpisahan padaku, dia bilang dia sudah bahagia bersama ibu ku, jadi apa aku harus melakukan operasi itu ? Bagaimana tanggapanmu sebagai dokter ? " Tanya Ruby lagi.
" Kita bisa mencobanya meskipun hasilnya mungkin tidak akan sesuai dengan harapan " Jawab Dokter Noh ragu-ragu.
Melihat hal itu Ruby merasa sudah mendapatkan jawabannya. Meskipun ayahnya di operasi, maka tetap saja ayahnya tidak akan bangun lagi. Sakit memang tapi setidaknya Ruby tau yang sebenarnya, jadi dia hanya perlu menyiapkan hatinya lebih besar lagi sebelum merelakan kepergian ayahnya.
" Baiklah, saya sudah mendapatkan jawabannya, saya permisi dulu " Ucap Ruby sopan dan kemudian bangkit berdiri.
" Tunggu dulu nyonya " Cegah Dokter Noh ragu-ragu.
" Ada apa ? " Tanya Ruby bingung.
__ADS_1
" Jawaban yang anda maksud ? " Tanyanya ketakutan.
" Sudahlah, aku akan menjamin kau dan keluargamu aman, tidak akan terjadi apa-apa " Jawab Ruby.
" Darimana anda tau bahwa ayah anda sudah mengucapkan salam perpisahan pada anda ? " Tanya Dokter Noh penasaran.
" Kau lupa ya ? " Ucap Ruby malas.
" Mak lampir menjadi seperti itu saat di khianati pasangannya, aku bisa mendadak melihat hantu saat tau anda dan Rai membohongi ku " Jawab Ruby sinis, menyindir Dokter Noh. Lalu pergi meninggalkan ruangan perawat dan membiarkan dokter Noh kebingungan sendiri.
Jadi sekarang istri tuan Rai menjadi dukun begitu ?
Batin Dokter Noh takut.
" Dokter Noh " Suara perawat yang sudah berdiri di samping dokter Noh membuatnya berjingkat kaget dan mundur selangkah.
" Kau mengagetkan saja " Omelnya kesal.
" Anda melamun " Jawab Perawat itu cemberut.
" Hei aku mau tanya padamu " Ucap Dokter Noh serius.
" Hm ? " Perawat itu mengernyitkan keningnya dan memiringkan kepalanya, menyimak dokter Noh dengan serius.
" Apa benar mak lampir itu perwujudan dari wanita yang di khianati pasangannya ? " Tanyanya serius.
Perawat yang mendengar pertanyaan aneh Dokter Noh langsung menegakkan punggungnya dan menatap dokter Noh dengan bingung.
" Mak lampir itu bukannya seorang istri yang sudah terlalu lama menikah ya ? " Perawat itu balik bertanya pada Dokter Noh.
" Apa ? " Tanya Dokter Noh semakin bingung.
" Kenapa kau bisa bilang begitu ? " Tanyanya lagi.
" Apa ?!? " Pekik Dokter Noh terkejut.
" Waktu itu saat jaga malam, saya tidak sengaja melihat ponsel anda berbunyi, dan ada nama mak lampir yang menelepon, saya kira itu mak lampir sungguhan, tapi ternyata itu istri anda, karena saat anda mengangkatnya anda langsung bilang hallo sayang, begitu " Jelasnya dengan wajah polos lalu pergi meninggalkan dokter Noh yang semakin pucat pasi.
Ternyata benar, istri tuan Rai sekarang menjadi dukun, mana mungkin dia tiba-tiba membahas mak lampir dan istri ku saat membicarakan kondisi kesehatan ayahnya. Bukankah itu tidak berhubungan ?
Dokter Noh semakin bergidik ngeri dan menggosok lengannya serta tengkuknya yang meremang.
Sementara itu di tempat lain, istri dokter Noh yang sedang asyik melakukan perawatan kecantikan di salon bersama geng sosialitanya tiba-tiba merasakan hal aneh.
" Hachi... hachi... hachi.... " Dia bersin-bersin dan hidungnya terasa gatal.
" Aish, kenapa hidungku mendadak gatal ya ? " Gumamnya sendiri.
" Kenapa Jeng ? Apa kau flu ? " Tanya teman-temannya yang lain yang juga sedang asyik melakukan pedicure menicure.
" Tidak, tapi kenapa perasaan ku tidak enak ya, sepertinya ada yang sedang membicarakan aku " Jawabnya ragu-ragu.
" Aku akan menghubungi suami ku dulu ya " Sautnya pada teman-teman sosialitanya dan kemudian beralih pergi menjauh.
Ruby yang kembali merasakan kesedihan berjalan ke atap rumah sakit, dia ingin sendirian untuk menenangkan pikirannya.
Atap rumah sakit telah mengalami banyak perbaikan sejak Rai tau bahwa itu tempat bersejarah mereka, saat dia berjanji akan menikahi Ruby di masa kecil.
Rai menambahkan gazebo dengan tirai putih yang cantik dan juga bunga-bunga, layaknya itu adalah sebuah pelaminan. Dia juga meletakkan banyak kursi santai yang di payungi dengan payung-payung lebar ala pantai.
Ruby duduk disalah satu kursi santai yang ada disana, jarang ada yang pergi ke atap rumah sakit, jadi Ruby bisa menangis dengan puas disana tanpa takut orang lain tau.
__ADS_1
Dia kembali menumpahkan air matanya mengingat penjelasan dokter Noh, kondisi ayahnya yang sebenarnya telah mati otak dan tidak mungkin bangun lagi.
Jika selama ini Ruby mengira bahwa ayahnya masih hidup, itu hanya karena serangkaian alat bantu yang memanipulasi kondisinya, membuat jantungnya seolah-olah masih berdenyut, dan dada yang masih terlihat bernapas, serta suhu tubuh yang masih hangat, padahal kenyataannya ayahnya telah lama pergi. Jika semua alat penopang hidup ayahnya di cabut, maka secara nyata ayahnya akan di nyatakan meninggal.
" Cih " Ruby berdecak sinis di antara tangisnya.
" Pantas saja kau mengancam akan mencabut alat-alat di tubuh ayahku, rupanya kau sudah tau kalau ayahku sudah pergi " Gumamnya ironis.
Namun suara langkah seseorang membuyarkan pikiran Ruby, dia segera berlari masuk ke dalam gazebo dan bersembunyi di balik tirainya.
" Aah... " Teriak seorang di luar sana.
" Lelahnya " Keluhnya.
" Iya kau benar, aku jaga malam semalam, dan aku ingin pulang untuk tidur, aku mengantuk sekali " Ucap yang lainnya.
Ruby yang sedang bersembunyi mau tidak mau ikut mendengarkan semua keluhan mereka.
" Kau tau pasien koma di lantai dasar ? " Suara perawat pertama.
" Kenapa ? " Tanya perawat ke dua.
" Dia berencana mendonorkan seluruh organ tubuh keluarganya, tapi meminta imbalan " Jawab perawat pertama.
" Oh ya ? " Pekik perawat ke dua.
" Ya dan kau tau lagi, menurut kabarnya, jantungnya akan di berikan kepada pasien koma di lantai khusus yang kabarnya adalah mertua tuan Rai " Lanjut perawat pertama.
" Sungguh ? " Pekik perawat kedua semakin keras.
" Iya, saat dia tau bahwa yang akan menerima donor jantung itu adalah mertua tuan Rai, dia meminta imbalan 3 miliyar, bukankah itu gila ? " Jelas perawat pertama.
" 3 miliyar ? Wuah sebanyak apa nol nya ? " Seru perawat kedua.
" Eh tapi bukankah pasien koma di ruang khusus itu sebenarnya sudah mati otak ? " Tanyanya bingung.
" Iya ayah mertua tuan Rai sudah mati otak, jadi percuma saja melakukan transplantasi jantung, tidak akan berguna " Jawab perawat pertama.
" Haah... akan buang-buang uang dong kalau tetap menjalankan operasinya ? " Saut perawat ke dua.
" Iya benar-benar mubadzir, uang 3 miliyar untuk pasien yang sudah mati " Jawab perawat pertama.
" Beruntung ya wanita yang di nikahi tuan Rai, uang 3 miliyar seperti bukan masalah untuknya " Oceh perawat kedua iri.
" Beruntung apanya, dari gosip yang ku dengar, wanita itu memang sengaja menjual dirinya untuk pengobatan ayahnya, tapi aku rasa itu hanya tipu muslihatnya saja untuk menggaet tuan Rai " Cibir perawat pertama sinis.
" Kenapa kau bisa bilang begitu ? " tanya Perawat ke dua heran.
" Benar kan ? Pertama dia menjual tubuhnya untuk di nikahi tuan Rai beralasan demi kesembuhan ayahnya, tapi sekarang ayahnya tidak sembuh dan malah mati, tapi wanita itu tidak pergi dari hidup tuan Rai, tidak meminta cerai, itu karena dia hanya menggunakan ayahnya sebagai tameng, sebagai alasan. Tujuan sebenarnya dia ingin memiliki kekuasaan dan kekayaan dalam waktu singkat " Lanjutnya lagi semakin bergosip.
" Hei jangan keras-keras, aku dengar tadi istrinya ada di rumah sakit ini " Perawat kedua memukul pelan lengan lawan bicaranya.
" Dia tidak mungkin ke atas sini, paling-paling dia sedang menikmati pelayanan spesial di ruang perawatan ayahnya, dasar nenek sihir, merebut tuan Rai dengan licik " Omelnya kesal.
" Kau benar juga, padahal dia tidak cantik, badannya juga tidak seksi, malah terlihat gendut, tapi kenapa tuan Rai mau dengannya ya " Perawat kedua pun ikut menjelek-jelekkan Ruby.
" Karena apa lagi jika bukan karena kasihan, mungkin tuan Rai berpikir sedang melakukan amal " Mereka berdua pun lalu terkekeh bersama-sama.
Ruby yang mendengar dengan jelas semua percakapan kedua perawat itu hanya mampu menahan amarahnya, bukan hal yang baru dirinya di hujat disana sini, tapi mendengarnya langsung begitu tetap saja membuat meradang. Dia mengintip dari balik tirai untuk melihat wajah kedua perawat yang asyik bergosip itu.
Kalian tidak tau apa yang ku alami selama ini tapi seenaknya saja menilai ku seperti itu.
__ADS_1
Batin Ruby sedih sekaligus kesal.