
Rai menghentikan laju mobilnya di depan sebuah gedung tua yang masih terlihat terawat. Gedung yang di sebut markas itu adalah tempat yang biasa di gunakan untuk eksekusi tawanan klan Loyard.
Gedung itu di kelilingi tembok setinggi 3 meter yang membuatnya tak terlihat dari jangkauan mata. Dan di setiap sudut gedung di kelilingi oleh penjaga bersenjata.
Melihat mobil tuannya berhenti, seorang penjaga berlari tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu mobil. Rai segera meloncat keluar begitu pintu mobil di buka.
" Bagaimana dia ? " Tanya nya dingin kepada penjaga.
" Sedang bersama Huan, tuan " Jawabnya seraya menundukkan kepala.
Rai langsung menghambur masuk untuk melihat keadaan di dalam. Seorang gadis sedang duduk terikat di sebuah kursi kayu. Wajahnya terlihat berantakan.
" Katakan mereka membawa Ruby kemana ? " Teriak Rai begitu menghampiri Ignes.
" Aku tidak tau Rai, sungguh " Tangisnya.
" Bukankah kau lihat sendiri di cctv saat kejadian penculikan aku sedang sibuk menyelamatkan diri? " Lanjutnya masih di sela tangisnya.
" Kau pikir aku sebodoh itu, hah ?!?! " Rai mencengkram dagunya.
" Asal kau tau, mungkin selama ini aku selalu bersikap acuh kepadamu, itu hanya karena aku tidak ingin mengotori tanganku dengan memukul seorang wanita, aku menghargai wanita karena memandang ibu ku. Tapi berbeda dengannya " Rai menunjuk Huan dengan wajahnya. Laki-laki bertubuh kekar mengerikan yang sedang berdiri di belakang Rai itu menyeringai kejam.
" Dia tidak peduli siapapun lawannya, siapapun targetnya, begitu ku perintahkan, dia akan melenyapkannya tak bersisa " Ancam Rai lirih tepat di depan wajah Ignes.
Wajahnya yang ketakutan semakin pucat mendengar ancaman Rai.
" Aku benar-benar tidak tau Rai, sungguh, aku mohon lepaskan aku " Ignes memohon dengan sangat memelas.
" Katakan dimana Ruby sekarang ?!? " Teriak Rai mengulangi pertanyaannya.
" Aku tidak berbohong, aku benar-benar tidak tau Rai " Balas Ignes juga dengan teriakan putus asa.
" Terserah kau saja " Rai mundur menjauh.
" Huan lakukan " Perintahnya dingin kepada Huan yang sedari tadi sudah bersiaga di belakang Rai.
Dia kemudian menampilkan seringai kejam di bibirnya, dan membuat gerakan meregangkan tulang jari dan lehernya yang menimbulkan bunyi seperti tulang patah.
" Harusnya anda bersikap manis saat Big Bos sedang bertanya baik-baik pada anda nona ? " Huan memberikan pendapatnya dengan suara serak berat yang menakutkan.
Dia lalu berjalan menuju sebuah tumpukan drum besar, mengangkatnya mendekat ke arah Ignes.
__ADS_1
" Apa yang akan kau lakukan ? " Tanya nya panik melihat Huan yang semakin mendekat.
Tapi Huan tidak menghiraukan kepanikan Ignes dan semakin mendekat. Kemudian berhenti di jarak 1 meter dari Ignes untuk meletakkan drum tersebut.
" Kami akan membuat pesta barbeque " Jawab Huan santai.
Lalu dia menumpahkan isi drum yang langsung tercium bau menyengat khas bahan bakar kendaraan bermotor. Membuat lingkaran dengan bensin di sekeliling Ignes yang tengah meronta berusaha melepaskan diri.
" Rai tidak aku mohon jangan seperti ini, tidak Rai !!!! " Teriakan Ignes menggema di seluruh ruangan yang kosong.
Huan yang masih dengan seringai mengerikan kembali ke sisi Rai, dia mengambil seputung rokok dari sakunya. Menyalakannya dengan pemantik korek api bergambar naga di kedua sisinya.
" Aisshh apa kau tidak bisa membaca ? Bukankah pemerintah sudah melarangmu merokok, itu akan membuatmu impoten. Kau tau impoten ? Itu tidak akan cocok dengan tubuh kekarmu, kau akan jadi kucing berbulu singa " Cibir Rai santai.
" Apa maksud anda domba berbulu serigala tuan ? " Huan terkekeh membenarkan perumpaan milik Rai.
" Terserah kau saja " Rai mengibaskan tangannya di udara.
" Buang rokok mu " Perintah Rai dingin.
" Siap laksanakan Tuan " Huan kembali terkekeh mendapat perintah dari Rai, dan dia kemudian menyentil jauh rokoknya yang masih menyala ke arah Ignes.
" Hei hei hei, aku menyuruhmu membuang rokok bukan malah menyalakan api " nada bicara Rai seperti kesal yang di buat-buat.
Ignes yang mendengar percakapan mereka hanya bisa semakin mengeraskan suara jeritan dan tangisannya.
" Baiklah Rai aku akan mengatakannya padamu, aku mohon padamkan apinya terlebih dahulu " Pintanya dengan terbatuk-batuk karena menghirup asap api.
" Bukan aku yang membakarnya " Elak Rai santai.
" Dia yang melakukannya, jadi kalau kau ingin api itu di padamkan, rayulah dia. Ah tapi aku beritahu dia ini tipe-tipe yang anti wanita, jadi aku rasa percuma saja kau merayu nya " Rai mencibir sinis ke arah Ignes.
Rai kemudian berbalik dan berjalan menuju kursi yang ada di ruangan itu, duduk dengan gaya elegan menyaksikan pertunjukan api unggun di depannya.
" Tuan aku mohon padamkan api nya, aku mohon tuan " Ignes terisak-isak meminta.
Huan hanya mengedikkan bahunya.
" Aku takut api nona " Suaranya di buat-buat untuk mengejek Ignes.
" Aaaaaaa... " Jeritan Ignes melengking tinggi mendengar jawaban dari Huan dan kobaran api yang semakin mendekatinya.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
" Kenapa dia jadi seperti ini " Ruby menatap kosong dinding di hadapannya yang di penuhi dengan foto-foto dirinya yang di ambil secara diam-diam, di cetak dengan ukuran kecil, di susun sedemikian rupa sehingga menciptakan sebuah mozaik yang membentuk wajahnya.
" Apa kau terharu ? " Suara Lucas tiba-tiba mengagetkan lamunan Ruby.
Dia menoleh ke arah Lucas yang sedang berdiri bersandar di pintu.
" Itu lah kegiatan ku selama berbulan-bulan saat kau sedang di sandera penjahat itu, benar-benar waktu yang sangat menyiksa " Lucas mengedikkan bahunya dan berjalan mendekati Ruby.
" Dari semua foto ini, hanya foto-foto ini lah yang paling ku benci, tapi bagaimana lagi, aku membutuhkannya untuk melengkapi kepingan mozaik wajahmu, aku harus segera menyelesaikan ini untuk menyambutmu seperti hari ini bukan ? " Lucas menunjuk beberapa deret foto Ruby dan Rai yang sedang berpelukan di bangku taman, dan juga Ruby yang sedang berjinjit untuk mencium Rai.
" Kau tidak ingin bertepuk tangan, memuji atau mengucapkan terima kasih padaku atas hadiah mu ? " Tanya Lucas santai tanpa merasa bersalah.
Ruby menatapnya penuh perasaan marah bercampur jijik, dia tidak mengira dulu pernah hampir jatuh hati pada psikopat gila seperti Lucas.
" Kenapa ekspresi mu seperti itu ? Apa yang salah ? Apa kau tidak suka hadiah mu ? Atau kau tidak suka aku ? Hah ?!?! " Teriak Lucas marah karena melihat Ruby hanya diam saja.
" Aku tidak tau dendam apa yang membuatmu begitu membenci Rai, sampai-sampai melibatkan aku seperti ini. Tapi aku pastikan Rai akan segera menemukan ku dan tidak akan melepaskan mu " Balas Ruby lirih dan tajam.
" Rai, Rai, Rai, Rai !!!! Kenapa harus selalu dia ? Tidak kah kau lihat dia itu seorang penjahat brengsek **** yang hanya mampu mengancam mu menggunakan ayah mu ?!? Tidak kah kau melihat aku yang begitu benar-benar tulus mencintai mu. Tidak masalah dia merebut Lila dari sisiku, aku membiarkannya. Tapi untuk merebutmu ? Aku tidak akan mengalah kali ini. Aku tidak akan membiarkan dia merebut orang yang aku cintai sekali lagi !!! " Kemarahan benar-benar menguasainya, dia menarik lengan Ruby yang sedang terikat ke belakang.
" Aku tidak mau ikut " Ruby berusaha menepisnya.
" Kau tidak mau ikut ? Tidak mau patuh pada suami mu sendiri ? Baiklah aku akan mengajarimu arti kata patuh " Lucas kemudian berjalan menuju nakas dan membuka lacinya, mengambil sebuah pistol dan kembali kepada Ruby untuk menodongkan pistol itu. Tidak di kepalanya tapi di perutnya.
" Aku tidak keberatan menerima anak mu sebagai anak ku, aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi mu, karena dia juga bagian dari tubuhmu, tapi kalau kau tetap membangkang, aku tidak punya pilihan lain selain mengeluarkannya dari sana " Lucas menekankan pistolnya ke arah perut Ruby.
Mendapat ancaman seperti itu membuat Ruby menangis terisak-isak. Dan mengangguk perlahan menyetujui apapun yang di katakan Lucas, memilih mengikuti nalurinya sebagai seorang ibu yang berusaha melindungi anak nya.
Apapun akan ku lakukan untukmu Junior. Kuatlah seperti ayahmu.
" Ssshh...sshhh.... sayang, sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menakutimu, kau takut pada pistol ini ? Baiklah aku akan membuangnya " Lucas kemudian membuang pistol itu dari tangannya ke arah ranjang.
Melihat Ruby yang menangis terisak-isak membuat Lucas seperti kembali ke sifat aslinya yang hangat dan lembut. Entah sifat aslinya atau hanya topeng yang selama ini dia kenakan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Visualnya author untuk Ruby, maaf kalau tidak sesuai dengan harapan para pembaca, tapi author merasa dia yang cocok dengan karakter Ruby yang cuek, konyol dan sedikit cerewet, yang berani membantah Rai terus-terusan. Dan kalau udah ngerayu pake kedip-kedip mata bisa bikin jantung copot 😅😅
__ADS_1