
Jam besar antik di ruang keluarga itu terdengar berdentang sepuluh kali yang menunjukkan waktu hampir mencapai tengah malam, terlihat Ken mulai menggeliat meregangkan tubuh setelah menghabiskan waktu bersama keluarganya menyaksikan atraksi Raline tengkurap hingga menunggu dia sampai tertidur, meskipun dalam moment kali ini dia seperti sama sekali tidak dianggap oleh Raline namun dia tidak berkecil hati, masih ada hari esok untuk merebut perhatian keponakannya yang menjadi kesayangan semua orang itu.
" Kami duluan ya " Di sela rasa mengantuknya Rai menguap kemudian berdiri, dia menoleh ke arah Ruby seakan memberikan tanda bahwa sudah waktunya mereka kembali ke kamar, lagipula Raline juga sudah tertidur pulas beberapa menit yang lalu.
Dengan gerakan pelan, Ruby yang memangku Raline bangun dari duduknya. Lalu menimang sebentar bayi mungil yang menggeliat di gendongannya, dia memang sangat sensitif sekali terhadap gerakan.
" Kami pergi dulu ya " Bisik Ruby hampir tanpa suara, menjaga agar Raline tidak terbangun.
Dengan anggukan yang juga tanpa suara mereka semua menjawab Ruby. Bahkan pak Handoko harus bergerak sangat perlahan saat membuka pintu, agar tidak ada suara decitan dari engselnya.
Terdengar helaan napas panjang begitu Rai dan Ruby menghilang di balik pintu, pundak mereka yang tegang itu langsung merosot dan masing-masing bersandar pada sandaran sofa, seakan baru saja lepas dari keadaan gawat darurat. Sebenarnya memang gawat, jika Raline terbangun itu sama saja artinya dengan begadang. Dia seperti ponsel bersistem faster charger yang hanya di isi ulang selama 5 menit namun cukup untuk standby selama 5 jam.
" Hoooaamm.... " Kali ini giliran Ken yang menguap dengan sedikit keras, dia pun lalu meregangkan kembali otot-ototnya yang terasa kaku karena tadi duduk di lantai dan terus saja menatap Raline yang letaknya lebih rendah darinya, membuatnya harus terus membungkuk agar bisa sejajar dengannya.
" Kami pergi dulu ya " Bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Kiran.
" Ayo sayang " Ajaknya kemudian.
" Kami permisi dulu ayah, ibu, paman Yuri, Pak Handoko, Dylan " Pamit Kiran pada semua orang seraya menundukkan kepalanya.
" Selamat malam " Lanjutnya kemudian pergi bersama Ken menuju pintu, lalu berbelok di lorong depan, mereka pergi ke ruang makan terlebih dahulu mengambil skuter mereka, untuk kemudian menuju kamar mereka dengan menaikinya.
Adelia juga pamit undur diri begitu Ken dan Kiran pergi, hingga hanya tersisa Regis, Sekertaris Yuri dan Dylan juga Pak Handoko yang akan bertugas mematikan lampu dan memastikan semuanya aman sebelum mereka semua pergi tidur.
" Apa Rai dan Ken mengganggumu ? " Dengan menyilangkan kaki serta tangan yang bertumpu pada pegangan sofa, Regis menatap Dylan dengan serius. Anak-anak selalu menjadi masalah yang penting baginya.
" Hanya beberapa kejahilan mereka ayah " Jawab Dylan sungkan, dia belum sepenuhnya terbiasa menumpahkan keluh kesahnya pada orang lain, apalagi menjadi pengadu.
" Mungkin kau mengira aku membela Rai dalam hal ini, tapi percayalah aku tidak membela siapapun, jika salah satu dari kalian bersalah, maka semua akan kena getahnya, itulah yang ku terapkan pada Ken dan Rai sedari dulu, dan sekarang itu juga berlaku padamu " Jelas Regis setelah mengetahui penyebab Dylan terlihat sangat kesal dan terus berwajah masam sedari tadi.
" Ya ayah aku mengerti " Jawab Dylan sopan menundukkan kepalanya.
" Kau jangan terlalu memasukkan dalam hati bercandaan dari mereka, aku akan menegur mereka nanti agar memperlakukan mu lebih baik lagi " Regis berjanji pada Dylan.
Sebenarnya Dylan tidak merasa tersinggung dengan candaan kedua kakaknya, toh dia bisa membalasnya kapanpun, hanya masalah jebakan batman, begitu pikirnya. Lagipula dia merasa seharusnya dia berterima kasih pada Rai, karena ulahnya dia jadi tau bahwa setidaknya Blair tidak malu pergi berjalan-jalan dengannya bahkan setelah insiden uang seribuan itu.
" Tidak apa-apa ayah, aku bisa membalas mereka kapan-kapan " Jawab Dylan santai.
" Nah begitu baru benar, membalas mereka lebih baik daripada menyimpan dendam dalam hatimu " Jawab Regis bangga dengan anak bungsunya.
" Katakan padaku jika kau butuh bantuan membalas mereka, aku akan memfasilitasinya " Regis mengakhiri percakapannya, lalu berdiri dan kemudian menepuk pundak Dylan pelan sebelum meninggalkannya di ruang keluarga itu.
" Ingat jangan pakai otak saat menghadapi mereka, karena semakin kau memakai otakmu maka perutmu akan semakin lapar dan otakmu semakin kusut " Sekertaris Yuri juga ikut memberikan nasehatnya lalu menyusul Regis keluar ruangan.
" Apa anda masih ingin di sini ? " Kali ini berganti Pak Handoko yang bertanya sopan.
" Paman pergi saja dulu, nanti lampunya akan ku matikan " Jawab Dylan sopan, dia masih ingin sendirian disana sebentar lagi.
Setelah mendengar ucapan Dylan, Pak Handoko pun berpamitan dan keluar ruangan, meninggalkan Dylan sendirian disana. Matanya awas menatap sekelilingnya, memandangi ruangan bergaya mediterania itu dengan seksama lalu menghela napas panjang.
Tak pernah terbayangkan dalam mimpi sekalipun aku akan memiliki keluarga yang sempurna seperti sekarang, sempurna dalam hal konyol sekaligus dalam hal garang. Bagaimana mungkin aku marah pada kedua kakakku hanya karena masalah wanita, ngomong-ngomong mereka sudah seperti beruang grizz dan panpan saja ya.
Dylan kemudian menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, menatap langit-langit sebentar lalu memejamkan mata.
Tunggu !!
Dia terhenyak sendiri, dengan cepat menegakkan punggungnya.
" Hahaha.... " Kemudian tawanya membahana setelah menyadarinya.
" Mungkin begini isi pikiran mereka ya " Gumamnya pada diri sendiri lalu kembali tertawa terbahak-bahak.
Dia baru saja menemukan alasan kenapa terkadang kedua kakaknya sering memakai julukan aneh-aneh untuk mereka, tidak lain adalah karena kondisi atau situasinya yang sesuai.
__ADS_1
Seperti teletubbies, mereka semua ada 4, dengan 2 laki-laki dan 2 perempuan, di tambah seorang bayi yang menjadi matahari, tentu saja di tambah dengan nunu si penyedot debunya. Bukankah formasi mereka sama persis sekarang.
Lalu power rangers, mereka semua berlima, 3 laki-laki dan 2 wanita, juga sama persis dengan formasi mereka sekarang, hanya yang dia tidak paham kenapa dia yang harus menjadi ranger pink nya.
Dan kali ini dirinya yang membuat julukan baru. We bare bears. Sebuah animasi tentang 3 spesies beruang yang bersaudara yang sering Dylan tonton di internet.
" Kali ini aku yang memimpin hahaha... " tawanya kembali membahana saat menemukan kesenangan tersendiri bisa memimpin grup dan menentukan siapa akan jadi siapa. Rasanya puas dan lega. Ice bear merasa senang.
Setelah puas tertawa sendirian beberapa kali, Dylan yang hanya seorang diri itu pun memutuskan kemudian kembali ke kamarnya.
Dia berjalan pelan menuju pintu dan mematikan saklar lampu sebelum meninggalkan ruangan keluarga tersebut. Berjalan melewati lorong-lorong sepi dan gelap yang menuju ke kamarnya. Dia melihat jam tangannya, baru jam 10 malam tapi suasana mansion sudah sesepi itu.
Tentu saja suasana mansion telah sepi karena para pelayan telah kembali ke kamar mereka masing-masing, mengistirahatkan diri sebab esok hari sebelum matahari terbit mereka telah memulai pekerjaan mereka.
Di temani kegelapan lorong yang hanya berselimutkan lampu dinding yang remang-remang itu pikirannya mendadak saja terbayang-bayang pada Blair. Dia menyukainya, dia tidak menyangkal hal itu. Blair seseorang yang baik dan sepertinya bisa untuk di jadikan teman, bukannya yang lain tidak bisa di jadikan teman, hanya saja semua orang yang di kenalnya menolak untuk berteman dengannya. Tapi apa dia benar-benar menyukainya ? Dia sendiri masih butuh lebih banyak waktu untuk memastikan hal itu. Untuk memastikan dia suka pada Blair sebagai teman atau lebih. Karena dia sendiri belum pernah merasakan yang namanya jatuh hati pada seseorang.
Dia menghela napas saat langkahnya berhenti di depan pintu kamarnya. Setelah mengusir senyuman Blair dari dalam kepalanya dia membuka pintu itu dengan perlahan. Kamarnya yang gelap langsung terbentang menyambutnya. Tanpa menyalakan lampu lebih dulu dia menuju ruang gantinya, mengambil secara acak kaos longgar dan celana panjang untuk di pakainya tidur. Setelah berganti pakaian dan mencuci wajahnya, Dylan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya.
Dia kembali mengingat-ingat kenangannya bersama Blair di mall tadi.
Saat pulang, dia yang masih merasa kesal pada Blair itupun memesankan taksi online untuknya dan membiarkannya pulang sendirian naik taksi. Dan sekarang dia menyesal telah melakukan hal yang menurutnya tidak terpuji itu.
Dia mengambil ponselnya yang ada di nakas, membuka aplikasi pesan dan melihat kontak Blair.
Online 3 menit yang lalu.
Dylan mendadak merasakan nyeri didadanya. Sedang berkirim pesan dengan siapa Blair sampai jam segini dia belum tidur.
Dia juga ingin mengiriminya pesan, meminta maaf setidaknya, namun ragu. Dia lalu membuka bagian story di aplikasinya, dan melihat siapa saja yang sudah mengupdate story malam ini.
Nomor kontak di ponsel Dylan hanya bisa di hitung jari, ke empat kakaknya bukan tipe orang yang rajin mengupload story, bahkan bisa di bilang mungkin mereka memegang ponsel hanya untuk menerima telepon dari orang tertentu saja, sebagai contoh Ruby memiliki ponsel hanya untuk di hubungi oleh Rai, lainnya ? Tidak mungkin ada yang berani.
Dera mengupload sebuah story 2 menit yang lalu. Dylan yang penasaran pun memutuskan untuk melihatnya.
Masa yang ingin aku kembali ke dalamnya.
Begitulah caption yang mengiringi foto tak bergerak itu.
Tidak ingin terlalu ge-er dia menyimpulkan bahwa mungkin saja Dera berniat memposting fotonya sendiri, hanya saja kebetulan foto Dylan ada di halaman yang tidak sengaja ikut terfoto. Karena tidak mendapatkan story dari Blair, Dylan memilih keluar dari aplikasi whatsup nya.
Dasya... dia sedang apa ya ?
Batinnya bertanya-tanya.
Dan berkilo-kilo meter jauhnya dari tempat Dylan membaringkan tubuhnya, Blair yang sedang asyik berselancar di dunia maya itupun mendadak bersin-bersin. Hidungnya terasa gatal berair.
" Hachi, hachi !! " Dia menyeka hidungnya dengan sedikit kasar, membuatnya terlihat memerah seperti tomat dihidung tuan badut.
" AC nya sudah di cuci tapi kenapa aku masih saja bersin-bersin ya ? " Gumamnya menatap AC yang terpasang di tembok yang ada di depannya.
Dia lalu berdiri dari posisi rebahannya untuk mencari remote AC dan berniat menaikkan suhunya, mungkin mendadak dia jadi alergi dingin, begitu pikirnya.
Namun saat sedang sibuk mencarinya di laci nakas, tiba-tiba saja Dimitri masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
" Ish papa bikin kaget saja " Decaknya kesal lalu kembali melanjutkan mencari remotenya.
" Sini, sini, papa ingin bicara " Dimitri menarik tangan Blair dengan buru-buru dan membawanya duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan ranjang Blair.
" Kau masih ingat Andromeda ? " Tanya Dimitri antusias begitu mereka berdua sudah duduk bersebelahan.
Mulai lagi deh.
Decak Blair malas memutar bola matanya, mengalihkan pandangannya dari wajah ayahnya yang sudah penuh binar keserakahan.
__ADS_1
" Kenapa ? Papa ingin menjodohkan aku lagi dengannya ? " Dengan malas Blair menebak isi kepala ayahnya.
" Darimana kau tau ? " Tanya Dimitri sedikit terkejut. Dia belum membicarakan ini dengan siapapun, baik manager Yo ataupun Nania. Dan baru sebatas obrolan ringan antara dirinya dan pengacara Henry. Dia belum memperhitungkan untung ruginya bila dia melanjutkan perjodohan ini.
" Dia bilang padaku tadi di sekolah " Jawab Blair malas, melipat tangan di dada dan menyandarkan punggungnya. Ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan tak bermutu ini.
" Dia tidak sabaran sekali jadi anak " Sungut Dimitri ketus, lalu terlihat berpikir dengan serius. Sudah kepalang tanggung, menyelam saja sekalian.
" Kenapa berubah pikiran lagi sih pa ? Aku lebih suka mengejar tuan Rai saja " Protes Blair berupaya mengulur waktu untuk mencapai kebebasannya, dia berencana berpura-pura akan mengejar Rai sampai usianya mencapai batas dewasa sesuai hukum yang berlaku, dengan begitu dia bisa keluar dari rumah ini dan tinggal mandiri di apartemen lalu bebas menentukan masa depannya sendiri. Tapi jika ayahnya merubah lagi rencananya, maka itu akan jadi masalah besar untuknya.
" Tentu saja kau harus tetap mengejar tuan Rai, tapi kita juga harus memiliki plan B " Jelas Dimitri menggebu-gebu.
" Plan B apa ? " Blair melirik ayahnya kesal, tapi dia harus bersabar menghadapinya. Jika dia terlalu melawan ayahnya akan semakin ketat mengawasinya.
Kalau papa curiga bisa-bisa aku di kurung di rumah, lalu aku tidak bisa menemui Dylan. Jadi Blair bersabarlah, kurang beberapa bulan lagi, hanya beberapa bulan.
Blair memejamkan mata dan menenangkan hatinya sendiri.
Ya ampun !!!
Dengan mata membulat sempurna dia terhenyak lalu menepuk-nepuk pipinya dengan kedua tangannya dengan cukup keras.
Di saat genting begini masih memikirkan dia, sadar Blair sadar !! Fokus pada kebebasanmu dulu baru yang lainnya. Gawat dia itu benar-benar sudah seperti racun.
Blair menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir bayangan Dylan yang sedang membelainya lembut siang tadi.
" Kau kenapa ? " Tanya Dimitri bingung melihat tingkah Blair yang mendadak aneh.
" A-o- aku mengantuk " Jawab Blair gelagapan.
" Bicaranya besok saja ya ? Aku mau tidur sekarang " berpura-pura menguap dan meregangkan punggungnya.
" Tunggu sebentar lagi kenapa, kau ini tidak sopan sekali pada papa mu " Omel Dimitri kesal.
Blair menghela napas jengah dan kembali menyandarkan punggungnya, mengambil bantal sofa dan menaruhnya di pangkuannya. Kemudian menyangga dagunya dengan siku yang bertumpu di atas bantal, sikap yang sangat sempurna untuk melanjutkan acara melamun tentang Dylan.
" Kita harus punya plan B, kau harus mempunyai jodoh cadangan saat nanti kau gagal mendapatkan tuan Rai, dan jodoh yang tepat untukmu adalah Andromeda, jadi setidaknya kau tidak akan rugi jika tidak bisa mendapatkan tuan Rai " Dimitri terlihat sangat berambisi dan dengan kilat mata penuh kerakusan saat menjelaskan rencana culasnya.
" Papa sudah tidak waras ya ? Mana mungkin aku mengejar dua orang sekaligus " Tolak Blair cepat begitu mendengar ide gila dari sang ayah. Jika dia melakukannya, dia tidak akan memiliki waktu untuk dekat-dekat dengan Dylan.
" Kenapa tidak mungkin ? " Tanya Dimitri sudah mulai sedikit menaikkan nada suaranya.
" Pa pekerjaan ku sudah cukup banyak, aku harus sekolah dari senin sampai jumat, lalu di akhir pekan masih harus bekerja, dan malamnya aku harus jadi mata-mata pergi ke club. Aku lelah pa " Protes Blair berdiri dan mencoba melawan ayahnya.
" Kau kan bisa mendekati Andromeda saat di sekolah, bukankah kalian satu sekolah. Apa perlu papa bilang pada tuan Henry untuk menempatkan kalian di bangku yang sama, itu hal yang mudah untuk tuan Henry mengingat dia adalah pengacara kepercayaan keluarga Loyard " Sanggah Dimitri semakin kesal mendapat penolakan dari Blair.
" Tidak, jangan !! " Pekik Blair begitu mendengar kata pindah. Dia sudah terlanjur menikmati waktunya bersama Dylan di bangku itu dan tidak ingin di ganggu gugat.
" Ya sudah kalau begitu turuti papa, senin sampai jumat kau mendekati Andromeda, lalu sabtu dan akhir pekan kau mendekati tuan Rai " Perintahnya tegas kemudian pergi keluar tanpa memberi kesempatan untuk Blair melayangkan protesnya lagi.
Dengan sedih dan berurai air mata Blair kembali naik ke ranjangnya, menghempaskan tubuhnya dengan keras kemudian menarik selimut di kakinya dan menutupkannya hingga kepala. Bersembunyi di bawahnya.
Apa aku ini anak pungut, kenapa papa tega sekali padaku.
Isaknya kemudian, pecah sudah bendungan air matanya, butiran-butiran bening itu mengalir deras di kedua pipi Blair yang putih mulus.
" Hachi Hachi " Blair kembali bersin-bersin di sela tangisannya.
Aish bahkan hidung ini sepertinya sudah berkomplot dengan mereka semua untuk tidak mendukungku.
Dia berguling-guling membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu berteriak keras dari dalamnya.
Baik Dylan maupun Blair sama-sama melewati malam yang panjang dengan pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1