
“ Disini rupanya pengantin wanitanya, aku bertanya-tanya kemana kaburnya ? “ Suara Rai tiba-tiba membuat Ruby dan Ken kaget.
Ruby salah tingkah seperti pencuri yang sedang tertangkap basah dengan hasil curiannya.
“ Ikut aku “ Ajak Rai kemudian.
Ruby pun mengikuti Rai dengan membawa sepatunya dan berjalan tanpa alas kaki. Tapi Rai tidak membawanya kembali ke tempat pesta, melainkan melewatinya menuju ke rumah, membuat Ruby bingung.
Dia membawa Ruby ke sebuah ruang, sepertinya ruang pribadi Rai. Disana sudah ada sekertaris Yuri dan penyihir Vi. Saat mereka masuk sekertaris Yuri dan Manager Vi menundukkan kepala memberi hormat.
“ Duduklah “ perintah Rai kepada semua orang.
“ Nona muda ini adalah daftar kebiasaan Tuan muda, harap anda mengingatnya agar nanti nya bisa segera menyesuaikan diri dengan tuan muda “ sekertaris Yuri mengambil alih pembicaraan dan menyerahkan buku tebal berisi segala hal tentang apa yang disukai dan tidak disukai Rai.
“ Lalu mulai sekarang anda akan terikat jadwal tentang bagaimana menjadi nyonya Klan Loyard, manager Vi yang akan membimbing anda “ lanjut sekertaris Yuri menjelaskan tanpa memperdulikan ekspresi heran Ruby.
“ Baiklah saya akan mempelajari ini, tapi bolehkah saya meminta izin berbicara berdua saja dengan tuan muda ? “ pinta Ruby kepada sekertaris Yuri dan memandang Rai seperti minta persetujuan.
Rai menganggukkan kepala tanda setuju dan kemudian kedua orang itu pergi meninggalkan ruangan.
“ Apa maksud semua ini ? “ tanya Ruby tanpa basa basi sesaat setelah pintu di tutup.
“ Tidak ada “ jawab Rai singkat.
“ Kemarin anda bilang saya bekerja pada anda, kenapa sekarang malah jadi istri anda ? “ cecar Ruby tidak puas dengan jawaban Rai.
“ Ini lah pekerjaan mu “ balasnya singkat tanpa melihat Ruby, sibuk melihat layar ponselnya.
“ Apa ? Pekerjaan apa ? “ tanya Ruby masih bingung dengan penjelasan Rai.
__ADS_1
“ Pekerjaan mu adalah sebagai istri ku “ Rai masih tidak peduli.
“ Anda jangan bercanda, apa hal semacam pernikahan ini bisa di jadikan bahan candaan ? “ Ruby terus meminta jawaban pasti.
“ Aku bahkan tidak mencintai mu “ gumam Ruby lirih.
“ Tidak perlu cinta untuk menikah, hanya butuh untuk bersama “ jawab Rai seperti mendengar gumaman Ruby.
“ Bersiaplah pekerjaan dimulai malam ini, jadi hafalkan itu dengan baik dan lakukan pekerjaan mu sebaik mungkin “ pungkasnya kemudian meninggalkan Ruby sendirian di ruangan itu.
“ Gila, gila, gila !!!! Kenapa aku bisa bernasib sial seperti ini “ teriak Ruby sendiri di ruangan sepi itu.
Detak jam di dinding terdengar begitu keras karena terlalu sepinya ruangan itu. Ruby sendirian membaca setiap hal detail dari buku yang diserahkan sekertaris Yuri, buku itu seperti buku agenda dengan penuh tulisan detail tentang keseharian Rai. Dia tidak mengira seseorang punya begitu banyak hal untuk dilakukan, sedangkan dia hanya fokus mencuci piring saja.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Ruby, kepala pelayan masuk dan memberi tahu Ruby untuk segera turun dan menyiapkan makan malam untuk Rai.
“ Permisi, maksud anda dengan menyiapkan makan malam ? “ tanya Ruby heran, dia membolak balik catatan namun itu tidak ada dalam daftar.
“ Apa ?!? “ Ruby membelalakkan matanya. Dan berjalan mengikuti pak Handoko.
Setelah berganti baju dia menuju dapur dan memulai memasak untuk makan malam. Ruby memang terbiasa memasak jadi bukan masalah besar untuknya, tapi bukankah itu hal yang aneh mengingat dirumah itu ada koki profesional yang bisa memasak apapun sesuai perintah.
Saat makan malam pun tiba, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Para pelayan menghidangkan makanan di atas meja. Mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing.
“ Wah wah kau benar-benar seperti Lorie, dulu dia tidak pernah memperbolehkan aku dan anak-anaknya memakan masakan orang lain, karena dia ingin jadi ibu yang baik hahaha “ Regis memulai pembicaraan dengan tawanya.
“ Saya hanya menjalankan peran sebagai istri yang baik “ Jawab Ruby sopan dengan menekankan kalimatnya, melirik kepada Rai berharap dia akan bereaksi. Namun Rai seperti tidak peduli.
Cih apa nya istri yang baik, aku harus pura-pura menjalankan pernikahan yang bahagia sesuai perintahmu. Pikir Ruby mengingat hal pertama yang dibacanya dalam buku agenda yang harus dia pelajari ; pernikahan ini harus terlihat bahagia dan indah dihadapan semua orang.
__ADS_1
Semua orang makan dengan tenang tanpa suara, sepertinya ini memang peraturan tidak tertulis di rumah ini. Setelah selesai makan mereka semua mengucapkan terima kasih kepada Ruby atas makanan enak yang dia siapkan.
“ Ayo tidur, aku lelah “ ajak Rai kemudian setelah mereka selesai berbincang di ruang makan.
Rai pergi setelah mengucapkan selamat malam kepada ayahnya dan Ken, Ruby mengikuti dibelakangnya.
“ Aku ingin ganti baju “ ucap Rai kepada Ruby setelah mereka ada didalam kamar.
“ Apa ? “ jawab Ruby tidak paham dengan maksudnya.
“ Siapkan baju dan gantikan “ perintahnya kemudian berjalan pergi menuju ruang ganti. Ruby masih tidak paham maksud Rai dan berjalan mengikutinya.
Apa ? Apa kau ingin aku memilihkan baju ganti mu? Aish kenapa dia seperti anak kecil saja, wah benar-benar pernikahan yang bahagia. Pikir Ruby dengan tatapan sinis kepada Rai.
Ruby mengambil piyama sekenanya dan memberikan kepada Rai, tapi dia diam saja tidak bergerak.
Apa lagi ? Apa aku juga harus melepaskan bajunya dan memakaikan pakaian ganti ini ? Otak Ruby mulai berfikir.
Tangan Ruby mulai melepaskan kancing kemejanya, ternyata benar itu yang di inginkan Rai. Ruby membantu melepaskan bajunya, terlihat pungung Rai yang bidang dan putih bersih. Setelah selesai melepaskan dan memakaikan piyama Rai berbalik agar Ruby bisa mengancingkan piyama itu, Ruby terkejut saat mendapati luka panjang di dadanya, seperti bekas luka jahitan. Ruby bergegas melakukan pekerjaannya.
Merawat orang lain bukan hal yang asing bagi Ruby, selama bertahun-tahun dia terbiasa merawat ayahnya yang sakit, memandikannya juga mengganti bajunya.
Selesai mengganti baju, Rai keluar dari ruang ganti. Tak lama kemudian Ruby pun sudah keluar setelah berganti baju dengan baju tidur, dia heran kenapa lemari pakaian itu sudah penuh dengan baju. Tapi pikiran itu dihilangkan mengingat dia menikah bukan dengan orang biasa.
Rai sudah di atas kasur didalam selimut, Ruby bingung dimana dia akan tidur, dia tidak ingin tidur dengan Rai. Melirik sofa dan berjalan kearahnya.
“ Pegang tanganku sampai aku tertidur “ ucap Rai tiba-tiba seperti tau apa yang akan Ruby lakukan.
Dia terkejut ternyata Rai masih belum tidur, Ruby akan mematikan lampu tapi kemudian dia ingat buku agenda itu, Rai tidak suka gelap, begitu informasi dari agenda itu.
__ADS_1
Rai berdehem karena Ruby terlalu lama, dengan menghela nafas akhirnya dia menuruti keinginan Rai, duduk di kursi sebelah kasur dan memegang tangannya sampai Rai tertidur.
“ Selamat menjalankan hidup baru “ gumam Ruby menghela nafas panjang dan memejamkan mata.