Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Gangguan Kejiwaan


__ADS_3

Huan tertawa terbahak-bahak setelah memadamkan api dengan alat pemadam api ringan yang ada di sudut ruangan. Ignes terbatuk-batuk karena asap api dan juga semprotan alat yang mengeluarkan semacam busa itu.


Dia menatap Huan penuh emosi, merasa nyawanya di permainkan. Dia kemudian menatap Rai yang sedari tadi hanya duduk dengan gaya elegannya, menyaksikan perjuangan hidup dan matinya. Tapi bukannya membuat Ignes takut malah semakin membuat Ignes menginginkan Rai.


Dia berkhayal kalau saja dia yang jadi istri Rai, pasti mereka akan jadi pasangan fenomenal yang akan di takuti siapapun yang bahkan hanya mendengar nama mereka saja.


" Kau tau Rai, kita sebenarnya pasangan yang cocok. Sesaat yang lalu aku merasa akan benar-benar mati terbakar, tapi kemudian tidak. Lihatlah betapa berani nya aku menghadapi kematian, kalau aku yang menjadi nyonya di Klan Loyard, bisa ku pastikan Klan Loyard akan semakin maju dan menjadi tak terkalahkan hahaha.... " Ignes tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar sinting di telinga Rai.


" Dasar sakit jiwa " Rai mencibir lirih. Dia bukannya tidak tau tentang Ignes yang sepertinya terlalu terobsesi dengannya, apalagi bayangannya tentang Ignes yang dengan tega mendorong salah satu teman mereka dari atap lantai 2 hanya karena dia menyukai Rai, semakin membuat Rai yakin kalau sebenarnya Ignes tidak waras.


" Bagaimana sayang ? Apakah kau sudah memantapkan hati mu ? Aku akan memaafkan mu karena berselingkuh dengan rubah licik itu, asal kau mau kembali lagi padaku seperti waktu dulu " Ignes mengoceh sembarangan yang di tanggapi Rai dengan cibiran dan memilih membuang wajahnya daripada harus melihat Ignes.


Rai mengibaskan tangannya seolah memberi perintah kepada Huan agar segera menyelesaikan tugasnya.


" Nona kau tau tuan sangat benci dengan wanita yang terlalu banyak bicara " Huan memperingatkan Ignes seraya kembali menyemprotkan tabung pemadam api yang di pegangnya ke arah Ignes, membuat tubuhnya di tutupi busa putih dari atas sampai bawah.


" Bicara lah selagi mulut anda masih bisa di gunakan untuk bicara, karena kali kedua bukan lagi busa putih yang akan saya semprotkan ke tubuh anda, tapi itu" Huan menunjuk drum berisi bensin yang dia gunakan tadi untuk membuat lingkaran api.


" Hahahaha.... " Tawa Ignes semakin menggema.


" Percuma kau mencari rubah itu, karena aku benar-benar tidak tau dia di bawa kemana, selama ini aku hanya berhubungan lewat telepon dengan psikopat gila itu, jadi meski kau membunuhku, aku tetap pada jawaban ku kalau aku tidak tau " Ignes menjawab sinis penuh seringai licik.


" Kalau begitu akan ku buat kau tetap hidup " Rai berjalan mendekatinya.


" Hidup yang seperti mati " Lanjutnya kemudian dan menepuk pundak Huan. Lalu meninggalkan mereka berdua.


Huan yang sudah mendapatkan perintah dengan jelas dari Tuannya mengangguk paham. Saat Rai memasuki mobil dia mendengar lengkingan jeritan panjang dari Ignes pertanda Huan mulai melakukan pekerjaannya.


Rai melajukan mobilnya dengan kencang untuk kembali kerumahnya dan mengatur rencana selanjutnya.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Sayang apa kau suka makanannya ? " Tanya Lucas dengan suara lembut dan senyum hangat.


Mereka, Lucas dan Ruby juga beberapa pelayan yang bertugas menyuapi Ruby karena tangannya masih di ikat, sedang menikmati makan malam romantis versi Lucas. Mereka sedang duduk di meja makan besar dengan berbagai macam hidangan mewah dan juga lilin sebagai penerangannya.


" Tubuhmu kurus sekali, apa penjahat itu menyiksamu dengan kejam ? Tenang saja setelah ini kita akan hidup berbahagia " Ocehnya tanpa memperdulikan Ruby yang hanya terdiam membuang wajahnya.

__ADS_1


" Makan lah yang banyak, aku tau kau suka sekali steak " Lanjutnya sambil memotong daging steak yang ada di piring di hadapannya.


" Berikan ini untuk istri ku " Perintahnya kemudian kepada pelayan.


Pelayan datang menghampiri Lucas mengambil piring yang di sodorkannya dan membawanya kepada Ruby.


" Aku tidak suka steak asal kau tau " Ruby menjawab sinis.


" Mungkin istri mu yang sebenarnya yang menyukainya " Ruby berusaha memprovokasi keadaan.


Ting !! Bunyi piring yang beradu dengan pisau dan garpu yang terjatuh dari tangan Lucas. Dia berhenti sejenak dari aktivitasnya mengiris daging steak. Diam membeku. Sejurus kemudian wajahnya berubah menjadi gelap dan menyeramkan.


" Kau lah istri ku satu-satunya " Jawabnya dengan suara lirih dan dingin.


" Kenapa kau selalu menolakku ? Kenapa ? Kenapa ? Kenapa !!! " Teriakannya menggema memenuhi seluruh ruangan.


" Karena kau tau selalu dia, selalu harus dia " Ruby masih tetap menjawab sinis.


" Itu hanya sebentar Ruby, hanya sebentar aku meninggalkan mu dengannya dan dia telah menempatkan dirinya begitu dalam di hati mu " Amuk Lucas dan kemudian menepis piring yang ada di hadapannya.


" Itu bukan aku, itu bukan aku " Lucas jatuh terduduk di kursinya dan ekspresinya seperti orang yang linglung.


Ruby sangat heran melihat sikap Lucas yang berubah ubah dengan cepat, terkadang menjadi baik dan seperti yang dia kenal, tapi terkadang jahat seperti orang lain.


" Itu semua karena perintah Leon " Lucas mengoceh sendiri.


" Leon bilang ini lah satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan mu " Lucas mengacak-acak rambutnya, menopang kepalanya dengan siku yang bertumpu di meja.


" Lucas apa kau baik-baik saja ? " Ruby bertanya heran.


" Hehehe... " Lucas terkekeh sendiri.


" Dasar laki-laki lemah, pantas saja kau selalu kalah. Mulai sekarang aku yang akan mengambil alih tubuh mu " Lucas mengoceh sendiri dan perlahan menatap Ruby.


" Lucas kena... " Pertanyaan Ruby terhenti karena Lucas telah mengobrak abrik seisi meja makan, membuatnya terlihat liar dan beringas.


" Siapa Lucas ? Aku Leon. Dan sayangku, bersikap baiklah padaku atau aku akan menyiksa mu " Seringainya mengerikan.

__ADS_1


Ada apa dengannya ? Kenapa dia bisa jadi seperti ini ?


Ruby mengernyitkan keningnya ngeri melihat Lucas yang seperti ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil Rai berhenti dengan tajam di depan pintu masuk utama, pelayan yang berjaga segera membukakan pintu untuknya. Dia bergegas memasuki rumah dengan terburu-buru.


Ponselnya berbunyi, suara Ruby yang mengatakan menyukainya semakin membuat pikirannya kacau dan hatinya berdenyut nyeri. Baru setengah hari Ruby di culik tapi baginya itu serasa seperti setengah abad.


Dia mengambil ponselnya dari saku jasnya. Ken. Dia mengangkatnya dengan cepat.


" Beritahu aku kabar baik " Cecar Rai seperti tidak ingin di hubungi jika tidak menyangkut Ruby.


" Lucas " Ken menjawab singkat.


" Sial !!! " Rai mengumpat sambil meninju udara.


" Harusnya aku lebih cepat sadar, ku kira aku sudah memastikannya pergi meninggalkan negara ini, jadi aku pikir dia bukan ancaman. Bodoh, bodoh, bodoh !!! " Rai mengutuki dirinya sendiri yang lengah.


" Kak kau harus tau, dia bukan lagi Lucas yang pemalu dan pengecut, tapi dia sudah berubah menjadi monster " Ken berhati-hati menjelaskannya.


" Apa maksudmu ? " Rai bertanya heran dan marah.


" Dia sedikit mengidap gangguan kejiwaan sepertinya. Kau tau dia memang pergi keluar negeri untuk melanjutkan bisnis keluarganya, tapi disana lah dia mulai sedikit mengalami gangguan. Perilakunya berubah total, terkadang bisa menjadi seperti dia yang normal, terkadang dia bisa menjadi sangat kejam dan berubah 180 derajat dari sifat aslinya " Ken menjelaskan semampu yang dia tau.


" Jadi menurutmu gangguan jiwanya membuatnya begitu berani menculik Ruby untuk membalaskan dendam padaku ? " Rai berusaha menyimpulkan.


" Entahlah, aku masih akan terus mencari tau, kau tenanglah kak, aku yakin kakak ipar akan baik-baik saja " Ken menjawab lembut berusaha menenangkan Rai.


" Bagaimana aku bisa tenang kalau tau Ruby dan Junior sedang dalam bahaya bersama psikopat gila itu " Rai berteriak dan memutus sambungan teleponnya.


Dia kemudian fokus mencari kontak seseorang di ponselnya sampai sebuah tamparan mendarat di pipinya tanpa dia sadar.


Plaaakkkk !!!! Wajah Rai terdorong kesamping karena tamparan yang begitu keras dan kuat.


" Hei sia... " Rai berteriak akan memaki si penampar itu, tapi kemudian dia terkejut dengan sosok yang sekarang berdiri di hadapannya, membuatnya diam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2