Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Akhirnya


__ADS_3

Pemotretan Blair dan Dylan sukses besar menurut si tukang foto. Dia berhasil mendapatkan gambar-gambar yang bagus dan juga sangat natural.


Wajah Dylan dan Blair benar-benar seperti pasangan kekasih yang sedang hangat-hangatnya dalam berhubungan.


" Terima kasih atas kerja kerasnya " Ucap Sang photographer mengakhiri pekerjaan mereka kali ini.


Sofia langsung menghampiri Blair lalu menggandengnya dan membawanya pergi.


" Tapi kak... " Blair mencoba bertahan lebih lama lagi.


" Sudah ayo cepat " Sofia menggeret tangan Blair dan segera keluar dari store yang menjadi lokasi pemotretan mereka yang terakhir.


Dengan pasrah Blair mengikuti Sofia yang membawanya masuk ke dalam lift.


" Haah... " Terdengar helaan lega yang keluar dari bibir Sofia begitu mereka hanya berdua saja di dalam lift.


" Aku masih ingin disana sebentar lagi " Ucap Blair dengan bibir manyunnya.


" Iya tapi tadi para kru bilang setelah pemotretan selesai kita semua harus bergegas keluar, karena keluarga Loyard akan mengambil foto keluarga " Jawabnya santai lalu menyandarkan punggungnya di dinding lift.


" Jadi siapa dia ? " Tanya Sofia menyenggol lengan Blair yang sedang tertunduk di sampingnya.


" Dia siapa ? " Blair malah balik bertanya bingung.


" Si model dadakan " Goda Sofia menaik-naikkan alisnya.


" Dylan " Jawab Blair singkat dan ikut menyandarkan punggungnya juga di dinding lift, lalu memejamkan matanya.


Foto keluarga ya? Kan Raline bukan anggota keluarga mereka, kenapa dia tidak keluar? Apa dia juga ikut dalam foto keluarga itu?


Sesak di dada Blair membuat tenggorokannya panas, air mata menggenangi matanya yang sedang terpejam. Dia menghela napas berat.


" Dia benar-benar di berkati dengan wajah yang tampan ya, ngomong-ngomong kau terlihat sudah mengenalnya, kenal dia dimana? " Tanya Sofia lagi, tapi Blair terlalu sibuk dengan rasa nyeri di dadanya, jadi dia mengabaikan pertanyaan Sofia.


Hingga Blair selesai berganti pakaian dan menghapus make up nya pun dia tetap saja diam tak bersemangat. Sofia sampai terheran-heran melihat tingkah Blair yang tidak seperti biasanya.


" Kau mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu ? " Tanya Sofia sembari memasukkan perlengkapan-perlengkapan milik Blair ke dalam tas yang besar.


" Langsung pulang saja, kepala ku masih pusing " Jawab Blair malas.


" Kau yakin ? Katanya kau punya janji nonton film untuk tugas sekolahmu ? Memangnya tidak jadi ? " Tanya Sofia lagi.


" Tidak, sudah di batalkan " Jawab Blair pelan. Kalaupun tidak di batalkan, dia tidak akan mau nonton dengan Dylan saat ini. Tidak mungkin kan dia nonton film romantis dengan Dylan dan kekasihnya, yang ada di hanya akan menjadi jamur di kursi bioskop.


" Ya sudah " Jawab Sofia santai. Dia menarik resleting tas besar itu dan kemudian mengangkatnya.


" Sudah selesai, ayo " Ajaknya menghampiri Blair yang sedang duduk di sofa dan menyangga dagunya itu.


Dengan lesu Blair berdiri dan tiba-tiba saja Ruby masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.


" Haah untung saja " Jika dilihat dari napas Ruby yang tersengal-sengal, itu artinya dia buru-buru saat datang kemari.


" Nyonya ? " Blair menatap Ruby yang sedang mengatur napasnya itu.


" Anda kenapa ? "


" Aku tadi setengah berlari kesini, takut kau sudah pulang " Jawab Ruby santai setelah berhasil mendapatkan napas normalnya.


" Aku tidak punya nomor ponselmu, jadi aku tidak bisa menghubungimu. Begini, kami mengadakan jamuan makan dengan semua kru pemotretan tadi, dan aku harap kau bisa hadir. Kau bisa ? " Tanyanya sungkan. Dia belum terlalu akrab dengan Blair dan tidak tau bagaimana kepribadiannya. Yang dia tau hanya Blair anak yang cukup baik untuk adiknya.


" Makan malam ? " Ulang Blair bingung, di satu sisi dia ingin menerima tawaran Ruby, tapi di sisi lain dia takut akan berhadapan dengan Raline.


Seperti pencuri yang menjadi calon terdakwa, Blair gelisah sendiri.


" Memangnya kau ada jadwal lain ? " Tanya Ruby bingung karena melihat reaksi Blair yang sepertinya sungkan untuk menolak.


" Tidak nyonya, dia free sampai malam " Malah Sofia yang menyahut dan sedikit mendorong bahu Blair dengan bahunya.


" Ini kesempatan langka, kapan lagi keluarga Loyard mengundangmu makan " Bisik Sofia.


" Kalau begitu ayo " Ruby dengan girang langsung melingkarkan tangannya di lengan Blair dan membawanya pergi.


" Oh ya kau juga datanglah " Ajaknya juga pada Sofia.


" Tidak nyonya, terima kasih, saya ingin berjalan-jalan berkeliling mall, saya ingin membeli sesuatu " Tolak Sofia sopan.


" Ah sayang sekali, tapi nanti kalau kau sudah selesai berjalan-jalan kau bisa datang untuk makan malam " Jawab Ruby, dia kemudian berpamitan dan membawa Blair keluar dari ruangan itu.


" Aku sangat senang sekali melihatmu, oh ya aku juga akan mengenalkan Raline padamu. Ngomong-ngomong makanan kesukaan mu apa ? Biar nanti aku memesankannya pada koki. Kau... " Ruby terus saja mengajak Blair berbicara sepanjang perjalanan dan tidak menyadari wajah pias Blair yang sedang menyeret langkahnya. Lesu dan gelisah.


Mau di hindari bagaimana pun aku tetap harus berkenalan dengan Raline.


Batin Blair lesu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Di restoran yang telah di kosongkan juga di jaga ketat oleh beberapa bodyguard itu keluarga Loyard dan kru pemotretan hari ini sedang berkumpul. Rai mengadakan jamuan makan untuk berterima kasih atas kerja keras mereka. Sebenarnya ini adalah ide Ruby, dan tentu saja Rai tidak bisa menolaknya. Rai yang terkenal kejam dan dingin mana mau repot-repot mengadakan pesta dengan pegawainya.


Dylan sedang memangku Raline dan mengajaknya bermain. Sementara Rai dan Ken terlihat sedang berdiskusi dengan tukang foto sembari menatap layar laptop yang terbuka di depan mereka. Dan para kru yang lain sedang sibuk berjingkrak-jingkrak gemas melihat Raline dari kejauhan.


" Ini hari terbahagia dalam hidupku, baru kali ini aku bisa sedekat ini dengan keluarga Loyard " Pekik salah satu kru dengan bisikan.


" Iya kau benar, aku bahkan sampai menghubungi orang tua ku agar mereka juga ikut merayakannya " Saut yang lainnya.


" Lihatlah anak tuan Rai, dia begitu menggemaskan dengan badannya yang gembul itu, aku ingin sekali menggendongnya " Yang lainnya menatap Raline dengan gemas.


" Hei jangan bermimpi, belum melakukannya pasti tangan mu sudah di patahkan oleh tuan Rai, ada-ada saja kau ini " Desis yang lainnya.


" Hasil fotonya benar-benar bagus tuan, terlihat natural " Puji tukang foto itu dengan sungguh-sungguh.


Ken dan Rai hanya diam dan menatap layarnya dengan seksama serta wajah yang sangat serius.


" Bagaimana kalau kau tambahkan sedikit efek ? " Perintah Rai dengan yakin.


" Tentu saja tuan, saya akan mengeditnya dengan sangat spektakuler hingga benar-benar sesuai dengan keinginan anda, percayakan pada saya " Jawab tukang foto itu dengan mantap.


" Ok, aku pegang kata-katamu " Ucap Rai kemudian melonggarkan bahunya yang semula terus tegang menatap kumpulan-kumpulan foto yang akan di edit.


Rai pun mengakhiri meeting singkat itu dan mendongakkan kepalanya mencari Ruby. Dan yang di cari pun baru saja masuk ke dalam restoran sembari menggandeng Blair.


" Ayo mulai acara jamuannya " Ajak Ruby kepada semua orang. Dan mereka pun langsung memperbaiki posisi duduk mereka.


" Blair kau duduk di sebelah Dylan ya " Bisik Ruby sembari mendorong tubuh Blair agar menuju kursinya.


" Tap... " Blair mencoba menahannya karena dia melihat Dylan yang sedang menggendong Raline dan Lusi duduk bersebelahan.


Anak siapa itu? Tidak mungkin kan kalau itu anak Raline? Jangan-jangan Raline itu sudah janda?


Syok batin Blair dengan hipotesa ngawurnya, hatinya semakin mencelos kecewa. Di tatapnya Lusi dengan mata nanar. Seketika pikirannya melayang pada sebuah truk yang pernah di temuinya di jalan.


Perawan memang menawan, janda memang menggoda tapi istri orang lebih menantang.


Begitulah kiranya tulisan di pant*t truk yang dia ekori di lampu merah.


Ruby membawa Blair mendekat ke arah Dylan hingga dia berdiri tepat di sampingnya.


" Nah disini tempat dudukmu " Ucap Ruby.


Blair menatap kursi-kursi itu dengan bingung, tidak ada kursi kosong disana, lalu dimana dia akan duduk?


Lusi yang mengetahui sang pemilik kursi telah datang itupun berdiri, Blair menatapnya penuh cemas dan takut.

__ADS_1


Apa ? Mau apa dia berdiri begitu ?


Tanpa sadar Blair pun melebarkan kakinya dan membuat kuda-kuda, matanya awas mengawasi pergerakan tangan Lusi, bersiap siaga apabila tamparan itu melayang dengan cepat.


" Tuan Dylan sini biar ku gendong nona Raline " Ucap Lusi seraya mengulurkan kedua tangannya ke arah Dylan.


" Tidak apa-apa Lusi, kau nikmati saja makanannya, Raline nanti biar ku gendong sendiri " Jawab Ruby santai sembari tersenyum.


" Baik nyonya, kalau begitu saya permisi dulu " Lusi menundukkan kepalanya dan pergi ke meja seberang, bergabung bersama Sinta dan para kru pemotretan lainnya.


L-loh ? I-itu... Ja-jadi... K-kok bisa ?


Blair hanya bengong menatap Lusi dan Raline mungil secara bergantian, jarinya bahkan gemetaran saat menunjuk ke arah Lusi yang sudah duduk di tempatnya.


" Hei ayo jangan bengong saja, duduklah " Ruby menyenggol lengan Blair.


" Di-dia ? " Gelagapan Blair menunjuk Lusi.


" Hm ? " Ruby mengikuti arah jari Blair.


" Lusi ? Kenapa ? Kalian saling kenal ? " Tanya Ruby bingung.


" Di-dia bu-bukan Raline ? " Blair semakin panik saat mengetahui kenyataan yang benar-benar jauh dari bayangannya itu.


" Kau ini bicara apa sih ? Dia Lusi, dan ini baru Raline " Jawab Ruby sembari tersenyum dan mengambil Raline dari gendongan Dylan.


" Ta-tapi Dy-dylan bilang kalau dia kekasih Raline ? " Sanggah Blair masih belum percaya.


" Hm ? " Ruby mengernyitkan keningnya lalu menatap Dylan untuk meminta jawaban.


" Apa maksudnya ? " Tanya Ruby tanpa suara dengan mulut yang komat kamit.


Dylan menggeleng dan memutar bola matanya, seolah memberitahu Ruby agar mengabaikan racauan Blair.


Dia pun berdiri dan mendorong pelan Blair ke arah kursinya, dengan sedikit memaksa dia menekan pundak Blair agar dia duduk.


" Sudah jangan di pikir " Ucap Dylan santai lalu berjalan memutar melewati belakang kursi Blair dan duduk di kursi sebelahnya.


" Bu-bukan... mak-maksud ku... tidak, tidak.... " Blair masih saja meracau bingung, namun Ruby sudah mengacuhkannya karena sibuk dengan Raline yang sedang berjingkrak-jingkrak.


" Maaf aku membohongi mu " Bisik Dylan lirih tepat di telinga Blair.


Blair menatapnya dengan sengit, kekesalan langsung memenuhi rongga dadanya. Tega-teganya Dylan berbuat begitu padanya, tidak tahukah dia bagaimana Blair harus melawan rasa bersalahnya karena terus menerus menuntut perhatian dan sikap mesra dari Dylan yang di kiranya adalah kekasih orang.


Awas kau ya !


Geram Blair dalam hati, namun Dylan seolah acuh dan menatap ke arah yang lain.


Perjamuan makan itu pun di buka dengan sambutan singkat, padat, dan jelas dari Rai.


" Rahasiakan identitas anak dan istriku, tidak boleh ada yang mengambil foto apalagi menyebarkannya. Kalau sampai hal itu terjadi, aku akan mencari kalian bahkan sampai ke jari mana yang kalian gunakan untuk menyebarkan identitas keluargaku " Ancamnya dengan sungguh-sungguh, suasana tentu saja sangat mencekam. Semua orang terdiam mematung dengan ketakutan. Tidak salah kiranya dia di juluki dementor, dia memang ahlinya menyedot rasa tenang dan kebahagiaan.


Salah satu kru yang bahkan memimpikan bisa menggendong Raline itupun mengkerut di tempat duduknya, jangankan menggendong atau menyentuh Raline, mengambil gambarnya saja sudah perbuatan yang di larang oleh Rai.


Setelah ancaman yang membuat bulu kuduk merinding itu, Ruby mengambil alih sambutan yang selanjutnya. Mendadak suasana yang seram itupun kembali menghangat. Wajah-wajah takjub dari para wanita di kru pemotretan tersebut terlihat jelas saat Ruby menyampaikan rasa terima kasihnya atas kerja keras mereka seharian ini.


Sedangkan para laki-laki menatap Ruby dengan pandangan salut, ternyata nyonya besar klan Loyard begitu sederhana dan ramah, sangat kontras dan berbanding terbalik dengan suaminya yang dingin.


" Terima kasih atas kerja keras kalian semua, silahkan nikmati hidangan sederhana ini " Ucap Ruby singkat saja, kemudian dia mempersilahkan semua orang untuk mulai makan.


Blair yang masih syok dengan kenyataan yang terpampang di depannya itu hanya bisa bengong dan melamun.


Dalam hati dia mengutuki dirinya sendiri yang telah mengira Raline adalah janda, untung saja Rai tidak memiliki kekuatan magis untuk membaca pikiran orang lain, karena kalau sampai itu terjadi dia pasti sudah di gantung dengan posisi terbalik dari atap mall ini.


" Blair kau tidak apa-apa ? " Tanya Ruby menggoyang pundak Blair.


" Dari tadi kau pucat sekali dan sering bengong ? "


" Kau tidak suka hidangannya ya ? " Tanya Kiran ikut menimpali.


" Ti-tidak, sa-saya suka " Blair semakin menjadi salah tingkah, dia begitu jahat sedangkan kedua kakak Dylan begitu baik.


" Kalau begitu cepat makan " Ajak Ruby sembari menyodorkan sepiring tumis daging pada Blair.


Dylan sang sumber kesalahpahaman Blair malah terlihat santai dan tenang. Blair meliriknya dengan kesal, tidak mungkin dia tidak tau semua ini, tapi kenapa Dylan tidak menjelaskannya saja daripada harus membuat dirinya menerka-nerka sendiri dan berujung pada pikiran jahat.


Arghh !!


Kesal Blair sembari menusuk daging di hadapannya dengan garpu.


Tadinya Blair ingin marah pada Dylan sampai dia memohon-mohon untuk di maafkan, namun seperti tau bagaimana caranya mengambil hati Blair, tangan kanan Dylan mendadak terbuka di atas pangkuan Blair, seolah meminta tangan Blair untuk di genggamnya.


Di perlakukan begitu tentu saja membuat Blair luluh. Kemarahannya yang tadi terasa berkobar langsung padam seperti di siram oleh pemadam kebakaran. Tapi Blair ingin sedikit jual mahal, dia membiarkan saja tangan Dylan terus terbuka di atas pahanya.


Namun Dylan tak diam begitu saja, di raihnya tangan kiri Blair lalu di genggamnya erat.


" Oh ya katanya kalian ada janji nonton hari ini ? " Ruby bertanya pada Blair.


" Entahlah, kemarin Dylan membatalkannya " Jawab Blair salah tingkah.


" Kenapa ? Nonton saja berdua, bukankah asistenmu bilang kau bebas sampai malam ? " Tanya Kiran ikut penasaran.


" I-itu... " Blair tidak bisa menjawabnya, dia melirik ke arah Dylan yang seolah acuh dan tidak mendengarkan.


" Sudah nonton saja berdua " Desak Ruby antusias.


" Iya " Kiran pun tak kalah antusias.


" Baiklah " Jawab Blair lirih.


Setelah acara jamuan yang berlangsung dengan tenang itu selesai, para kru berpamitan dengan sopan kepada Ruby dan Rai, serta Kiran dan Ken.


Dan suasana restoran pun kembali sepi, hanya tersisa keluarga Loyard plus Sinta dan Lusi.


Ruby yang mulai kewalahan menggendong Raline itupun sedang berdiri dan berjalan mondar mandir, dia belum makan karena terlalu sibuk dengan Raline.


" Nyonya biar nona Raline saya gendong " Ucap Lusi yang sedari tadi mengikuti langkah Ruby.


" Tidak apa-apa, habiskan saja makanan mu dulu " Jawab Ruby santai.


" Tapi nyonya anda belum makan " Balas Lusi.


" Tidak apa-apa, sudah sana " Jawab Ruby dan memaksa Lusi untuk melanjutkan makannya.


Blair yang terus memperhatikan Ruby itupun memberanikan diri untuk meminta izin menggendong Raline. Dia bangun dari duduknya dan menghampiri Ruby.


" Nyonya kalau boleh, saya ingin coba menggendong nona Raline " Ucapnya ragu-ragu.


" Kau mau menggendongnya ? " Ulang Ruby memastikan.


" Ya saya ingin mencobanya, tapi saya belum pernah melakukan ini sebelumnya " Jawab Blair malu-malu.


" Tidak apa-apa, pelan-pelan saja " Ruby pun lalu menginteruksikan pada Blair bagaimana dia harus mengatur posisi tangannya, setelah pas barulah Ruby menyerahkan Raline padanya.


" Wah berat juga ya ternyata " Seru Blair antusias.


" Iya dia memang sedikit gembul " Jawab Ruby sembari tersenyum.


" Nyonya anda makan saja, biar nona Raline saya yang menggendongnya " Ucap Blair yakin.


" Baiklah kalau begitu, tolong ya " Ruby pun meninggalkan Blair dan Raline untuk kembali ke kursinya.

__ADS_1


Blair membawa Raline berjalan ke arah jendela besar yang langsung menatap ke luar gedung.


" Raline maafkan aku ya, aku jahat sekali sudah menuduhmu yang bukan-bukan dan juga cemburu padamu " Blair mengutarakan rasa penyesalannya dengan sungguh.


" Kalau tau kau adalah bayi mungil menggemaskan begini mana mungkin aku cemburu tidak jelas. Pokoknya maafkan aku ya " Lanjutnya sembari mengayun-ayun Raline pelan.


" Tapi aku tetap lebih menyukai Raline " Suara Dylan di belakang Blair membuatnya terhenyak kaget.


Dia menoleh dan mendapati Dylan sedang menatapnya sembari menahan senyum mengejeknya.


" Cih " Cibir Blair ketus lalu kembali menatap ke luar jendela.


" Dia itu orang jahat, jangan mau dekat-dekat dengannya " Ucapnya pada Raline.


Raline pun hanya memberikan respon dengan menghentak-hentak kakinya dan ocehan-ocehan khas bayi.


" Jadi bagaimana ? " Tanya Dylan yang sudah berdiri di samping Blair.


" Bagaimana apanya ? " Jawab Blair ketus.


" Nontonnya " Jawab Dylan santai.


" Bukannya kau sudah membatalkannya ? " Blair yang masih kesal itupun kembali menjawab dengan ketus.


" Aku tarik lagi ucapan ku, jadi kau mau nonton atau tidak ? " Ulang Dylan.


" Demi tugas sekolah " Jawab Blair sinis, tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia benar-benar bahagia mengetahui bahwa dia tidak memiliki saingan dalam mendapatkan hati Dylan.


" Demi tugas sekolah " Ulang Dylan setuju dengan pernyataan Blair.


Setelah mereka semua benar-benar selesai makan, Ruby pun menghampiri Blair untuk meminta kembali Raline sembari berpamitan karena Raline terlihat sudah sangat mengantuk.


" Kau yakin tidak butuh mobil ? " Tanya Ken pada Dylan untuk yang kedua kalinya sebelum mereka berpisah di depan pintu restoran.


" Tidak, aku pulang naik taksi saja " Jawab Dylan santai.


" Baiklah kalau begitu jangan lupa untuk mengantar Blair pulang sampai rumah dengan selamat " Perintah Ruby sungguh-sungguh.


" Iya kak tenang saja " Jawab Dylan jengah karena terus menerus diingatkan perkara itu.


Dan mereka pun berpisah, Rai dan Ruby serta semua bodyguard juga pelayan yang ikut itupun akan pulang ke mansion. Sedangkan Dylan dan Blair berjalan menuju bioskop tempat mereka nonton film demi tugas sekolah.


" Loh kok kosong ? " Tanya Blair bingung saat telah masuk ke dalam ruangan.


" Iya aku meminta ayah agar bisa menggunakan ruangan ini dengan private. Tapi aku tidak menyangka kalau akan sespesial ini " Jawab Dylan canggung.


" Kenapa kau tidak bilang kalau kau adik dari tuan Rai ? Kau sering membuatku salah paham " Blair berjalan menuruni tangga menuju salah satu kursi tidur yang ada di barisan tengah.


" Yaah aku bukan adik kandungnya, tidak akan ada bagusnya juga jika orang-orang tau akan hal itu " Jawab Dylan sembari mengikuti langkah Blair.


Blair pun teringat kejadian perkelahian tadi, benar apa yang di katakan oleh Dylan, tidak ada untungnya orang lain tau, mereka hanya bisa menilai sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Entah di dorong rasa iri atau apa, mereka akan tetap mencemooh Dylan.


Blair telah memilih tempat duduk, dia kemudian merebahkan dirinya di sana.


" Nyaman sekali " Dia menghela napas panjang penuh kelegaan.


" Nyaman karena kursinya atau karena kenyataannya ? " Tanya Dylan menggoda.


" Hei kau ini " Sungut Blair kembali ketus lalu menghujani pukulan di lengan Dylan yang juga sudah duduk setengah berbaring di sampingnya.


" Iya iya maaf " Dylan berusaha menahannya, lalu dia meraih tangan Blair untuk menghentikannya.


" Aku tidak bermaksud untuk membuatmu salah paham, aku hanya suka melihatmu yang oneng. Sikapmu yang seperti itu benar-benar menggemaskan " Ucap Dylan sembari menggenggam tangan Blair dan menatapnya lembut.


Untung saja keadaan di dalam ruangan itu remang-remang, karena kalau tidak Dylan pasti sudah mentertawakan wajah Blair yang berubah jadi ungu.


" Kau ini tidak tau betapa aku merasa bersalah karena sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang Raline, juga aku berusaha sekuat tenaga menahan perasaan ku agar aku tidak merebutmu darinya. Aku terus bertanya-tanya kenapa kau bersikap begitu manis padaku sedangkan kau sudah punya kekasih, apa kau memang playboy atau kau memang menyukaiku, aku terus saja berpikir begitu " Omel Blair ketus, menyembunyikan rasa malunya juga.


" Hahaha... " Dylan malah tertawa terbahak-bahak mendengar omelan Blair.


" Ish jangan tertawa " Blair menepis tangan Dylan yang menggengam tangannya, tapi Dylan tidak melepaskannya.


" Jadi bagaimana perasaan mu padaku ? " Tanya Blair ragu-ragu setelah tawa Dylan sedikit mereda.


" Perasaan ku ? " Ulang Dylan santai, membuat jantung Blair semakin berdebar tak karuan menunggu jawaban dari Dylan.


" Biasa saja " Goda Dylan berpura-pura, dia lalu melepaskan tangan Blair dan menatap ke arah layar bioskop karena film yang akan mereka tonton telah di mulai.


" Apa ? " Blair sangat syok mendengar jawaban Dylan, dia bahkan memberanikan diri dan membuang gengsinya sebagai artis untuk bertanya hal itu.


" Hei apa aku tidak salah dengar ? Kau sudah menggenggam tanganku, memeluk ku tapi kau bilang kau biasa saja padaku ? " Omel Blair menegakkan punggungnya lalu sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Dylan, menuntut penjelasan.


" Sstt... diam, filmnya sudah mulai " Dylan menarik lengan Blair agar kembali bersandar di kursi dan menikmati filmnya dengan tenang.


" Aku tidak peduli pada tugas sekolah sekarang, jelaskan dulu apa maksudmu melakukan hal itu padaku kalau perasaan mu hanya biasa saja padaku " Blair kembali menegakkan punggungnya dan menghadap Dylan dengan kesal.


" Kau ini cerewet sekali sih " Dengan cepat Dylan menegakkan punggungnya dan mendorong kedua bahu Blair agar kembali bersandar.


" Ya ampun " Pekik Blair syok, dia berusaha meronta namun Dylan menatapnya dengan jarak yang lumayan dekat. Wajah mereka kini bertatapan.


Tiba-tiba saja sebuah ingatan samar-samar telintas di kepala Blair, seperti dejavu dia merasa pernah mengalami hal serupa dengan saat ini. Blair menatap Dylan dengan bingung.


" Kenapa ? Apa posisi ini tidak asing bagimu ? " Bisik Dylan lirih seperti bisa membaca isi pikiran Blair.


" A-a-a... " Lidah Blair rasa-rasanya kelu, tidak ada suara apapun yang keluar dari bibirnya.


" Baiklah, akan ku bantu kau mengingatnya dengan jelas " Ucap Dylan dan lalu dengan cepat dia mencium bibir Blair.


Menyesapnya dengan lembut dan perlahan-lahan. Ciuman mereka berlangsung cukup lama.


" Jadi kau sudah ingat, tukang mabuk ? " Goda Dylan lagi dengan bisikan yang membuat bulu kuduk Blair meremang setelah dia mengakhiri ciuman mereka.


Tidak !! Jadi semalam aku mimpi mencium Dylan itu benar? Itu nyata ? Tapi kenapa harus dalam keadaan mabuk !!!


Maki batin Blair mengutuki kebodohannya sendiri.


Bersambung....


.


.


.


.


.


Epilog


" Ok, aku pegang kata-katamu " Ucap Rai kemudian melonggarkan bahunya yang semula terus tegang menatap kumpulan-kumpulan foto yang akan di edit.


" Anda tenang saja tuan, saya akan membuat anda menjadi tingki wingki dengan gaya yang elegan dan benar-benar lain daripada yang lain " Jawab tukang foto itu dengan sangat meyakinkan saat dia sedang menunjukkan hasil foto keluarga Klan Loyard yang akan di edit bertemakan teletubbies.


" Tapi tuan.... " Tukang foto itu sedikit terlihat bimbang.


" Apa lagi ? " Tanya Ken serius.


" Memangnya dia tidak bisa tersenyum ya? Bagaimana saya akan mengeditnya? " Tanya tukang foto itu menunjuk wajah Dylan.


" Biarkan saja kalau itu, dia sebenarnya ingin jadi pipanya, tapi aku menyuruhnya jadi penyedot debu, mungkin karena itu dia kesal dan raut wajahnya kaku begitu. Kau edit saja hidungnya jadi agak besar dan merah, juga beri kumis, dengan begitu wajahnya yang kaku akan sedikit tersamarkan " Jawab Rai santai sembari tertawa jahat.

__ADS_1


" Hahaha... karena kau kalah taruhan, akan ku cetak ini dengan besar dan ku gantung di ruang keluarga. Foto teletubbies " Ucap Rai kepada dirinya sendiri.


__ADS_2