
" Loh kenapa jadi pelayan yang mengantarkan ini ? " Tanya Ruby heran melihat pelayan sedang meletakkan 2 cup es cream di meja mereka. Namun pelayan tersebut hanya tersenyum dan berlalu pergi.
" Kemana si ranger pink itu pergi ? " Tanya Rai kepada Ruby.
" Tidak tau " Jawab Ruby juga seraya mencari-cari Dylan namun tidak juga melihatnya.
" Sudah biarkan saja, mungkin dia juga ingin jalan-jalan sebentar " Jawab Rai dan kemudian mengambil es cream di depannya.
" Aa.. " Rai mengambil sesendok dan mengulurkannya pada Ruby.
" Mungkin saja, soalnya tadi aku melihat dia bertemu teman sebangkunya " Ucap Ruby setelah menelan suapan es cream dari Rai.
" Teman sebangku ? " Rai mengernyitkan keningnya.
" Dia punya ? " Tanya Rai kemudian.
" Sepertinya begitu, teman sebangkunya gadis dan namanya tadi siapa ya ? " Ruby mengetuk-ngetuk meja berusaha mengingat-ingat.
" Das siapa ya ? " Gumamnya lagi.
" Dasi " Jawab Rai acuh seraya menyendokkan es cream ke mulutnya.
" Kau ini selalu saja asal bicara " Cibir Ruby kesal.
" Kau juga kenapa harus repot-repot memikirkan teman orang lain, teman ku saja kau tidak mau tau " Balas Rai asal.
" Kau punya teman ? " Pekik Ruby.
" Tidak " Jawab Rai singkat dan terus saja memakam es creamnya.
" Aish lalu kenapa kau bilang aku tidak peduli dengan teman mu ? Kalau kau punya teman tentu saja aku akan peduli " Jawab Ruby kesal karena merasa di kerjai oleh Rai.
" Hei kalau aku punya teman kau akan peduli padanya ? " Teriak Rai tiba-tiba marah. Membuat Ruby yang tadinya akan menyendokkan es cream berjengit kaget dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Rai.
" Kenapa teriak-teriak sih " tanya Ruby bingung.
" Hei kau ini !! Kata siapa kau boleh memperdulikan orang lain selain aku ? " Omel Rai ketus. Ruby yang semakin bingung memincingkan matanya.
" Aku sepertinya terlalu bebas padamu akhir-akhir ini sampai kau bisa memperdulikan orang lain " Lanjutnya lagi. Melihat tingkah Rai, Ruby menghela napas dan memutar bola matanya.
" Hei aku tidak memperdulikan orang lain, memangnya kau pernah lihat aku memperdulikan orang lain " Jawabnya malas dan kembali menyendokkan es cream ke mulutnya.
" Kau bilang tadi kau akan memperdulikan teman ku " Tuduh Rai.
" Memangnya kau punya teman ? " Saut Ruby acuh.
" Karena sikapmu yang begini aku jadi tidak ingin punya teman " Jawan Rai ketus.
" Cih " Cibir Ruby kesal, malas meladeni Rai yang cemburu tanpa alasan.
" Awas saja kalau kau berani-beraninya memperhatikan orang lain " Ancam Rai kemudian.
" Lalu kau mau apa ? Kau mau memukulku ? " Tantang Ruby marah.
" Itu tidak mungkin lah, bagaimana aku memukul istri yang sangat aku cintai " Teriak Rai semakin kesal. Semua orang langsung memalingkan wajahnya ke arah Rai dan Ruby.
" Hei jangan keras-keras " Ruby membekap mulut Rai. Namun Rai segera menariknya.
" Biar saja, biar mereka tau betapa aku sangat mencintai istriku " Jawabnya lantang. Dan semua orang yang melihat mereka langsung tersenyum malu-malu mendengar penuturan Rai. Begitu juga dengan Ruby, wajahnya merah merona karena malu.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
" 59... " Erang Kiran tertahan, keringatnya bercucuran dan jatuh mengenai Ken yang ada di bawahnya.
" 60... " Kiran langsung membanting tubuhnya ke samping begitu selesai menghitung. Dengan napas yang tersengal-sengal dia melirik Ken yang kini berbaring disampingnya.
" Sekali lagi " Perintah Ken santai.
" Tidak mau " Ucapnya seraya mengatur napas. Dia sudah sangat kelelahan, kakinya bahkan gemetaran hebat, merasa lemas.
" Baru satu ronde saja kau sudah kelelahan " Sinis Ken.
" Hei ini pertama kalinya bagiku, jelas saja aku tidak kuat " Balas Kiran kesal, dadanya naik turun seiring dengan tarikan napasnya yang pendek-pendek.
" Makanya kan sudah ku bilang, paling tidak kau harus melakukannya sehari 3 kali, baru kau akan terbiasa " Jawab Ken lalu memiringkan tubuhnya menghadap Kiran yang sedang menatapnya kesal.
" Hei kau pikir jalan kaki juga bukan olahraga ? Aku berjalan kaki setiap hari, dari rumah ke halte bus, lalu dari halte ke sekolah, belum lagi seharian harus bolak balik dari ruang guru ke ruanganku, kau pikir itu juga bukan olahraga " Omelnya kesal.
" Itu bukan olahraga tapi sebuah keterpaksaan " Jawab Ken asal.
" Apa ? " Kiran mengernyitkan keningnya.
" Kalau saja kau di perbolehkan naik skuter dari ruang guru ke ruanganmu sendiri, kau pasti lebih memilih naik skuter kan ? " Jelasnya santai.
" Wuah " Cibir Kiran kesal dan menatap Ken sinis.
" Kau itu terpaksa menggunakan kakimu, bukannya olahraga, jadi kakimu itu tidak bertenaga, tapi dengan melakukan plank seperti ini kakimu akan bertenaga, jadi saat nanti kau menendang seseorang, kau bisa merobohkannya dalam sekali tendangan " Jelas Ken mengabaikan tatapan kesal Kiran padanya.
" Jadi lakukan lagi " Perintah Ken dan kemudian dia merebahkan tubuhnya lagi.
" Dasar !! Bilang saja ini hanya akal-akalan mu untuk membuatku di atas " Gumam Kiran.
" Aku dengar semuanya " Jawab Ken asal.
" Ya kau bilang aku tampan kan ? " Ken tersenyum.
" Cih " Decak Kiran malas. Namun Ken sudah memaksanya lagi untuk melakukan plank selama 1 menit dengan Ken yang ada di bawahnya, jadi jika Kiran tidak kuat maka dia akan jatuh ke atas tubuh Ken dengan sendirinya.
" Ayo cepat " Perintah Ken.
" Iya iya " Teriak Kiran malas.
" Tapi kenapa harus dengan posisi begini sih ? " Protes Kiran.
" Ini hanya agar kau semakin bersemangat sayang " Goda Ken dan mengedipkan sebelah matanya.
" Tapi bukankah ini tidak masuk akal, kenapa aku tidak boleh pakai baju, kita kan sedang olahraga, setidaknya biarkan aku pakai baju olahraga " Protes Kiran lagi.
" Memangnya kau bawa baju olahraga ? " Tanya Ken asal.
" Memang tidak tapi kan kita bisa membelinya " Sanggah Kiran kesal.
" Ei itu namanya buang-buang uang, ini di negeri orang, kalau kita tidak hemat, kita tidak bisa pulang kerumah bagaimana ? " Jawab Ken asal seraya memasang senyum menggoda.
" Lagipula kata siapa kau tidak pakai baju ? Kau kan sedang pakai " Lanjutnya kemudian seraya menarik tali bra Kiran lalu melepaskannya hingga terdengar bunyi " pletak " saat tali bra itu mengenai kulit Kiran.
" Aauhh " Teriaknya kesakitan. Lalu menatap Ken dengan tajam.
" Ini bukan baju, ini pakaian dalam " Jawab Kiran mendelik kesal.
__ADS_1
" Hm hm " Ken menggelengkan kepalanya.
" Kau ini memang tidak cerdas ya, kau bilang tadi itu pakaian dalam, jadi itu artinya masuk dalam golongan pakaian, hanya saja untuk di di pakai di bagian dalam, tapi tetap saja dia satu spesies dengan pakaian " Jelas Ken panjang lebar.
" Sudah tutup mulutmu, kau ini pandai sekali berdebat kalau masalah sepele begini " Geram Kiran kesal.
" Aku hanya menjelaskannya padamu, kalau kau bilang kau tidak memakai pakaian maka akan aku tunjukkan bagaimana perbedaannya antara memakai pakaian dengan tidak memakai pakaian " Ucap Ken seraya menggoda Kiran.
" Berhenti " Ancam Kiran saat merasakan tangan Ken mulai menggerayangi punggung Kiran.
" Jangan macam-macam " Ancam Kiran mendelik. Dia harus menahan tubuhnya dalam posisi plank.
" Ups maaf tanganku terpeleset " Jawab Ken tersenyum licik saat berhasil melepas kaitan bra milik Kiran.
" Hei ! " Teriak Kiran.
" Kalau ini jatuh seperti ini maka kau akan benar-benar tidak memakai pakaian dong " Goda Ken seraya menjatuhkan salah satu tali bra milik Kiran.
" Jangan teruskan " Ancam Kiran kesal.
" Kalau satunya lagi jatuh bagaimana ya ? " Ken mempermainkan tali bra yang lain.
" Aish ! " Decak Kiran kesal lalu berguling ke samping menghentikan planknya dan menatap Ken sengit. Namun Ken malah tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil mengerjai Kiran terus-terusan.
" Kau ini sebenarnya mau apa sih ? " Geram Kiran ketus.
" Olahraga sekaligus minum... " Goda Ken lalu terkekeh lagi.
" Minum apa ? " Tanya Kiran bingung.
" Lanjutkan sendiri " Ken kembali terkekeh lalu tiba-tiba dia terdiam seperti memikirkan sesuatu. Kiran yang melihat itu semakin menatapnya penuh curiga. Jika Ken sudah seperti itu biasanya dia akan mengungkapkan hal aneh-aneh.
" Nah " Pekik Ken seraya bertepuk tangan.
" Apa ? " Kiran berjengit kaget, meskipun sedari tadi dia mengamati Ken namun tetap saja dia terkejut mendengar Ken memekik.
" Kau bilang tadi kan kalau kau capek berjalan kesana kemari, bagaimana kalau kau naik skuter saja, pasti akan sempurna " Jelas Ken dan tersenyum riang.
" Sempurna ? " Tanya Kiran semakin bingung.
" Peran mu sebagai poo, kan dia naik skuter, kalian pasti mirip " Jawab Ken antusias.
" Heol " Cibir Kiran kesal.
" Ayo bilang pooo lagi " Goda Ken.
" Tidak mau " Jawab Kiran sinis.
" Ayo lah, dulu sewaktu kecil aku senang sekali melihat serial itu, dan selalu tertawa terbahak-bahak jika mendengar suara poo, bahkan aku pernah bilang aku ingin hidup bersama poo, dan sekarang itu terkabul " Jelas Ken dengan antusias.
" Cih, dasar anak kecil " Kiran memutar bola matanya.
" Ayo lah " Rengek Ken seraya menggoyang-goyang pundak Kiran.
" Baiklah, baiklah " Kiran menyerah dan bersiap-siap, menarik napas terlebih dahulu sebelum menirukan dialog poo.
" Poooo " Ucapnya kemudian dengan suara lembut manja dan lucu.
" Teeeettt... kurang bagus " Balas Ken seraya merem*s dada Kiran.
__ADS_1
" Hei !!! " Teriak Kiran geli. Dan kemudian Ken langsung memeluk Kiran dan menghujaninya dengan ciuman di seluruh tubuhnya.
Bersambung....