
Hari ini adalah hari yang penting dalam hidup Ruby. Semalam setelah Ruby dan Rai berbaikan, mereka membahas masalah yang jadi penyebab pertengkaran mereka, yaitu ayah Ruby.
" Kau yakin ? " Tanya Rai untuk kesekian kalinya kepada Ruby yang sedang duduk di kursi yang ada di depan meja rias di ruang ganti.
" Ya, kita sudah terlalu lama menahannya " Jawab Ruby lirih, terlihat kesedihan mendalam dalam nada bicaranya dan matanya yang berkaca-kaca, namun dia memaksakan untuk tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
" Sekali lagi aku minta maaf untuk kesalahan terbesar yang telah ku lakukan padamu " Ucap Rai dan mencium puncak kepala Ruby yang ada di hadapannya.
" Ya " Jawab Ruby lirih, dan Rai pun keluar untuk meninggalkan Ruby sendirian. Memberinya waktu untuk menata hatinya dan mempersiapkan mentalnya.
Ayah, ibu, selamat atas bersatunya kalian. Hari ini aku akan melepas semua alat di tubuh ayah, dengan begitu kalian akan bisa bersama-sama disana. Aku tau harusnya aku ikut berbahagia karena ini adalah keinginanmu, tapi tetap saja aku masih belum bisa menerimanya. Maafkan aku ayah, ibu, belum bisa membahagiakan kalian, belum bisa menjaga kalian dengan baik.
Isak Ruby kembali pecah saat membayangkan bahwa ini adalah hari terakhir dia bisa menyentuh ayahnya sebanyak mungkin.
Hari ini, keluarga Loyard akan datang ke rumah sakit untuk menyaksikan dokter melepas seluruh alat penunjang hidup yang ada di tubuh ayah Ruby, dan hari ini juga Ruby akan mengadakan pemakaman tertutup untuk ayahnya di samping pusara ibunya.
Regis yang sudah mendengar keputusan Ruby semalam, langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengurus semua hal yang berkaitan dengan pemakaman ayah Ruby di desa tempat ibu Ruby dimakamkan juga. Tapi sebelum mereka pergi ke rumah sakit, Rai dan juga Regis mengusulkan kepada Ruby agar berbelanja pakaian terlebih dahulu, pakaian yang terbaik untuk mengantarkan kepergian ayahnya. Semula Ruby menolak ide itu, tapi Regis memberikan alasan yang tidak bisa di tolak oleh Ruby.
" Setidaknya terlihatlah bersinar sebagai bukti bahwa kau menjalani hidup dengan baik di depan ayahmu untuk yang terakhir kalinya, jadi dengan begitu ayahmu akan merasa tenang di tidur panjangnya " Ucap Regis saat itu.
Dan disinilah Ruby saat ini, sedang bersiap-siap pergi ke pusat perbelanjaan bersama dengan anggota keluarga yang lainnya dan juga Adelia yang telah di jemput oleh sopir untuk menginap semalam.
Mereka semua berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Suasana terlihat murung, mereka membiarkan hening membentang. Setelah sarapan bersama mereka pun pergi ke pusat perbelanjaan milik Klan Loyard yang baru sebelum menuju rumah sakit.
Adelia dan Ruby serta Raline berada dalam satu mobil, sedangkan Rai, Regis dan Dylan serta sekertaris Yuri berada di mobil lainnya.
" Kau yakin tidak ingin memberitahukan pada Kiran kabar menyedihkan ini ? " Tanya Adelia sekali lagi saat mereka sudah berada di dalam mobil.
" Aku baik-baik saja, lagipula Kiran sedang berbahagia, aku tidak ingin mengganggunya " Jawab Ruby dengan senyum terpaksanya.
" Harusnya kau beritahu dia, ibu yakin dia akan mengerti dan segera pulang, jadi kau bisa membagi kesedihanmu dengannya " Jawab Adelia.
" Tidak apa-apa, ibu jangan beritahukan hal ini padanya ya " Pinta Ruby.
" Baiklah kalau itu keinginanmu " Jawab Adelia menyerah untuk meyakinkan Ruby.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hari minggu adalah hari bagi Blair untuk bekerja, ini adalah kesepakatan baru yang di buat antara dirinya dan ayahnya sejak pindah ke sekolah Loyard, tidak ada pekerjaan selama hari sekolah, dan dia baru di izinkan bekerja saat hari minggu atau hari libur.
" Ya ampun !! Blair, kenapa kau punya kantong mata sehitam ini ? " Teriak make up artist yang akan mendandani Blair di ruang tunggu khusus untuk artis yang ada di pusat perbelanjaan Loyard.
" Aku tidak bisa tidur semalam " Jawabnya acuh dan menghela napas malas.
" Kau akan butuh banyak concealer untuk menutupinya " Ucapnya panik dan bolak balik memutar wajah Blair untuk melihatnya dari berbagai sudut.
" Ya terserah kau saja, lakukan apapun yang kau mau " Jawab Blair malas dan kemudian menyandarkan kepalanya di atas sandaran kursi dan memejamkan matanya.
" Kau dandani aku begini saja ya, aku mau tidur sebentar, ok " Ucapnya lagi seraya membenahi posisi duduknya agak mendongakkan kepalanya agar make up artist bisa mendandaninya.
Ini gara-gara si remahan kerupuk itu aku jadi tidak bisa tidur semalaman. Untuk apa juga aku mengkhawatirkan dia, bukankah aku sudah berbuat baik dengan menghalanginya, dia sendiri yang cari mati dengan Tuan Rai.
Omel batin Blair kesal saat mengingat-ingat kejadian kemarin sore di rumah sakit, bagaimana Rai memiting dan menyeret Dylan agar masuk ke dalam mobilnya.
Dia pasti tidak akan selamat.
__ADS_1
Lanjutnya gelisah memikirkan nasib Dylan.
Setelah beberapa lama mendandani Blair, make up artist itupun memberitahunya bahwa pekerjaannya telah selesai, dan dia meminta Blair untuk mengangkat kepalanya menghadap kaca dan agar melihat dandanan wajahnya.
" Sempurna bukan ? " Ucap Make up artist tersebut.
" Kau terlihat segar dan cantik " Lanjutnya memuji hasil tangannya sendiri.
Setelah selesai bermake up, kini giliran penata busana yang memilihkan baju untuk Blair, tema pemotretan hari ini adalah baju casual untuk remaja. Dan penata busana tersebut membawa beberapa potong baju yang akan di kenakan Blair.
" Ingin ku bantu ? " Tawarnya saat melihat Blair dengan lesu menerima baju yang akan di pakainya.
" Tidak perlu " Jawabnya malas, dia sangat tidak bergairah hari ini, jika biasanya minggu adalah waktu yang dia tunggu-tunggu untuk menunjukkan pesonanya dan kemampuannya dalam modeling, namun kali ini dia justru ingin berbaring saja di rumah.
Blair memasuki ruang ganti, menghadap sebuah cermin berukuran besar di ada hadapannya.
Stop otak !!
Makinya kesal kepada dirinya sendir.
Berhenti memikirkan anak aneh itu, kau ini kenapa sih, padahal dia tidak ada hubungan apa-apa dengan mu, kenapa kau sangat peduli dia selamat atau tidak ?
Blair membenturkan kepalanya pelan pada cermin yang ada di depannya.
Ini pasti karena aku memiliki hati yang baik, jadi wajar saja bukan kalau aku memikirkan teman sebangku ku, bagaimana kalau tiba-tiba dia di temukan meninggal ? Tentunya aku juga yang repot, semua teman sekelas pasti juga akan bertanya apa ada yang aneh dengannya sebelum di temukan meninggal ?Ya pasti karena itu, benar, benar. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang di tanya-tanya.
Blair menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan melalui mulut, berusaha menenangkan hatinya.
Dia kemudian menegakkan punggungnya, menggelengkan kepalanya mengusir semua rasa kekhawatirannya yang tidak berguna.
" Ayo semangat Blair " Teriaknya menyemangati diri sendiri.
Aish !! Kenapa aku pakai bra warna hitam sih.
Dia menghentak-hentakkan kakinya, kesal sendiri. Dan semangat yang tadi di bangunnya kembali hilang.
Setelah cukup lama berada di ruang ganti akhirnya Blair pun keluar dan menemui kru pemotretannya hari ini. Bersiap-siap untuk menjalankan pekerjaannya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Mobil yang di tumpangi oleh keluarga Loyard memasuki area parkir khusus, dengan beberapa pengawal yang telah menunggu kedatangan mereka dan bersiap untuk membukakan pintu begitu mobil mereka berhenti.
Rai langsung menghampiri Ruby begitu dia keluar dari dalam mobil. Sedangkan Adelia mengulurkan tangannya untuk meminta Raline dari gendongan Ruby.
" Biar ibu saja yang menjaganya, kau beli lah beberapa baju yang kau suka, ada benarnya juga ayah mertua mu menyarankan ide ini, kau terlihat sangat kacau nak " Ucap Adelia menatap Ruby yang terlihat pucat tidak bersemangat.
" Tapi ibu nanti kelelahan " Jawab Ruby sungkan.
" Tidan akan. Sudah kau pergi saja dengan Rai, aku dan ayah mertua mu akan menjaga Raline " Lanjut Adelia dan segera pergi menghampiri Regis.
Dan mereka pun pergi terlebih dulu di ikuti oleh sekertaris Yuri meninggalkan Rai, Ruby serta Dylan.
" Ayo " Ajak Rai menggandeng tangan Ruby.
Namun baru beberapa langkah mereka memasuki pusat perbelanjaan itu, wakil manager sudah menghampiri Rai dan memberitahukan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Mereka berjalan agak menjauh dari Ruby dan Dylan untuk membahasnya. Rai terlihat menyimaknya dengan serius, lalu melirik Ruby dan Dylan. Setelah selesai berbicara dengan Wakil Manager, Rai kembali pada Ruby yang sedang menunggunya untuk meminta izin.
__ADS_1
" Maaf aku tidak bisa menemanimu memilih pakaian, tiba-tiba saja ada urusan mendadak yang harus ku tangani. Kau bisa pergi bersama Dylan kan ? " Tanya Rai sungkan.
" Ya tidak apa-apa, pergilah, begitu kami selesai kami akan menyusulmu " Jawab Ruby maklum.
" Maaf ya, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat lalu menyusulmu memilih baju " Ucap Rai dan kemudian mencium kening Ruby sebelum meninggalkannya.
" Jaga kakakmu ok, kau ingat kan kejadian kemarin ? Jangan sampai terulang lagi " Perintah Rai kepada Dylan.
" Iya aku mengerti, tenang saja percaya padaku " Jawab Dylan meyakinkan Rai. Dan Rai pun pergi bersama dengan Wakil Manager.
" Memangnya kemarin ada apa ? " Tanya Ruby penasaran begitu Rai sudah menjauh.
" Tidak ada apa-apa, sudah ayo pergi " Jawab Dylan mengalihkan pembicaraan.
" Kita mau beli apa ? " Tanya Dylan bersemangat, dia ingin juga ikut andil dalam menghibur Ruby yang sudah dia anggap seperti ibu sekaligus kakaknya sendiri.
" Entahlah, aku tidak berselera belanja saat ini " Jawab Ruby malas.
" Jangan bersedih terus seperti itu dong kak, kau tau suasana hatimu berpengaruh pada suasana di rumah, semua orang terlihat ikut murung saat ini " Hibur Dylan. Namun Ruby hanya diam saja. Dylan pun kemudian berjalan ke belakang Ruby dan dengan tiba-tiba mendorongnya maju penuh semangat.
" Ayo kita bersenang-senang dulu sebelum menghabiskan stok air mata kita nanti " Ucapnya seraya mendorong Ruby.
Dengan sabar Dylan menemani Ruby keluar masuk outlet yang menjual pakaian, mencari sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum.
🍁🍁🍁🍁🍁
" Ok bagus " Teriak fotographer saat Blair berganti-ganti gaya untuk di foto. Dan suara jepretan kamera serta kilatan lampu flash beruntun mengambil gambar Blair yang terlihat sangat cantik dengan balutan sweater pink dipadukan dengan celana pendek serta sepatu kets putih.
Setelah mengambil beberapa gambar dalam berbagai macam gaya, forographer memeriksa hasilnya pada kamera digitalnya.
" Sempurna " Gumamnya bangga dengan hasil jepretan kameranya.
" Baiklah istirahat 30 menit " Teriaknya lantang dan pergi dari lokasi untuk memeriksa hasilnya lebih detail melalui laptopnya.
Asisten Blair dan Manager Yo yang sedari tadi berdiri di sekitar lokasi segera menghampiri Blair.
" Kerja bagus nona Blair, ini minuman mu " Pujinya seraya menyodorkan sebotol air mineral.
Blair menerimanya dengan lesu, dia masih tidak bersemangat saat ini.
" Sampai jam berapa pemotretan ini ? " Tanyanya pada Manager Yo, dia ingin segera pulang dan tidur.
" Jika hasil foto mu tadi bagus dan tidak ada yang perlu di ulang, maka sudah cukup untuk hari ini " Jawab Manager Yo.
" Kalau begitu aku ingin membeli beberapa pakaian dulu selagi menunggu hasilnya, kau tunggu saja hasilnya disini, kalau nanti mereka memerlukan foto tambahan hubungi aku " Ucap Blair pada Manager Yo.
" Kau temani aku belanja ya " lanjutnya pada asistennya.
" Baik nona " Jawab mereka berdua bersamaan. Dan Blair pun memakai kacamata hitam serta masker untuk menyembunyikan identitasnya, dia sedang tidak ingin di kerumuni para fansnya untuk berfoto atau memberi tanda tangan.
" Memangnya kita mau kemana nona ? " Tanya Asisten Blair penasaran.
" Aku hanya ingin beli beberapa pakaian dalam " Jawab Blair malas, dia ingat hampir semua pakaian dalamnya berwarna hitam, karena warna hitam adalah kesukaannya. Dan sekarang warna hitam malah membuatnya terus teringat pada Dylan, dan hal itu membuatnya kesal.
Blair dan Asistennya memasuki sebuah outlet khusus pakaian dalam dengan merk ternama internasional. Bersamaan dengan itu juga dari arah yang lain, Dylan dan Ruby masuk kedalam outlet pakaian yang ada disamping outlet yang di masuki oleh Blair.
__ADS_1
Akankah mereka bertemu kali ini ?
Bersambung...