
" Hahaha.... " Gelak tawa dingin membahana di seluruh penjuru ruangan, mendatangkan gema mengerikan yang membuat seluruh orang yang hadir bergidik ngeri.
Semua merasa sangat terintimidasi, ya kecuali satu orang, atau dua? Entah kurang perasa atau terlalu berani, yang jelas kedua orang itu masih bisa mendongakkan dagunya dengan wajah santai.
" Jadi ini ya ? " Setelah meredakan tawanya, suara itu kini semakin mengintimidasi dengan nada rendah sarat dengan emosi yang tertahan.
Dia menundukkan kepalanya untuk mengecek sekali lagi tampilannya. Memakai baju yang serba putih dan sabuk dari kain berwarna hitam.
" Hah ! " Dengan nada mencemooh yang sangat kentara pemilik suara itu lalu berkacak pinggang.
" Sudah jangan banyak omong, jadi ayah peringatkan sekali lagi peraturannya ya. Kau... " Ujar Regis sembari menunjuk anak sulungnya yang sudah berwajah masam serta berkacak pinggang penuh rasa kesal itu.
" .... hanya bisa di katakan menang kalau kau bisa menghindari pukulannya sebanyak 3 kali. Dan kau sayang.... " Regis beralih menatap Ruby yang sedang berdiri di hadapan Rai dengan posisi siap.
" Kau yakin mau melakukan ini ? " Tanya Regis untuk yang ke dua kalinya kepada Ruby.
" Ya aku yakin dan aku sudah siap " Jawab Ruby mantap.
" Menyerah sajalah " Cibir Rai mengejek tanpa berpura-pura. Dia tidak akan bermanis-manis lagi pada istrinya yang sangat tidak peka itu.
" Sstt !!! " Potong Regis melerai.
" Dilarang menjatuhkan mental lawan " Jelas Regis sekali lagi.
" Cih ! " Sungut Rai kesal. Dia tidak pernah membayangkan sama sekali bahwa kata bertarung yang di utarakan oleh istrinya itu bermakna yang sebenarnya, bukan makna kiasan atau kode rahasia antar suami istri.
Tapi benar-benar kata yang sesuai kamus besar bahasa yang artinya bertanding mengadu kekuatan dalam sebuah pertandingan atau laga.
" Dan Ruby akan di nyatakan menang kalau bisa sekali saja mendaratkan pukulan atau tendangannya kepada Rai. Dan setelah waktu habis apabila tidak ada yang kalah maka akan di nilai berdasarkan poin " Regis kembali menjelaskan aturan dasar pertandingan sederhana antara Rai dan Ruby.
" Iya " Jawab Ruby sopan. Di tatapnya Rai dengan sungguh-sungguh, penuh rasa sportifitas dan juga kejujuran akan jalannya pertandingan malam ini.
" Ya sudah " Decak Rai malas, dirinya benar-benar sedang merasa di tusuk dari belakang oleh istrinya sendiri, dan juga di khianati oleh adik-adiknya. Saat ini yang dia hanya ingin balas dendam. Dan caranya adalah dengan mengalahkan istrinya seperti biasa.
" Oke kalau begitu pertandingan selama 30 menit ini kita mulai " Suara lantang Regis membahana nyaring memenuhi aula yang kemudian di susul oleh tiupan peluit dari pak Handoko selaku asisten wasit.
Tanpa berlama-lama lagi Ruby langsung menerjang Rai dengan cekatan, mengarahkan ayunan tinjunya ke arah titik-titik vital. Namun lihat dulu lawannya.
Meski Ruby memegang sabuk hitam untuk olahraga bela diri, tapi tetap saja suaminya itu juga bukan lawan sembarangan. Rai yang terlatih sejak kecil dengan semua macam bela diri tentu jauh berada di atas Ruby. Secara kemampuan juga stamina. Mau itu tiga puluh menit atau satu jam, adalah hal biasa baginya.
Pukulan demi pukulan, dan juga tendangan demi tendangan dari Ruby mampu di tangkis Rai dengan mudah.
Pertarungan ini tidaklah mudah, hasilnya mungkin akan terlihat jelas siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Tapi Ruby tidak ingin menyerah, dia sudah bertekad membalaskan dendamnya kepada Rai yang selalu menjahilinya terus-terusan.
Kali ini aku tidak mau kalah atau mengalah.
Teriak batin Ruby penuh kobaran semangat.
" Memangnya tidak apa-apa ya membiarkan mereka begitu ? " Tanya Dylan panik melihat Ruby yang terus berusaha keras mendaratkan pukulan atau tendangannya ke arah Rai.
Para pelayan juga anggota keluarga yang lain yang ikut menyaksikan jalannya pertandingan itu menonton dari kursi tribun di samping ruangan.
" Apanya ? " Tanya Ken bingung dengan pertanyaan Dylan.
" Ya mereka yang sedang berkelahi itu, aku takut kalau kakak ipar akan terluka " Jawab Dylan khawatir.
" Tenang saja, semarah-marahnya Kakak dia tidak akan mungkin menyakiti kakak ipar "Jawab Ken santai.
" Memangnya tidak bisa di bicarakan baik-baik ya ? Kenapa sampai harus berkelahi seperti ini ? " Tanya Dylan masih saja tidak bisa tenang.
" Apanya yang di bicarakan baik-baik ? " Ken malah balik bertanya dan bingung.
" Ya masalah mereka, aku tidak suka melihat mereka bertengkar seperti itu " Jawab Dylan mulai kesal karena sepertinya Ken sama sekali tidak khawatir dengan keselamatan Ruby.
" Kak Kiran, kau kan sahabatnya dan sekarang sudah jadi saudaranya, kenapa kau diam saja melihat mereka berkelahi seperti itu " Kali ini Dylan mencoba peruntungannya pada Kiran yang juga sedang duduk di samping Ken.
" Mereka tidak ada masalah kok " Jawab Kiran santai.
Dylan memincingkan matanya, tidak ada masalah tapi berkelahi begitu, apa masuk akal.
__ADS_1
" Lalu kenapa mereka berkelahi ? " Kejar Dylan masih tidak percaya.
" Ini kan memang pertandingan rutin setiap minggu, hanya saja Ruby meminta waktunya di majukan " Jawab Kiran santai.
" Pertandingan tiap minggu ? Maksudnya ? " Tanya Dylan lagi.
" Ah kau belum tau ya ? Kami sekeluarga selalu melakukan pertandingan seperti ini, dulu hanya aku dan kak Rai, lalu setelah datang kakak ipar kami jadi melakukannya bertiga. Ya bisa di bilang ini latihan agar kami semua tetap waspada dalam menjaga diri " Jelas Ken panjang lebar.
" Kok aku tidak tau ? " Tanya Dylan bingung.
" Itu karena kita tidak berada di level mereka, jadi aku dan kau berlatih bela diri dengan pelatih yang ayah siapkan, sedangkan mereka tidak butuh pelatih lagi, tapi butuh lawan " Kiran pun ikut menjelaskan.
Dylan hanya bisa mencerna keterangan dari mereka berdua, setelah di pikir-pikir lagi dia memang tidak pernah melihat Ruby mengikuti latihan bela diri seperti dirinya dan Kiran. Tapi dia menganggap absennya Ruby lebih di karenakan rasa cinta dan sayang Rai yang begitu besar pada istrinya jadi dia tidak mengizinkan Ruby ikut latihan bela diri. Menurut Dylan, beberapa bodyguard yang selalu mengapit Ruby saat berpergian adalah bentuk perlindungan dari Rai dan itu sudah lebih dari cukup.
Tapi ternyata dia salah, melihat betapa gesit dan lincahnya Ruby dalam memberikan serangan-serangan pada lawannya, dia tau itu bukan level bela diri yang di pelajari setahun dua tahun, tapi bertahun-tahun.
Ah malu sekali aku !!
Batinnya sembari menepuk jidatnya. Ternyata dia tidak tau banyak tentang keluarga barunya, dan malunya lagi dia tidak berusaha mencari tau. Karena dia selalu sibuk belajar dan memikirkan Dasya. Jadi selain kegiatan yang di tetapkan ayahnya, dia hanya mengurung diri di kamar atau perpustakaan mansion saja.
Tapi satu yang pasti, dia sangat menyayangi Ruby karena sikapnya yang benar-benar keibuan. Kalau baginya Kiran seperti seorang kakak, maka Ruby seperti seorang ibu. Begitu dewasa dalam pemikiran dan penuh perhatian. Meskipun terkadang dia bisa saja bersikap seperti layaknya perempuan normal yang seumuran dengannya, tapi itu sama sekali tidak menutupi sifat keibuannya.
Di tatapnya lagi kedua kakaknya yang sedang bertarung di tengah arena itu, dan barulah jelas kalau pertandingan ini memang bukan bertujuan untuk menyakiti Ruby.
" Aneh, kenapa hari ini pakai peraturan ? " Celetuk Kiran sembari terus menatap ke arah depan. Mengikuti setiap gerakan pertandingan.
" Entahlah, mendadak kakak ipar mengatakan pada ayah dia ingin latihan kali ini menjadi sebuah pertandingan sungguhan " Jawab Ken yang juga serius memantau jalannya pertandingan.
" Memang ada hadiahnya ? " Kejar Kiran antusias.
" Sepertinya begitu " Ken hanya bisa mengangguk-angguk.
" Apa hadiahnya ? " Timpal Dylan ikut penasaran.
" Tidak tau, ayah juga tidak bilang apa-apa " Ken mengedikkan bahunya dan menggelengkan kepalanya.
Dan mereka pun kembali menyaksikan pertandingan itu dalam diam. Sesekali Dylan mengepalkan tangannya, ikut menengang dengan suasana yang ada.
Entah harus berpihak pada siapa, tapi saat Ruby hampir saja mendaratkan pukulannya namun berhasil di tangkis oleh Rai, tanpa sadar dia ikut melenguh panjang. Sedikit kecewa.
" Aahhh.... Sayang sekali, padahal hampir saja " Gumamnya mengomentari jalannya pertandingan.
Tapi saat Rai berhasil menghindari pukulan atau tendangan Ruby, dia pun ikut bersorak girang.
" Yess !!! " Teriaknya lega sambil meninju udara.
Begitu terus sepanjang jalannya pertandingan. Hingga tak terasa waktu yang di tentukan pun akan segera berakhir.
Ruby yang kalah jauh soal stamina itu mulai terlihat kelelahan, napasnya tersengal-sengal. Dia sudah tidak muda lagi dan telah jadi seorang ibu, tentu saja bertarung selama 30 menit sangat menguras tenaganya.
" Kenapa sayang ? Lelah ? Ingin menyerah ? " Ejek Rai saat melihat Ruby yang mengambil jeda sejenak untuk mengatur napasnya.
Ruby tidak menjawab, hanya pundaknya yang naik turun sibuk menstabilkan napasnya.
" Kalau aku menang kali ini, habis kau ! " Seringai Rai penuh dendam membara. Dia bisa saja mengalah seperti sesi-sesi latihan lainnya, tapi tidak untuk kali ini.
Menjunjung tinggi harga dirinya yang terluka, dia berniat membalas Ruby dan juga semua adik-adiknya.
Melihat Rai yang ternyata juga sungguh-sungguh di pertandingan kali ini, Ruby sedikit ciut nyali. Dia tau kemungkinan menang melawan suaminya hanya di bawah 50 persen, itu pun jika di tambah menggunakan cara curang.
Cara curang ? Kenapa tidak terpikirkan sedari tadi.
Otak Ruby mulai menyusun rencana dadakan. Menilai titik-titik kelemahan Rai.
Dan ketemu. Jika dia ingin menang, hanya ada satu cara untuk bisa mewujudkannya.
" Maafkan aku sayang, tapi aku tidak berniat kalah kali ini " Teriak Ruby penuh semangat lalu segera menerjang Rai dengan sebuah ayunan tinju.
Rai yang melihat itu hanya bisa tersenyum meremehkan. Tinju yang Ruby layangkan sangat mudah untuk di baca arahnya kemana, begitu mudahnya hingga hanya perlu menghindarinya dengan satu langkah kebelakang.
__ADS_1
" Cih " Ejeknya dengan penuh kesombongan. Dengan gesit dia segera menghindar mundur kebelakang.
Tapi justru itu yang di harapkan Ruby, kelengahan dari Rai.
Ruby sudah memperhitungkan jika Rai mundur, maka gerakan tinjunya yang ngawur itu akan membuatnya jatuh terhuyung dengan keras dan kemungkinan besar dia akan jatuh membentur lantai tepat di wajahnya. Wajah yang sangat di cintai oleh Rai. Dan sudah bisa di tebak akhirnya akan bagaimana. Tentu saja Rai tidak akan membiarkan Ruby terluka barang sehelai rambutpun.
" Aah sayang tolooong " Teriak Ruby begitu dirinya terhuyung kedepan dan kehilangan keseimbangan.
Rai yang mendengar jeritan istrinya itu sangat terkejut. Lantai tempat mereka bertarung tanpa matras, jika jatuh tersungkur habis sudah.
" Sayang !! " Teriak Rai yang dengan cepat mengubah gerakannya menjadi condong kedepan untuk menolong Ruby yang hampir saja jatuh.
Dan viola !!!! Ruby langsung berputar dan bertumpu pada kedua tangannya dan mendadak saja merubah gerakan jatuhnya menjadi gerakan kayang lalu mengarahkan tendangan kaki kanannya ke atas.
Sempurna.
Dagu Rai yang tidak terlindung itupun menjadi target yang mudah untuk tendangannya.
Terlambat bagi Rai untuk menyadari trik licik dari istrinya dan menghindari tendangan Ruby. Alhasil dia pun jatuh tersungkur dengan posisi duduk setelah menerima tendangan maut dari Ruby.
" Priiiiiiit " Suara peluit panjang di tiup oleh pak Handoko, yang artinya pertandingan telah berakhir karena Ruby berhasil mendaratkan tendangannya ke arah Rai.
" Apa ?!?! " Geram Rai tak percaya.
" Omo !! Sayang kau tidak apa-apa ? " Ruby segera berlari ke arah Rai dan membungkuk di hadapannya untuk memeriksa keadaan Rai.
Bukan sakit yang membuatnya mematung, tapi rasa syok yang membuatnya terdiam. Dari mana istrinya belajar cara licik seperti itu.
" Haaah ya ampun kau berdarah !! " Pekik Ruby saat melihat dagu Rai yang sedikit robek karena tendangannya tadi. Meskipun terlihat khawatir, tapi siapapun dapat melihat jelas kalau Ruby hanya berpura-pura saja. Dia tertawa puas.
Rasakan !!
" Maaf ya sayang " Dengan nada manja yang di buat-buat Ruby menyentuh dagu Rai.
" Tenang saja, aku sendiri yang akan mengobatinya. Lusiiii " Teriak Ruby memanggil Lusi yang sedari tadi sudah stanby berdiri di samping ruangan dengan membawa kotak p3k.
Tergopoh-gopoh Lusi berlari mendekat ke arah Ruby.
" Ini nyonya " Jawabnya mengulurkan kotak p3k yang di bawanya.
" Aish !! " Rai sudah kesal itupun bertambah kesal karena Ruby tidak sungguh-sungguh khawatir padanya.
" Ei jangan marah, aku kan sudah minta maaf. Sini aku obati luka mu. Tunggu dulu aku akan mencari perbannya ya " Jawab Ruby santai sembari cekikikan.
Kenikmatan balas dendam ada di genggamannya sekarang.
Rai memanlingkan wajahnya dengan kesal, menolak tawaran Ruby yang akan mengobati lukanya.
" Ish diam dulu " Sentak Ruby sembari menarik dagu Rai agar kembali menghadapnya.
" Mendongak " Dia kembali mendorong dagu Rai sedikit ke atas.
" Jangan bergerak !! " Ancamnya ketus.
Ada yang aneh yang di rasakan Rai, tapi dia tidak bisa melihat apa itu. Perasaannya tidak enak.
" Nah selesai " Ucap Ruby dengan girang setelah berhasil membalut luka Rai dengan pembalut di sepanjang dagunya juga lehernya.
" Ooh... tidak sia-sia juga kau beli pembalut satu pabrik, ternyata itu pembalut multi fungsi, bisa juga untuk menutup luka. Wow " Lanjutnya sembari tertawa terbahak-bahak.
" Ap- ?!?! " Rai yang baru sadar kalau sesuatu yang mengganjal di dagu juga lehernya itu ternyata adalah pembalut wanita.
" HEI !!!!! " Teriakan Rai yang penuh emosi itupun juga di sambut gelak tawa dari seluruh orang yang melihat kejadian itu.
Senjata makan tuan. Ungkapan yang sangat pas sekali.
Rai dan Ruby memang pasangan yang sangat serasi di mata semua pelayan mansion keluarga klan Loyard, begitu pun dimata seseorang yang diam-diam juga ikut mengawasi mereka dari kamera kecil di saku baju seseorang yang di samarkan sebagai bros.
" Hahahah.... kau sangat lucu sekali nyonya Loyard, kau benar-benar menggemaskan " Puji seseorang itu dengan mata berbinar-binar girang saat menatap layar datar di hadapannya.
__ADS_1