
Hari berlalu, bulan berganti hingga musim penghujan pun pergi dan menyisakan udara dingin di perpindahan musim.
Sore yang cukup cerah di musim pancaroba, matahari mulai condong ke barat. Jam-jam pulang kerja. Suasana di pinggiran kota terlihat sangat sibuk.
Kendaraan lalu lalang di jalanan yang lumayan cukup lebar. Gedung-gedung bertingkat di samping kanan kiri jalan utama terlihat sedikit ramai. Mulai dari cafe, toko pakaian, toko kelontong, juga toko bahan bangunan berjejer rapi.
Di salah satu cafe di tengah-tengah deretan gedung itu penuh oleh pegawai-pegawai kantoran yang ingin melepaskan penat mereka setelah seharian bekerja. Juga penuh oleh pelajar yang sekedar nongkrong sepulang sekolah.
Mereka semua sibuk bercerita tentang hari mereka, saling bersaut-sautan di selingi tawa.
Di meja ke dua setelah pintu masuk, tampak seorang laki-laki duduk sendirian. Memandang lurus ke arah jendela di sampingnya. Mengamati dengan seksama setiap orang yang lalu lalang, terutama para pelajar sekolah menengah atas yang pulang sekolah.
Dia selalu memilih hari selasa, duduk di cafe itu sepanjang hari. Sudah seperti ritual rutinnya dalam seminggu.
" Mau tambah lagi kopinya tuan ? " Seorang pelayan cafe mendatanginya. Membuatnya sedikit menegakkan punggungnya.
" Ah ya terima kasih Anya " Jawabnya ramah sembari menyungingkan senyumnya.
Pelayan bernama Anya itu segera mengambil cangkir kopi di hadapannya dan membawanya ke pantry untuk menggantinya dengan secangkir kopi yang baru.
Tak berapa lama Anya sudah kembali dengan nampan dan secangkir kopi panas.
" Cappucino seperti biasanya " Ucap Anya seraya meletakkan pesanan pelanggan itu di mejanya.
" Terima kasih Anya " Jawabnya masih dengan senyum ramah.
" Apa hari ini anda masih juga belum menemukannya ? " Tanya Anya berbasa basi.
Laki-laki itu hanya menggeleng pasrah. Ritual rutin hari selasa yang dia lakukan selama beberapa bulan terakhir ini nyatanya sia-sia.
Dia belum bisa menemukan bocah penyelamatnya. Rai.
" Mm... mungkin anda bisa mengingat sedikit ciri-ciri lainnya, seperti seragam sekolahnya, atau fisiknya ? " Anya yang ikut prihatin itu mencoba memberi saran.
" Ya waktu itu gerimis cukup lebat, jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dan lagi seragamnya seperti seragam sekolah pada umumnya. Putih dan abu-abu " Jawab lelaki itu lirih. Terselip nada putus asa di dalamnya.
" Ah begitu ya " Anya hanya bisa mengangguk-angguk kecil, bingung harus memberikan saran apa lagi.
" Kalau begitu semoga beruntung tuan " Pamitnya lalu menundukkan kepala dan kemudian pergi untuk kembali bekerja.
Lelaki itu menghela napas panjang. Dia sudah berkeliling ke sekolah-sekolah menengah atas yang ada di sekitar daerah itu untuk mencari bocah penyelamatnya.
Berbekal sebuah nama, dia menanyakan hal itu ke semua murid berseragam putih abu-abu yang dia temui.
" Rai ? Namanya aneh. Tidak umum " Rata-rata jawaban seperti itu lah yang dia dapatkan.
Bahkan namanya saja sudah membuat dirinya sangat kagum. Nama yang tidak umum dan keberanian serta rasa percaya diri yang di miliki bocah laki-laki itu membuatnya sangat takjub.
Sepertinya Rai sudah di takdirkan terlahir spesial dan satu-satunya.
Dan semakin dia memikirkannya, semakin dia sangat ingin bertemu dengan Rai.
Mengenalnya lebih jauh lagi, bahkan jika memungkinkan menjadi sahabat atau kakak angkatnya. Apa sajalah yang penting dia bisa dekat dengan Rai.
Rai, Rai, dan Rai. Dia merasa bisa terbunuh oleh rasa penasaran yang kian hari kian memuncak.
" Aku tidak boleh putus asa, aku harus terus mencarinya " Gumamnya mencoba mengembalikan semangatnya yang sedikit kendor.
Tidak mungkin bukan di dunia yang katanya hanya seluas daun kelor ini dia tidak bisa bertemu lagi dengan Rai. Asal dia sering melewati jalan ini, bisa saja mereka bertemu kembali.
Langit mulai berwarna abu-abu dan matahari hampir tenggelam.
__ADS_1
Lelaki itu melihat jam tangannya, pukul 6 sore. Dia harus segera pulang untuk makan malam, lagi pula sepertinya pencariannya hari ini juga akan gagal.
Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja kasir untuk membayar tagihannya. Dia mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikannya pada kasir. Proses pembayaran sedang berjalan.
" Iya iya kak, aku akan segera pulang, sebentar lagi " Suara seorang pelajar yang sedang menjawab telepon dari ponselnya itu membuatnya sedikit terhenyak. Karena tiba-tiba saja ada di sampingnya.
" Maaf om apa anda masih lama ? Apa boleh saya menyerobot ? Saya akan membayar dengan tunai " Tanya pelajar itu sopan.
" Ah tentu silahkan " Jawab lelaki itu ramah. Lalu sedikit bergeser ke samping untuk memberikan ruang agar pelajar itu bisa berdiri di depan kasir.
" Ini tagihan saya " Pelajar itu memberikan secarik kertas dan beberapa lembar uang kepada kasir. Lalu setelahnya dia berbalik dan pergi setelah mengucapkan terima kasih pada orang yang di panggilnya om itu.
" Hei kakak mu kuno sekali sih, baru juga jam 6 sudah di suruh pulang " Suara seorang pelajar yang lain terdengar mengomentari.
" Dia bukan keras, hanya menjalankan peraturan keluarga " Jawab sang adik membela.
" Hei jangan mengkritik kak Rai, nanti di smackdown baru tau rasa kau " Suara pelajar yang lain terdengar cukup keras. Dan di sambut dengan teriakan menyetujui di selingi tawa oleh yang lain.
Deg !!! Jantung lelaki itu berdegub sangat cepat saat mendengar nama Rai di sebut. Nama yang beberapa bulan terakhir ini di carinya.
Dia berbalik badan mencari kumpulan para pelajar yang baru saja keluar dari cafe itu. Berharap mereka belum terlalu jauh.
Setelah menerima kembali kartu kreditnya, dia segera berlari menyusul para pelajar itu. Dan benar saja, mereka masih berjalan beberapa meter jauhnya.
" Tu-tunggu anak-anak " Panggilnya pada para pelajar yang ada di hadapannya.
Mereka semua berhenti dan berbalik badan. Menatap bingung ke arah laki-laki yang memanggil mereka.
" Ya ? " Tanya salah satu pelajar.
" Ta-tadi aku tidak sengaja mendengar kalian memanggil nama Rai. Kalau boleh tau siapa dia ? " Tanyanya bersemangat.
" Ada urusan apa anda dengan kakak ku ? " Dengan tatapan tajam, si adik maju satu langkah. Menilai dengan awas.
" Lalu ? " Kejar si adik.
" Begini... perkenalkan nama ku Walter " Lelaki itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
" Loyard " Jawab si adik masih dengan waspada namun tetap menyambut jabatan tangan Walter.
" Ken Loyard " Lanjutnya memperjelas.
" Ah Loyard " Ada nada sedikit kecut di suaranya.
" Ada perlu apa kau mencari kakak ku ? " Tanya Ken tanpa basa-basi.
" Umm... ti-tidak, a-aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada kakak mu karena telah menolongku beberapa waktu yang lalu " Jawabnya tergagap dan salah tingkah.
" Baiklah, nanti ku sampaikan " Jawab Ken datar dan kemudian pergi bersama dengan teman-temannya. Meninggalkan Walter begitu saja.
Dia tertegun sendirian.
Perasaannya kacau. Campur aduk. Antara senang tapi juga kecewa.
Senang akhirnya dia bisa tau siapa Rai yang sebenarnya, tapi juga kecewa karena mengetahui siapa Rai yang sebenarnya.
Loyard, siapa yang tidak tau jika dia menyebutkan nama belakangnya itu. Nama yang bukan nama sembarangan. Nama yang akan membuat siapa saja mengucapkan sederet kalimat pujian penuh kekaguman saat mendengarnya.
Dia berdecak gusar. Kalau si penolongnya adalah Rai Loyard, sudah barang pasti dia tidak mungkin bisa mendekatinya. Jangankan jadi kakak angkatnya, jadi temannya saja akan sangat sulit. Atau bahkan bisa di katakan mustahil.
Dia akan menjadi seperti kebanyakan orang lain yang mengagumi Klan Loyard, kagum dari tempat yang jauh. Hanya pemeran sampingan.
__ADS_1
Rai, Rai, lagi-lagi Rai. Dia mengguncang Walter sekali lagi.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan singkatnya dengan Ken Loyard, adik dari Rai Loyard sang pahlawannya.
Namun kenyataan yang membuatnya syok itu seperti baru terjadi kemarin.
Sikapnya berubah drastis, dia kehilangan nafsu makannya, dan mengalami gangguan tidur. Insomnianya semakin parah.
Saban hari dia bisa hanya tidur selama 1 jam saja sepanjang hari. Dan hal itu sangat berpengaruh pada kondisi fisiknya. Membuatnya terlihat berantakan.
" Kau semakin kacau !! " Bentak seorang laki-laki baya dengan rambut yang sudah memutih di bagian pangkalnya itu.
" Kenapa hidupmu tidak pernah sekali saja normal seperti kebanyakan orang pada umumnya, pertama bergaul dengan para begundal, lalu sekarang apa lagi ? Hah ?" Omelnya dengan kesal saat melihat anak laki-laki semata wayangnya itu hanya memandangi piring yang ada di hadapannya dan tidak menyentuhnya.
Si anak hanya menghela napas panjang tanpa suara.
" Kalau kau seperti ini terus, ayah akan mengirim mu keluar negeri. Percuma juga kau tinggal disini. Tidak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa " Laki-laki itu menggebrak meja makan lalu berdiri dan pergi dengan amarah yang masih meletup-letup.
Si anak tetap bergeming di tempatnya, sama sekali tidak peduli. Seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya.
Hatinya hancur oleh harapan. Kebahagiaan seolah selalu menghindarinya.
Di rumah ayahnya yang super perfeksionis itu selalu menuntutnya harus pandai, selalu berpenampilan rapi, dan patuh terhadap perintahnya. Membuatnya hanya berkutat dengan buku dan buku.
Di sekolah, hidupnya bahkan lebih menyedihkan lagi. Tidak ada yang ingin berteman dengannya, kalau pun ada mereka berteman karena ada maunya, entah karena butuh contekan saat ujian, salinan PR, atau uang saku.
Tidak ada yang benar-benar tulus berteman dengannya.
Semula dia mengira nama keluarganya yang cukup terpandang bisa membuatnya di sukai dan di kagumi banyak orang, tapi nyatanya dia salah.
Para gadis selalu menolak pernyataan cintanya lantaran wajahnya yang di bawah standart, penuh dengan jerawat di kedua pipinya.
Para laki-laki bahkan hanya menganggapnya mesin atm berjalan, mereka suka sekali berkumpul dengannya saat jam istirahat. Apalagi alasannya jika bukan untuk makan enak di kantin sekolah.
Namun setelah kejadian waktu itu, untuk pertama kalinya dia merasa berharga. Seseorang datang untuk menolongnya, hal yang tidak pernah di lakukan oleh siapapun di dalam hidupnya.
Baru kali ini dia merasa bersemangat menjalani hidup, dia ingin dekat dengan penolongnya. Mentraktirnya makan, hang out bersama, atau bahkan memberikan salah satu kartu kreditnya pada pahlawannya itu. Apa saja asal mereka bisa dekat dan berhubungan baik.
Tapi setelah tau kalau penolongnya adalah putra mahkota klan Loyard, dia sadar diri.
Dirinya yang hanya orang biasa mana mungkin bisa mendekati Rai. Jika dia memiliki kartu kredit dengan limit angka 2 digit, maka bukan tidak mungkin Rai memiliki kartu kredit dengan limit angka 3 digit, atau bahkan 4.
Hartanya tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan milik klan Loyard.
Kekuasaan ? Klan keluarganya bahkan tidak ada seujung kuku hitam di bandingkan klan Loyard.
Semua hal yang biasanya di inginkan dari teman-teman palsunya dari dirinya tidak mungkin bisa dia tawarkan pada Rai dan hal itu membuatnya frustasi.
" Dasar tidak berguna " Gumamnya sendiri saat melihat dirinya di depan cermin.
Wajah yang tidak terawat, badan yang kurus, dan rambut yang acak-acakan. Bahkan dia sendiri membenci pantulan dirinya di cermin.
" Kalau saja aku sekeren Rai, kalau saja aku seterkenal Rai, kalau saja kekuasaan ku sama sepertinya, mungkin semua orang akan tunduk di bawah kaki ku " Gumamnya dengan penuh kebencian.
Rai, Rai, dan lagi-lagi Rai. Membuatnya semakin terobsesi padanya.
" Aku harus jadi sepertinya, aku harus jadi seperti dia. 90 persen ah tidak 99 persen sama dengannya. Ya kalau aku jadi sama dengan Rai, maka semuanya akan indah, semuanya akan mudah "
Kini untuk pertama kalinya dalam hidup, dia menemukan tujuan hidupnya, dia menemukan keinginan terbesarnya, obsesinya, cita-citanya.
__ADS_1
Rai J Loyard