
Ruby menggeliatkan badannya. Aroma manis menyeruak nafasnya. Sangat menenangkan. Dia merasakan tempatnya berbaring sangat nyaman, empuk dan lembut, membuatnya semakin bergeliat mencari posisi ternyaman. Dan tersenyum bahagia.
Aahh mimpi yang indah, kasur yang empuk, aroma yang menyegarkan, kapan lagi aku bermimpi seperti ini, baiklah mari menikmati mimpi indah ini, mungkin aku terlalu lelah sampai-sampai aku bermimpi senyaman ini. Kata hatinya dengan perasaan tenang dan santai.
“ Hei gadis sinting, apa kepala mu terbentur sangat keras sehingga kau sekarang benar- benar gila? “ suara serak seorang pria mengagetkannya.
Matanya masih terpejam, Ruby segera memutar memorinya, berusaha meyakinkan dirinya kalau ini sebuah mimpi, mimpi terindah dan ternyamannya dalam hidupnya yang berat. Tapi kenapa suara laki – laki itu begitu nyata. Perlahan Ruby membuka matanya.
Ruangan apa ini ? Astaga...apa benar ini bukan mimpi ? Pikir Ruby mulai curiga, dia tidak berani menoleh memeriksa asal suara itu.
Saat dia memberanikan diri melirik mencari asal suara serak itu, mendapati seorang laki – laki dengan senyum seringai kejam sedang menatapnya lekat, seperti serigala yang bahagia mendapatkan mangsa.
Ruby terlonjak segera bangun dan duduk berlutut di lantai. Otaknya masih belum sepenuhnya sadar. Dia berusaha mengingat-ingat, menyusun memori nya dari awal. Lalu terkejut saat sebuah memori menyeramkan terlintas.
Bodoh, bodoh, bodoh, ini karena kau terlalu suka ikut campur urusan orang lain, lihat akibatnya sekarang. Bagaimana kalau orang ini lah yang di maksud “sekertaris Yuri” itu, pasti aku segera dipecat, bodoh, bodoh, bodoh, padahal ini lah satu-satunya pekerjaan yang mengajiku dengan lumayan meskipun aku hanya lulusan sekolah menengah atas. Bagaimana ini ? Hati Ruby tak henti-henti mengutuk dirinya sendiri.
“ Sudah paham situasi ? “ Lanjut suara serak itu, menyadari bahwa Ruby mulai paham dengan kondisi yang terjadi.
“ Ma maaf tuan, maafkan atas kelancangan saya “ ucapnya dengan terbata-bata.
“ Dasar kau pelayan rendahan, berani-beraninya naik ke tempat ini, apa kau tidak tau peraturan perusahaan kalau tempat ini terlarang !!! “ Bentak wanita yang juga berada di ruangan itu.
Ruby paham suara siapa itu tanpa melihat si pemilik suara.
“ Apa kau tau ini lantai berapa ?!? “ bentaknya semakin keras.
“ Maafkan saya Manager Vi “ ucap Ruby mulai takut, penyihir Vi sudah mulai beraksi.
“ Dan apa kau tau berhadapan dengan siapa ?!? “ masih dengan suaranya yang tinggi.
“ Maafkan saya “ Cuma itu yang bisa Ruby ucapkan.
“ Sudah Anne, biar aku sendiri yang akan bicara kepadanya, aku sangat penasaran dengannya “ suara serak itu tiba-tiba memotong.
“ Hei kau, angkat wajahmu “ perintah Rai.
Dengan takut Ruby mengangkat wajahnya, memandang laki-laki bersuara berat itu, seketika Ruby bergidik ngeri saat dia melihat sorot matanya, seakan – akan hanya dengan sorot mata itu dia akan di telan hidup-hidup.
“ Kau tau siapa aku ? “ Lanjut suara berat itu.
“ Maaf tuan, saya bersalah maafkan saya “ Ruby memohon.
“ Hah sekarang kau takut bukan, lalu dimana kesombonganmu kemarin ? “ suara Rai datar tapi tetap menyeramkan.
Eh ? Kemarin ? Ada apa dengan kemarin ? Apa aku pernah bertemu dengannya ? Pikir Ruby bingung, berusaha mencari-cari ingatan di kepalanya namun hasilnya nihil.
Melihat Ruby kebingungan semakin membuat Rai geram.
“ Hei apa kau tau siapa aku ? “ ulangnya dengan nada mulai tidak sabaran.
“ Maafkan saya tuan, apa anda sekertaris Yuri yang terkenal itu ? “ jawab Ruby asal menebak, dia bahkan hanya mendengar nama sekertaris Yuri tanpa pernah bertemu dengannya. Yang dia tau tempat ini di pimpin oleh sekertaris Yuri.
“ Apa ?!? “ ucap Rai dengan geram tapi tetap menguasai wibawanya.
“ Hahahaha “ terdengar suara tawa nyaring yang memecah ketegangan.
__ADS_1
Ken di tempat duduknya sudah tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak tertawa. Baru kali ini dia melihat seorang wanita di negeri ini yang tidak mengetahui kakaknya, alih-alih menyebutnya sebagai seketaris Yuri.
Ketiga orang lain yang berada di ruangan itu serempak menoleh kepada Ken.
Kenapa dia malah tertawa seperti itu, apanya yang lucu, dasar laki-laki gila aku akan membantingmu saat nanti keluar dari sini, ini semua karena mu. Maki hati Ruby kepada Ken.
“ Ah maaf maaf “ ucap Ken setelah melihat mereka serempak menoleh bersama, terlebih saat melihat kakaknya menatapnya dengan tajam. Lalu dia mengangkat baru dan menggerakan tangannya menarik bibir tanda tutup mulut.
“ Tendang dia dari sini “ Perintah Rai dingin masih tanpa ekspresi.
Apa tendang? Apa itu artinya aku di pecat? Tidak, tidak boleh terjadi, kalau begitu nyawa ayah akan... Teriak hati Ruby.
Dengan sangat putus asa dia mulai memohon.
“ Maafkan saya Sekertaris Yuri, saya bersalah, ampuni saya, silahkan anda menghukum apa saja asal jangan di pecat, saya mohon, kalau tidak nyawa ayah saya akan... “ Ruby tidak bisa meneruskan permohonannya, suaranya tercekat bercampur isak tangis, butiran – butiran air mata mengalir deras dari matanya.
“ Apa peduli ku “ Lanjut Rai dengan dingin tetap pada keputusannya.
“ Tidak, tidak, saya mohon ampuni saya, mohon ampuni saya. Ayah saya sedang sakit, kalau saya kehilangan pekerjaan ini saya tidak bisa membayar biaya pengobatannya “ tangisnya semakin deras.
Aah jadi ini alasannya dia tadi berlatih bicara sendirian, ingin menghadap Anne demi meminjam uang. Kata Ken dalam hati.
“ Saya mohon ampuni saya kali ini saja, saya mohon. Saya rela melakukan apa saja demi ayah saya, meskipun harus memberikan jantung saya, karena detak jantungnya adalah detak jantung saya juga “ Tangis Ruby semakin pecah, pikirannya benar-benar kalut.
Deg. Dada Rai berdenyut nyeri mendengar kata-kata Ruby. Seketika pikirannya melayang pada secarik kertas yang selalu dia baca setiap malam selama 10 tahun ini. Hartanya yang paling berharga, surat terakhir dari ibunya sebelum meninggal.
Teruntuk sayangku Rai,
Maafkan ibu tidak bisa menemani mu tumbuh dewasa, tapi ibu akan selalu mengawasi mu dari atas sini. Jaga ayah untuk ibu, dan juga jaga Ken. Maafkan ibu harus pergi dengan cara seperti ini, tapi setidaknya ibu bahagia. Ibu tidak akan pernah jauh dari mu. Ibu akan melakukan apapun untukmu, meskipun harus memberikan jantung ibu, karena detak jantungmu adalah detak jantungku juga.
Salam sayang untukmu,
Isak tangis Ruby memecah lamunannya, pikirannya kembali dan mendapati mata Ruby yang basah dan memohon ampun. Pandangan matanya sangat mirip dengan pandangan mata ibunya saat meminta maaf kepadanya dulu.
“ Ibu “ ucapnya lirih.
“ Kak maafkan dia dan biarkan masalah ini berlalu “ Ken memulai pembicaraan.
Tapi pandangan Rai yang tajam mengisyaratkan bahwa tidak ada kesempatan kedua. Tidak setelah keputusan itu keluar dari mulutnya.
“ Pergi kau “ ucap Rai dingin tapi nada suaranya melunak. Dadanya masih terasa nyeri memikirkan kata-kata Ruby dan surat wasiat ibunya.
Merasa sudah tidak ada harapan lagi Ruby bangkit dan berjalan gontai menuju pintu, hatinya remuk memikirkan ayahnya.
“ Kak apa kau yakin akan memecatnya ?” Ken bertanya kepada Rai untuk meyakinkan.
Hanya dengan sekali lirikan dari Rai, Ken paham dengan jawaban kakaknya.
“ Baiklah kalau begitu, apa boleh aku mengangkatnya jadi sekertaris pribadi ku, entah kenapa aku merasa dia sangat mirip dengan ibu, pandangan matanya dan juga yaah sekilas wajahnya “ kata Ken menimbang-nimbang.
“ Jaga ucapanmu, bagaimana bisa kau membandingkan ibu dengan pelayan rendahan seperti itu “ ucap Rai mulai marah karena Ken sudah keterlaluan.
Tapi didalam hati sebenarnya Rai juga mengakui kebenaran yang di ungkapkan Ken. Hanya ego nya terlalu tinggi untuk mengatakannya. Sosok yang sangat dia rindukan seakan hadir kembali tapi melalui wujud yang berbeda.
Orang-orang bilang setiap manusia dilahirkan dengan 7 kembaran yang tersebar dimuka bumi, meskipun tidak ada hubungan darah sama sekali terkadang mereka bisa mirip satu sama lain dalam berbagai sisi. Mungkin salah satunya Ruby dan Lorie.
__ADS_1
“ Baiklah kalau begitu, aku akan menjadikan dia sekertarisku, dia akan bekerja di bawahku “ Ken mulai bicara menegaskan kembali keinginannya. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu menyusul Ruby.
Rai masih terdiam seakan tidak percaya semua ini nyata.
🍁🍁🍁🍁🍁
“ Tunggu nona... “ teriak Ken kepada Ruby dilorong sebelum Ruby memasuki lift.
Ruby menoleh memandang Ken.
Huh mau apa lagi dia, apa dia mau mengejekku karena kebodohanku terhadap sekertaris Yuri tadi. Kata hati Ruby memaki Ken.
“ Hei maafkan kakakku atas sikapnya tadi, kau mau kemana, bisa kita bicara “ kata Ken dengan hangat, ada nada bersalah dalam suaranya.
“ Baiklah “ jawab Ruby dengan putus asa.
Sepanjang perjalanan kembali ke ruang kerjanya Ruby hanya diam, pikirannya kalut memikirkan nasib ayahnya, kalau dia kehilangan pekerjaan bagaimana dengan nyawa ayahnya.
Mereka sudah sampai di balkon tempat pertama mereka bertemu.
“ Maafkan kakakku “ ucap Ken memulai pembicaraan.
“ Tidak saya yang bersalah, karena saya tidak mengenali adik dari Sekertaris Yuri, saya mohon maaf “ jawab Ruby dengan nada putus asa dan sisa isak tangisnya.
“ Hahaha...kau masih mengira dia sekertaris Yuri ? “ Ken bertanya dengan tertawa memegangi perutnya.
Gadis ini sungguh sesuatu, pikir Ken.
“ Tentu saja, ditempat ini siapa lagi yang berhak memecat orang lain selain penyi eh Manager Vi. Saya memang belum pernah bertemu dengan sekertaris Yuri tapi saya dengar dialah pemilik tempat ini, dan saya begitu bodohnya tidak mengenali anda sebagai adiknya, maafkan saya “ Ruby menjelaskan dan menundukkan kepalanya sebagai permintaan maaf.
Berdamailah dengan hatimu Ruby, ini obat yang paling mujarab. Jangan salahkan orang lain atas kebodohanmu, pikir Ruby.
“ Hahaha...kau sungguh gadis yang luar biasa, ah jangan berbicara terlalu formal dengan ku, kurasa kita seumuran “ sambung Ken.
“ Sebagai permintaan maaf, maukah kau bekerja dengan ku ? Mmm... maksudku menjadi sekertaris ku, aku punya beberapa urusan yang agak sulit aku tangani sendiri, jadi butuh bantuan seseorang, aku tidak memaksamu, tapi kalau kau tak keberatan “ lanjut Ken menjelaskan dengan hati-hati.
Seketika wajah Ruby berubah cerah, isak tangisnya pun telah hilang berganti senyum ceria. Baginya mendapatkan sebanyak mungkin uang adalah yang terpenting.
“ Sungguh ? “ tanya nya antusias tak percaya.
“ Ya sungguh “ jawab Ken juga dengan senyum.
“ Lalu apa tugas saya? “ tanya nya lagi dengan penasaran.
“ Pertama berhentilah berbicara formal denganku, aku tidak suka “ Terang Ken.
“ Kedua tugas mu hanya merawatku... Ah tapi jangan salah paham, aku bukan orang mesum atau orang jahat “ lanjut Ken menjelaskan karena melihat tatapan heran Ruby dengan pekerjaan yang dia tawarkan.
“ Saat ku lihat kau menangis dan memohon tadi kau mengingatkan aku dengan ibuku yang sudah meninggal, kau sangat mirip dengannya, aku sangat merindukannya, makanya... “ cerita Ken tapi tidak sanggup meneruskannya, matanya menerawang jauh.
Dering ponsel Ken mengagetkannya dari lamunannya. Dia melirik sekilas, tapi tidak ingin mengangkatnya, dia ingin menghabiskan waktu dengan “ibu” yang sangat dia rindukan.
Dia meletakkan ponsel itu di sampingnya, tapi tidak sengaja menyentuh tombol “jawab” dan panggilan itu pun tersambung.
Ruby sepertinya paham bagaimana perasaannya karena dia pun seperti itu, jika ada orang yang mirip dengan ibu nya tiba-tiba datang, pasti dia juga akan begitu. Dia pun menarik nafas panjang.
__ADS_1
“ Baiklah anak ku, ibu akan merawatmu dengan baik, memastikan kau makan dengan banyak dan tumbuh sehat, senyumlah, semangat, hehehe “ jawab Ruby seperti seorang ibu kepada anaknya.
Wajah bahagia Ken tidak dapat disembunyikan. Tapi tidak dengan wajah seseorang di ujung saluran telfon yang mendengarkan percakapan itu.