
Rai sudah duduk di ruang tamu mansion itu, melirik jam tangannya sekilas. Tak lama Ruby datang dengan di seret dua pengawal Rai. Dia meronta - ronta tapi kedua pengawal itu bahkan memiliki badan yang besarnya dua kali lipat tubuhnya.
Rai memasuki mobil di iringi dengan dipaksa masuknya Ruby kedalam. Sopir yang sudah bersiap langsung menekan tombol kunci agar Ruby tidak bisa melarikan diri.
“ Jangan berfikir kabur, itu tidak mungkin “ ancam Rai.
“ Dan jangan mengancam balik, kau tau itu tidak mempan, jadi simpan tenagamu untuk bulan madu kita “ seringai Rai melihat wajah Ruby yang sudah merona mendengar kata-kata bulan madu.
Ruby hanya diam saja selama perjalanan, sedangkan Rai sibuk mengobrol di telepon dengan seseorang. Dan dia tidak peduli.
Perjalanan selama dua jam ditempuh dengan mobil yang berhenti di sebuah dermaga, Rai melingkarkan tangannya di leher Ruby saat mereka sudah menuruni mobil, menjaganya agar tidak melarikan diri.
Berjalan melewati jalan setapak yang terbuat dari balok kayu yang menuju laut lepas, di ujung jalan sudah menunggu sebuah kapal pesiar mewah.
Seketika wajah Ruby yang sedari tadi cemberut berubah ceria, ini pertama kalinya dia pergi tamasya naik kapal pesiar. Melepaskan tangan Rai dan berlari menuju kapal pesiar.
Cih lihat siapa yang kekanak-kanakan, kau menyebut dirimu babysitter padahal kau sendiri sudah seperti anak-anak.
“ Kita tidak akan di kapal pesiar ini terus, kita akan menuju sebuah pulau “ Rai memulai pembicaraan saat berada di dek depan kapal pesiar.
Ruby diam saja tidak menjawab. Melihat laut luas tanpa batas dan hembusan angin segar yang menerpa wajahnya membuatnya mengabaikan kata-kata Rai, pemandangan yang terlalu indah jika harus di nodai dengan pertengkaran dengan Rai.
Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya mereka melihat sebuah pulau. Mereka berhenti di dermaga dan turun dari kapal, disambut dengan pengawal berseragam lengkap ala bodyguard memandu mereka menuju mobil.
“ Pulau ini di beli ayahku untuk ulang tahun ibu, dan Klan Loyard sedang membangun resort disana “ cerita Rai yang melihat Ruby tak henti-hentinya kagum dengan pemandangan pulau itu.
“ Disini juga masih ada hutan asli dari pulau, karena kami tetap ingin menjaga lingkungan, jadi separuh hutan itu dibiarkan seperti adanya “ lanjutnya.
Ruby tidak menghiraukan Rai, dia hanya diam saja.
__ADS_1
10 menit perjalanan, mereka akhirnya tiba di resort, “ Lord “ huruf reklame raksasa itu berdiri kokoh di depan resort.
Pelayan sudah menyambut mereka dan menunjukkan dimana kamar mereka, kamar luas dengan jendela kaca besar yang menghadap laut.
Ruby membuka jendela itu dan pergi ke balkon melihat matahari terbenam. Wajah bahagianya terus tersenyum.
Rai mendekatinya dan memeluknya dari belakang, menempelkan dagunya di pundak Ruby. Dia meronta ingin melepaskan pelukan itu tapi Rai semakin kuat memeluknya.
“ Untuk sementara jangan bertengkar dulu, nikmati saja pemandangan itu “ ucap Rai lirih ditelinga Ruby. Dia setuju dengan Rai, pemandangan itu terlalu indah untuk dilewatkan.
Pelayan mengetuk pintu memberitahukan waktunya makan malam. Ruby yang kelelahan masih tertidur. Rai membangunkannya, menggoncang tubuhnya pelan, namun Ruby hanya menggeliat dan tetap terpejam.
“ Baiklah kalau kau ingin tidur terus, tidak ada ruginya juga untukku harus bersama mu sepanjang malam didalam kamar, mungkin kita harus mengulang malam erotis kita “ ucap Rai melihat Ruby seperti pura-pura tidur demi menghindarinya.
Mendengar kata-kata Rai, Ruby terlonjak bangun, membuat Rai tertawa melihat tingkahnya.
“ Bersiaplah hari ini hari yang penting “ perintah Rai.
Rai keluar dari ruang ganti dengan mengenakan setelan tuxedo hitam, tubuh bagusnya semakin terlihat indah dalam balutan tuxedonya.
Terdengar ketukan di pintu dan dua pelayan wanita masuk membawakan sebuah dress berwarna hitam.
“ Bantu nyonya bersiap “ perintah Rai kepada pelayan wanita itu.
“ Tidak mau “ Jawab Ruby ketus. Dia ingin menikmati pemandangan malam tanpa Rai.
“ Cepat bersiap atau kita akan semalaman hanya dikamar saja “ ancam Rai. Mendengar ancamannya membuat Ruby meloncat dari kasur dan berjalan cepat ke kamar mandi.
Hah ancaman itu selalu berhasil. Senyum Rai.
Suasana di resort telah ramai, para tamu undangan sudah memenuhi aula resort. Dekorasi yang sederhana tapi terlihat elegan semakin menambah kesan mewah dari resort tersebut.
__ADS_1
Rai sudah lebih dulu menemui para tamu, disebelahnya Vivianne sudah melingkarkan tangannya ke lengan Rai.
Vivianne segera terbang dari luar kota setelah mendapat telfon dari Rai yang mengundangnya malam ini, untuk sementara Vivianne memang menyelesaikan urusan di kantor anak cabang club malam.
Rai menjadi pusat perhatian malam itu, seseorang yang memiliki segalanya tentu menyedot banyak perhatian.
Tubuhnya yang tinggi atletis, kekuasaan dan tentu juga kekayaan yang di milikinya menjadikan dia kandidat sempurna sebagai seorang kekasih atau suami.
Di tengah hiruk pikuk tamu yang suasananya formal Ruby tidak mengenal satupun. Dia mengedarkan pandangannya mencari Rai, melihatnya berdiri dengan serasi bersama Vivianne membuat hatinya mencelos kecewa.
Dasar laki-laki, sekarang aku sadar ternyata kau berbuat begitu karena penyihir itu tidak ada disini. Sekarang saat dia kembali kau bahkan tidak melihat ke arahku. Kau pikir cuma kau yang bisa begitu, aku juga bisa.
Ruby lebih memilih keluar dari aula itu, dia berjalan menyusuri teras resort, teras yang lantainya terbuat dari kayu itu semakin membuat suasana alami terlihat jelas. Di sepanjang teras itu terdapat kursi santai untuk berjemur. Ruby memilih sudut yang sepi jauh dari hiruk pikuk suasana pesta.
Dia merebahkan tubuhnya di kursi santai, melepas sepatu hak tingginya, dia selalu tidak suka sepatu berhak tinggi, membuatnya tidak leluasa bergerak.
Meraih tas kecilnya dia mencari ponselnya. Mengeluarkan perangkat pintar itu dan membuka aplikasi Noveltoon. Selama ini jadwal yang padat membuatnya tidak bisa melakukan hobby membacanya. Namun sekarang semua bisa dia lakukan dimana pun, membaca novel bisa dilakukan dengan mudah karena aplikasi Noveltoon ini.
“ Aku berterima kasih pada pembuat aplikasi ini, aku jadi bisa pergi kemanapun tanpa takut bosan, karena aplikasi ini menyediakan banyak sekali novel “ celotehnya pada diri sendiri.
Beberapa saat dia terlarut dalam novel yang dia baca, sampai kemudian sebuah pesan masuk. Dia membukanya.
Apakah nyaman berbaring disitu ? isi pesan itu. Ruby terkejut dan menoleh mencari si pengirim pesan, dari jauh terlihat seseorang yang familiar tersenyum lebar. Berjalan mendekatinya dan duduk di kursi santai yang ada disebelahnya.
“ Lucas ? “ tanya nya heran.
“ Kenapa kau bisa ada disini ? “
“ Aku mendapat undangan resmi dari pemimpin Klan “
“ Undangan ? Undangan apa ? “ Tanya Ruby masih tidak mengerti dengan jawaban Lucas.
__ADS_1
“ Yaah aku dan Rai adalah teman sekolah “
“ Apa ?!? “ Ruby terkejut dengan kenyataan itu.