Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Kadang Normal dan Kadang Tidak


__ADS_3

Suasana malam hari di mansion milik Klan Loyard itu pun masih terlihat ramai, para koki di dapur sedang sibuk menyiapkan makan malam dan para pelayan pun sibuk menata meja makan.


Sedangkan seluruh anggota the amburadul family sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menunggu jam makan malam.


Rai dan Ruby memutuskan menyudahi acara menginap di rumah lamanya karena kendala ruang kamar yang terbatas. Ruby dan Kiran pun berhasil meyakinkan Adelia untuk ikut tinggal bersama-sama di mansion.


Semula Adelia menolak dengan keras, tapi berkat ancaman dari Rai, Adelia tidak mampu menolaknya. Rai mengancam tidak akan membawa Raline untuk menemui Adelia sampai Adelia bersedia tinggal bersama mereka di mansion.


" Dia masih marah ? " Tanya Rai kepada Ken yang sedang menggendong Raline.


" Kau sih selalu saja menomor lima kan dia, pantas saja dia marah, mungkin dia merasa tidak di terima di keluarga ini " Saut Kiran ikut mengkritik Ken.


" Iya aku rasa kau sedikit keterlaluan, harusnya kau mencari yang pas dengan formasi kita " Ruby pun ikut berkomentar.


" Kalian ini bisanya cuma mengkritik saja " Omel Ken kesal.


" Sekertaris Yuri dia dimana sekarang ? " Tanya Ken kepada Sekertaris Yuri yang sedang asyik menyimak perbincangan tak berbobot di antara anak-anak tuannya itu.


" Dia sedang ada di perpustakaan, belajar untuk olimpiadenya " Jawab Sekertaris Yuri santai.


" Dia pasti sedang melampiaskan kekesalannya sekarang " Celetuk Rai asal.


" Mana ada seseorang yang melampiaskan kekesalannya lewat belajar " Sanggah Ken.


" Ada lah, memangnya kau melampiaskan kekesalanmu dengan bermain game seharian " Omel Ruby ketus.


" Marimar benar, kau itu kalau sudah main game bisa lupa semuanya " Imbuh Kiran.


" Ah aku ada ide ! " Seru Ken tiba-tiba, semua orang memandang Ken sangsi, jika orang lain mengatakan memiliki ide itu artinya sebuah solusi atau jalan keluar yang terbaik dari sebuah permasalahan. Tapi jika itu keluar dari mulut Ken, bisa jadi itu adalah sebuah pengalihan perhatian agar semakin terjerumus lebih dalam lagi.


" Kak " Panggilnya kemudian kepada Rai.


" Sebagai kakak yang baik dan jadi panutan, kita harus membantunya, ok " Ajak Ken bersemangat.


" Tak masalah " Saut Rai santai.


Ken lalu meletakkan Raline di kereta dorongnya kembali.


" Sebentar saja ya sayang, tali ah bukan maksudnya pamanmu ini sedang ada urusan sebentar " Ucapnya kepada Raline yang sedari tadi hanya diam dalam gendongan Ken, namun saat Ken menjauh dari kereta dorongnya, Raline mulai menggeliat-geliat dan menunjukkan tanda-tanda akan menangis. Dan benar saja, begitu Ken menghempaskan tubuhnya di sofa, Raline langsung menangis dengan keras.


" Hei tali pusar " Panggil Rai yang langsung di jawab decakan keras juga delikan mata dari Ken.


" Tunda urusanmu dulu, Raline lebih penting " Lanjut Rai memerintah tanpa menghiraukan Ken yang sedang kesal.


" Hei dia kan anak mu, kenapa tidak kau gendong saja dia sebentar " Balas Ken ketus.


" Dia keponakan siapa ? " Tanya Rai acuh.


" Keponakan ku " Jawab Ken bingung kenapa malah Rai bertanya begitu.


" Lalu tugas seorang paman yang baik apa ? " Tanya Rai tajam.


" Baiklah baiklah " Ken menyerah dan kembali berdiri menghampiri Raline lalu menggendongnya.


" Kau itu tidak tau apa-apa, kau tau betapa menderitanya dia selama ini jauh dari tali pusarnya karena kau telan " Omel Rai kesal.


" Hei !! " Teriak Ken mendelik kepada Rai.

__ADS_1


" Kenapa ungkit-ungkit masalah itu terus, apalagi di depan ibu mertua ku " Geramnya kesal lalu melirik Adelia yang sudah tersenyum-senyum berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.


" Ah maaf maaf, aku lupa kalau mertua mu belum tau kalau kau menelan tali pusar Raline " Jawab Rai santai seraya merapatkan kedua tangannya asal.


" Hentikan Rhoma !!! " Teriak Ken melengking mendengar Rai semakin memperjelas keterangannya.


" Sudah, sudah sini Raline biar ibu saja yang menggendongnya " Adelia bangkit dari duduknya dan langsung menggendong Raline.


" Ooh sayang, cup, cup, cup kau ingin dekat-dekat dengan tali pusar mu ya ? " Timang Adelia gemas.


" Buuu... " Rengek Ken memelas karena Adelia juga ikut-ikutan menggodanya. Namun semua hanya tertawa terbahak-bahak dan berbahagia di atas derita Ken.


Pak Handoko masuk untuk memberitahukan bahwa makan malam telah siap. Semua orang berdiri dan menuju ruang makan bersama-sama.


" Eh Dylan jangan di tinggal lagi, nanti dia merasa semakin diabaikan " Celetuk Ruby.


" Saya sudah memberitahukan pada tuan Dylan nyonya " Jawab Pak Handoko sopan.


Mereka pun pergi ke ruang makan dan ternyata Dylan telah sampai lebih dulu disana, dia telah duduk di kursinya dengan wajah gusar dan gelisah yang akut.


Semua orang duduk di kursi mereka masing-masing, dan Pak Handoko meminta Raline dari gendongan Adelia.


" Biar saya yang menggendong tuan putri Nyonya, saya juga sangat merindukan rasanya menggendong tuan putri " Alasan Pak Handoko.


Raline lahir di tengah-tengah banyak orang yang menyayanginya, sehingga terkadang Ruby pun hanya punya waktu sebentar untuk menggendongnya. Selebihnya para pelayan biasanya berebut ingin bergantian menggendongnya.


Rai yang sangat protektif kepada Raline itu pun sering memberengut kesal saat banyak sekali orang yang menggendong Raline, tapi bukan Ruby namanya jika tidak selalu membantah peraturan Rai.


Semua pelayan yang bekerja di mansion itu telah melalui tes dan pemeriksaan latar belakang yang ketat, sehingga tidak akan mungkin mereka kecolongan lagi seperti insiden penculikan Ruby di waktu yang lalu karena bantuan Mey yang notabene adalah teman Ruby.


Kala itu Mey sendiri tidak memiliki dendam pribadi dengan Ruby atau Rai, dia hanya tergoda oleh imbalan yang ditawarkan oleh Ignes hingga bersedia menjadi kaki tangannya untuk memata-matai Ruby.


Segera setelah dia sadar dari masa kritisnya, dia mengundurkan diri dan memilih kembali ke desa kampung halamannya. Rai yang ingin menghukumnya pun urung karena permintaan Ruby yang memintanya untuk melepaskan Mey. Karena bagaimanapun mereka pernah menjadi rekan kerja yang saling tolong menolong.


" Aku benar-benar merasa di berkati " Ucap Regis memulai pembicaraan sebelum makan malam di mulai.


" Hidupku benar-benar sempurna, aku memiliki anak-anak yang luar biasa dan juga menantu-menantu yang luar biasa, di tambah lagi besan ku yang sempurna untuk menjadi ibu pengganti bagi anak-anak ku, cucu ku yang menggemaskan, serta adik ku yang sempurna " Liriknya kepada Sekertaris Yuri yang duduk di paling ujung meja makan.


" Keluarga kita sudah lengkap sekarang, aku sangat bahagia " Lanjutnya lalu mengangkat gelas berisi jus buah itu, di ikuti oleh seluruh anggota keluarga dan mereka pun bersulang bersama.


Semua tersenyum gembira menyaksikan keluarga mereka menjadi satu keluarga besar, duduk di meja makan bersama layaknya keluarga lainnya. Karena dulu kala sebelum para wanita masuk menjadi anggota keluarga Loyard, Regis terbiasa makan di luar rumah atau bahkan makan bersama para pelayan di ruang makan khusus pelayan. Kedua anaknya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah daripada di mansion. Tapi sekarang, mansion luas itu sudah seperti rumah normal pada umumnya, memiliki tanda-tanda kehidupan di dalamnya, ada tangis, tawa juga marah. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya disana.


Dylan yang masih saja kepikiran Blair itu pun hanya diam saja mendengar pidato sang ayah, dia tidak bisa berkonsentrasi pada apapun saat ini karena di himpit rasa bersalah.


Saat semua orang tertawa terbahak-bahak, dia justru menghela napas panjang. Dan hal itu tidak luput dari pengawasan Ken dan Rai.


Setelah selesai makan malam, Regis dan Sekertaris Yuri menuju ruang kerja mereka. Sementara Adelia membawa Raline ke kamar untuk beristirahat.


Dylan yang ingin segera merebahkan dirinya di kasur itupun urung tatkala tangan Ken mencegahnya.


" Kita harus bicara " Ucapnya serius menatap Dylan dan langsung menarik Dylan pergi ke ruang pribadi milik Rai.


" Bicaralah " Perintah Rai saat mereka telah sampai di ruang pribadi miliknya, dan duduk di sofa panjang.


Kelima anggota power rangers itupun seolah sedang mengadakan rapat tahunan membahas rancangan kerja mereka.


" Bicara apa ? " Tanya Dylan bingung. Sekeras apapun dia mencoba tidak menggunakan otaknya saat berhadapan dengan kakak-kakaknya namun itu tetap saja sulit. The amburadul familynya memiliki mindset yang anti mainstreem, tidak seperti otak kebanyakan manusia pada umumnya.

__ADS_1


" Kau marah kan karena kami menjadikan mu ranger pink dan juga nunu ? " Tanya Ken serius.


Di bahas lagi.


Dylan menghela napas jengah.


" Aku tidak marah karena itu kak, tapi aku sekarang sedang suntuk " Jawab Dylan sabar, berusaha menunjukkan pada kedua kakaknya bahwa dia tidak akan marah karena hal sepele macam itu.


" Lalu kenapa sepanjang makan malam kau selalu menghela napas ? " Tanya Ruby ikut bingung.


" Aku sedang ada masalah " Jawabnya ragu-ragu.


" Bereskan seperti biasanya saja, hajar penjahatnya, musnahkan seluruh keluarganya, rampas seluruh hartanya, lalu bertepuk tangan dan selesai " Jawab Rai asal.


" Kalau aku yang jadi penjahatnya bagaimana ? " Tanya Dylan ragu-ragu. Semua orang pun berjengit kaget mendengar penuturan Dylan.


" Kau melakukan kejahatan apa Dylan ? " Tanya Kiran tidak percaya.


" Aku menjadi tukang bully di sekolah " Jawab Dylan ragu-ragu.


" Wah itu kejahatan yang serius " Saut Ken.


" Ceritakan dulu kenapa kau bisa jadi pembully, kau tidak mungkin melakukannya tanpa alasan kan ? Karena yang ku tau kau bukan orang seperti itu " Ruby angkat bicara.


Dengan takut dan juga malu Dylan menceritakan semuanya tanpa terlewat satu adegan pun. Semua menyimaknya dengan seksama tanpa ada yang memotong.


" Yaaah ku akui kau sedikit keterlaluan Dylan " Ruby menyuarakan pendapatnya.


" Iya, bagaimanapun dia wanita, harusnya kau bersikap lebih lembut padanya, tidak peduli meski kau membencinya " Kiran juga ikut memberikan pendapatnya.


" Tidak juga, menurutku kau tidak bersalah " Celetuk Rai asal, semua orang langsung menoleh kepadanya.


" Kenapa menurutmu dia tidak salah ? " Tanya Ruby bingung.


" Dia mengganggu seorang wanita yang lemah karena penyakit jantungnya hingga membuatnya pingsan dan kau bilang dia masih tidak salah ? " Lanjut Ruby.


" Iya karena di mataku dia bukan wanita, kan cuma kau wanita dalam hidupku, yang lainnya bukan, jadi tidak masalah kalau Dylan melakukan hal itu " Jawab Rai santai.


" Kau tidak ingin mencium ku karena aku sudah memuji mu ? " Ketus Rai karena melihat Ruby yang malah memalingkan wajahnya jengah. Namun Rai langsung menarik tangan Ruby dan merangkulkan lengannya.


" Kau itu harus berada dalam jarak 0,00001 meter jika ada di dekat ku, mengerti ? " Perintahnya kemudian.


" Sudah, sudah kalian ini tidak ada yang bisa memberikan solusi padanya " Potong Ken kesal melihat Rai dan Ruby yang selalu saja bermesraan dimanapun.


" Mulai besok kau harus baik-baik dengan Blair, setidaknya sebagai penebusan rasa bersalah mu, jangan sampai rasa bersalahmu itu membuatmu tersiksa sendiri, kau harus jantan, berani berbuat kesalahan harus berani memperbaikinya juga " Nasehat Ken bijak yang di setujui semua orang termasuk Dylan.


" Haaah syukurlah " Kiran menghela napas panjang.


" Kami sempat mengira kau marah karena Ken yang menjulukimu ranger pink dan nunu " Lanjutnya lega.


" Ah ya benar, karena kau mengungkitnya aku sudah punya rencana agar kita tidak selalu salahpaham seperti kemarin " Pekik Ken, dia lalu mengeluarkan ponselnya dan mengutak atiknya.


" Sudah selesai " Lanjutnya kemudian dan menyuruh semua orang melihat ponselnya.


Teletubbies sang Power Rangers. Ken membentuk grup chat untuk mereka semua.


Ada lagiiiiii !!

__ADS_1


Jerit Batin Dylan pilu menghadapi tingkah Ken yang kadang normal dan tidak.


__ADS_2