Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Harinya Dera


__ADS_3

" Tidak boleh kah aku mengenalmu lebih lagi ? " Tanya Dera ragu-ragu.


" Apa ? " Dylan membelalak terkejut mendengar pertanyaan Dera. Dengan kikuk dia kembali duduk di kursinya.


" Yaa... mungkin kau tidak sadar ini, tapi kita satu SMP " Jelas Dera malu-malu. Mendengar penuturan Dera Dylan semakin canggung. Dia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan perasaannya.


" Jadi bisakah kita berteman ? " Tanya Dera lagi.


" Bu-bukankah kita sudah teman satu sekolah " Dylan semakin tergagap dan salah tingkah.


" Oh iya ya " Dera terkekeh mendengar jawaban Dylan, dia terus saja memandangi Dylan yang sedang menyembunyikan wajahnya karena canggung.


Dia semakin manis kalau sedang kebingungan seperti itu. Ternyata kalau tidak ada Blair hubungan ku dengan Dylan bisa jadi semanis ini.


Batin Dera girang melihat perkembangan hubungan mereka yang melaju pesat.


" Oh ya Dylan apa kau tau Cissy ? " Dera memulai obrolan ringannya untuk semakin mendekatkan hubungan mereka.


" Tidak " Jawab Dylan singkat.


" Masa kau tidak tau, padahal dia sekelas dengan mu waktu kelas 1 SMP, sekarang dia juga satu sekolah dengan kita loh. Dia satu kelas dengan ku sejak kelas satu. Kalau di ingat-ingat banyak juga yang satu SMP dengan kita " Ocehnya berusaha mencairkan suasana dan kecanggungan Dylan.


Dera memang pribadi yang menyenangkan dan sopan. Tak heran dia bisa menjadi ketua osis, selain karena cantik, pembawaannya yang lemah lembut juga banyak memikat hati kaum adam. Tapi entah kenapa Dera justru jatuh hati pada Dylan sejak pandangan pertama dimasa orientasi siswa saat SMP.


Kala itu mereka berdua datang terlambat di hari pertama masuk sekolah. Dylan yang harus menunggu ibunya bangun kesiangan karena terlalu mabuk semalam itu pun akhirnya berangkat terlambat.


" Maaf ya sayang, ibu benar-benar ingin mengantar mu, jadinya malah terlambat begini " Ucap Linda seraya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata untuk mengejar waktu.


" Tidak apa-apa bu " Jawab Dylan tersenyum. Dia sudah terbiasa menghadapi ibunya yang selalu teledor, ceroboh dan sedikit serampangan. Namun meski begitu, Dylan sangat menyayangi ibunya, melebihi dirinya sendiri.


" Nanti kalau kau telat apa kau akan di hukum ? " Tanya Linda takut-takut.


" Mungkin " Dylan mengedikkan bahunya asal.


" Yaah ibu benar-benar minta maaf ya, bagaimana ini ? Apa ibu perlu menghadap guru mu agar kau tidak di hukum ? " Ucap Linda dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah.


" Tidak usah bu, paling aku hanya perlu memunguti sampah di halaman, lalu aku akan kembali masuk kelas " Jelas Dylan santai.


" Kau memang anak ibu yang terbaik " Puji Linda. Dan kendaraan mereka pun telah sampai di depan sekolah. Dylan segera membuka pintu dan turun dari mobil.


" Hei " Panggil Linda saat Dylan sudah beberapa langkah jauhnya. Dylan membalikkan badannya dan menatap ibunya yang sedang bersandar di pintu mobil.


" Kau tidak mau mencium ibu mu ? " Ketus Linda berpura-pura.


" Cih dasar bibi-bibi " Ejek Dylan tersenyum.


" Apa ? Bibi ? Awas saja kau nanti ya " Omel Linda ketus. Melihat ibunya yang berpura-pura marah itu pun Dylan segera menghampirinya dan mencium pipinya.

__ADS_1


" Hmm... wangi nenek-nenek ternyata " Godanya lagi, Linda semakin mengerucutkan bibirnya kesal.


" Kalau begitu pulang sendiri, ibu tidak akan menjemputmu " Linda berkacak pinggang berpura-pura marah.


" Iya iya dasar tukang marah, baiklah sebagai permintaan maaf, aku yang akan memasak makan malam nanti nyonya " Goda Dylan seraya membungkukkan badannya hormat.


" Ok setuju " Saut Linda lalu tersenyum lebar.


" Sudah sana masuk, nanti kau semakin terlambat " Linda mendorong punggung Dylan.


" Hati-hati mengemudinya bu, sampai nanti " Dylan melambaikan tangannya lalu berlari menuju gerbang sekolah.


" Haaaah.... aku membesarkan anak yang baik " Linda menghela napas panjang dan kemudian masuk ke dalam mobil, lalu melajukannya meninggalkan area sekolah.


Di depan gerbang sekolah sudah ada dua anggota osis yang menjaganya, Dylan semakin mempercepat langkahnya mendekati gerbang.


" Kenapa kau terlambat ? Ini kan hari pertama sekolah " Suara tegas salah satu anggota osis itu bertanya pada Dylan.


" Maaf kakak kelas " Dylan memelaskan suaranya.


" Kau ini sangat tidak disiplin sekali " Sentak yang lainnya. Tiba-tiba terdengar langkah suara orang berlari dan berhenti disamping Dylan.


" Ini satu lagi juga terlambat di hari pertama masuk "


" Maafkan saya kakak kelas " Suara Dera hilang timbul di antara deruan nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari.


" Kalian berdua harus di hukum "


Namun di saat suasana sedang tegang, ponsel Dylan malah berbunyi dengan suara nyaring khas polyphonicnya. Kedua anggota osis itu pun mendelik marah kearahnya.


" Maaf kak " Dylan tersenyum canggung lalu merogoh ponsel di saku celananya. Sayangku. Begitulah nama yang tertera di layar ponselnya.


" Maaf kak ini telepon darurat " Dylan menjawab dengan sungkan lalu mengangkatnya.


" Ya ? " Tanyanya begitu sambungan terhubung.


" Ya Tuhan ? Rumah sakit ? Aku turut berbela sungkawa ya bu " Suara Dylan memelas dan terdengar sedih.


Kedua anggota osis dan juga Dera yang mendengar percakapan Dylan di telepon itu pun terkejut. Mereka salah tingkah melihat ekspresi sedih Dylan.


" Ehem...ehem... " Salah satu anggota osis itupun berdehem setelah Dylan menutup teleponnya.


" Ka-kau boleh masuk, lain kali jangan terlambat ya " Suaranya melirih penuh rasa iba.


" Terima kasih kak " Dylan segera berjalan menjauh, namun dia melihat Dera yang semakin bertambah panik melihatnya pergi menjauh.


" Oh ya kak, itu tadi telepon dari ibuku, dia bilang kalau... " Dylan menggantung kalimatnya dan menatap Dera dengan sedih.

__ADS_1


" Kalau apa ? " Tanya kedua anggota osis itu bingung.


" Pamannya... " Dylan menunjuk Dera dengan mimik wajah sedih, lalu menundukkan kepala.


" Pamannya apa ? " Tanya salah satu anggota osis itu semakin bingung. Namun temannya buru-buru menyenggol lengannya. Dan seperti paham dia pun kemudian ikut menatap Dera dengan kasihan.


" Jadi kau terlambat karena paman mu ya ? Kami turut berbela sungkawa " Ucapnya kepada Dera, tapi Dera yang tidak mengerti apapun hanya menatap ketiga orang itu dengan bingung.


" Sudah kau masuk saja ke kelas mu " Ucap salah satu anggota osis yang lainnya.


Dera yang masih tidak paham hanya mengikuti perintahnya. Dia berjalan kikuk mendekati Dylan.


" Mereka kenapa ? " Tanya Dera bingung.


" Sudah masuk saja, yang penting tidak di hukum " Jawab Dylan asal lalu pergi meninggalkan lapangan dan juga Dera yang masih terheran-heran.


Mulai sejak itu Dera jadi penasaran dengan Dylan dan juga apa yang dia bicarakannya saat itu. Namun Dylan pribadi yang tertutup, dia tidak bergaul dengan siapapun di sekolah, hal itu membuat Dera yang kala itu masih tergolong anak-anak yang beranjak remaja takut untuk mendekati Dylan. Dia tidak ingin dirinya di gosipkan sebagai gadis yang tidak punya harga diri karena berusaha mendekati anak laki-laki.


Namun semakin Dera mengamati Dylan, semakin dia menyukainya. Diam-diam Dera sengaja berpura-pura berpapasan di lorong sekolah atau di perpustakaan tempat Dylan biasa menghabiskan jam istirahatnya, tapi Dylan seolah melupakan Dera dan pertemuan pertama mereka. Dia sama sekali tidak mengenalinya.


Dera yang sudah jatuh cinta untuk yang pertama kalinya itu pun berjanji dalam hati kalau dia akan mendekati Dylan saat mereka sudah lebih dewasa nanti. Untuk saat ini dia hanya akan mencintai Dylan sembunyi-sembunyi.


Semula Dera heran kenapa Dylan terlihat tidak pernah bergaul dengan siapapun, hingga akhirnya gosip tentang dirinya mencuat kepermukaan. Saat rapat para orang tua di gelar, terjadi keributan besar antara Linda dengan salah satu orang tua siswa lain yang menuduh Linda telah merebut suaminya. Perkelahian di antara mereka pun tak terelakkan. Dan gosip tentang siapa jati diri Dylan menyebar dengan cepat.


Dera yang mendengar itupun juga tak kalah terkejutnya, dia semakin penasaran terhadap Dylan. Namun sepertinya Dylan tidak terusik dengan berita simpang siur yang beredar di seantero sekolah, dia terlihat tetap tenang dan tetap santai menghadapi sindiran-sindiran bahkan ejekan langsung dari murid-murid yang lain.


Namun begitulah Dera yang masih anak-anak, dia tidak berani bertanya dan hanya memendam semua rasa penasarannya sendiri untuk nanti di utarakan saat mereka telah beranjak dewasa dan memiliki waktu yang tepat untuk saling jatuh cinta.


Dan Dera merasa inilah saatnya, mereka sudah berada di tahun terakhir masa SMA, sudah cukup umur untuk memulai sebuah hubungan percintaan, walau hanya sekedar cinta monyet. Penantiannya selama bertahun-tahun untuk mendekati Dylan akan segera terwujud.


" Oh ya Dylan, aku boleh tanya sesuatu ? " Ucapnya di akhir obrolan dengan Dylan yang hanya searah tersebut.


" Hm ? " Jawab Dylan singkat.


" Dulu waktu pertama kali kita bertemu, kau bilang pada kakak kelas kalau paman ku... memangnya kau kenal paman ku ? " Tanya Dera ragu-ragu.


" Yang mana ? " Tanya Dylan asal, dia sudah lupa kejadian bertahun-tahun yang lalu.


" Yang itu, waktu kau mendapat telepon dari ibumu lalu kau bilang turut berbela sungkawa dan kau bilang pada kakak kelas kelas kalau itu paman ku " Jelas Dera antusias.


" Aku lupa " Lagi-lagi menjawab asal.


" Iihh kau ini, coba ingat-ingat lagi " Rengek Dera memanja.


" Besok saja kalau aku ingat aku beritahu, sudah aku mau masuk kelas dulu " Jawabnya lalu beranjak berdiri.


" Janji ya besok kalau ingat beritahu aku " Ucap Dera lembut dan tersenyum riang, lalu berdiri di samping Dylan untuk mengikutinya pergi kembali ke kelas.

__ADS_1


Seperti mimpi aku bisa bersama mu seharian ini. Hari ini adalah harinya Dera.


Batin Dera girang.


__ADS_2