Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Ada Apa Dengan Rai ?


__ADS_3

Ruby mencoba tersenyum normal, meskipun jantungnya sudah berdetak tak karuan. Keringat dingin di dahi dan tangannya. Dia sudah bersiap-siap akting pingsan kalau memang Rai akan menggila.


Selama ini kesalahannya hanya sebatas membangkang, tapi kali ini melibatkan orang lain. Dia berjalan mendekat ke arah sofa. Rai yang duduk di sofa tunggal, terlihat sangat menyeramkan sekaligus elegan. Wajahnya yang tersenyum tipis membuatnya sangat tampan, di suasana yang mencekam ini Ruby jadi fokus memperhatikan wajahnya, mengamati setiap perubahan ekspresi Rai agar dia siaga menentukan waktu yang tepat untuk pingsan.


Semakin dia fokus kepada wajah Rai semakin dia sadar bahwa seseorang yang sekarang menjadi suaminya itu sangat tampan, sangat berkelas, dan sangat menggiurkan.


“ Apa kesalahan mu “ Nada suara Rai tinggi demi melihat Ruby yang sepertinya mengacuhkannya.


“ aku tidak menyangka ternyata kau sangat tampan dan menggiurkan “ Kata-kata di pikirannya meluncur begitu saja karena terkejut dengan suara keras Rai.


“ Apa ? “ Rai bertanya heran.


“ Apa ? “ Ruby juga mengulangnya seakan tidak sadar dengan apa yang barusan di ucapkannya. Detik berikutnya wajahnya mulai merona.


Aish mulutku kenapa tidak ada rem nya, dengan begini aku semakin terlihat mesum karena memikirkan dia yang menggiurkan. Aku ingin keluar dari sini. Ruby menundukkan wajahnya karena malu dengan ucapannya.


“ Aku bertanya apa salahmu tapi kau malah membicarakan wajah tampan ku yang menggiurkan ? “ Rai bertanya dengan seringai menggoda nya.


“ Hei aku tidak menyangka kau semesum itu “ Suara Rai pura-pura terkejut.


“ Aku tidak mesum “ Ruby mengelak, dia tetap tidak berani memandang wajah Rai.


“ Lalu apa penjelasanmu untuk kata-katamu tadi? “ Rai mencoba menjebak Ruby.


“ Aku hanya sedang berfikir, aku belum menepati janji ku untuk mengajakmu berkencan, bukankah aku pernah berjanji ? “ Ruby mencoba mengalihkan perhatian Rai.


" Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tau isi pikiran mesum mu itu " Rai terus saja menggoda Ruby.


" Hentikan " Suara Ruby mulai sinis.


" Aku jadi takut nanti malam harus tidur satu ranjang denganmu, siapa yang tau malam-malam kau akan menerkam ku " Suara Rai di buat-buat.


" Hentikan " Ruby berteriak.


" Hei kau tau, gara-gara kau aku harus hidup dalam ketakutan kalau-kalau kau kelepasan bicara " lanjut Ruby ketus.


" Lalu apa yang kau lakukan dengan laki-laki asing tadi ? " Rai tiba-tiba menanyakan pokok permasalahannya tadi, usaha Ruby mengalihkan perhatiannya gagal.


Sial dia ingat, aku harus pura-pura pingsan saja, lalu saat bangun aku akan amnesia. Ruby berakting memegangi kepalanya, dan berjalan terhuyung menuju sofa, dia menjatuhkan dirinya, pingsan.


Melihat Ruby yang berakting seperti itu membuat Rai menahan tawanya.

__ADS_1


Kenapa dia bisa menggemaskan seperti ini ? Aku benar-benar ingin memakanmu istri mesum ku. Rai berdiri dan mendekati Ruby yang pura-pura pingsan.


" Gawat, istri mesum ku pingsan, aku tidak punya minyak angin, jadi aku akan menyadarkannya dengan aroma tubuhku saja, bukankah untuk seseorang yang mesum sepertinya ini lebih dari obat ? " Rai bergumam di dekat Ruby.


Dia mau apa ? Aroma tubuh apa ? Ruby mengintip dari ekor matanya. Dia terkejut dan langsung duduk terbangun.


" Hahaha... jangan kira itu bisa menipu ku, dasar mesum " Rai mendorong kening Ruby, dia kembali mengancingkan bajunya yang tadi di bukanya.


" Aku benar-benar pingsan karena radiasi tatapan matamu itu " Ruby mencibir. Dia membenarkan posisi duduknya, Rai merebahkan tubuhnya, dan meletakkan kepalanya di pangkuan Ruby.


Tanpa di perintah Ruby sudah membelai kepalanya. Dia bernafas lega sudah lolos dari gunung merapi.


" Sekarang jelaskan " Rai memerintah.


" Dia Daniel, karyawan baru di bagian cleaning service, dia sedang mengikat tali sepatuku tadi " Ruby menjelaskan cepat.


" Kau !!! " Rai menahan geram.


" Kau jangan berpikiran macam - macam, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, bagaimana pun aku istri mu " Ruby menjelaskan lagi.


" Meskipun pernikahan kita adalah kesepakatan, tapi aku tipe orang setia kau tau " Ruby menyombongkan diri.


" Baiklah aku percaya padamu " Rai mengangguk.


Cih mesum teriak mesum. Ruby mencibir.


Dia memutuskan akan merayu bayi besarnya dengan cara anak-anak, bukan lagi wanita mesum.


“ Aku belum berterima kasih dengan baik kepadamu karena sudah mengizinkanku bekerja, jadi nanti saat gajian aku akan mentraktirmu makan ? Bagaimana ? “ Ruby merayu nya.


“ Cih makan apa nya ? Kenapa aku harus makan di luar saat aku punya koki profesional di rumah ? “ Rai menolak, dia bangkit duduk.


“ Nonton bioskop ? “ Ruby masih berusaha.


“ Kau amnesia atau pikun ? Bukankah ada bioskop premium di rumah “ Rai mencibir.


Aish kenapa di rumahnya begitu lengkap, kenapa tidak sekalian dirikan taman bermain saja di halaman rumah mu. Ruby melirik Rai sinis.


“ Ah benar “ Ruby menjentikkan jarinya.


“ Hei bagaimana kalau kencan kita di taman bermain saja ? Aku sudah lama tidak ke taman bermain, kau mau ? “ Ruby merayu nya dengan mengedip-ngedipkan mata.

__ADS_1


“ Tidak mau “ Rai menjawab cepat, seketika ekspresi wajahnya berubah sedih.


“ Tidak mau ya sudah, hei aku sudah berusaha semampu ku untuk merayu mu, kalau kau tidak mau aku anggap aku sudah tidak berhutang apapun padamu “ Ruby mencibir.


Rai diam saja, wajahnya menjadi pucat, dadanya terasa nyeri.


“ Tidak, ibu, ibu, jangan, tidak “ bayangan masa lalunya berkelebatan di ingatannya. Rai memegang kepalanya yang terasa sakit.


Ruby yang melihat itu panik, dia segera memegangi Rai yang hampir terjatuh dari duduknya.


“ Kau kenapa ? “ Ruby panik.


“ Ibu, ibu, jangan pergi “ Rai meracau di tengah nafasnya yang terengah-engah.


“ Rai kau kenapa, ada apa ? “ Ruby masih tidak mengerti dengan situasi yang terjadi.


“ Ibu, ibu, jangan pergi “ Rai masih terus meracau, Ruby yang memegang tangannya merasakan suhu tubuhnya yang dingin, keringat di seluruh wajah Rai.


Ruby refleks memeluk Rai, dia membenamkan wajah Rai di dadanya.


“ Tidak apa-apa, aku disini, aku disini “ Suara Ruby tercekat, dia belum pernah melihat kondisi Rai yang seperti ini, terlihat menyedihkan.


Rai memeluknya erat, semakin membenamkan wajahnya di pelukan Ruby.


“ Tidak apa-apa, aku disini “ Ruby terus mengucapkan kata-katanya, berusaha menenangkan Rai.


Dia mendengar suara tangisan Rai samar-samar di dalam pelukannya. Tapi dia tidak bertanya. Hanya menepuk lembut punggungnya, menjadikan dadanya tempat bersandar Rai.


Cukup lama Rai menangis di pelukannya, saat dia sudah bisa menguasai diri Ruby melepaskan pelukannya. Berjalan menuju lemari es dan mengambilkan Rai minum.


“ Minumlah dulu “ Ruby menyodorkan sebotol minuman kepada Rai yang masih tertunduk lesu. Dia hanya menggeleng.


Ruby menyentuh pipi Rai dan membuat wajah mereka berhadapan. Rai berusaha memalingkan wajahnya, namun tangan Ruby menahannya. Rai terlalu malu untuk menatap Ruby sekarang, dia tidak ingin Ruby melihatnya lemah seperti itu.


“ Aku tidak akan bertanya, aku cuma ingin kau minum dan menenangkan dirimu, aku disini, semua akan baik-baik saja “ Ruby menenangkan Rai dengan lembut, seperti seorang ibu kepada anaknya.


Rai mengambil botol minuman yang ada di meja dan meminumnya.


“ Pergilah, aku sedang ingin sendiri “ Rai berkata lirih.


Ruby merasa itu yang terbaik untuk Rai sekarang, dia menggenggam tangan Rai.

__ADS_1


“ Kalau kau butuh sesuatu telfon aku “ Ruby menjawab lirih. Dia berdiri dan mencium kening Rai, kemudian pergi meninggalkannya sendirian.


Ada apa sebenarnya, kenapa dia tiba-tiba bereaksi seperti itu ? Ruby merasa kasihan dengannya.


__ADS_2