Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Rencana Publikasi Pernikahan ( Jilid 2 )


__ADS_3

Matahari bersinar terik, membuat kamar Ruby yang terletak di lantai 20 menjadi sangat terang oleh cahaya yang masuk melalui jendela kaca besar. Saatnya makan siang. Rai meminta pelayan hotel membawa makanan ke kamarnya, dia membiarkan Ruby hanya di kamar saja, dan menurutnya itu yang terbaik karena dia akan pergi menemui Cecil untuk janji makan siang bersamanya tanpa sepengetahuan Ruby.


" Aku akan memeriksa persiapan di aula pertemuan untuk acara nanti malam, aku juga telah menyuruh penata rias dan perancang busana untuk kesini pukul 3 sore, mereka akan membantumu bersiap-siap, bagaimanapun kau akan menjadi pusat perhatian nanti malam, kau harus terlihat sempurna sampai-sampai mereka tidak punya celah untuk mengkritik penampilanmu " Rai menjelaskan detail, mengelus pipi Ruby yang masih terlihat merah karena bekas tamparan.


Ruby hanya mengangguk malas, dia benar-benar tidak ingin tampil di acara konferensi pers nanti malam. Dia sedang duduk di sofa menonton drama korea yang di siarkan melalui saluran parabola.


Rai pergi meninggalkan kamar. Tak berapa lama pintu kamarnya di ketuk, Ruby bergerak malas membuka pintu, di lihatnya pelayan hotel sedang mendorong troli berisi makan siangnya. Ruby memandang wajah pelayan yang sepertinya tidak asing, ternyata itu adalah pelayan wanita yang tadi pagi ada di deretan saksi kejadian pertengkarannya. Ruby memiringkan badannya mempersilahkannya masuk.


" Nyonya maafkan saya " Ucapnya terbata-bata dengan suara tercekat, setelah berada di tengah ruangan. Ruby mengernyitkan keningnya heran.


" Memangnya kenapa harus minta maaf ? " Ruby tidak bisa menyembunyikan keheranannya.


" Karena tidak membela anda tadi saat nona Cecil berbuat jahat terhadap anda " Suaranya masih tercekat dan bergetar, menunduk dalam tidak berani menatap Ruby.


" Sudahlah lupakan saja, aku tidak apa-apa " Ruby menjawab maklum, dia bukan tipe orang yang membesar-besarkan masalah. Lagipula pelayan itu tidak bersalah, hanya sedang bernasib sial saja, bekerja shift pagi dan menjadi saksi di tempat kejadian perkara.


" Tidak nyonya, saya mohon ampuni saya, saya bersalah " Ratapnya seraya berlutut, kini suaranya di iringi isak tangis tersendat-sendat.


Ruby menjadi salah tingkah, seumur hidupnya tidak pernah ada orang yang berlutut padanya. Justru dia lah yang pernah berlutut merendahkan harga dirinya di depan Rai, memohon agar tidak di pecat. Tiba-tiba logika Ruby memainkan perannya.


Tidak, jangan-jangan...


Ruby melirik pelayan wanita yang sekarang sedang menagis tersedu-sedu, membuat tubuhnya berguncang akibat tangisannya.


" Apa Rai memecatmu ? " Tanyanya kemudian.


Pelayan itu hanya semakin menangis terisak tanpa suara seraya menyentuh dadanya yang sesak.


Ruby menghela nafas menatap pelayan itu, dia tidak tega melihatnya, tapi dia juga tidak bisa menjanjikan apapun, dia terlalu lelah merayu Rai untuk merubah keputusannya memecat para pelayan hotel.


Dia sendiri sekarang juga sedang dalam masalah berat, beberapa jam lagi konferensi pers akan di adakan, bila melihat Rai, ini jelas bukan hanya acara sederhana yang dengan melontarkan pernyataan sederhana pula maka semua selesai.

__ADS_1


Dia masih ingin hidup normal layaknya orang lain, tapi setelah malam ini maka semua itu akan hilang berganti dengan pengawalan yang akan di berikan Rai untuknya.


" Bangun lah nona, jangan berlutut lagi " Pinta Ruby dengan sopan.


" Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, karena situasiku pun dalam keadaan sulit, tapi nanti aku akan berbicara padanya untuk menghapuskan hukuman mu " Ucap Ruby dengan prihatin.


Wanita itu berdiri dengan pandangan mata berbinar, serasa menerima oase di tengah gurun sahara, melegakan.


Dia kemudian permisi undur diri, dan tak lupa membungkuk berkali-kali saat mengucapkan terima kasih.


Aish dasar Rhoma, membuatku semakin sesak saja.


Ruby mencoba menghubungi ponselnya, tapi ternyata tidak aktif. Dia kesal dan melempar asal ponselnya ke arah sofa, dan berjalan menuju ranjangnya untuk pergi tidur siang.


Mimpi apa aku sampai harus berurusan dengan semua keadaan ini.


Ruby memejamkan matanya dan kemudian tertidur.


Di sudut restoran, Rai duduk berhadapan dengan Cecil yang sengaja berdandan maksimal demi untuk memenuhi undangan makan siang dari Rai.


" Sebagai pemilik Hotel ini, aku meminta maaf atas kejadian tidak mengenakkan tadi pagi. Bisa tolong kau menyimpan semua ini ? Aku telah memerintahkan para pelayan dan juga para tamu yang lain, agar masalah ini jangan sampai terexpose keluar, akan sangat buruk untuk citra hotel " Rai menjelaskan sopan.


" Tentu saja Tuan, saya dan teman-teman saya juga tidak akan membicarakan masalah ini tuan, itu semua karena kita memikirkan nama besar anda, semua orang pasti salah paham saat melihat berita anda datang kemari bersama dengan wanita itu " Cecil menjelaskan dengan tidak kalah sopan.


" Salah paham ? " Rai mengulainya dengan heran.


" Tentu saja, semalam foto tuan memasuki hotel ini bersama dia langsung menjadi tajuk utama, itu lah sebabnya kami ingin memastikan sendiri, saat sarapan kami mendengar gosip bahwa dia adalah kekasih tuan, tapi setelah melihat langsung wanita itu, sepertinya ini hanya salah paham, mana mungkin wanita seperti itu menjadi kekasih Tuan " Cecil mengeluarkan argumen sepihaknya.


" Wanita seperti itu ? " Suara Rai mulai terdengar dingin dan tajam.


" Iya wanita yang seperti seorang pelacur kampungan itu, mungkin dia merasa besar kepala karena bisa menginap di hotel ini bersama tuan " Cecil menjelaskan berapi-api mengingat Ruby yang menghajarnya.

__ADS_1


" Pelacur kampungan ? " Rai mulai kehabisan kesabaran mendengar ocehan Cecil, kalau saja bukan demi balas dendam untuk Ruby, sudah bisa di pastikan mulut wanita yang ada di depannya ini sudah tidak bisa terbuka lagi karena berdarah kehilangan seluruh giginya.


Rai memang pertama kalinya memasuki hotel dengan seorang wanita dan berangkat bersama, dulu saat melakukan audisi penyeleksian "ibu" nya, sekertaris Yuri lah yang mengatur semuanya, itulah kenapa tidak ada berita di media tentang siapa yang jadi kekasih Rai sebenarnya, hanya berupa desas desus angin lalu.


" Saya mendengar anda akan mengadakan konferensi pers malam ini untuk menyangkal gosip ini ? " Cecil bertanya antusias, merasa sudah bisa lebih dekat dengan Rai, dia memberanikan diri bertanya.


" Ah ya, aku akan mengadakan konferensi pers malam ini, semua gosip itu menggangguku " Rai menjawab asal, matanya menatap Cecil lekat, memikirkan cara yang paling buruk untuk membalas perempuan yanh berani-beraninya menampar istrinya dan mengatainya pelacur.


" Saya akan dengan senang hati menjadi saksi bahwa gosip itu tidak benar, tapi... " Cecil memberanikan diri menyentuh tangan Rai yang berada di atas meja.


" Tapi apa ? " Dia menepis tangan wanita itu dengan perasaan jijik yang di sembunyikan di balik ekspresi datarnya. Rai bertanya berpura-pura penasaran, tapi dia sudah memperhitungkan semua ini.


" Gosip yang terlanjur berkembang adalah pelacur itu adalah kekasih anda, jadi kalau anda ingin membantah gosip itu, bukankah harus ada seseorang yang menjadi kekasih anda yang sesungguhnya agar media percaya ? " Cecil memberikan saran dengan maksud agar Rai menggandengnya dalam konferensi pers dan memperkenalkannya sebagai kekasih aslinya.


" Lalu kau bersedia ? " Rai bertanya tanpa basa basi.


" Tentu saja Tuan, ini akan jadi kehormatan yang terbesar dalam hidup saya " Cecil bersemangat, binar kemenangan tergambar jelas di matanya.


" Baiklah, nanti pelayan yang akan menjemputmu " Rai menjawab tersenyum, membiarkan Cecil merasa di atas awan, karena sebentar lagi dia akan menjatuhkannya lebih dalam dan lebih menyakitkan.


" Terima kasih Tuan, terima kasih banyak " Cecil melonjak girang, berdiri dan menghambur ke arah Rai akan memeluknya, tapi tertahan dengan gerakan tangan Rai.


" Maafkan saya tuan, saya hanya terlalu senang mendengar anda menyetujui akan memperkenalkan saya sebagai kekasih Tuan " Cecil beralasan.


" Baiklah, saya harus mempersiapkan semuanya agar malam ini berjalan sempurna " Rai menekankan kata-katanya. Dia bangkit dan pamit permisi.


" Tentu saja Tuan, selamat jalan " Cecil menundukkan kepalanya dengan bersemangat.


Rai berjalan menjauh, samar-samar dia bisa mendengar teriakan girang Cecil yang seperti seseorang berhasil menemukan tambang berlian.


" Hei kalian harus melihat siaran langsung nanti malam, tuan Rai akan memperkenalkan aku sebagai kekasihnya, tidak peduli aku kekasihnya yang keberapa bagiku yang terpenting aku bisa mendapatkannya " Cecil berteriak girang menghubungi teman-teman dan keluarganya di saluran telfon.

__ADS_1


Ini akan jadi berita terheboh sepanjang masa.


Cecil berjingkrak jingkrak girang.


__ADS_2