Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Bungkus Alumunium Foil


__ADS_3

Ruby keluar dari kamar mandi dengan cemberut, di belakangnya mengekori Rai dengan wajah yang bertolak belakang dengannya, tersenyum bahagia. Mereka baru saja mandi bersama dan Ruby melunasi hutangnya berikut beserta bunganya, sebanyak 2 ronde sekaligus. Rai beralasan dia harus mendapat bunga dari perjanjian mereka karena Ruby tidak bisa melunasi hutangnya dalam semalam. Hutang 5 ronde nya.


" Kau ini apa tidak lelah ? " Ruby bertanya pada Rai sambil merebahkan dirinya di sofa.


" Dan bunga ? Bagaimana bisa rayuan harus berbunga, cukup bank saja yang harus berbunga, permainan ronde mu jangan " Ucap Ruby sinis karena seluruh tubuhnya lelah tak terkira.


" Karena aku ingin menunjukkan pada semua orang kalau milik ku " Rai menjawab asal.


" apa maksudmu ? " Ruby bertanya heran tapi Rai malah mengangkat bahunya dan memiringkan kepala lalu tersenyum.


Tak berapa lama, terdengar ketukan di pintu kamar mereka, Ruby yang masih mengenakan jubah handuknya tergopoh-gopoh akan pergi keruang ganti untuk ganti baju, namun Rai menghentikannya.


" Itu pasti make up artist dan desainer yang akan membantumu bersiap-siap, jadi akan lebih mudah untukmu kalau tetap memakai jubah handuk itu " Rai menunjuk Ruby dengan wajahnya.


Ruby yang sudah berdiri sekarang berbalik lagi dan duduk di sofa. Rai membukakan pintu dan benar saja, seorang make up artist dengan di temani 2 asistennya yang semuanya wanita, serta seorang desainer dan 3 asistennya yang juga lagi-lagi wanita, mereka membawa berkoper-koper peralatan yang akan di gunakan untuk membuat Ruby berubah menjadi bintang utama malam ini.


" Selamat sore tuan, saya Mira yang akan bertugas untuk merias wajah nyonya " Make up artist itu memperkenalkan diri dan membungkukkan badan, di ikuti para asistennya.


" Saya Arin yang bertugas mengurus pakaian nyonya " Desainer itu juga memperkenalkan diri dan membungkukkan badan beserta para asistennya.


Ruby membalas sapaan salam mereka juga tak kalah sopan.


" Saya Ruby, mohon kerjasamanya " Ruby memperkenalkan diri.


Asisten Mira pun segera menyiapkan alat dan make up berwarna warni di atas meja. Begitu juga asisten dari Arin, mereka telah mengeluarkan selusin baju rancangan terbaru yang akan di pilihkan untuk kemudian di pakai Ruby.


Ruby hanya duduk di sofa memandangi mereka dengan takjub, seumur hidupnya Ruby hanya mengenal sunblock dan lipbalm. Sejak kecil dirinya mengikuti bela diri dan semua kegiatan itu hampir di lakukan di luar ruangan, jadi lah saat dia kecil sampai beranjak remaja kulitnya yang semula putih bersih menjadi coklat eksotis karena terbakar sinar matahari. Tapi saat memasuki sekolah menengah atas, dia mulai mempelajari berbagai make up, skincare dan fungsinya.


Merasa bermake up terlalu rumit untuknya, dia menyerah dan akhirnya memilih hanya menggunakan sunblock dan lipbalm. Dan mengurangi kegiatan di luar ruangan, membuat kulitnya sekarang kembali ke warna semula.


Mira dan Arin memulai pekerjaan mereka, dengan Rai yang duduk di sofa tunggal dekat jendela kaca besar, sedang mengerjakan sesuatu dari ponselnya.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, Mira telah selesai merias wajah Ruby, dan hasilnya sempurna. Membuatnya terlihat cantik natural tidak berlebihan, dan yang terpenting tidak membuatnya terlihat seperti seseorang yang baru karena itu tidak akan mencerminkan Ruby.


Sekarang giliran desainer yang sedang berusaha mencocokkan pakaian dan perhiasan yang akan Ruby kenakan. Arin meminta Ruby untuk berganti baju, Ruby mengambil baju yang diarahkan Arin dan membawanya ke ruang ganti.


Hampir lebih dari 10 menit Ruby berada di ruang ganti, para asisten desainer menjadi sangat khawatir. Ruby menolak mereka yang akan membantunya berganti pakaian.


Rai mulai berdehem tidak sabar, menatap tajam ke arah sekumpulan wanita yang juga menunggu dengan harap-harap cemas. Arin memberanikan diri mengetuk pintu ruang ganti.


Tok, tok, tok !! Suara ketukan mengagetkan Ruby yang sedang memandangi wajahnya sendiri di depan cermin besar setinggi badannya.


" Bagaimana aku keluar dengan banyak tanda merah di sekujur leher dan dadaku ? Ini sangat memalukan " Ruby mengeluh meratapi Rai yang selalu saja meninggalkan tanda cinta di tubuhnya.


" Nyonya apakah ada kesulitan yang harus kami bantu ? " Tanya Arin dengan sopan.


" Tidak, terima kasih, aku akan keluar sebentar lagi " Ruby menyahut dengan cepat.


Tanpa pikir panjang lagi Ruby mengenakan jubah handuknya untuk menutupi stempel cinta dari Rai. Dia membuka pintu ruang ganti perlahan-lahan. Mendongakkan kepalanya untuk mencari keberadaan tersangka pencetak stempel, dan dia tetap duduk di tempatnya semula.


Ruby keluar malu-malu dengan dress yang di rangkap dengan jubah handuk. Semua orang terkejut mengira Ruby belum berganti baju.


" Apakah ada kesulitan dengan dressnya nyonya ? " Tanya Arin penasaran.


" Umm tidak hanya saja terlalu terbuka, bisa tolong kau carikan yang memiliki lengan panjang dan berleher tinggi saja ? " Pinta Ruby sopan tidak bisa menjelaskan alasannya.


" Kenapa lama sekali hanya untuk berganti satu pakaian, lepas jubah handukmu agar kami semua bisa melihatnya " Rai tiba-tiba menimpali.


" Cih, ini semua karena mu " Ruby merengut kesal.


" Tidak apa-apa nyonya, kami akan memperbaikinya apabila ada yang kurang " Arin menjelaskan, dia tidak ingin terlihat tidak kompeten, apalagi Rai adalah kliennya yang sangat penting.


Ruby menghela nafas dan dengan berat hati membuka jubah handuknya. Semua yang ada di ruangan itu terkejut dan menutup mulut melihat begitu banyaknya tanda merah di seluruh leher dan dada Ruby.

__ADS_1


" Tolong jangan berpikiran aneh-aneh, ini hanya... " Ruby berusaha untuk menjelaskan dengan kalimat yang sopan dan tidak terdengar vulgar.


" Cupang " Rai tiba-tiba menyahut dari seberang ruangan tempatnya duduk.


Dress dengan potongan rendah separuh dada itu tentu saja memperlihatkan dengan jelas semua bekas jejak bercintanya, entah yang masih baru atau yang mulai menghitam seperti memar. Membuatnya terlihat seperti macan tutul.


" Baiklah nyonya kami akan mengakalinya dengan menggunakan foundation yang senada dengan kulit anda, jadi bekas merah itu akan tersamarkan " Mira memberikan penawaran.


" Tidak siapa bilang kau boleh menutupnya, kalau kau tetap ingin memakai baju terbuka itu, sebaiknya perlihatkan juga tanda cinta kita kepada semua orang, tapi kalau kau terlalu malu, maka pakailah pakaian yang menutupinya, kalau kau berusaha menghapus atau mengakali itu maka bukan hanya leher dan dadamu yang akan jadi buku gambarku nanti malam, tapi seluruh tubuhmu " Goda Rak dengan nada sensual.


Semua orang termasuk Ruby hanya bisa terkejut mendengar perintah Rai. Wajah Ruby memerah sepeti tomat karena Rai membicarakan masalah pribadi mereka di depan semua orang.


" Iya iya aku akan memakai alumunium foil saja untuk membungkus tubuhku " Balas Ruby asal, membuang wajahnya menghindari tatapan semua orang.


" Baiklah idemu bagus juga, kau laksanakan perintahnya " Rai menunjuk Arin dengan wajahnya dan tergelak, dia kemudian bangkit berdiri untuk meninggalkan kamarnya.


Ruby yang merasa Rai mengerjainya lagi kali ini, sangat kesal. Bagaimana bisa ada orang yang biasa saja membicarakan masalah cupangnya.


Ruby tersenyum kaku di depan semua orang, yang menatapnya heran.


" Apa ada baju yang tertutup ? Aku tidak mungkin di bungkus dengan alumunium foil kan ? " Ruby tersenyum kaku kepada Arin.


" Apakah perintah tuan itu harus di laksanakan ? " Arin bertanya ngeri membayangkannya.


" Iya dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya " Ruby menjawab yakin.


Terlihat semua wanita itu langsung lemas secara bersamaan, mereka tidak menyangka sebuah candaan akan di tanggapi dengan serius oleh tuan Rai.


Jadi ini maksudmu ingin menunjukkannya pada semua orang kalau aku hanya milikmu. Mereka pasti berfikiran kami pasangan mesum.


Ruby mengela nafas putus asa.

__ADS_1


__ADS_2