
Rai lebih dulu sampai dirumah, sedangkan Ruby harus menunggu bus untuk pulang.
Memasuki gerbang dan melihat mobil Rai yang sudah terparkir.
Ah aku lelah sekali, aku sangat ingin istirahat dengan tenang. Apa aku kabur saja ? Tidak, tidak, dia pasti menemukanku, atau berbuat macam-macam kepada ayah.
Ruby menghela nafas panjang.
Dia memasuki mansion itu, bertanya kepada pelayan Rai sedang ada dimana, mereka menjawab Rai ada dikamarnya.
Berjalan dengan malas Ruby menuju kamarnya, Rai pasti sudah menunggunya untuk menagih janji.
Kenapa dia selalu ingat kalau sudah berhubungan dengan “itu”, anak kecil apanya ? Mana ada anak kecil berpikiran mesum seperti itu.
Ruby membuka pintu perlahan, mengintip dengan kepalanya mencari Rai di dalam kamar, kosong. Itu artinya dia di ruang ganti atau kamar mandi, tapi dia tidak mungkin tidak menunggu Ruby.
Berat hati Ruby memasuki kamarnya tanpa suara. Menuju kamar mandi, di depan pintu dia menempelkan telinganya berusaha mencuri dengar sesuatu di dalamnya, tapi pintu itu terlalu tebal jadi dia tidak bisa mendengar apa pun. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, dia terdorong mundur.
Rai keluar dengan jubah handuknya, masih tersisa tetesan air di dadanya yang terbuka, Ruby menelan ludah melihat pemandangan erotis didepannya.
Apa aku sudah ketularan mesum ? Kenapa melihatnya seperti ini tenggorokan ku jadi kering dan sangat haus.
Ruby tidak berkedip memandang dada bidang Rai yang basah.
“ Kau sudah sampai ? “ Tanya Rai membuyarkan pikirannya.
“ iya baru saja sampai “ Ruby menjawab terbata-bata.
“ Mandilah dulu “ Rai berlalu meninggalkan dia di depan kamar mandi dan menuju ruang ganti.
Kenapa ? Ada apa dengannya ? Tadi di kantor dia seperti serigala lapar yang melihat daging, sekarang dia sedingin beruang kutub. Biasanya dia akan langsung menerkamku dan tidak akan membiarkan aku lepas. Tapi sekarang dia mengacuhkanku. Apa dia salah makan ?
Ruby heran melihat sikap Rai yang seharian aneh.
Ruby selesai mandi dan berganti pakaian, dia keluar ruang ganti, dilihatnya Rai sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel. Tertawa sendiri.
Ruby duduk di sebelahnya, bersiap-siap menepati janjinya. Tapi ternyata Rai sama sekali tidak melihat ke arahnya.
“ Dia sangat aneh hari ini, hari-hari biasa saja sikapnya sudah aneh, dan sekarang apa lagi ini ? “ gumam Ruby lirih.
Dering ponsel Rai mengagetkan Ruby, Rai mengangkatnya.
“ Hai sayang, kau sedang apa ? “ Tanya Rai menjawab telfon.
Ruby terkejut mendengar kata-kata Rai, selama ini dia belum pernah melihat Rai mengangkat telfon dan memanggil seseorang sayang, bahkan saat reuni dan bertemu cinta pertama nya saja sikapnya tetap dingin, dan sekarang dia memanggil sayang kepada seseorang.
Ruby merasa hatinya sedikit sakit, ada rasa tidak nyaman menggerogoti dari hatinya, panas dan marah. Ruby menyentuh dadanya yang berdenyut nyeri.
“ Kenapa ini ? Kenapa rasanya sakit disini ? Apa karena aku kelelahan ? “ Ruby bergumam, dia menyentuh keningnya ingin mengecek suhu tubuhnya, dan normal.
__ADS_1
“ Tentu saja aku merindukanmu “ Rai tertawa.
“ Omo... Apa aku tidak salah dengar ? Sebenarnya siapa yang sedang menelfonnya ? “ gumam Ruby terkejut dengan setiap kata yang di ucapkan Rai kepada seseorang di ujung telfon.
Ruby merasa kesal, dia akhirnya memutuskan untuk naik ke atas kasur dan tidur.
“ awas saja kalau kau meminta itu “ Ruby kesal dan menutupi wajahnya dengan selimut. Memejamkan mata berusaha tertidur.
Tapi bukannya mengantuk dia malah semakin gelisah, bayangan siapa yang menelfon Rai berkelebatan di pikirannya.
“ apa itu Vivianne ? Tidak mungkin, tapi bagaimana pun juga mereka tumbuh bersama, mungkin saja kemarahannya sudah mereda dan menyuruh Vivianne kembali ke negara ini. Atau jangan – jangan itu Ignes ? Ya itu pasti dia, tapi Ken bilang cinta Ignes bertepuk sebelah tangan, dan hubungan mereka juga palsu sama seperti yang ku jalani sekarang. Ah itu pasti salah satu dari perempuan yang hadir di reuninya, ya itu pasti, mereka bilang tak masalah jadi yang kedua asal bisa bersama Rai. Tapi tunggu dulu, bukankah pernikahan kita di rahasiakan, jadi perempuan itu menganggap dirinya yang pertama ? Ah entahlah, aku tidak peduli “ Ruby bergumam sendiri didalam selimut, berguling-guling untuk menghilangkan semua pikiran-pikiran konyolnya.
Terdengar ketukan di pintu, Ruby berhenti dari pikirannya, dia membuka selimutnya, ternyata Rai tidak ada. Dia beranjak turun dari kasur dan membuka pintu. Ternyata pak Handoko, dia memberitahukan makan malam sudah siap.
“ Baiklah terima kasih, saya akan memanggil Rai dulu, mungkin dia sedang dikamar mandi “ Ruby menjawab sopan.
“ Tidak nyonya, tuan muda sudah ada di bawah menunggu nyonya “ Pak Handoko menjawab sambil menundukkan kepalanya.
“ Apa ? Dia sudah dibawah ? “ Ruby terkejut.
Pak Handoko mempersilahkan Ruby turun, dan dia berjalan mengikuti Ruby.
“ Apa-apaan ini ? Kenapa suasana hari ini aneh sekali ? Dan sejak kapan dia turun, kenapa tidak mengajakku ? “ Ruby merasa heran dengan Rai, tidak biasanya dia akan mengacuhkan Ruby seperti ini. Diam-diam Ruby merasa kehilangan.
Ruby duduk di kursi samping Rai, dia melihat piring Rai sudah berisi makanan dan Rai juga telah memulai makan malamnya.
Apa ini ? Seperti aku di buang karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Jadi sekarang dia bisa makan tanpa perlu ku ambilkan ? Baiklah sepertinya bayi besarku sudah benar-benar dewasa, harusnya aku lega dan bahagia. Hei hati kenapa terus berdenyut nyeri, hentikan, bukankah ini yang kau inginkan, lepas dari genggamannya.
Ruby memilih pamit kepada Rai, dia tidak bisa meneruskan makanannya dan merasa sesak mengingat percakapan Rai di telfon.
Dia kembali ke kamarnya, duduk di sofa dan menyalakan tv, memindah chanel secara asal. Pikirannya sedang kacau di penuhi rasa kesal.
“ Hei otak udang kau sedang apa ? “ Tanya Rai yang baru saja memasuki kamar. Dia berjalan mendekat ke sofa dan merebahkan dirinya di pangkuan Ruby.
Ruby tidak ingin melihatnya. Dia berusaha fokus pada drama yang sedang tayang di tv.
“ Belai rambutku “ Perintah Rai.
“ Tidak mau. Minta saja pada sayangmu yang barusan kau telfon “ Ruby menjawab sinis.
Wajah Rai tersenyum senang, dia merasa bahagia berhasil membuat Ruby cemburu.
Apa ? Dia tersenyum ? Itu kah wajah orang yang sedang jatuh cinta ? Sangat menyebalkan.
Ruby mencibir sinis ke arah Rai.
“ belai rambutku atau kau ingin aku mencium mu ? “ Rai mengancam.
Ruby menurutinya, dia tidak ingin berdebat juga tidak ingin di cium.
__ADS_1
“ Bagaimana harimu ? “ tanya Rai memancing Ruby, dia berharap Ruby akan menjelaskan soal Lucas yang memeluknya.
“ Sangat baik “ suara Ruby ketus.
“ Kau masih ingat kan tentang janjimu hari ini ? “ Rai bertanya tapi tangannya mulai menyusup kedalam baju Ruby dan membelai punggungnya, membuat Ruby geli.
Ruby berusaha meronta dengan halus, dia sedang tidak ingin melakukan itu.
“ melihatmu yang selalu bereaksi seperti ini aku yakin kau belum pernah di sentuh laki-laki lain dulu “ Rai menggoda Ruby.
Ruby menghela nafas, suasana hatinya benar-benar buruk, dia belum mendapatkan jawaban dari rasa sakit di hatinya dan sekarang harus menghadapi Rai yang terus menggodanya.
“ jangan terlalu yakin, aku sangat populer di sekolah ku dulu, dan kekasihku sangat tampan “ Ruby menjawab asal, dia mengingat teman sebangkunya yang menyukainya dulu saat masih sekolah.
“ Apa ? “ Rai terkejut, dia duduk dan meraih dagu Ruby. “ katakan sekali lagi ? “ suara Rai lirih menahan marah.
Ruby melihat ekspresi marah di wajah Rai dan tersadar apa yang barusan di katakannya.
Hei otak sebenarnya apa yang kau pikirkan, kenapa asal bicara.
Ruby hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
“ tidak mau bicara ? “ Rai bertanya mengancam.
“ baiklah ini tidak akan selesai dengan cepat “ Rai bangkit dan menyeret tangan Ruby, membawanya ke tepi kasur dan mendorongnya. Dia jatuh tertidur, dengan Rai sudah mengunci tubuh mungil Ruby.
“ bersiaplah istri ku yang tukang selingkuh, ini hukuman untukmu “ Rai menciumi seluruh wajah Ruby membuatnya kesulitan bernafas.
“ buka bajumu “ Perintah Rai dengan nada tinggi, dan Rai mulai menciumi tubuh Ruby.
“ Tidak mau “ Ruby berusaha menolak, tapi Rai tidak akan mendengarkannya.
Apa tukang selingkuh ? Bukannya kau yang tukang selingkuh.
Maki Ruby dalam hati.
POV Rai :
Rai berniat akan mengacuhkan Ruby, dia sedang menonton acara kartun di ponselnya, dan tertawa sendiri saat melihat Ruby keluar dari ruang ganti. Ruby duduk di sebelahnya dan Rai berusaha keras untuk tetap mengacuhkannya karena telah berbohong tentang Lucas.
Ponsel Rai berdering. “Ayah” tulisan di layar ponselnya. Rai yang berniat membuat Ruby cemburu menemukan ide.
“ Hai sayang, kau sedang apa ? “ Rai menjawab panggilan telfon.
Regis di ujung telfon merasa terkejut dengan kata-kata anaknya yang mengangkat telfonnya. Dia bahkan memeriksa ulang ponselnya mengira salah sambung.
“ Sayang kepala mu, ini ayah “ Suara Regis heran.
“ Tentu saja aku merindukanmu “ Rai masih tetap berpura – pura.
__ADS_1
“ Rai apa kau salah makan sesuatu ? Aku ingin memberitahu mu, ayah sudah menerima manager Utama untuk club, dia akan bekerja mulai besok “ Regis menutup telfonnya.
“ Kenapa menikah membuatnya jadi semakin aneh ? “ Regis bergumam pada dirinya sendiri.