
" Ayah " Ucap Rai lirih sambil menyentuh pipinya yang terasa panas karena tamparan dari Regis.
" Kalian hanya tau bermain-main saja " Suara berat Regis terasa mengintimidasi Rai.
Meskipun hanya dengan tatapan matanya, Regis sudah mampu membuat ciut nyali lawan-lawannya, dan Rai pun tak luput dari aura intimidasi Regis, sang pendiri Klan.
" Aku... " Jawab Rai terbata-bata.
Plaaakk !!! Tamparan ke dua pun melayang.
" Kenapa kau bisa seceroboh itu ? Aku menyetujui kau menikah bukan untuk main-main, bisa-bisa nya kau membuat putri ku dalam bahaya " Suara Regis sangat tenang, tapi justru karena itulah dia di takuti, tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan dia lakukan dengan emosi yang nyaris tidak terbaca seperti saat ini.
" Dan kau jangan kabur, cepat kemari " Lanjutnya masih dengan suara datar.
Rai yang tidak paham apa maksud ayahnya hanya bisa mengernyitkan keningnya. Dia tidak kabur kemana pun, tidak berencana dan tidak akan berani.
Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu dan terkekeh.
" Ayaaah... aku sangat merindukan mu " Ken berlari menghambur memeluk Regis dari samping, berpura-pura bahagia bertemu Regis dengan senyumnya yang terpaksa.
Cih sialan aku tertangkap basah akan kabur.
Ken mengumpat dalam hati.
Rupanya setelah tamparan pertama, Ken sudah datang dan akan menemui ayahnya, tapi demi melihat situasi nya yang seperti kurang bersahabat dia ingin melarikan diri juga dari amukan ayahnya.
" Berdiri di sebelah kakak mu " Perintah Regis dingin.
Ken yang memang sudah tau suasana hati ayahnya sedang buruk segera menurutinya tanpa di minta dua kali. Dia berdiri di samping kakaknya.
" Kalian benar-benar membuatku kecewa, bagaimana bisa kalian berdua lengah seperti ini ? Kalian membahayakan nyawa putri ku dan cucu ku " Regis memarahi namun dengan nada datar.
" Ah maaf ayah, boleh aku meralat, kakak ipar itu me... " Ken segera menutup mulutnya, menghentikan ralatannya setelah mendapat tatapan membunuh dari ayahnya.
" nantu " Lanjutnya lirih, bergumam pada dirinya sendiri.
" Kalian berdua hanya tau bermain-main saja " Regis melanjutkan marahnya.
__ADS_1
" Yuri " Panggilnya kepada sekertaris Yuri yang ada di belakangnya.
" Coret nama mereka dari daftar kartu keluarga, dan hanya sisakan Ruby juga calon cucuku " Perintahnya kepada Yuri dan di jawab dengan anggukan sebagai tanda patuh.
" Aku tidak masalah di coret dari daftar keluarga, atau di buang ke kutup utara sekalipun, tapi aku mohon jangan pisahkan aku dan Ruby juga Junior. Aku rela tidak menjadi siapapun di dunia ini asal ada Ruby di dalamnya. Aku sangat mencintainya ayah, sangat mencintainya " Suara Rai tercekat, tenggorokannya serasa berat untuk melanjutkan kalimatnya, tertelan oleh rasa sakit membayangkan Ruby yang saat ini sedang dalam bahaya karena dirinya.
Dia menundukkan kepalanya, bulir-bulir hangat mengaliri pipinya. Emosi yang seharian ini berusaha di tahannya akhirnya menemukan jalan untuk keluar, melalui air mata kekhawatiran, juga sebagai tanda penyesalannya yang terdalam atas kebodohannya.
" Kakak kau... " Ken berusaha menenangkan.
" Aku akan bantu kau menemukan putri ku tapi dengan satu syarat " Suara Regis memotong kalimat Ken.
" Apapun itu " Jawab Rai cepat.
" Setelah Ruby berhasil di temukan, kalian harus berpisah. Aku tidak akan membiarkan putri ku menikah dengan laki-laki ceroboh seperti mu " Suara Regis masih tetap datar.
Rai dan Ken terkejut mendengar ucapan ayahnya. Regis bukanlah tipe orang yang suka berbasa basi, dia mengatakan sesuatu secara cepat, tepat dan tak akan berubah.
" Tidak mau " Tolak Rai tanpa pikir panjang.
Regis hanya menatapnya tenang tanpa ekspresi. Selama ini dia mendidik anak-anaknya dengan sangat keras dan penuh disiplin. Dia bahkan sengaja melindas kucing kesayangan Rai hanya agar membuat mentalnya kuat. Tapi sekarang dia melihat anaknya menangis terisak demi istri dan calon anaknya.
" Kau ini tidak tau malu, bukankah kau akan jadi seorang ayah ? Kenapa malah menangis seperti anak kecil " Suara Regis berubah menjadi lebih santai, layaknya berkomunikasi antara ayah dan anak.
Ken dan Rai terkejut mendengar perubahan suara dari ayahnya.
" Ayah kau tidak marah ? " Tanya Ken mendekat untuk memeluk Regis.
" Marah ? Kenapa aku harus marah ? " Tanya Regis seperti di buat-buat untuk heran.
" Karena kami tidak bisa menjaga kakak ipar dengan baik " Ucap Ken ragu-ragu.
" Tentu saja aku marah, tapi Ruby masih bisa di temukan, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan " Regis menjelaskan santai.
" Ah ayah aku sangat menyayangi mu, kau ayah terhebat di dunia ini " Ken merayu Regis.
" Tapi kalian akan di hukum atas kecerobohan kalian saat ini, dan percayalah itu tidak main-main " Regis mengancam dengan tenang.
__ADS_1
" Sekarang ikut aku, kita harus mencari cara agar Ruby segera di temukan " Regis berjalan mendahului mereka berdua menuju ruangannya.
Rai dan Ken saling pandang berusaha mengartikan kata hukuman versi ayahnya. Seorang ayah normal akan menghukum anaknya dengan sekali pukulan rotan di kaki atau telapak tangan, tapi setelah itu semua akan selesai. Lalu bagaimana arti hukuman menurut kepala mafia yang terkenal kejam tanpa ampun. Mereka mencoba menebak-nebak apakah mereka akan di jadikan papan target yang di letakkan apel di atas kepala mereka untuk latihan menembak ayahnya, atau mereka akan jadi lawan ayahnya dalam bertanding gulat ? Apapun itu pasti mereka tidak akan selamat dengan mudah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ruby telah selesai makan malam romantis dengan Lucas atau dia memanggil dirinya Leon saat ini. Para pelayan mengantarnya ke kamar untuk beristirahat.
" Nona aku mohon tolong lepaskan ikatan tangan ku " Ruby memohon kepada para pelayan yang sedang menata tempat tidur untuknya.
" Maafkan kami nona, kami tidak berani. Saat Tuan Lucas menjadi baik dia akan memaklumi apapun kesalahan yang kami lakukan, tapi saat dia berubah menjadi aneh, kami tidak akan selamat dari siksaannya " Pelayan itu menolak Ruby dengan takut, menunjukkan padanya bahwa Lucas sekarang telah banyak berubah.
Tok, tok, tok !! Pintu kamarnya di ketuk, pelayan yang sedang menata itu menghentikan aktifitasnya dan membuka pintu. Lucas berdiri di depan pintu.
" Keluarlah " Perintahnya pada pelayan yang di jawab dengan anggukan dan kemudian segera pergi.
" Mau apa kau ? " Tanya Ruby sinis.
" Aku hanya ingin berbincang dengan mu " Lucas menuju sofa tunggal yang ada disudut ruangan.
" Seperti dulu " Lanjutnya begitu dia mendudukkan dirinya di sofa.
" Aku sangat lelah, aku ingin istirahat. Lepaskan ikatan tangan ku " Ruby memerintah sinis.
" Baiklah aku akan melepaskannya, tapi berjanjilah kau tidak akan kabur " Lucas menyetujui permintaan Ruby.
" Aku berjanji " Ruby berbohong cepat.
Lucas berdiri dan berjalan menuju Ruby yang sedang duduk di tepi ranjang. Dia lalu melepaskan tangan Ruby yang terikat di balik punggungnya. Dan kemudian berlutut di hadapan Ruby.
" Aku minta maaf atas sikapku dan juga perbuatan ku, aku akan menebusnya nanti saat kita sudah bisa hidup tenang tanpa gangguan dari penjahat itu " Ucap Lucas lirih dengan sungguh-sungguh, suaranya serak menahan tangis.
Telihat penyesalan yang tidak di buat-buat, penyesalan yang berasal dari dalam lubuk hatinya. Sejenak Ruby merasa kasihan padanya, dia tau Lucas sedang sakit, pasti ada alasan kenapa Lucas bisa menjadi seperti ini.
Lucas aku harap kita bisa menyelesaikan ini tanpa ada pertumpahan darah dari siapapun, tanpa ada pihak yang terluka. Baik kau atau pun Rai.
Ruby menghela nafas panjang berusaha memahami Lucas.
__ADS_1