
Rai dan Ruby juga Raline sedang berada di dalam mobil menuju panti asuhan yang ada di pinggiran kota. Adelia serta dua pengasuh Raline ada di mobil yang lainnya.
Mereka semua berangkat beriringan, 2 mobil penumpang dan satu mobil pengangkut tumpukan uang yang akan di sumbangkan.
" Kau yakin akan menyumbangkan uang itu ? " Tanya Ruby cemas, memastikan kegilaan yang di perbuat Rai dan memperhitungkan dampaknya.
" Kenapa memangnya ? " Tanya Rai santai.
" Ya tidak, kan bisa pakai uang yang lain " Rayu Ruby, mencoba merubah keputusan tak masuk akal Rai.
" Jadi kau pikir panti asuhan itu tidak akan mau menerima sumbanganmu kalau uangnya bernominal 1000an ? " Tanya Rai ketus.
" Bukan begitu sayang " Decak Ruby kesal namun berusaha di tahannya, menghadapi Rai harus ekstra hati-hati, salah bicara atau salah dalam memberikan ide gila lainnya bisa membuatnya repot sendiri. Karena Rai akan mewujudkannya hanya dalam sekali perintah.
Kami akan selalu melayani Big Boss meskipun permintaannya aneh-aneh.
Begitulah moto yang selalu di ucapkannya dulu sewaktu masih menjadi petugas cleaning service di club malam.
" Memangnya kau tidak malu menyumbang uang 1000an ? " Tanya Ruby sungkan.
" Malu ? Kenapa harus malu " Rai mengedikkan bahunya dan mencebikkan bibirnya.
" Bagiku lebih baik merasa malu daripada harus melihatmu menatap laki-laki lain, itu menyakitkan " Lanjutnya asal.
" Laki-laki ? Kapan aku menatap laki-laki lain ? " Ruby membela dirinya, tidak terima di tuduh melakukan hal yang tidak di perbuatnya.
" Kalau kau menyimpan uang bergambar laki-laki di dompetmu, lalu kau akan membelanjakannya kau pasti menghitungnya lebih dulu, kau akan menatapnya, bisa saja kemudian kau berpikir, wah laki-laki ini tampan ya, gagah ya " Dengan nada mengejek yang kental Rai menirukan tingkah Ruby saat sedang terkagum-kagum.
" Kapan aku begitu ? " Ruby memalingkan wajahnya, kesal dan lebih memilih mengabaikan Rai.
" Kenapa ya aku merasa hanya aku yang mencintai mu sebesar ini ? Aku mencintaimu sampai rasanya di kepala ku isinya hanya kau seorang, di hatiku apalagi. Setiap dekat denganmu begini aku selalu merasa tersetrum aliran listrik. Tapi apa kau juga merasakannya ? " Tanya Rai ketus.
Ruby menghela napas panjang.
" Aku juga merasa begitu tapi apa perlu semua orang tau aku merasakan hal itu ? Tidak mungkin kan ku tulis di jidatku " aku mencintai mu "" Balas Ruby sengit. Argh keceplosan lagi, semoga saja Rai tidak menganggap serius omonganku tadi.
" Kalau memang itu perlu untuk pembuktian tak masalah, aku sih tidak keberatan menulis kata itu di jidat ku " Jawab Rai kesal.
" Iya iya besok aku tulis kalimat itu di jidatku, agar saat kau melihatku kau akan tersenyum lebar " Ruby mengalah.
" Nah begitu baru benar " Jawab Rai puas lalu melingkarkan lengannya ke pundak Ruby, menariknya ke dalam pelukannya.
" Kalau memang sudah punya pasangan harus di tunjukkan pada semua orang, tidak masalah kalau dibilang tukang pamer. Lagipula itu memang pasangan kita, kalau jomblo baru tidak bisa pamer " Lanjutnya kemudian, membelai lembut kepala Ruby.
"Hemmm " Ruby mengiyakannya saja.
" Eh tapi tunggu dulu " Rai berhenti.
Apalagi !!!
Batin Ruby kesal sendiri.
" Kalau kau menulis di jidatmu aku mencintaimu nanti semua orang yang berhadapan denganmu akan membacanya ? Tidak boleh !! " Dia mendorong tubuh Ruby dari pelukannya untuk menatapnya, memegang dagunya dan menolehkannya kekanan kekiri.
Mau apa lagi dia ?
Ruby bertanya-tanya dalam hati.
" Mata ini cuma boleh menatap ku " Rai kemudian mencium kedua mata Ruby.
" Kening ini cuma boleh memikirkan ku " Rai kemudian mencium kening Ruby.
" Hidung ini cuma boleh mencium ku " Dia lalu mengulangi ciumannya.
" Pipi ini juga, hanya aku yang boleh menciumnya " Sebuah kecupan pelan menandai kedua pipi Ruby.
" Lalu bibir ini... " Rai mengusap lembut bibir Ruby dengan ibu jarinya.
" Cuma boleh bilang i love you padaku " Dengan lembut Rai mengatakannya lalu memberikan ciuman pamungkasnya. Lama dan lembut.
Aaahh.... sejak kapan dia jadi jago menggombal seperti ini.
Teriak batin Ruby berdesir mendengarkan rayuan gombal Rai. Dia pun membalas ciuman Rai.
Ya ampun tuan, padahal kau kan tau kalau aku jomblo, kenapa membahas jomblo bersama istri sih.
Suara hati Agus, sopir pribadi Rai yang merintih merasakan sakit tak berdarah melihat tuannya selalu saja pamer kemesraan dengan istrinya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Perjalanan menuju panti asuhan hanya membutuhkan waktu 45 menit dengan kecepatan para sopir berpengalaman yang bekerja untuk keluarga Loyard.
Mereka mulai masuk ke jalan setapak yang hanya muat di lalui satu mobil saja. Tempatnya tidak terlalu terlihat dari luar, mungkin itu sebabnya panti asuhan ini jarang mendapatkan donatur, atau juga letaknya yang berada di pinggiran kota yang membuatnya tidak terekspose.
Begitu melihat mobil berhenti, salah seorang anak penghuni panti itupun berlari ke dalam tergopoh-gopoh.
" Bu Saroh ada mobil bagus-bagus berhenti di depan " Serunya kepada seorang wanita paruh baya yang sedang menjahit.
__ADS_1
" Mobil ? " Tanyanya mengernyitkan kening.
" Mobil siapa sayang ? " Dengan lembut mengusap kepala anak berwajah polos itu.
" Tidak tau, mobilnya hitam, ada 3 " Jelasnya lagi dengan lugunya. Anak yang sekiranya berusia 5 atau 6 tahun itu kemudian menarik-narik tangan bu Saroh untuk ikut melihatnya.
Dengan sabar bu Saroh berdiri dan mengikuti langkah kecil anak asuhnya.
" Selamat siang bu Saroh " Pekik Adelia begitu melihat bu Saroh keluar dari dalam.
" Bu Adelia ? " Pekiknya girang, mereka berdua lalu berpelukan sebentar.
" Bagaimana kabarnya ? " Tanya Bu Saroh setelah Adelia melepaskan pelukannya.
" Baik, aku baik-baik saja " Jawab Adelia dengan suara bergetar, terselip kesedihan saat dia menjawab pertanyaan bu Saroh.
" Apa masalah Ganung lagi ? " Tebak bu Saroh seakan mengerti isi hati Adelia.
Adelia memang sering datang ke panti ini, selain untuk memberikan sumbangan juga untuk berbagi kisah sedihnya perihal Ganung, adik satu-satunya.
" Dia... dia sudah meninggal " Dengan lirih Adelia menjawabnya. Tidak ingin sampai Rai mendengarnya, karena masalah itu juga menyangkut keluarga yang kini menjadi besannya.
" Hah ?!? " Bu Saroh menutup mulutnya terkejut.
" Bagaimana dia meninggal ? " Tanya Bu Saroh juga lirih.
Dengan gamang Adelia melirik Rai dan Ruby yang sedang melihat-lihat area depan bangunan panti.
" Ah kalau kau tidak ingin cerita, tidak masalah " Bu Saroh seakan mengerti isi hati Adelia, dia lalu mengalihkan pandangan matanya pada sepasang suami istri yang sedang sibuk itu.
" Siapa ini ? " Tanya Bu Saroh dengan riang, berjalan menghampiri mereka.
" Saya Ruby dan ini suami saya Rai, kami berdua menantu bu Adelia " Jelas Ruby malu-malu.
" Oh begitu, saya Saroh, pengasuh panti asuhan " Mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
Rai dan Ruby membalas jabatan tangan bu Saroh secara bergantian.
" Langsung saja, kami kesini ingin menyumbang, kau mau menerima sumbangan kami atau tidak " Tanya Rai tanpa basa-basi.
Bu Saroh terhenyak mendengar ucapan Rai yang menurutnya sedikit kasar. Ruby pun juga ikut terhenyak, lalu dengan keras dia menyikut perut Rai. Namun sekeras apapun Ruby menyikutnya, Rai tidak terpengaruh. Dia masih berdiri tegak dengan sikap yang terlihat angkuh.
" Bisa sopan sedikit tidak " Bisik Ruby ketus.
" Aku hanya ingin memastikan kalau teori mu salah, aku bertanya lebih dulu padanya apa dia mau menerima sumbangan dari kita " Balas Rai dengan suara lantang.
" Bagaimana bu pengurus ? Mau menerima sumbangan kita ? " Rai kembali mengulang pertanyaannya.
Dengan bingung bu Saroh kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Rai.
" Baiklah kalau begitu saya harap anda jangan berpikir aneh-aneh dan tidak-tidak dengan sumbangan saya " Jawab Rai lalu mengangkat tangannya, memberikan kode kepada para sopir untuk mengeluarkan tumpukan uang dari mobil van yang terparkir di luar.
Ketiga sopir dan satu pelayan itu pun bergegas melaksanakan perintah Rai, mereka semua dengan cepat mengeluarkan satu persatu tumpukan amplop dari dalam mobil.
" Mau taruh dimana tuan ? " Tanya Agus yang sedang membawa beberapa tumpukan amplop sekaligus.
" Taruh dimana bu pengurus ? " Rai meneruskan pertanyaan Agus pada Bu Saroh yang sedang diam membeku, bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi.
" Ta-taruh di dalam saja, kami tidak punya ruang tamu, jadi kalian bisa menaruhnya di sembarang tempat di ruangan itu " Dengan tangan yang gemetar dia menunjuk ke dalam rumah.
Apa isinya itu ?
Batinnya dalam hati.
Agus kemudian berjalan melewati mereka masuk ke dalam rumah, di ikuti dengan sopir yang lainnya.
Masing-masing dari mereka mengangkat 4 amplop sekaligus.
Anak-anak yang sedang bersembunyi di dalam rumah itupun mengkerut ketakutan saat melihat om-om berpakaian serba hitam itu masuk ke dalam rumah tanpa melepas sepatu mereka, tidak sopan, begitulah mereka dididik, jika masuk ke dalam rumah orang lain maka alas kaki harus di lepas.
Setelah beberapa kali bolak-balik mengangkut amplop-amplop itu, akhirnya amplop terakhir sudah di masukkan, tergeletak di atas meja yang menjadi meja belajar sekaligus meja makan para anak-anak.
" Apa isinya ya ? " Seorang anak dengan polosnya mendekati amplop itu, di sentuhnya dengan ragu-ragu. Padat dan keras. Terdorong rasa penasaran yang tinggi, dia memberanikan diri membuka salah satunya.
Amplop itu tidak tersegel rapat, hanya beberapa kali lipatan. Lewat celah yang sedikit terbuka, anak itu mengintip kedalamnya.
Kertas ?
Batinnya bingung melihat kertas bertumpuk-tumpuk. Dia lalu merogohkan tangannya masuk, licin dan kaku, bentuk uang yang baru saja keluar dari bank yang masih belum tersentuh orang lain.
Anak itu lalu mengambil satu bundel uang itu dan menariknya keluar.
" Uang !!! " teriaknya kaget melihat setumpuk uang di tangannya. Anak-anak lain yang penasaran langsung mengerumini anak itu.
" Uang apa ? "
" Mana uangnya ? "
__ADS_1
" Wah banyak sekali "
" Uang siapa ? " Berbagai celotehan kagum juga bingung menghiasi benak-benak polos anak tanpa orang tua itu.
Bu Saroh masuk ke dalam dengan tergopoh-gopoh.
" Bu Saroh ini isinya uang " Tunjuknya kepada Bu Saroh, lalu menyerahkan sebundel uang bernominal 1000an pada bu Saroh.
" Seribuan ? " Kening bu Saroh mengernyit dalam. Lalu keluar dengan membawa bundelan uang tersebut.
" I-ini apa ? " Tanyanya pada bu Adelia yang sudah berdiri di samping Ruby.
" I-itu uang sumbangan kami bu " Jawab Ruby sungkan.
" Se-semua ? " Tanya bu Saroh terbata-bata.
" Iya " Kali ini Adelia yang menjawab.
" Sebanyak itu ? " Pekik Bu Saroh tak percaya.
" Iya, maaf kami menyumbang dalam bentuk uang seribuan... " Ruby berniat menjelaskan alasannya, namun terhenti saat melihat bu Saroh sudah membungkukkan badannya berkali-kali dengan berurai air mata.
" Terima kasih tuan, terima kasih, terima kasih... "
" Ja-jangan begitu bu " Cegah Ruby panik, dia tidak terbiasa melihat orang yang lebih tua memberikannya hormat sampai seperti itu.
" Anak-anak sini " Panggil Bu Saroh kepada anak-anak yang mengintip dari balik pintu.
" Ayo ucapkan terima kasih " Dia melambaikan tangannya agar anak-anak itu mendekat.
Mereka semua langsung menghambur keluar rumah dan berbaris rapi.
" Terima kasih tuan " Ucap mereka kompak lalu serempak membungkukkan badan.
" Tunggu apalagi, buka semua uangnya dan pergilah beli kue atau mainan, minta om-om yang disana mengantarkan kalian " Perintah Rai kemudian menunjuk sopir mobil van.
" Waah asyik naik mobil " Seru mereka semua girang.
" Sstt... " Bu Saroh menempelkan telunjuknya ke bibir untuk menenangkan anak-anak yang sudah melompat-lompat kegirangan.
" Tidak apa-apa bu, biarkan saja " Cegah Ruby tertawa melihat tingkah lucu menggemaskan anak-anak yang masih polos itu.
" Kalau anda merasa keberatan dengan nominal uang itu, anda bisa menukarkannya ke bank " Saran Ruby.
" Tidak !!! " Pekik salah seorang anak laki-laki yang masih kecil.
" Aku ingin punya uang yang banyak sekali, nanti saat membayar kue yang ku beli aku ingin membayarnya dengan uang yang banyak, biar seperti orang-orang " Jelasnya polos.
" Iya iya habiskan semua uang sebanyak yang kalian mau, sana pergilah " Perintah Rai lagi.
" Saya tidak tau harus berterima kasih dengan cara bagaimana tuan, nyonya, bu Adelia " Ucap Bu Saroh sesegukan, menangis terharu sekaligus bahagia.
" Tidak perlu sungkan bu " Jawab Ruby ikut terharu. Mereka bertiga plus 2 pengasuh Raline itu pun akhirnya saling menangis haru.
" Cih dasar wanita " Cibir Rai lalu tersenyum melihat Ruby yang menangis.
" Om-om " Seorang anak kecil menarik-narik celana Rai. Mereka semua menoleh untuk melihat.
" Boleh aku mandi dalam tumpukan uang itu ? Aku melihat di tv orang-orang kaya banyak yang melakukan itu, aku ingin sekali tau bagaimana rasanya mandi di tumpukan uang, apakah akan terasa segar dan bersih meskipun tanpa air dan sabun ? " Celotehnya polos.
Semua orang tertawa mendengar ocehan dari anak berusia di bawah lima tahun tersebut. Rai mengangguk sebagai jawaban dan kemudian anak itu pergi berlari kegirangan masuk kembali ke dalam rumah.
" Yeay... mandi uang " Teriaknya girang.
" Lihat kan, bahagia itu terkadang sederhana. Kau marah saat ku beri uang seribuan, tapi lihat mereka, dia bahkan ingin mandi dalam tumpukan uang " Oceh Rai pongah merasa idenya memberikan sumbangan dalam bentuk uang seribuan telah berhasil membuat anak-anak itu sangat gembira.
Bagaimana tidak, anak kecil mana mengerti nominal uang, yang mereka tau hanya bahwa uang mereka bertumpuk-tumpuk banyak, bukan nominalnya.
" Cih " Cibir Ruby.
" Iya iya kau memang brilian, otak manusia purbamu itu sangat sangat sangat jenius. Aku kagum " Sindir Ruby.
" Harusnya kau itu bahagia seperti mereka saat menerima tumpukan uang itu " Ketus Rai kesal Ruby masih saja mengejeknya.
" Iya iya aku akan bahagia, aku juga akan ikut-ikutan mandi dalam tumpukan uang " Jawab Ruby asal.
Mendengar hal itu Rai pun langsung mengambil ponselnya.
" Pak Handoko siapkan bathup yang berisi uang, nyonya Ruby ingin merasakan mandi uang " Perintahnya melalui sambungan telepon.
Ruby gelagapan sendiri mendengar ucapannya langsung di wujudkan oleh Rai.
" Hei jangan, apa-apaan sih, bikin malu saja " Bisik Ruby seraya memukul-mukul lengan Rai, memintanya membatalkan perintahnya, namun Rai mengabaikannya.
" Baik tuan, uang apa yang ingin nyonya pakai untuk mandi ? " Tanya Pak Handoko santai, sudah biasa dengan kegilaan keluarga ini.
" Uang koin seribuan, isi baknya sampai penuh, jangan sampai kurang satu senti pun " Jawab Rai dengan tegas.
__ADS_1
" Heiii !!! " Teriak Ruby penuh emosi membayangkan dirinya akan berendam tumpukan uang koin.