Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Rencana


__ADS_3

Setelah berhasil menguasai detak jantungnya dan kembali normal, Blair bergegas memakai lagi celana olahraganya yang teronggok di lantai, lalu melepas roknya dan merapikan semuanya kemudian menaruhnya di loker.


Dengan langkah pelan dia berjalan menuju pintu kelas.


Apa dia benar sedang menunggu di depan ?


Tanyanya dalam hati. Berhenti di depannya sebentar, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan melalui mulutnya. Menata hatinya yang sedang jumpalitan tak jelas.


Dengan ragu-ragu Blair membuka pintu, pelan-pelan.


Deg !! Jantungnya kembali naik keatas kursi roaler coaster, hilang lepas kendali saat melihat sosok Dylan yang sedang berdiri bersandar di tembok dengan wajah menunduk, menghentak-hentakkan kakinya pelan. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Dylan bergegas menegakkan punggungnya.


" Sudah siap ? " Tanya Dylan menghadap ke arah Blair, sinar matahari yang mulai beranjak naik itu pun menembus dedaunan pohon dan menerpa wajah Dylan.


Oh my gosh !!! Dia berkilau !!


Pekik Blair dalam hati. Serangan jantung seakan kembali menusuk dadanya. Dia menyentuh dadanya dan meringis nyeri.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Dylan reflek maju kedepan memegang pundak Blair.


Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku benar-benar kena serangan jantung.


Blair masih terhipnotis oleh raut wajah Dylan yang sendu.


" Harusnya kau tidak usah ikut olahraga saja " Gumam Dylan cemas.


" Iya " Jawab Blair tanpa sadar.


" Iya kan ? " Tanya Dylan semakin cemas.


" Eh ? Apa ? " Blair balik bertanya.


" Kau tidak usah ikut olahraga saja, aku akan memintakan izinmu kepada guru nanti " Jawab Dylan.


" A-ah ti-tidak usah, aku ikut saja " Tolak Blair cepat, dia segera tersenyum lebar untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.


" Kau yakin ? " Alis Dylan berkerut dalam, dia memincingkan matanya, menilik wajah Blair dengan seksama.


" Ya aku yakin " Jawab Blair mantap.


" Ya sudah, ayo " Ajak Dylan dan mereka pun berjalan beriringan menuju lapangan olahraga indoor.


Dera yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri saat mengingat-ingat kemarahan romantis Dylan itu pun sudah merencanakan akan menengok Dylan nanti di lapangan olahraga. Dia sudah menyiapkan sekaleng minuman energi untuk di berikan kepada Dylan. Sekalian saja pengumuman tak resmi bahwa mereka memulai pendekatan.


" Sst " Cissy menyenggol lengan Dera yang sedang asyik menatap kaleng minuman yang sudah di siapkannya untuk Dylan.


" Apa ? " Dera menoleh ke arah Cissy.


" Hm " Cissy menunjuk ke arah jendela dengan dagunya.


" Apa sih ? " Dera memincingkan matanya bingung namun dia menuruti saja keinginan Cissy dan menoleh ke arah jendela yang ada di sebelahnya.


Duar !! Seperti petir yang menyambar gurun pasir, Dera melihat Dylan dan Blair sedang berjalan bersama-sama. Seketika itu juga tangannya langsung gemetaran hingga kaleng minuman itupun jatuh meluncur dari genggaman tangannya.


Ke-kenapa mereka bisa bersama seperti itu ?


Dengan tatapan mata nanar, dia terus mengikuti kedua sosok yang sedang melintas melewati kelasnya.


Walaupun dengan jarak yang lumayan, namun Dera bisa melihat dengan jelas raut wajah merona malu-malu yang di perlihatkan oleh Blair, sedangkan Dylan, dia memang sudah cetakan pabrik, jadi raut wajahnya selalu dingin tanpa ekspresi.


Tapi meskipun begitu, api cemburu membakar Dera dengan cepatnya, melahap seluruh khayalan indah yang menari-nari di pikirannya. Ingatannya tentang kemarahan romantis Dylan tadi pagi langsung hangus tak bersisa, berganti dengan bara panas yang menyala-nyala.

__ADS_1


" Mereka semakin dekat, kau yakin Dylan tidak menyukai Blair ? " Bisik Cissy lirih.


Dera hanya diam membeku dan mengepalkan tangannya dengan erat sampai buku jarinya memutih. Lalu tanpa menjawab pertanyaan Cissy dia berdiri dan keluar dari kelasnya.


" Hei Dera kau mau kemana ? Sebentar lagi gurunya datang " Teriak Cissy, namun pemilik nama itu sudah menghilang di balik pintu.


Kenapa mereka berdua bisa bersama-sama ? Dylan atau Blair ? Siapa diantara mereka yang tidak tau malu menempel terus seperti lem. Blair. Ya itu pasti Blair, dia sangat gila perhatian, gadis itu benar-benar bermuka dua. Dia seperti gadis murahan yang ingin semua perhatian hanya tertuju padanya, yang ingin semua laki-laki berlutut di kakinya.


Dengan rahang mengeras Dera berjalan cepat menyusul mereka berdua.


Dylan dan Blair memasuki lapangan olahraga, mereka berdua terlambat, semua teman-teman mereka sedang melakukan pemanasan ringan di bimbing oleh guru olahraga.


" Ayo cepat ikuti teman mu " Perintah Guru olahraga begitu melihat Dylan dan Blair yang baru saja bergabung.


Dengan wajah sungkan Blair masuk ke dalam barisan teman-temannya yang lain di bagian belakang dan Dylan berada di sampingnya, lalu mulai mengikuti gerakan mereka.


Dylan yang melihat Blair bergerak-gerak mengangkat tangan dan kakinya secara menyilang itu pun sedikit cemas. Dia lalu bergeser menyamping, mendekat ke arah Blair.


" Jangan terlalu keras berolahraga, perhatikan kesehatan jantungmu " Bisik Dylan lembut memperingatkan Blair yang sedang asyik melakukan gerakan pemanasan.


Mendengar suara lembut Dylan yang terasa menyejukkan itu lagi-lagi membuat Blair seakan terhipnotis. Dengan tertegun dia menatap Dylan yang sudah kembali ke barisannya semula.


Tidak !!! Cukup !! Kalau kau begini terus kesehatan jantungku benar-benar akan terganggu.


Blair menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menyembunyikan jeritan tanpa suara yang keluar dari mulutnya.


Tunggu !


Blair seperti tersadar oleh sesuatu.


Sadar Blair dia itu sudah punya kekasih, jangan terpesona olehnya. Tapi apa maksudnya aku sakit jantung ? Darimana dia bisa berpikiran seperti itu.


" Dasya " Panggil Dylan lirih, tidak ada jawaban, hanya ada gelengan kepala kuat-kuat di balik wajah Blair yang tertutup.


" Dasya " Panggil Dylan lebih keras lagi, masih saja sama, tidak ada jawaban.


" Ck " Decak Dylan kesal, dia lalu menarik tangan Blair yang menutupi wajahnya, dan sedikit membungkukkan punggungnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Blair yang lebih pendek darinya.


" Hua " Pekik Blair kaget melihat wajah Dylan dari jarak yang sangat dekat.


" Pemanasannya sudah selesai " Ucap Dylan sedikit kesal. Blair menoleh ke kanan dan ke kiri, semua mata sedang menatapnya bingung.


" Ah ya hehehe... " Dia tersenyum canggung.


" Maaf ya " Ucapnya manis.


Dan semua orang pun membalas senyumannya.


" Mikir apa sih ? " Tanya Dylan lembut.


" A-aku... " Buyar sudah pikiran Blair, seperti orang yang sesak napas dia megap-megap setiap kali mendengar suara Dylan yang sehalus beledu, jika sedang manis begini.


" Kalau lelah bilang saja, aku akan memberitahukan pada guru " Ucap Dylan lalu melepaskan pegangan tangannya, dan mengajaknya pergi ke tepi lapangan.


Aneh, seperti sebuah mantra yang di tiupkan padanya, Blair menurut saja mengikuti perintah Dylan. Mereka berpisah, Dylan berjalan ke arah tepi lapangan yang berseberangan dengannya.


Aku tidak tahan lagi, sekali lagi dia bersikap lembut begitu, aku benar-benar akan kena serangan jantung.


Sambil berjalan menuju tepi lapangan, Blair menepuk-nepuk pelan pipinya, berusaha menyadarkannya dari keadaan aneh ini.


Blair bergabung dengan beberapa murid perempuan yang juga berdiri di tepi lapangan, mendengarkan arahan guru olahraga tentang kegiatan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.

__ADS_1


" Kau tidak apa-apa Blair ? " Bella, teman sekelas mereka bertanya panik.


" Kau pasti syok ya di sentuh oleh dia, hiiyy ini cepat pakai hand sanitizer ini, biar kumannya mati " Salah satu murid mengeluarkan sebuah botol kecil lalu menyemprotkan isinya ke atas tangan Blair.


Blair menoleh kesana kemari, bingung dengan apa yang di bicarakan teman-temannya.


" Kuman ? " Tanyanya kemudian.


" Iya kuman, virus yang di bawa si anak haram itu " Decak Bella jijik.


" Anak ha-ram ? " Tanyanya terbata. Blair semakin tidak paham, dia mengamati wajah teman-temannya satu persatu.


" Kau tidak tau tentang dia ? " Tanya temannya yang lain.


Dari wajah polos Blair, teman-temannya langsung paham bahwa Blair tidak tau apapun tentang teman sebangkunya itu. Maklum saja, Blair murid pindahan jadi tidak tau apapun tentang Dylan.


" Kau jangan dekat-dekat dengannya, dia itu anak seorang... " Bella kemudian membisikkan tentang ibu dan ayah Dylan di telinga Blair.


" Hah ?!?! " Blair mendelik dengan mulut menganga.


" Benarkah ? " Tanyanya lirih.


Semua teman yang ada disampingnya itu pun mengangguk dengan kuat.


Tidak mungkin ?


Batinnya lesu, dia kemudian menatap Dylan yang berada di tepi lapangan sisi yang lain, bersama dengan murid laki-laki lainnya.


Dylan memang terlihat berbeda dengan anak yang lainnya, saat semua anak berkerumun dan saling bercakap-cakap atau bersenda gurau, Dylan malah menyendiri, terpisah.


Dilihat dari kejauhan, tubuh tinggi Dylan sedang berdiri santai, dengan tangan yang masuk ke dalam saku, dan pandangan mata yang entah mengarah ke mana. Tidak ada yang aneh dengannya, hanya minus kurang sosialisasi bersama yang lainnya, selebihnya perfect. Tubuh atletis dengan tinggi yang sempurna, wajahnya tegas dengan alis tebal, kulitnya bahkan putih, lebih putih dari kebanyakan anak laki-laki seumurannya.


Saat Blair sibuk mengamati Dylan dengan seksama, pandangan mata mereka tanpa sengaja bertemu dan Dylan melemparkan senyumnya ke arah Blair.


Augh !! Lagi-lagi, heart attack.


Blair mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya Dylan memiliki senyum semanis itu untuk ukuran manusia berwajah masam yang pernah dia temui.


Ibarat makanan dia itu cumi asam manis, aah aku ingin memakannya.


Dan tanpa sadar Blair ikut membalas senyumannya dengan wajah yang bengong.


Dylan yang melihat ekspresi Blair seperti orang yang sedang kelaparan itupun kemudian terkekeh pelan.


Wajah onengnya itu ternyata imut juga.


Tawanya lalu menundukkan wajahnya.


Hah ?!? Aku sedang apa sih ?


Blair kembali menepuk pipinya, lalu bergidik untuk menyingkirkan sepiring cumi asam manis yang menggugah selera itu. Dia kembali fokus pada Dylan, namun Dylan sudah tak memandangnya lagi, dia sedang memperhatikan pengarahan dari guru olahraga dengan seksama, seperti biasanya di setiap pelajaran.


Dera yang berada di balik tumpukan matras itupun semakin mengepalkan tangannya. Seluruh adegan antara Dylan dan Blair dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Dari awal sampai akhir.


Hatinya berdenyut nyeri, dia tidak bisa menerimanya. Hubungannya dengan Dylan bahkan tidak sejauh itu.


Memangnya apa yang dia miliki tapi tidak ku miliki ? Keluarga ku juga tak kalah kaya, aku juga populer, bahkan aku menjadi siswa berprestasi di sekolah ini. Ini tidak boleh terjadi, aku harus melakukan upaya pencegahan. Mereka tidak boleh dekat-dekat.


Dera memukul pelan matras yang ada di hadapannya sebelum pergi meninggalkan lapangan untuk kembali ke kelasnya, bersiap melakukan rencananya semula.


Memberikan pengumuman secara tak langsung pada seluruh siswa.

__ADS_1


__ADS_2