Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Main Baseball


__ADS_3

Ruby duduk dengan menekuk kedua kakinya dan menangis di antara lututnya, sementara Rai hanya bisa diam menunggunya berhenti. Sudah lebih dari satu jam Ruby menangis, dan sudah lebih dari satu jam pula Rai hanya bisa diam seraya mengelus elus punggung Ruby, membantunya merasa lebih baik.


" Kau sudah merasa lebih baik ? " Tanya Rai begitu mendengar suara isak tangis Ruby yang mulai berhenti. Lalu dengan cepat dia segera bangun untuk mengambilkan air mineral di meja sudut ruangan.


Ruby mendongakkan kepalanya dan menerima air mineral yang diberikan Rai, lalu meneguknya sampai habis.


" Sudah merasa lebih baik ? " Tanya Rai lagi.


" Baik ? Apa baik versimu ? " Tanya Ruby dingin.


Rai menghela napas dan menatap Ruby.


" Aku bersalah karena menyembunyikan kondisi ayahmu yang sebenarnya, tapi percayalah semua ini kulakukan demi kebaikan mu " Jelas Rai.


" Cih " Cibir Ruby sinis dan memalingkan wajahnya.


" Lagi-lagi baik versi dirimu sendiri " Gumamnya malas, dia kemudian menatap Rai tajam.


" Apa kau yakin ini demi kebaikan ku ? Bukannya demi kepentinganmu sendiri ? " Sinisnya.


" Ruby aku tidak ingin bertengkar dengamu, jika kau masih marah padaku, marahlah, jika kau ingin memukulku, pukul saja, tapi sudahi ini, jangan membuat ini semakin berlarut-larut " Balas Rai sedikit kesal.


" Berlarut-larut ? " Tanya Ruby sinis.


" Bukannya kau yang jago dalam membuat keadaan semakin berlarut-larut ? " Sindirnya.


" Aku tau aku salah karena telah berbohong padamu, tapi bisakah kau lihat ini dari sudut pandangku ? Alasan kenapa aku menyembunyikannya begitu lama darimu ? " Balas Rai tak kalah sinis.


" Sudut pandang mu ? Lalu bagaimana dengan sudut pandang ku ? Apakah kau pernah melihatnya ? Apa kau pernah mencoba memahaminya ? Kau itu egois " Sengit Ruby dingin.


" Ya aku memang hanya mementingkan diriku sendiri, saat pertama kali aku tau kondisi ayahmu yang tidak bisa disembuhkan, dan aku tidak punya pilihan lain selain berbohong, aku sudah menjadi orang yang paling egois di dunia ini, tapi aku tidak menyesal sama sekali, aku akan terus menjadi orang paling egois di bumi ini, kalau perlu di dunia ini dan juga di kehidupan setelah kematian, asalkan aku bisa terus memiliki mu " Teriak Rai penuh emosi.


Ruby hanya terdiam mematung mendengar alasan Rai, dia tau, dia paham, tapi bukan begitu caranya. Bukan seperti ini yang di inginkan Ruby.


" Kau pikir aku baik-baik saja selama ini ? " Lanjutnya merendahkan suaranya dengan sedih.


" Aku telah membunuh banyak musuh-musuhku tapi belum pernah aku merasa jadi seorang pembunuh seperti saat aku membiarkan ayahmu yang sudah meninggal itu tetap terlihat hidup " Isaknya.


" Kau tidak pernah tau betapa aku menyesalinya setiap hari, menangisinya setiap hari, tapi cuma itu yang bisa ku lakukan agar kau tetap di sampingku " Lanjutnya.

__ADS_1


" Cih " Cibir Ruby sinis.


" Sudut pandangmu itu... sudut pandang yang kau bilang demi kebaikanku itu malah menjadikanku terlihat sangat buruk dan melukai ku lebih dalam " Lanjut Ruby sengit.


" Apa ? " Tanya Rai heran.


" Aku... selama ini sudah mengalami hal sulit, menjadi istrimu tidak pernah mudah, begitu banyak cacian dan hinaan yang harus ku terima, tapi aku tetap bertahan bukan ? Kalau kau pikir itu semua demi kesembuhan ayahku, maka kau salah. Aku bertahan karena aku mencintai mu, tapi sekarang kau membuatku terlihat seperti aku wanita buruk yang tidak tau di untung karena sudut pandang sialan mu itu, karena kebohongan mu yang kau bilang demi kebaikanku " Teriak Ruby emosi.


" Jika memang ini demi kebaikanku, maka harusnya kau jujur dari awal. Dengan begitu aku bisa menerimanya dan mungkin saat ini aku sudah merelakannya lalu hidup bahagia bersamamu, bukannya malah memenuhi hatiku dengan harapan-harapan palsu yang kau berikan selama ini dan sekarang akhirnya membuatku semakin terluka " Lanjutnya dingin dan membalikkan badannya, berniat pergi meninggalkan Rai.


" Tunggu " Rai memegang tangan Ruby untuk mencegahnya pergi.


" Lepas " Jawab Ruby dingin melirik tangan Rai yang menggenggam tangannya.


" Kau mau kemana ? " Tanya Rai panik.


" Kenapa ? Apa kau takut aku akan meninggalkan mu ? Pikiranmu itu sungguh sempit " Sinis Ruby dan menepis tangan Rai lalu pergi keluar kamar.


" Aish !!! " Teriak Rai marah, dia membalikkan meja yang ada di hadapannya, menghancurkan vas-vas bunga yang ada disana, melampiaskan kemarahannya pada apapun yang ada di depan matanya.


Hubungan tidak akan pernah berjalan baik jika kau mulai dengan kebohongan Rai.


Batin Ruby getir. Dia pergi menemui Regis untuk mengambil Raline.


" Sayang... " Panggilnya riang.


" Kau sudah bangun ? Apa kau membuat kakek susah ? " Tanyanya lagi mengulurkan tangannya mengambil Raline dari gendongan Regis.


" Kau butuh tempat untuk sembunyi ? " Tawar Regis seperti paham dengan suasana hati Ruby.


" Aku tidak akan jauh-jauh dari Rai, dia suka lepas kendali jika sudah marah " Jawab Ruby tersenyum terpaksa.


" Kau memang menantuku " Puji Regis.


" Dia mungkin mengira semua yang dia lakukan adalah demi kebaikanku, tapi dia salah, dia malah membuatku terlihat seperti orang yang berpikiran sempit dan tidak bisa menerima kebaikannya, harusnya dia memberitahuku dengan jujur dan menemaniku melewati waktu-waktu sulit ku, begitu lebih baik daripada harus berbohong " Jawab Ruby.


" Kau benar, bagaimanapun pahitnya kenyataan harusnya itu di ungkapkan, menutupinya tidak akan menghilangkannya, itu hanya seperti menunda bom waktu untuk meledak, toh akhirnya akan meledak juga " Jawab Regis.


" Tapi mungkin aku juga terlalu kasar padanya tadi, dia sangat marah " Jawab Ruby sedih.

__ADS_1


" Biarkan saja, dia harus menerima konsekuensi dari kebohongannya " Ucap Regis.


Raline yang berada dalam gendongan Ruby pun menggeliat dan mulut mungilnya mengecap-ngecap mencari susu.


" Sepertinya Raline ingin menyusu tapi kamarnya... " Ucap Ruby bingung.


" Disini ada lebih dari 20 kamar, pilih saja yang kau mau " Ucap Regis lalu memanggil pelayan yang sedari tadi menemani Regis menjaga Raline. Dia memerintahkannya untuk mengantarkan Ruby ke salah satu kamar untuk menyusui Raline.


Ruby dan kedua pelayan itu pergi meninggalkan Regis menuju kamar utama yang ada di lantai bawah.


Setelah Ruby pergi Rai datang dengan panik dan masih di liputi emosi.


" Mana Ruby ? " Tanya nya panik, terlebih lagi melihat Regis tidak menggendong Raline lagi.


" Biarkan dia sendiri dulu " Jawab Regis santai kemudian bangkit dari kursinya dan menepuk pundak Rai pelan dan pergi dari ruangan itu.


Siapa yang berani-beraninya membuatku dan Ruby bertengkar seperti ini ? Siapa yang memberitahunya ? Dokter Noh, pasti dia.


Maki Rai kesal, dia lalu memutuskan akan menemui Dokter Noh.


Rai berjalan penuh emosi ke pintu utama, dia akan membuat perhitungan dengan Dokter Noh melalui tangannya sendiri.


" Hai kak, kau mau... " Sapa Dylan saat masuk ke dalam rumah, namun Rai mengabaikannya dan terus saja berjalan melewatinya, membuat Dylan bingung dengan sikap Rai, belum pernah dia melihatnya semarah itu.


" Cepat naik ke mobil, ikut dengan ku " Perintah Rai tegas kepada Dylan.


" Mau kemana ? " Tanya Dylan bingung.


" Urusan Klan " Jawabnya singkat.


Dylan yang masih bingung menuruti perintah Rai meskipun dia tidak mengerti urusan apa yang membuatnya semarah itu.


" Pakai sabuk mu, aku tidak menjamin bisa mengemudi dengan baik " Ucapnya kesal dan langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


Dylan yang belum siap langsung terhenyak begitu mobil bermanuver dengan tajam dan keluar gerbang mansion, membelah jalanan yang lumayan ramai.


" Sebenarnya kita mau kemana kak ? " Tanya Dylan takut karena kecepatan mengemudi Rai yang gila-gilaan.


" Main baseball " Jawabnya singkat.

__ADS_1


Main baseball macam apa yang harus menggunakan emosi sampai begini ?


Jerit Dylan takut dan berpegangan erat pada handle mobil.


__ADS_2