Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Bolos Sekolah


__ADS_3

Dylan yang berangkat bersama dengan Sekertaris Yuri itu pun terlihat hanya diam menatap keluar jendela. Kegelisahannya dia refleksikan melalui kakinya yang terus saja menghentak-hentak pelan, seperti tidak sabar ingin segera memastikan sesuatu.


" Tenang saja, kita tidak akan terlambat " Ucap Sekertaris Yuri basa-basi melihat kegelisahan Dylan.


" Ya " Jawab Dylan lirih.


" Apa kita turun di sekolah saja ? " Tanya Sekertaris Yuri lagi.


" Jangan paman, aku turun di halte saja seperti biasanya " Dylan memalingkan wajahnya menjawab pertanyaan Sekertaris Yuri, dia masih tidak ingin identitasnya di ketahui orang lain. Baginya ada hal dari dirinya yang bisa di ketahui orang lain, dan ada hal yang hanya perlu dia sendiri yang tau. Seperti identitasnya saat ini, dia merasa bahagia dan nyaman seperti ini, jadi tidak perlu membaginya kepada orang lain yang belum tentu bisa membuat kebahagiaanya bertambah jika identitasnya terbongkar.


" Ok baiklah, terserah kau saja. Bagaimana persiapan olimpiade mu ? " Tanya Sekertaris Yuri basa-basi.


" Ya seperti biasanya, hanya perlu belajar " Sautnya asal dan kembali memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.


" Um... paman... " Panggilnya lirih, dia ingin bertanya tentang kondisi Blair kemarin, tapi ragu-ragu.


" Kita sudah sampai " Potong Sekertaris Yuri seraya menekan pedal remnya dan mobil berhenti perlahan.


" Apa ? " Tanyanya kemudian karena melihat Dylan yang sepertinya ingin bertanya sesuatu.


" Oh tidak " Jawab Dylan gelagapan dan langsung membuka pintu mobil dan keluar dengan terburu-buru. Dia takut Sekertaris Yuri juga akan menganggapnya pembully dan melaporkan hal itu pada ayahnya, dia tidak bisa membayangkan ekspresi penuh kekecewaan di wajah laki-laki yang sangat di hormatinya itu. Dia sudah sangat bersyukur kedua kakak dan kakak iparnya tidak memusuhinya dan memandangnya buruk karena sikapnya yang keterlaluan.


Jantungnya masih berdetak dengan kencang saat Dylan mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di sekolah. Sesekali dia mencuri pandang pada deretan mobil yang berjejer mengantre masuk ke dalam area sekolah, mencari mobil Blair di antaranya. Namun tidak terlihat mobil sedan mewah berwarna hitam yang biasanya mengantarkan Blair. Hatinya semakin tak karuan, sesak di himpit perasaan bersalah.


" Dylan " Seseorang menepuk pundaknya dan hal itu membuatnya berjengit kaget. Dia menoleh dengan cepat.


" Ups... maaf " Dylan menghela napas begitu melihat siapa yang ada di belakangnya.


" Ku lihat kau sangat pucat dan berjalan terburu-buru, kau bahkan tidak mendengarkan saat aku memanggilmu " Jelas Dera.


" Ah oh y-ya " Jawab Dylan tergagap, membuat Dera yang melihatnya tersenyum.


" Kau manis saat sedang gugup begitu " Ucapnya seraya menahan senyum.


" Baru kali ini aku melihat ekspresimu yang seperti itu " Lanjutnya lagi.


Dylan yang mulai bisa menguasai dirinya kembali berjalan.


" Aku sedang tidak konsentrasi " Jawab Dylan asal kembali ke kebiasaannya semula.


" Kenapa ? " Cecar Dera mencoba menyejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Dylan yang lebih lebar.


" Tidak " Jawabnya acuh.


" Oh ya bagaimana Blair ? " Tanya Dera santai mengabaikan sikap Dylan yang acuh padanya.

__ADS_1


" Entahlah " Jawab Dylan senormal mungkin, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin segera berlari kedalam kelas dan memeriksanya sendiri.


" Ah ya Dylan, boleh aku minta nomor ponselmu ? " Pinta Dera. Dylan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dera yang ada di sampingnya. Menilik wajahnya yang masih saja tersenyum manis padanya.


" O-oh jangan salah paham dulu, semalam pak Tomy menghubungi ku untuk menentukan jadwal bimbingan olimpiade, dan dia memintaku mengaturnya, aku tidak punya nomor ponselmu jadi aku tidak bisa menghubungi mu " Jelas Dera salah tingkah.


Mendengar penjelasan Dera, mau tidak mau Dylan harus memberikannya nomor ponselnya, baginya olimpiade kali ini juga sangat penting sebagai upaya pembuktian kepada Regis, dan juga penebusan harga dirinya yang tercoreng di depan kakak-kakaknya karena pembullyan yang dia lakukan. Dia mengulurkan tangannya meminta ponsel Dera.


" Terima kasih " Ucap Dera seraya menyerahkan ponselnya ke tangan Dylan.


Setelah mengetikkan serangkaian nomor di ponsel yang Dera sodorkan padanya, Dylan segera pergi berlalu menuju kelasnya.


" Dia misterius sekali, siapa sebenarnya dia ? " Gumam Dera melihat punggung Dylan yang berlalu di hadapannya.


" Wuah pagi-pagi kau sudah memulai romantis-romantisan ya ? " Suara teman-teman Dera membuatnya terkejut. Dia menoleh dan mendapati kedua teman yang selalu ada bersamanya sedang berdiri di sebelahnya saat ini.


" Bukankah dia sangat tampan ? Lihat punggungnya, dia bahkan terlihat sangat tampan walau hanya punggungnya " Ucap Dera malu-malu.


" Ya ya yang sedang jatuh cinta, kalau kau begitu menyukainya kenapa baru sekarang bergerak ? " Tanya seorang temannya yang lain.


" Itu karena dulu Dylan tidak peduli pada gadis manapun di sekolah, tapi setelah Blair pindah dia jadi sedikit berbeda, baru kali ini ku lihat dia berbicara dengan orang lain " Jelas Dera sedih.


" Blair ? " Pekik lawan bicaranya terkejut.


" Si Artis Blair ? Ma-maksudmu dia dan Blair ada hubungan begitu ? " Tanyanya terbata-bata.


" Jangan membuat gosip yang tidak-tidak, kau tau kalau penggemar Blair tidak akan terima mendengarnya dan mereka akan semakin menyerang Dylan ku " Delik Dera kesal yang di jawab dengan anggukan takut dari temannya itu.


Cissy, teman Dera sejak di bangku SMP itu pun hanya bisa memutar bola matanya jengah melihat tingkah Thalia.


" Kau ini tidak tau apa-apa, makanya diam saja. Ok " Cissy merangkulkan lengannya ke pundak Thalia dan menyeretnya masuk kedalam kelas, meninggalkan Dera yang masih asyik tergila-gila memandangi punggung Dylan hingga hilang di balik pintu kelasnya.


Dylan berhenti di depan pintu masuk kelasnya dan menghela napas kecewa. Bangku mereka masih kosong, dan tidak ada murid-murid yang berkerumun disana. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju bangkunya, meletakkan tasnya di samping meja dan melihat jam tangannya.


Sudah hampir waktunya bel masuk dan Blair belum datang.


Mungkin dia terlambat seperti kemarin, ya bisa saja dia terlambat bangun karena harus beristirahat.


Dylan mencoba menenangkan dirinya sendiri, melawan sejuta hipotesa yang tersusun rapi di kepalanya tentang bangku kosong yang ada disampingnya saat ini.


Dalam hati dia mengutuki sikapnya yang lalu-lalu saat begitu banyak murid berkerumun di meja mereka menunggu kedatangan Blair, sekarang justru hal itulah yang sangat diharapkannya, karena artinya Blair akan masuk sekolah jika para penggemarnya sudah berjejer rapi di sekitarnya. Dan saat ini, suasana kelas sepi, dia jadi tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari celotehan para penggemarnya yang biasanya mengabarkan apapun kegiatan Blair yang di uploadnya melalui media sosialnya.


Dia hanya terlambat, hanya terlambat.


Dylan masih menyangkal dirinya sendiri, meskipun dia tau Blair tidak akan masuk hari ini.

__ADS_1


Dengan malas dia mengeluarkan buku pelajarannya untuk mengalihkan pikirannya dari Blair, sekuat tenaga dia berusaha berkonsentrasi pada tulisan-tulisan yang ada di bukunya. Namun nihil, pikirannya masih saja hanya berisi Blair, Blair dan Blair. Dengan frustasi dia menutup bukunya dan mengalihkan pandangannya, menatap nanar keluar jendela.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Uhuk... uhuk... " Suara batuk yang di buat-buat oleh Blair itu pun terdengar sangat meyakinkan.


Nania yang ada disamping ranjangnya itu hanya bisa menatap Blair dengan khawatir dan sedih. Dia menarik selimut dan menutupkannya hingga ke leher Blair.


" Kau yakin tidak ingin ke dokter sayang ? " Tawar Nania sekali lagi untuk yang kesekian kalinya.


" Tidak Ma, aku hanya butuh istirahat " Jawabnya dengan suara selemah mungkin.


" Kau pucat sekali, bagaimana mungkin kau tidak butuh ke dokter ? " Paksa Nania.


" Aku hanya flu biasa Ma, istirahat beberapa hari saja aku pasti akan sembuh sendiri " Jawabnya lagi, lalu kembali terbatuk.


" Ya sudah kalau begitu " Pasrah Nania seraya mengelus-elus kepala putrinya tersebut.


" Papa mu memang keterlaluan, kenapa juga harus memindahkanmu ke sekolah itu, kau jadi harus sekolah dari senin sampai sabtu dan tetap bekerja di akhir pekan, tentu saja siapa yang tidak akan sakit jika begitu " Omelnya kesal.


" Tidak apa-apa ma, jangan khawatir " Blair menggenggam tangan Nania dan tersenyum manis.


" Obsesi papa mu sudah tidak masuk akal, dia sudah keterlaluan " Kesal Nania dengan suara tercekat.


" Sudahlah ma, aku baik-baik saja, aku ingin tidur sekarang " Jawab Blair.


" Ya baiklah, istirahat ya sayang, mama akan membuatkan mu bubur dan juga obat herbal agar kau cepat sembuh " Nania kembali menarik selimut Blair dan menepuk pelan lengannya. Lalu pergi keluar kamar.


Blair mendongakkan kepalanya melihat keadaan.


" Yes !!! " Pekiknya girang dengan suara tertahan lalu berjingkrak-jingkrak diatas ranjangnya.


" Bolos sekolah, bolos sekolah, bolos sekolah.... " Senandungnya riang lalu dengan cepat mengambil ponselnya yang ada di nakas.


" Aku harus berterima kasih pada si remahan kerupuk itu, jika bukan karena dia yang menahan makan siangku, aku tidak mungkin pingsan, dan pasti aku sekarang sudah berangkat sekolah " Gumamnya.


" Memangya siapa yang tidak capek sekolah dari senin sampai sabtu begitu, aughh... membayangkannya saja sudah membuatku pusing " Blair mengedikkan bahunya mengusir perasaan merinding di tengkuknya.


" Itu bukan sekolah itu neraka, mana ada murid yang mendapat nilai 90 tapi malah menangis putus asa dan bilang nilai mereka jelek, aku tidak cocok sekolah disana, ya aku tidak cocok, aku cocok di sekolah yang menetapkan nilai tertingginya hanya 50, jadi nilai 25 pasti sudah di atas rata-rata " Celotehnya asal seraya membuka aplikasi game online dari ponselnya.


Bersambung......


____________________


Terima kasih atas like, komentar juga votenya, selamat menikmati ceritanya..

__ADS_1


Hayo... siapa yang pernah pura-pura sakit demi bisa bolos sekolah ? Hehehe...


Kejadian ini tidak untuk di tiru ya, bagaimanapun pendidikan yang paling penting.


__ADS_2