Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Apa ini ??


__ADS_3

Sepanjang pelajaran jam pertama Dylan maupun Blair sama-sama diam.


Dylan yang masih sangat kesal itu pun hanya mengabaikan Blair, bahkan hentakan kaki Blair yang biasanya mengganggu konsentrasi Dylan tak di hiraukannya.


Hatinya masih bergemuruh oleh kemarahan mendengar bahwa Blair senang pergi ke club malam, entah apa yang membuatnya marah, mengetahui Blair yang pergi ke club atau mengetahui ada anak seumurannya yang pergi ke club, dari kedua pilihan itu tidak ada yang bisa di uraikan oleh kepala Dylan.


Hingga bel pergantian jam pelajaran pun berbunyi, selesai sudah 2 jam pelajaran pertama, mereka semua bersiap-siap berganti jam pelajaran. Semua murid sibuk membereskan buku-buku mereka, memasukkannya dalam tas.


Jam pelajaran ke tiga adalah pelajaran olahraga, mereka semua akan olahraga di lapangan indoor, jadi tak akan jadi masalah meskipun pelajaran olahraga di lakukan di cuaca yang panas terik sekalipun. Hal yang paling di takutkan oleh para gadis, sunburn.


Murid-murid sudah bersiap-siap, para anak laki-laki dengan cepat mengambil seragam olahraga mereka dari dalam loker, dan menuju toilet untuk berganti pakaian. Sedangkan para anak perempuan berganti pakaian di dalam kelas yang di kunci.


" Kau sakit apa Blair ? " Beberapa anak perempuan langsung mengerumuni Blair ketika suasana kelas telah kondusif. Sembari berganti pakaian mereka saling ngobrol.


" Hanya sakit kepala ringan " Jawab Blair sopan.


" Suasana sekolah terasa berbeda kalau kau tidak masuk, tidak ada lagi yang mengantre di sini " Saut murid yang lain lalu terkekeh.


" Iya sepi sekali kalau kau tidak ada "


Blair hanya menjawab mereka semua dengan senyuman manisnya, dia telah selesai berganti seragamnya dengan baju olahraga. Dan bersiap-siap akan memakai celananya.


".... ku dengar mereka pacaran " Suara bisik-bisik murid yang lainnya terdengar oleh Blair.


" Oh ya ? Kau dengar dari mana ? "


" Dari Cissy, dia kan teman dekat Dera "


Deg ! Blair berhenti begitu mendengar nama Dera disebut, dengan sedikit rasa penasaran dia bergerak perlahan mendekati temannya yang lain yang sedang bergosip.


Pacaran ? Dera yang itu kan ? Yang mengejar remahan kerupuk itu kan ? Dia pacaran dengan siapa ? Tidak mungkin kan dengannya.


Dengan satu kaki yang telah masuk ke dalam celananya dia bergeser menyamping.


" Hiiy mimpi apa Dera hingga bisa pacaran dengan anak seperti itu, kalau itu terjadi padaku, aku pasti akan membuat lubang lalu mengubur diriku sendiri "


" Kalau di lihat secara jelas sih sebenarnya dia anak yang tampan "


" Hei kau gila, jangan lupakan soal orang tuanya, kau mau punya kekasih seperti dia ? Kalau aku sih tidak mau " Kedua murid itu sibuk bergosip hingga tanpa sadar Blair sudah sangat dekat mereka.


" Umm... Blair " Kedua murid itu menatap heran ke arah Blair yang sudah berdiri di samping salah satu murid, menempel jika lebih di spesifikasikan. Sadar dirinya sudah kelewatan, Blair tersenyum canggung.


Aish !!


Decaknya kesal.


" Kau sedang apa ? " Tanya salah satu temannya.


" Hah ? " Blair menoleh kesana kemari salah tingkah, berusaha mencari alasan. Kan tidak sopan jika dia sampai ketahuan menguping pembicaraan orang lain.


" Aku... " Masih belum menemukan alasan, dia terus saja celingukan.


" Ah itu " Tunjuknya pada sebuah karet rambut yang jatuh di lantai.


" Aku melihat ini jatuh " Menunduk untuk mengambilnya, lalu menunjukkannya pada kedua murid yang ada di hadapannya itu.


" Punya siapa ya ? " Tanyanya sambil tersenyum.


" Ah itu punya ku " Seorang murid lainnya yang memang terlihat sedang mencari sesuatu dari dalam tasnya itupun berdiri dan menghampiri Blair.


" Terima kasih ya Blair " Menyodorkan tangannya kepada Blair.


" Bayangkan saja kalau olahraga dan rambutmu tidak di ikat, ugh... pasti gerah sekali " Blair menyerahkannya dan murid-murid yang lain langsung ramai memberikan pujiannya untuk Blair.


Syukurlah mereka tidak tau.


Batin Blair lega, namun dia masih sedikit terusik oleh gosip kedua temannya tadi, dia masih belum tau siapa yang pacaran dengan Dera, apa Dylan atau laki-laki lainnya.


Dia kembali ke tempat duduknya dan malah melamun bukannya bergegas ganti pakaian.


Apa remahan kerupuk itu benar-benar jadian dengan Dera. Rasanya tidak mungkin, kan dia sudah punya pacar. Tapi bisa saja kan dia mendua, dia tau pacarnya selingkuh dengan tuan Rai lalu dia ikut-ikutan mendua. Ya bisa saja begitu. Aish !! Sekali lihat saja aku bisa tau kalau dia itu playboy. Huh !!

__ADS_1


Blair sibuk sendiri dengan pikirannya hingga tidak sadar semua teman-temannya telah keluar kelas menuju lapangan olahraga.


Memang semua laki-laki tampan sama saja, playboy. Apa gunanya punya wajah tampan kalau hanya untuk di obral kesana kemari.


Gerutunya dalam hati.


Untung saja aku belum berterima kasih padanya, coba kalau sudah, dia pasti besar kepala, lalu GR lalu jadi berubah bersikap baik padaku, cih ! Jangan harap.


Blair menghela napas, kembang kempis karena merasa kesal sendiri.


Tampan ? Cuih !! Yang bilang dia tampan itu juling.


Makinya semakin kesal.


" Oi " Suara teriakan di samping Blair membuatnya terlonjak kaget. Dia langsung menoleh dengan cepat.


Dengan alis berkerut dalam, dia menatap orang yang saat ini ada di hadapannya.


" Apa ? " Tanyanya menantang. Panjang umur, baru juga di bicarakan, Dylan sudah muncul.


" Kau itu tuli ya ? Dipanggil dari tadi " Ketus Dylan.


" Tuli, tuli, seenaknya saja mengatai orang tuli " Balas Blair sengit.


" Ya habis kalau bukan tuli apa namanya ? Aku sudah memanggilmu lebih dari 3 kali, tapi kau tidak menyahut " Dylan mendekap dua tangannya didada, kesal.


Blair meliriknya tajam, dengan bibir manyun dia berdiri.


" Aku sedang berpikir tau ! " Berkacak pinggang membela diri.


" Ya sudah kalau gitu bisa kau berpikirnya di tempat mu saja ? Aku mau duduk " Jawab Dylan acuh.


" Apa ? " Tanya Blair lirih, menurunkan tangannya dan salah tingkah.


" Kau duduk di tempat duduk ku " Dylan menunjuk bangkunya dengan lirikan matanya. Lalu dengan senyum miring dia mengejek Blair yang langsung gelagapan begitu mengikuti arah lirikan Dylan.


" Cih ! " Decaknya kesal, kembali berkacak pinggang seolah tidak ingin kalah dari Dylan.


" Iya aku tau " Jawab Dylan malas, lalu mengangkat tangannya dan memberikan kode agar Blair menyingkir.


" Hus " Dengan gerakan tangan mengusir.


" Apa ? " Blair mendelik kaget melihat dirinya di usir secara tidak hormat. Darahnya langsung mendidih, dengan kekesalan yang membuncah dia bergeser dari bangku Dylan.


" Wuah !! " Lalu menggigit bibir bawahnya, menahan emosi.


" Tadinya aku ingin berterima kasih padamu karena telah membawaku ke ruang uks, tapi setelah melihat sikapmu, aku rasa kau tidak pantas menerimanya " Blair lalu berdiri dan akan pergi dari kelas. Tapi dia lupa bahwa celana olahraga yang di pakainya hanya sebelah, dan sebelahnya lagi menjuntai ke lantai kemudian terinjak olehnya.


" Hu-huaa... " Paniknya menyeimbangkan diri, namun sia-sia, tubuhnya oleng ke depan kehilangan keseimbangan. Dia memejamkan matanya menanti tubuhnya jatuh membentur lantai.


Oh ? Kok tidak jatuh ?


Dia membuka matanya perlahan-lahan, lantai di hadapannya masih jauh dari pandangan matanya, dia yakin saat ini tubuhnya sedang dalam posisi condong ke depan, berdiri dengan sudut kemiringan 45 derajat. Dan dia merasakan sesuatu menahannya dari arah belakang. Perlahan-lahan dia memutarkan kepalanya.


" Hiaaa " Dengan cepat Blair berdiri tegak dan menepis tangan Dylan yang sedang memegangi ujung roknya, menahannya agar tidak jatuh.


" Mesum !! " Teriaknya seraya membenahi roknya.


" Apa ? Mesum ? " Tanya Dylan kesal.


" Hei aku ini sedang menolongmu tapi kau bilang aku mesum ? " Suara Dylan mulai meninggi.


" Kau mengintip rok ku, kalau bukan mesum apa namanya ? " Teriak Blair, menatapnya dengan sengit.


" Mengintip rok ? " Dylan mengulangi tuduhan yang di alamatkan padanya.


" Apanya yang mau di intip kalau kau saja memakai short pant begitu " Dylan membela dirinya, menunjuk arah kaki Blair.


" Hei !! " Blair menutup telinganya dengan cepat, tidak ingin mendengarkan penjelasan Dylan yang mesum.


" Kenapa malah di perjelas begitu sih ! " Makinya semakin kesal.

__ADS_1


" Aku bukannya memperjelas, hanya meluruskan saja "


" Sama saja " Teriak Blair masih dengan tangan menutupi telinganya.


" Ayo cepat minta maaf " Lanjutnya mendelik kesal.


" Minta maaf ? " Ulang Dylan, lalu berkacak pinggang.


" Tidak mau " Jawabnya malas.


" Harusnya kau itu berterima kasih, aku sudah menahan mu agar tidak jatuh " Sungutnya kesal.


" Apa ? " Blair melepaskan kedua tangannya lalu membusungkan dadanya menantang Dylan. Namun emosinya yang sedang membuncah itu membuat napasnya kembang kempis dengan hebat, dia lalu menurunkan pundaknya yang menegang. Memegangi dadanya.


" Auh " Keluhnya kesakitan.


Melihat Blair yang memegangi dadanya begitu, reflek Dylan segera memegang pundaknya lalu menuntunnya untuk duduk.


Sejenak dia lupa bahwa yang di ajaknya berdebat itu adalah pasien dengan penyakit jantung. Dengan wajah panik dia bergegas mengambil botol minuman dari dalam lokernya, mengisinya dengan air galon yang ada di pojok ruangan. Lalu membawanya kembali kepada Blair.


" Kau tidak apa-apa ? " Tanya Dylan panik dan berlutut di hadapan Blair.


" Ini minumlah dulu " Kemudian menyodorkan botol minumannya.


Ke-kenapa dia tiba-tiba berubah begini ?


Blair yang bingung dengan perubahan sikap mendadak dari Dylan pun menurut saja dan menerima botol yang di sodorkan Dylan.


" Maafkan aku ya " Ucap Dylan lirih menatap Blair dengan raut wajah penuh penyesalan.


Bodoh, bodoh, bodoh !!!


Rutuknya dalam hati, mengutuki kebodohannya yang bisa-bisanya bertengkar dengan orang dengan kondisi keterbatasan seperti itu.


" I-iya " Blair gelagapan sendiri, masih belum memahami situasinya.


Mata mereka saling bertatapan dalam garis sejajar, terlihat jelas kalau Dylan benar-benar merasa khawatir. Tapi yang membuat Blair bingung adalah dia khawatir karena apa.


" Ah ya " Dylan seperti tersadar sesuatu lalu mengambil kembali botol yang ada di tangan Blair, dengan cepat dia membukakan tutupnya dan menyodorkannya lagi.


" Ah oh te-terima kasih " Blair salah tingkah dan menerima pemberian Dylan, lalu meminumnya pelan.


" Maafkan aku, harusnya aku tidak berdebat denganmu saat tau kau punya penyakit jantung " Ucap Dylan dengan wajah sendu.


Bruuushhh !!!! Blair menyemburkan minumannya begitu mendengar kata penyakit jantung.


Dylan yang ada di hadapannya tak luput dari semburan air mancur yang keluar dari mulut Blair, namun dia tak marah, karena dia tau Blair pasti syok ada orang lain yang tau tentang kelemahannya.


" Sakit jantung ?!? " Pekik Blair keras, lalu sadar dan menutup mulutnya ketika melihat wajah Dylan yang basah terkena cipratan air. Dia buru-buru meletakkan botolnya ke atas meja, lalu mengambil sapu tangan dari tasnya dan membantu Dylan mengelap wajahnya.


Degub, degub, degub !! Suara detakan jantung Blair seperti terdengar sangat keras di telinganya sendiri. Mata mereka kini saling bertatapan, intens dan dalam.


" Kedepannya aku akan lebih berhati-hati lagi saat bicara dengan mu " Ucap Dylan lembut, suaranya seakan menghipnotis Blair. Dia diam membeku.


" I-iya " Menganggukan kepalanya tanpa sadar.


Dylan memegang tangan Blair yang sedang mengelap wajahnya. Dan jantung Blair semakin tak terkendali, seperti roaler coaster yang bergerak cepat naik turun, berbelok tajam, menikung, dan berputar-putar.


Omo !! Apa ini ?


Teriaknya dalam hati, dia ingin menarik tangannya dari genggaman tangan Dylan, namun seluruh tenaganya seperti tersedot oleh sorot mata sendu milik Dylan.


" Sekali lagi aku minta maaf ya " Dylan meletakkan tangan Blair kepangkuan kakinya sendiri, menepuknya pelan sebelum melepaskannya.


" Ta-tak apa " Seperti anak kecil yang patuh, dia menjawab Dylan dengan lirih.


" Kalau begitu, aku tunggu kau didepan kelas, cepat ganti baju " Ucapnya masih dengan suara lembut, lalu berdiri dan meninggalkan Blair yang masih terbengong-bengong sendirian.


Setelah terdengar suara pintu tertutup, Blair jatuh merosot ke lantai. Dengan posisi bersujud di lantai dia menyembunyikan wajahnya.


Apa itu tadi ???

__ADS_1


Dia memukul-mukul pelan lantai gemas.


__ADS_2