Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Mampus Aku


__ADS_3

Pagi menjelang, hari baru semangat baru. Namun tidak bagi Dylan, setelah semalam dia memakan kayu untuk makan malamnya, pagi-pagi dia sudah mengalami perut kembung. Alhasil sesudah mandi pagi dia tidak menggunakan minyak wangi di tubuhnya tapi harus menggunakan minyak kayu putih untuk meredakan perut kembungnya.


Setelah selesai bersiap-siap dia pun keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama.


Regis dan yang lainnya sudah berkumpul di meja makan, Ken dan Kiran juga sudah terlihat rapi. Masa bulan madu mereka telah berakhir jadi mereka akan kembali ke sekolah Loyard untuk bekerja.


" Selamat pagi dik " Sapa Rai tersenyum jahil lalu memakan sarapannya.


Dylan hanya meliriknya dan kemudian membuang muka kesal. Bagaimana tidak, semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan kata-kata Rai, benarkah makan malamnya terbuat dari kayu bambu.


" Ku lihat kau sangat bahagia hari ini, wajahmu cerah sekali " Godanya lagi.


Semua orang menoleh ke arah Dylan untuk ikut melihatnya, dan mereka semua memincingkan matanya. Dylan terlihat lesu dan kesal, lalu bahagia dari mananya ?


" Jangan bicara padaku " jawab Dylan malas.


" Jangan marah, aku kemarin hanya bercanda saja " Celetuk Rai.


" Benarkah ? " Sangsi Dylan mengerutkan keningnya. Dia lalu mengambil tempat duduk di samping kursi Kiran.


" Tentu saja, mana mungkin manusia makan kayu, bukan begitu semuanya ? " Tanya Ken pada semua orang.


Mereka yang sedang mengangkat roti itu pun berhenti seketika saat mendengar pertanyaan Rai. Lalu kompak memandangnya dengan tajam.


Adelia dan Kiran merasa sangat bersalah sekali, sedangkan Regis serta Sekertaris Yuri memandang Rai kesal karena mereka harus melewati malam yang panjang hanya demi menenangkan pikiran mereka yang terus saja teringat kayu bambu.


Semalam suntuk di kepala Regis selalu terbayang-bayang salah satu kerajinan di tamannya yang terbuat dari kayu bambu.


Sementara Sekertaris Yuri merasa trauma dengan segala bentuk kayu, dia bahkan tidak berani memandang terlalu lama lemari di ruang gantinya, karena setiap dia melihat kayu, maka pikirannya akan menjadi liar seakan dia sedang menjilati kayu tersebut. Sekertaris Yuri bergidik menyingkirkan rasa merinding akibat pikirannya.


" Itu bukan kayu bambu, itu rebung " Sanggah Ken ketus, merasa tidak terima terus saja menjadi tersangka makan malam berdarah.


" Ah benar, namanya rebung " Saut Rai.


" Namanya rebung, bukan kayu bambu " Ulangnya lagi ke arah Dylan.


Dylan menatap Rai cukup lama, memastikan lagi ucapan kakaknya.


" Aku tidak bohong, namanya rebung. Kalau tidak percaya googling saja " Jawab Rai santai lalu memakan sarapannya.


Dylan pun mengambil ponselnya untuk mencarinya di internet. Namun baru saja Dylan mengetikkan kata pencariaannya, Rai kembali menggodanya.


" Nama lainnya bambu muda " Lanjutnya seraya terkekeh.


Dylan menatapnya lagi kesal, jadi benar semalam dia memakan bambu muda. Mengingat hal itu mendadak perutnya kembali bergemuruh karena kembungnya dan merasa begah.


Dia segera mengambil sepotong roti dan mengoleskannya dengan selai coklat yang banyak sekali, untuk melupakan rasa rebung di lidahnya.


Setelah semua orang selesai sarapan, mereka kembali melanjutkan aktifitas mereka.


Sekertaris Yuri akan pergi bersama Regis untuk menemui beberapa kenalan bisnis. Dan Rai juga akan berangkat bekerja nanti pukul 9.


Ken, Kiran serta Dylan menuju pintu utama, mereka akan pergi bersama-sama. Rai dan Ruby mengantar mereka semua pergi.


Setelah ayah dan Sekertaris Yuri pergi, mobil yang akan di kendarai Ken maju ke depan, sopir turun dari dalamnya dan memberikan kuncinya kepada Ken.


" Tunggu dulu " Cegat Rai.


Mereka bertiga menoleh serempak.


" Aku berjanji akan membantu mu minta maaf pada Blair, tapi bukan aku yang akan berbicara langsung dengannya " Lanjut Rai.


" Lalu ? " Tanya Dylan bingung.


" Nih " Rai menyodorkan amplop coklat besar dan berat ke arah Dylan.


" Apa ini ? " Tanya Dylan ragu-ragu menerima pemberian Rai, dia masih takut Rai akan mengerjainya lagi.


" Ini kan ? " Tanyanya terkejut saat tangannya meraba amplop tersebut.


" Ya itu uang yang ada di ruang keluarga, aku memberikanmu ini sebagai uang jajan, sepulang sekolah nanti traktir Blair sebagai permintaan maaf mu dengan uang ini " Nasehat Rai bijak, namun Ken, Kiran serta Ruby yang mendengarnya itu pun merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


" Dy... " Potong Ruby ingin memberitahu Dylan, namun Rai merangkulkan lengannya dengan cepat ke pundak Ruby, mencegahnya bicara.


" Kalau kau bicara satu kata saja, aku akan mencium mu dengan hot di depan semua orang " Bisik Rai mengancam. Ruby langsung menutup mulutnya reflek melindungi bibirnya jika Rai benar-benar melakukan ancamannya.


" Tidak perlu repot-repot kak, uang saku dari ayah masih ada, aku bisa memakai kartu kreditku " Tolak Dylan mengulurkan kembali amplop berisi tumpukan uang tersebut. Dia merasa sungkan jika harus menerima setumpuk uang yang dia yakini jumlahnya mencapai puluhan juta.


" Jadi kau menolak kebaikan ku nih ? " Tanya Rai berpura-pura sedih.


" Bu-bukan begitu kak, hanya saja aku tidak enak jika harus menerima ini darimu " Jawab Dylan lirih.


" Aku kan sudah berjanji kalau aku akan membantu mu minta maaf pada Blair, dan ini lah bantuan ku, aku hanya bisa memberikanmu uang jajan tambahan untuk kau pergi mentraktirnya. Belikan dia makanan yang enak-enak, juga beberapa hadiah sebagai permintaan maaf, kau harus terlihat seperti laki-laki sejati, jadi kau pasti butuh uang yang banyak " Jawab Rai berpura-pura serius.


" Tapi ini terlalu banyak kak, aku akan mengambilnya satu bundel saja kalau begitu " Tangan Dylan perlahan membuka amplopnya.

__ADS_1


" Tidak " Cegat Rai cepat.


" Ambil saja semuanya, percayalah kau pasti butuh itu. Blair seorang artis, jadi tidak mungkin kan kau memberikannya barang yang biasa saja, harus yang spesial sebagai bentuk ketulusan mu dalam meminta maaf " Lanjutnya.


" Baiklah kak, kalau begitu terima kasih " Balas Dylan sopan lalu menundukkan kepalanya. Dia kemudian melepas tasnya dan membukanya, tumpukan uang dalam amplop coklat itu sangat berat, Dylan sampai harus mengeluarkan beberapa buku pelajarannya agar uang tersebut muat di tasnya.


Berapa puluh juta ya ini ? Atau ini ratusan juta ? Kakak ku baik sekali.


Girangnya dalam hati.


Setelah selesai memasukkan uang jajannya itu, Dylan pun masuk ke dalam mobil. Kiran yang akan menyusulnya di hentikan oleh Rai.


" Hei kau jangan beritahu dia apa isinya ya " Ancamnya.


" I-iya tuan " Jawab Kiran tergagap, lalu kemudian masuk lebih dulu ke dalam mobil.


" Kak kau benar-benar memberikannya uang kan ? Kau tidak mengisinya dengan rebung atau batu kan ? " Tanya Ken penasaran.


" Kau pikir aku sejahat itu mengerjainya sampai sejauh ini. Itu benar-benar uang asli, tumpukan uang asli " Ketus Rai.


" Tidak hanya saja percuma, begitu dia tau isinya, dia akan memakai kartu kreditnya. Dia tidak mungkin membelanjakan uang pecahan seribuan. Taruhan, dia pasti tidak akan memakai uang itu " Ejek Ken.


" Tenang saja, dia pasti akan menggunakan uang itu karena aku telah memblokir kartu kreditnya semalam, jadi dia tidak punya pilihan lain selain membayar dengan uang itu " Rai tersenyum jahil setelah mengucapkan kalimatnya.


" Rai kau ini nakal sekali " Desis Ruby lalu memukul lengannya.


" Sayang kau tidak lihat dia itu sangat kaku dan introvert ? Dia itu harus belajar bersosialisasi dan menghadapi situasi apapun, entah malu kah, canggung kah, hari buruk kah, dia harus bisa mengatasinya, itu juga penting untuk masa depannya saat memimpin perusahaan nanti " Sanggah Rai mengelus-elus lengannya yang tidak sakit.


" Aku suka ide jahilmu " Ken dan Rai lalu berhigh five kemudian pergi menuju mobilnya untuk segera berangkat.


Rai dan Ruby menunggu mobil mereka hingga hilang dari balik gerbang.


" Hei marimar " Rai menoleh ke arah Ruby yang masih menatap ke arah gerbang.


" Hm ? " Sautnya sebagai jawaban.


" Kau harus bertanggung jawab atas pukulanmu tadi " Ucap Rai berpura-pura ketus.


" Cih " Decaknya malas.


" Tanggung jawab apa ? " Liriknya ketus.


Lalu tanpa aba-aba Rai sudah menunduk dan mengangkat tubuh Ruby dalam panggulannya, seperti sebuah karung beras yang ringan, Rai hanya butuh satu tangannya untuk mengangkat Ruby.


" Baik tuan " Jawab keduanya kompak.


Dan Rai langsung membawa Ruby masuk ke dalam rumah menuju kamarnya, mengabaikan teriakan Ruby yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


Sementara itu Kiran dan Ken juga Dylan yang dalam perjalanan menuju sekolah hanya diam mendengarkan alunan musik yang di putar di audio mobilnya.


" Kau butuh mobil ? " Tawar Ken membuka pembicaraan.


" Untuk apa ? " Dylan mengernyitkan alisnya bingung.


" Bukankah kakak menyuruhmu mentraktir Blair makanan nanti sepulang sekolah " Jawab Ken, berusaha memastikan rencana Rai berjalan sempurna.


" Aku saja tidak tau dia masuk atau tidak " Dylan menyandarkan punggungnya di kursi mobil, menatap ke luar jendela.


Iya ya kemarin kan dia tidak masuk, kalau hari ini tidak masuk lagi sia-sia saja kakak mengerjainya.


Batin Ken galau.


" Katamu dia baik-baik saja ? " Saut Kiran seakan menyuarakan isi hati Ken.


" Ya yang ku baca dari pesannya sih sepertinya dia baik-baik saja, dari pesannya yang tidak sabaran itu sepertinya dia cukup sehat " Jawab Dylan malas.


" Kau mau aku menanyakan hal ini pada managernya ? " Tawar Ken. Tentu saja dengan niat terselubung, udang di balik batu.


" Tidak usah, biarkan saja, aku akan minta maaf padanya besok kalau dia sudah masuk saja " Tolak Dylan lalu menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit mobil sebentar kemudian menutup mata seraya menghela napas.


Aku belum pernah minta maaf sebelumnya, kalau dia masuk hari ini, bagaimana nanti memulainya ya.


Jantung Dylan berdetak tak karuan memikirkan nasibnya nanti. Setelah pertempuran mereka yang sengit juga pingsannya Blair karena ulahnya, tentu tidak akan cukup hanya dengan bilang " maaf ya ".


" Lalu bagaimana dengan Dera ? Apa kau sudah memutuskannya ? " Tanya Kiran.


" Aku tidak memikirkannya " Jawab Dylan acuh.


" Kalau begitu kau harus katakan padanya dengan jelas agar tidak membuatnya terlalu berharap " Nasehat Kiran.


" Hm " Hanya itu jawaban Dylan. Dia bukannya tidak menyukai Dera, harus di akui Dylan Dera gadis yang menyenangkan jika di ajak diskusi, mereka berdua bisa saling mengimbangi. Dera juga cukup cantik dan populer, hanya saja ini masalah perasaan. Dylan tidak ada niatan sama sekali untuk memulai hubungan, dia hanya akan fokus pada sekolahnya untuk membanggakan ayahnya, tidak lebih.


" Memangnya kenapa kau tidak menyukainya ? Dia cukup cantik dan pintar, ku rasa dia bisa mengimbangi kepintaranmu juga. Dan lagi ayahnya juga bukan orang sembarangan " Celetuk Ken.


" Aku hanya tidak berminat pada suatu hubungan saja kak " Jelas Dylan malas untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


" Ya ku pikir kau bisa mencoba menjalin hubungan dengannya, setidaknya agar kepribadian introvertmu sedikit membaik, kau harus membangun suatu hubungan dengan orang lain, agar tau bagaimana pandangan orang lain tentangmu, dan mungkin memperbaiki sikapmu yang salah " Nasehat Ken panjang lebar.


" Aku ada salah ? " Dylan menegakkan posisinya dengan cepat, sedikit panik mendengar kata-kata Ken.


" Tidak, hanya saja ku rasa kau perlu memperbaiki sikap mu, kau harus lebih banyak bergaul lagi " Jelas Ken.


" Aku sudah merasa cukup dengan kalian " Jawabnya malas lalu kembali menyandarkan punggungnya.


" Cobalah ok " Nasehat Ken lagi, lalu menginjak pedal remnya perlahan dan mobilnya pun berhenti agak jauh dari halte bus.


" Kau yakin mau turun disini ? " Tanya Ken sekali lagi.


" Ya " Dylan mengambil tas yang ada disampingnya, menyampirkannya di pundak, lalu mengambil buku-buku yang tidak muat di dalam tasnya.


" Terima kasih " Kemudian membuka pintu mobil dan keluar.


" Nanti kalau kau butuh sopir, hubungi pak Handoko saja biar dia kirim orang untuk menjemputmu " Tawar Ken untuk terakhir kalinya sebelum dia melajukan mobilnya meninggalkan Dylan di pinggir jalan yang lumayan sepi.


" Hm " Dylan mengangguk paham. Dan mobil Ken pun pergi.


" Dylan yang malang " Celetuk Kiran.


" Kenapa ? " Tanya Ken bingung.


" Aku rasa nasib percintaannya akan sama denganmu " Jawab Kiran asal.


" Kenapa kau bisa bilang begitu ? "


" Ya karena dia memiliki dua kakak yang sama-sama somplak " Jawab Kiran lirih lalu menghela napas menatap ke luar jendela.


" Hei kau !! " Teriak Ken kesal tidak terima.


Dylan sudah berjalan hampir sampai ke sekolahnya, dia melihat sudah banyak sekali antrean mobil seperti hari-hari biasanya.


Namun kali ini Dylan terlalu takut untuk mencari mobil Blair, takut jika ternyata dia masuk sekolah.


Dia hanya melirik sesekali pada deretan mobil yang mengantri masuk itu, lalu saat telah sampai didepan pintu masuk sekolah, dia menghela napas lega.


Dia belum masuk, syukurlah.


Batinnya lega, dia sendiri juga belum siap jika harus memulai percakapan dengan Blair. Dia butuh beberapa hari lagi untuk mempersiapkannya.


Dengan riang Dylan berjalan menuju kelasnya, dia memilih jalur memutar yang lebih jauh lagi karena tidak ingin berpapasan dengan Dera.


Sudah cukup kepala dan perutnya terasa sakit, dan pagi-pagi melihat Dera, bukan pilihan yang menyehatkan.


Dengan santai Dylan melangkahkan kakinya, tidak banyak murid di koridor. Dia menolehkan pandangannya ke setiap kelas.


Aneh.


Batinnya.


Kelas mereka hampir kosong, hanya tinggal satu dua anak saja, tapi koridor juga terasa sepi. Dia berganti menoleh ke arah lapangan, juga sepi.


Memangnya kemana semua murid-murid ini.


Batinnya bingung.


Belokan di depan dan Dylan akan sampai di kelasnya.


" Haah ?!? " Pekik Dylan tanpa suara.


Ternyata murid-murid yang di carinya semua berkumpul disini, membludak hingga di luar kelas.


Jangan-jangan !!!!


Dylan membelalakkan matanya, situasi saat ini sama seperti situasi jika sang idola masuk sekolah, situasi mengantre yang seakan sudah menjadi ritual khusus sebelum masuk kelas.


Ingin rasanya Dylan kabur saja hari ini, membolos seharian di perpustakaan atau berpura-pura sakit. Dia tidak siap bertemu Blair.


Tenang Dylan, kuasai dirimu, dia tidak tau kalau ranger pink itu adalah dirimu, jadi bersikaplah setenang mungkin dan sewajar mungkin. Dia tidak tau, dia tidak tau.


Dylan menarik napas dan menghembuskannya lewat mulut, mengulanginya beberapa kali sampai jantungnya berdetak dengan normal. Dia seperti seorang pencuri yang harus berusaha bersikap polos di kantor polisi.


" Hai " Sapa sebuah suara dari arah belakang Dylan. Membuatnya terlonjak kaget.


" Bukan aku yang mengirimi mu pesan " Kata-kata di pikirannya meluncur begitu saja dari mulutnya.


" Bukan apa ? " Tanya suara itu.


Dylan menoleh untuk melihat siapa orang yang sudah membuatnya kelepasan bicara itu.


Aish !! ****** aku.


Teriak batin Dylan.

__ADS_1


__ADS_2