Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Balas Dendam


__ADS_3

" Kau yakin tidak ingin makan ini ? " Tanya Blair berusaha menampilkan wajah sedatar mungkin, tidak ingin tertawa atau pun senyum-senyum sendiri takut menyinggung Dylan yang sudah mengeluarkan uang berbundel-bundel untuk mentraktirnya makan. Blair ingat dengan jelas Dylan membayar semua makanannya dengan 11 bundel uang seribuan.


Mereka sedang duduk berhadapan di meja restoran cepat saji yang ada di pojok ruangan, agar Blair bisa melepas masker serta kacamatanya dengan leluasa saat makan.


Dylan tidak menanggapinya, dia hanya diam membisu. Sesekali dia mencuri pandang pada pramusaji di meja penerima pesanan yang menurut penglihatannya masih tersenyum-senyum lucu mengingat kejadian tadi.


Bagaimana tidak, baru kali ini sepanjang karirnya menjadi pramusaji dia di bayar dengan uang seribuan berbundel-bundel, sampai-sampai dia harus mengosongkan uang di mesin kasirnya agar uang pembayaran Dylan muat di dalamnya.


" Sudah jangan melihat kesana terus, nanti aku iri " Blair menolehkan wajah Dylan agar menghadap padanya.


" Ck " Terdengar decakan kesal yang keluar dari mulut Dylan untuk yang entah keberapa kali sejak mereka duduk di meja itu.


" Sudah dong jangan cemberut begitu terus " Desis Blair sedikit kesal, berusaha mengembalikan mood Dylan agar kembali seperti sedia kala, sedia kala yang manis maksudnya bukan bawaan pabrik yang berwajah dingin.


Blair sama sekali tidak bertanya dari mana Dylan mendapat uang seribuan itu, karena dia tidak mempermasalahkannya. Baginya ini pengalaman pertamanya yang sangat mengesankan. Dia bahagia dengan apa adanya situasi saat bersama Dylan.


Blair kemudian mengambil sepotong ayam bagian paha untuk di sodorkan kepada Dylan.


" Ini " Perintahnya tegas karena melihat Dylan yang masih saja memberengut kesal.


" Ish kau ini, ayo makan dong " Galaknya menyodorkan ayam goreng berbalur tepung bumbu itu lebih mendekat lagi ke arah Dylan.


" Aku tidak nafsu makan " Jawabnya malas.


" Kenapa ? " Blair menarik lagi ayam yang disodorkannya, meletakkannya di piring.


" Kan sayang sudah pesan sebanyak ini " Dia menatap berbagai macam hidangan yang ada di atas meja mereka dengan bingung, mau di apakan makanan sebanyak ini.


" Aku kan tidak mungkin menghabiskan semuanya sendirian " gumamnya sedih.


Dylan sendiri sedang berkonsentrasi memikirkan bagaimana caranya meluapkan kemarahannya pada Rai. Dia harus terlihat menyeramkan juga, sama seperti Rai dan Ken jika sedang marah. Meninju Rai ? Tidak mungkin. Rai bisa mematahkan lehernya dalam sekali tendangan cepat sebelum dia sempat menghindar. Ngomel-ngomel ? Itu bukan tipenya, dia lalu bergidik ngeri membayangkan dirinya sedang mengomel ala ibu-ibu kepada Rai.


Tidak, tidak mau !!


Batinnya merinding.


Lalu akhirnya dia menemukan sebuah cara yang menurutnya akan berhasil menghadapi kejahilan Rai, si pemimpin the amburadul family.


Dia akan mogok bicara dengannya, dan tidak mau menyapanya. Dia akan terus ngambek padanya sampai dia minta maaf. Setelah merasakan sedikit kelegaan di dadanya dia menatap Blair yang sedang sibuk menghabiskan makanannya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat separuh hidangan itu sudah lenyap tak berbekas, hanya menyisakan tulang-tulangnya saja.


" Kemana semua makanan ini ? " Tunjuknya pada piring yang kosong.


" Hahis " Jawab Blair dengan mulut yang penuh makanan, bahkan di sudut bibir dan pipinya belepotan dengan saus tomat.


" Hm ? " Dylan menautkan alisnya.


" Habis " Ulang Blair setelah berhasil menelan makanan di mulutnya.


" Kau yang makan ? " Tanya Dylan tidak percaya.


" Hu'um " Blair mengangguk lalu kembali menyuapkan potongan ayam ke mulutnya.


Anak macam apa dia ini ? Badannya sangat kurus tapi kemampuan makannya. Ck ck ck... bilangnya sedang diet. Dasar oneng.


Dylan menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


" Kau yakin tidak mau ? " Tanya Blair mengulangi.


" Tidak " Jawab dylan singkat.


" Ya sudah " Blair mengedikkan bahunya lalu mengambil potongan ayam yang lainnya hendak memakannya. Namun tanpa di duga, tangan Dylan terulur meraih tangan Blair yang membawa potongan ayam tersebut lalu menggigitnya sedikit.


" Sudah " Jawabnya dengan nada menggoda.


" Apa sih " Cibir Blair memanyunkan bibirnya, menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah merona dengan berpura-pura kesal.


" Ayo makan, berani ? " Goda Dylan menatap Blair lalu melirik ayam yang telah di gigitnya itu.


" Berani siapa takut " Jawab Blair percaya diri. Dia lalu memakan potongan ayam yang ada di tangannya, tepat di bekas Dylan menggigitnya tadi.


Deg !! Serangan jantung Blair kembali di mulai. Dengan perasaan berdesir aneh dia terus saja memakan ayam gorengnya.


Pengganti ciuman yang batal, setidaknya anggap ini pemanasan dulu Blair.


Batinnya menenangkan dirinya sendiri, lalu tersenyum malu-malu.


Setelah beberapa saat Blair melanjutkan makannya, dia menyerah dan mendorong piring yang ada di hadapannya sedikit menjauh.


" Aku sudah tidak kuat lagi, perutku rasanya mau meledak " Dia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


" Salah sendiri " Cibir Dylan.


" Kalau kau ikut makan pasti makanan ini sudah habis " Sanggah Blair ketus.


" Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan " Jawab Dylan santai.


Blair langsung menegakkan punggungnya, sejenak dia lupa jika dia adalah artis yang harus menjaga imagenya, tapi berhadapan dengan Dylan membuatnya lupa semua keadaan.

__ADS_1


Hei bagaimana ini !! Dia pasti menganggapku rakus sekarang. Aish !! Kenapa aku bisa makan sebanyak ini sih !!


Rutuknya dalam hati memandangi piring-piring kosong di hadapannya.


Oon, oon, oon !!


Dia lalu memukul-mukul kepalanya sendiri.


" Hei kenapa memukul kepalamu sendiri " Dylan mengulurkan tangannya melewati meja, menahan tangan Blair agar tidak melukai dirinya sendiri.


" A-aku sedikit pusing, aku sudah biasa begini, jika di pukul-pukul sedikit nanti pusingnya reda " Kilahnya berbohong.


" Mana ada yang begitu, sudah jangan di pukuli lagi, nanti semakin sakit " Dylan lalu mengelus-elus kepala Blair tepat di tempatnya di pukul tadi.


Aaahh.... manisnya, aku jadi ingin memukul tubuhku yang lainnya.


Batin Blair tersipu malu.


" Sudah selesai ? " Tanya Dylan lembut, melepaskan pegangan tangannya pada Blair lalu mengambil tisu yang ada di sebelah piring Blair.


" Ya sudah " Blair mengangguk.


" Ini di bersihkan dulu " Dylan mengusap bibir dan pipi Blair, membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel.


" Ayo... " Ajak Dylan kemudian bangkit berdiri dan Blair pun mengikutinya.


Mereka memutuskan akan berjalan-jalan mengelilingi mall. Blair yang merasa kekenyangan itu pun berjalan sambil memegangi perutnya yang terasa begah. Dia tidak bisa mengimbangi langkah Dylan karena jika dia berjalan terlalu cepat maka perutnya akan sakit seperti tertusuk paku.


" Kau... " Dylan mengajak Blair bicara namun saat dia menoleh Blair tidak ada di sampingnya. Dia berhenti dan berbalik badan. Di lihatnya Blair yang berjalan dengan memegangi perutnya jauh tertinggal di belakang.


" Kenapa lagi ? " Tanyanya penasaran melihat Blair seperti itu.


" Sakit " Rengeknya memelas setelah sampai di samping Dylan.


" Salah sendiri, memesan makanan tanpa berpikir dulu " Omel Dylan ketus.


" Cih " Cibir Blair kesal memanyunkan bibirnya.


" Aku bisa mencerna semua makanan ini kalau aku berolahraga " lanjutnya kemudian.


" Mau olahraga dimana ? Ini mall neng " Dengan berkacak pinggang Dylan terus saja mengomeli Blair.


Blair mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, naik turun tangga ? Tidak. Berlarian di mall ? Tidak.


Aha !!


" Aku tau " Serunya pada Dylan yang masih kesal.


" Apa ? "


" Cara untuk mencerna makanan ku " Jawab Blair sumringah.


" Bagaimana ? "


" Aku akan main danz base lagi, kalau aku melakukan dance dengan sungguh-sungguh maka sama saja aku seperti berolahraga " Jawabnya dengan senyum lebar.


" Kau mau berjingkrak-jingkrak seperti itu lagi ? " tanya Dylan semakin kesal mendengar ide Blair.


" Hu'um " Blair mengangguk penuh semangat.


" Membiarkan rok mu tersingkap seperti tadi ? " tanyanya semakin tajam.


" Aku kan pakai short pant " Jawab Blair santai, masih belum paham bahwa anak laki-laki yang ada di hadapannya saat ini dadanya sudah kembang kempis menahan rasa kesal yang mencapai ambang batasnya.


" Kau tidak keberatan mata orang-orang itu menatapmu ? " Dylan sudah menggeram saat ini, mulutnya terkatup rapat dengan rahang yang mengeras. Jika saja dia bisa meremas mulut Blair pasti sudah di lakukannya sekarang juga.


Dasar oneng, tidak pernah berpikir dulu sebelum bertindak.


" Aku sudah biasa " Jawab Blair ragu-ragu melihat Dylan yang kini sedang mendelik ke arahnya sekarang.


" AKU YANG TIDAK BIASA " Sentaknya kesal lalu pergi meninggalkan Blair begitu saja.


" Kenapa marah-marah begitu sih, aku kan memang sudah biasa di lihat orang-orang, kan kerjaan ku memang untuk di lihat orang " Gumamnya bingung. Lalu berlari menyusul Dylan.


" Tunggu aku " Teriaknya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ken dan Kiran yang sudah berada di rumah sedang bingung mencari Ruby dan Adelia yang tidak terlihat sama sekali.


" Pak Handoko kemana semua orang ? " Tanyanya melalui sambungan telepon.


" Mereka semua sedang pergi tuan, ke panti asuhan, memberikan sumbangan " Jawab Pak Handoko.


" Pantas saja uangnya hilang, ku pikir ada yang merampok " Jawab Ken asal.


" Tidak tuan, tuan Rai menyumbangkan semuanya " Jawab Pak Handoko datar.


" Ya sudah kalau begitu " Ken menutup sambungan teleponnya dan memberitahukan hal itu pada Kiran. Mereka pun pergi menuju kamar mereka untuk beristirahat sebentar dan membersihkan diri.

__ADS_1


Hari sudah beranjak sore saat rombongan Rai sampai di rumah. Ruby dan Rai langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri juga akan memandikan Raline.


" Seru ya " Ucap Ruby saat mereka sudah berada di dalam kamar. Dia meletakkan Raline yang sedang tidur ke dalam boks bayinya. Lalu berjalan ke ruang ganti untuk menyiapkan keperluan mandi Raline.


" Kau senang ? " Tanya Rai yang mengekori Ruby ke ruang ganti, memeluknya erat dari arah belakang, membenamkan wajahnya di leher Ruby.


" Iya senang sekali, bermain bersama anak-anak memang selalu menyenangkan, mungkin tingkah Raline akan begitu nanti saat sudah sedikit lebih besar " Ruby membelai lembut pipi Rai yang ada di belakangnya.


" Kau ingin punya anak berapa ? " Tanya Rai penuh desahan di balik punggung Ruby, sibuk menciumi leher Ruby dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya.


" Berapa ya ? Tiga mungkin ? " jawab Ruby asal.


Rai lalu membalikkan tubuh Ruby agar menghadapnya, mendorongnya pelan hingga dia bersandar pada lemari.


" Bagaimana kalau kita mencicilnya mulai dari sekarang ? " Rai kembali menghujani wajah Ruby dengan ciuman.


" Hei tadi kan sudah " Ruby mendorong pelan tubuh Rai agar melepaskan ciumannya.


" Kan sudah ku bilang kalau aku ada di dekatmu aku seperti tersetrum, jadi... " Rai tidak melanjutkan kalimatnya dan kembali mencium bibir Ruby. Dengan rakus menghisapnya seolah sedang merasa kehausan. Tangannya yang bebas melingkar di pinggang Ruby dan membawanya semakin menempel ke tubuhnya. Sementara tangannya yang lain sudah bekerja membuka kancing-kancing baju Ruby.


" Kau tau aku tidak pernah merasa puas dengan mu, aku selalu ingin lagi, lagi dan lagi " Desah Rai saat mereka berhenti sejenak dari ciuman mereka, mengambil napas untuk kemudian melanjutkannya lagi.


" Ooeekk... ooeekkk... " Tiba-tiba saja suara tangisan Raline terdengar. Baik Rai maupun Ruby sama-sama terkejut.


" Aahh... satpam kecil kita " Gumam Rai lalu tertawa sendiri.


" Inilah rasanya menjadi orang tua " Jawab Ruby ikut tersenyum. Dia kemudian keluar dari ruang ganti untuk menengok Raline yang sedang menangis. Tak berselang lama dia mendengar suara guyuran air di kamar mandi, bisa dia pastikan bahwa Rai sedang mandi air dingin saat ini, untuk meredakan gejolak yang terlanjur membara di bagian pusatnya.


Pak Handoko menelepon satu persatu penghuni mansion Loyard, memberitahukan bahwa sudah waktunya makan malam. Hal ini dia lakukan untuk mempersingkat waktu, mengingat seluruh keluarga Loyard memiliki kamar di tempat yang terpisah-pisah jauhnya.


Rai dan Ruby turun dengan membawa serta Raline, mereka langsung menuju ruang makan. Disana sudah ada Regis dan Sekertaris Yuri yang sudah lebih dulu duduk, baru kemudian Adelia menyusul hadir setelah Rai dan Ruby.


" Mana yang lain ? " Tanya Rai, karena dia mengira dirinya yang paling terlambat datang.


" Kamar Kiran dan Ken yang paling jauh, mungkin mereka sedikit lama " Jawab Regis santai, lalu mengulurkan tangannya meminta Raline.


" Kalau Dylan ? " Rai memastikan, dia ingin melihat bagaimana ekspresi serta tindakan apa yang akan di ambil adik bungsunya itu terkait sikap jahilnya.


" Dylan ? " Regis menoleh ke arah pak Handoko yang sedang menuangkan air di masing-masing gelas, bertanya karena dia sendiri belum melihat Dylan seharian.


" Dia sedang berada di kamarnya tuan, tadi dia pulang agak sore, tidak seperti biasanya " Jelas Pak Handoko.


" Bagaimana wajahnya ? " Tanya Rai penasaran.


" Seperti biasa tuan, selalu tampan " Jawab Pak Handoko datar.


" Aish bukan itu maksud ku, tapi ekspresinya " Kejar Rai.


" Seperti biasa tuan, datar " Jawab Pak Handoko lagi.


" Pak Handoko lama-lama tidak seru ya " Rai lalu memukul-mukul pelan lengan pak Handoko begitu dia menuangkan minuman ke gelas Rai.


" Memangnya di harus berwajah bagaimana tuan ? " tanya Pak Handoko meminta petunjuk.


" Entahlah, marah mungkin atau kesal ? " Rai mengira-ngira, dia tidak akan merasa lega jika belum melihat sendiri hasil kejahilannya.


" Sepertinya dia tidak merasa begitu tuan " Jawab Pak Handoko yakin, karena dia sempat berpapasan dengan Dylan saat dia pulang. Dan Dylan bahkan sempat menyapanya sebelum menghilang di ujung lorong.


" Yaah penonton kecewa " Gumam Rai berdecak malas.


Tak berselang lama Ken dan Kiran datang mengendarai skuter mereka, Ken juga memesan skuter yang sama dengan milik Kiran, kan mereka upin dan ipin. Setelah memarkirnya bersandar pada tembok mereka bergabung duduk di meja makan.


" Mana Dylan ? " Tanya Ken begitu melihat personil rangers mereka belum lengkap.


" Di kamar masih belum datang " Jawab Rai asal.


Tak berapa lama pucuk di cinta ulam pun tiba, obyek pembicaraan itu datang, dengan wajah kesal dia menatap Rai juga Ken. Lalu tanpa mengucapkan apa-apa dia duduk di tempatnya.


" Bagaimana dik jalan-jalannya ? " Tanya Rai terkekeh, di lihat dari reaksi Dylan saat ini dia yakin rencananya sukses besar.


" Terima kasih kak berkat mu aku jadi malu sekali di hadapan Dasya " Jawab Dylan ketus.


" Hahaha... " Gelak tawa Ken dan Rai pecah begitu Dylan menyelesaikan keluh kesahnya.


" Hei !! " sentak Ruby kesal kepada Rai yang masih tertawa.


" Kau ini keterlaluan sekali sih, masa sampai begitunya mengerjai Dylan " Omelnya kesal. Regis, Sekertaris Yuri serta Adelia yang tidak mengerti apapun tentang kaum muda itu hanya bisa menyimak dalam diam.


" Yaah berarti kau menjauh dong dari Blair ? " Kiran mengungkapkan kekecewaannya.


" Padahal ku lihat kalian berdua manis sekali kalau bersama " Lanjutnya.


" Rai tanggung jawab " Perintah Ruby tegas.


" Iya iya tenang saja aku akan tanggung jawab, aku akan mendekatkan kembali mereka " Jawab Rai di sela-sela tawanya.


" Bagaimana ceritanya ? Barangkali aku bisa sedikit membantu " Ucap Ruby ikut prihatin.


" Nanti aku ceritakan detailnya " Jawab Dylan seperti menemukan sebuah ide untuk balas dendam kepada Ken dan Rai. Memanfaatkan kelemahan mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2