
" Dia menghubungi seseorang ? " Ruby bertanya pada Tina yang sudah menjelaskan kronologis tentang Ignes.
" Apa kau tau siapa ? " Ruby bertanya disambut dengan gelengan kepala dari Tina.
" Aku hanya mendengarnya memerintahkan untuk melenyapkanmu, tapi tidak mendengarnya menyebut nama siapapun selain nama mu " Tina mengingat-ingat.
" Jadi ada orang lain yang berkerja sama dengannya, dia tidak sendirian " Ruby berbicara sendiri.
" Iya dia sepertinya melibatkan orang lain. Ruby aku tau sekarang kenapa kau berusaha sekuat tenaga menyembunyikan pernikahanmu " Tina menatap Ruby prihatin.
" Ya begitu lah, mempublikasikannya hanya akan membuatku pusing dan lelah " Ruby menjawab malas.
" Kau benar, semua orang sepertinya mengawasi siapa yang akan jadi istri dari Tuan Rai, mereka menentukan sendiri pasangan sempurna untuk tuan Rai menurut versi mereka dan akan membenci siapapun itu yang menurut mereka tidak pantas bersanding dengannya. Seolah-olah mereka merasa benar. Aku baru tau hal itu saat bergosip tadi setelah apel pagi " Tina menjawab lirih.
" Akhirnya ada yang paham juga bagaimana perasaan ku, itulah alasan ku menyembunyikan semua ini. Menurut mereka seorang Big Bos harus menikah dengan putri yang lemah lembut dan penurut, tapi mereka tidak tau bahwa terkadang hidup penuh dengan kejutan, tidak semua harus seperti dongeng, saat mereka tau bahwa aku yang jadi istri dari Rai, mereka akan mulai mencari tau tentangku, mengkritik setiap apa saja yang menurut pemikiran mereka salah, mereka akan mengkritik bagaimana perlakuanku terhadap Rai, padahal kau tau semua masalah akan berbeda kalau kita memandang dari sudut pandang yang berbeda juga, terima kasih, satu orang saja sudah cukup membuatku merasa di anggap " Ruby menggenggam tangan Tina, baru kali ini dia memiliki seseorang untuk menumpahkan isi hatinya.
" Iya setelah mendengar mereka bergosip ternyata aku baru sadar pasti tidak mudah bagi mu, apalagi sekarang kau harus menghadapi seorang wanita gila yang ingin melenyapkan mu " Tina mendadak geram dengan Ignes.
" Ya ini memang berat, aku orang yang hidup bersama Rai, mengerti dia luar dan dalam, mengerti sifat baik dan buruknya, tapi mereka akan seenaknya menilai apa yang kurang dari hubungan kami, tidak pernah mencoba memahami kenapa kami bersikap seperti itu satu sama lain " Mata Ruby berkaca-kaca menjelaskan, beban berat yang di tanggungnya selama ini sedikit berkurang setelah bercerita.
" Oh Ruby jangan menangis, kau wanita yang kuat, tidak perlu memikirkan apa kata mereka, bukankah kau bisa bela diri, hajar saja semua mulut-mulut yang selalu jahat dalam berkomentar " Tina terlarut dalam suasana sedih mendengar curhatan Ruby.
" Hahaha... baiklah aku akan mengikuti saranmu, tidak apa-apa yang paling penting kita harus waspada dan berpura-pura mengikuti permainannya " Ruby menenangkan Tina.
" Tenang saja aku akan membantumu sekuat tenaga, tidak akan ku biarkan dia mendekatimu " Ucap Tina bersemangat.
" Baiklah ayo bekerja lagi " Ruby mengajak Tina untuk segera bekerja.
Mereka menuju taman untuk membantu Daniel yang sedang mengerjakan tugasnya disana, memotong ranting tanaman.
" Hai Dan " Tina menepuk bahu Daniel, membuatnya terlonjak.
" Hai " Daniel balas menyapa. Dia menatap Ruby yang terlihat seperti sedang sedih.
" Kau kenapa Ruby ? " Daniel bertanya.
" Entahlah aku hanya merasa sedikit pusing " Ruby menjawab malas, bagaimana mungkin kepalanya tidak pusing setelah tau ada seseorang yang ingin melenyapkannya.
Melenyapkan ? Hah dia pikir manusia itu hewan, se enaknya saja melenyapkan seseorang. Apa dia tidak tau ada hukum di negara ini ?
Ruby kesal memikirkan Ignes.
Dia membantu Daniel mengumpulkan daun dan ranting yang berserakan di tanah. Melihat Ruby yang sepertinya kelelahan Daniel pergi untuk mengambilkan Ruby sebotol minuman dingin.
" Ini untukmu " Daniel menyerahkan sebotol minuman dingin untuk Ruby.
__ADS_1
Tina terkejut melihat Daniel melakukan itu, dia kemudian merebut botol minuman dari tangan Ruby.
" Hei apa kau lupa pesan dari Big Bos, kau dilarang berhubungan dengan Danny " Tina berbisik mengingatkan Ruby.
" Daebak ! Kau menjalankan perintahnya dengan sungguh-sungguh, Rai pasti sangat bangga memiliki pegawai yang sangat setia sepertimu " Ruby mencibir.
" Tentu saja, aku akan buktikan kalau aku mampu jadi pengawalmu " Tina berbisik bangga.
" Hei aku mencibirmu dan kau malah bangga " Ruby merebut kembali botol minuman itu dan membukanya.
" Aku menyukai nya bukan berarti dia bisa menguasai hidupku " Ruby menjelaskan.
" Ruby apa nanti malam kau ada acara ? " Daniel bertanya pada Ruby.
" Tidak " Ruby.
" Ada " Tina. Mereka menjawab bersamaan.
Daniel melihat mereka berdua heran.
" Ada apa kau bertanya begitu pada Ruby ? " Tanya Tina curiga.
" Apa kau berencana mengajaknya berkencan ? Kalau iya lupakanlah dia tidak akan pernah bisa " Tina menjawab pertanyaannya sendiri.
" Tidak aku hanya ingin menyampaikan kalau hari ini ulang tahun pak Hong, dia mengundang kita semua makan-makan di restoran " Daniel menjawab polos.
" Makanya ku bilang jangan terlalu setia, kau akan malu sendiri " Ruby mendorong tubuh Tina.
" Untung saja aku bukan tipe orang yang GR mengira dia akan mengajakku kencan " Ruby berbisik kepada Tina.
" Lagipula kau tidak akan bisa datang " Tina mengejek Ruby.
" Cih " Ruby mencibir. Tapi dia membenarkan perkataan Tina, bahwa tidak mungkin dia bisa datang ke acara itu.
" Beritahu saja tempatnya nanti aku usahakan datang " Ruby menjawab tidak semangat.
" Baiklah aku akan mengirim pesan ke ponsel mu nanti " Daniel menjawab sambil tersenyum.
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Tiba-tiba seseorang memanggil Ruby dari jauh.
" Ruby " Ken melambaikan tangannya kepada Ruby.
Ruby yang melihatnya tersenyum lebar dan membalas lambaian tangannya. Dia berpamitan kepada Tina dan Daniel untuk menemui Ken.
" Siapa dia ? " Daniel bertanya pada Tina.
__ADS_1
" Entahlah aku juga tidak tau siapa dia, tapi aku melihatnya beberapa kali bersama Ruby, sepertinya ada hubungan " Tina menjelaskan asal, karena dia tidak tau kalau itu adik dari Rai.
Daniel yang mendengar itu merasa kecewa. Dia menyukai Ruby tapi tidak berani mengungkapkannya, dan sekarang dia tau kalau Ruby dekat dengan seseorang.
" Ada apa ? " Ruby bertanya kepada Ken setelah berada di depannya.
" Kakak menelfonku, apa kau baik-baik saja ? Dia bilang Ignes akan melenyapkanmu ? " Ken memutar tubuh Ruby untuk memeriksa keadaannya.
" Tenang saja dia tidak akan berani menyentuhku saat di club, terlalu ramai, akan ada banyak saksi mata " Ruby menjawab santai.
" Syukurlah, kakak ingin bertemu denganku untuk membahas masalah ini, berhati-hatilah, Ignes sedikit tidak normal " Ken mengingatkan.
" Kakak melarangku memberitahukan mu karena takut kau akan terbebani, tapi kau harus tau sebenarnya Ignes sangat berbahaya, aku rasa dia sangat terobsesi dengan kakak " Ken menjelaskan.
" Seperti Vivianne ? " Ruby bertanya.
" Tidak dia lebih dari Anne, mungkin Anne memang sedikit kejam padamu tapi dia tidak akan berani menyentuh apapun milik Rai " Ken melanjutkan.
" Dia memukulku dengan rotan asal kau tau, saat mengajariku mengikat dasi dulu " Ruby menyangkal pendapat Ken dengan sinis.
" Ya dia mungkin melakukan hanya sebatas itu, untuk melangkah lebih jauh dia tidak akan pernah berani, dia tau akan menerima akibat seperti apa dari kakak ku kalau sampai melukaimu lebih jauh, makanya saat kakak mengirimnya ke luar negeri dia hanya patuh dan tidak memberontak " Ken menjelaskan.
" Tapi aku tidak yakin, Tina bilang padaku kalau Ignes menghubungi seseorang dan bekerja sama dengannya untuk melenyapkanku, siapa lagi yang mampu melakukan itu kalau bukan Vivianne ? " Ruby menyangkal sengit.
" Kakak dan Anne masih terus berhubungan sampai sekarang, jadi bisa di pastikan itu bukan dia " Ken tersenyum menenangkan Ruby.
" Apa ? Mereka masih berhubungan ? " Ruby terkejut mendengar informasi dari Ken. Mendadak rasa cemburunya muncul kembali.
" Tentu saja, Anne hanya berpindah tempat, tapi dia tetap berada dalam lingkup Klan, jadi mana mungkin kami tidak berhubungan " Ken menjelaskan.
" Daebak ! Dia mengumbar semua rasa cemburunya dan menghancurkan ponsel ku, tapi dia menyembunyikan kenyataan mengerikan seperti ini " Ruby menjawab ketus.
" Hei kau akan menemuinya bukan ? Bilang padanya untuk mengganti ponsel ku atau aku akan membuat perhitungan dengannya " Ruby mengancam.
" Hahaha baiklah ibu hamil, aku akan melakukannya untuk Junior, ada lagi ? " Ken bertanya, dia tertawa melihat tingkah Ruby.
" Ya bilang padanya dia harus mengizinkan ku menghadiri acara ulang tahun pak Hong nanti malam " Ruby menambahkan asal, dia tidak berharap banyak Rai akan mengizinkannya.
" Baiklah semua permintaanmu akan aku sampaikan, akan ku buat dia mengizinkan mu pergi " Ken berjanji.
" Kau janji ? Mana kelingkingmu ? " Ruby meyakinkan.
Ken kemudian menyodorkan kelingkingnya untuk membuat janji kelingking bersama Ruby. Daniel yang mengawasi mereka dari jauh mendadak terbakar cemburu melihat Ruby dan Ken yang sepertinya sangat akrab.
Aku akan mendekatinya secara terang-terangan mulai saat ini.
__ADS_1
Daniel mengepalkan tangannya menahan kesal.