
Ekspresi mereka semua takut, bagaimana mungkin Ruby seberani itu melawan perintah Big Bos. Rai mengepalkan tangannya. Otot wajahnya menegang. Ruby tau dia sudah membuatnya marah, tapi dia tidak peduli.
" Baiklah karena hanya satu orang yang tidak menyukai ku, maka kau harus ikut ke ruanganku untuk menjelaskan alasanmu tidak menyukai ku " Rai berkata tajam kepada Ruby.
Dia pergi dengan marah, semua orang menghembuskan nafas lega mereka dan berbalik kepada Ruby.
" Ruby apa kau sudah tidak waras ? Kenapa seberani itu kepada Big Bos ? " Pak Hong memulai.
" Iya apa kau sudah tidak sayang pekerjaanmu ? " Mey menyahut.
" Sudahlah, aku akan minta maaf padanya, bilang kalau tadi tidak sengaja " Ruby menghindari omelan dari teman-temannya.
" Baiklah aku pergi dulu " Ruby berpamitan kepada semua orang.
" Hati-hati Ruby semoga selamat " teman-temannya mendoakan.
" aku harus bicara lagi dengannya, apa dia masih tidak mengerti juga, dia bisa tenang saja mengungkapkan pernikahan kita, tidak akan ada yang berani menggunjingnya, sedangkan aku ? Pasti judul beritanya akan ' Seorang petugas cleaning service di duga kuat menggunakan ilmu pelet untuk dapat menikah dengan Big Bos ' " Ruby mengoceh sendiri di dalam lift.
Pintu lift terbuka, dia bergegas menuju ruangan Rai. Tanpa mengetuk dia langsung membuka pintu itu.
" Haaahh " Ruby terkejut, dia menutup mulutnya.
Ruangan itu sudah kacau, kertas berserakan dilantai, vas bunga pecah di sudut ruangan. Rai duduk di sofa dengan wajah tertunduk, tangannya mengeluarkan darah. Ruby berlari menghampirinya.
“ Kenapa tanganmu bisa terluka begini ? “ Ruby bertanya khawatir, dia mengambil sapu tangan dari sakunya, melilitkan ke telapak tangan Rai untuk menghentikan pendarahan. Rai hanya diam saja, matanya berkaca-kaca.
“ Hei kenapa diam saja ! Apa sesakit itu sampai kau akan menangis ? “ Ruby memukul lengan Rai.
Rai yang terkejut dengan pukulan Ruby menatapnya.
“ Tentu saja tidak, aku tidak mungkin merasakan sakit oleh luka kecil seperti itu “ ucapnya ketus sombong.
“ cih, syukurlah melihatmu bicara sesombong itu sepertinya ini memang hanya luka kecil, hampir saja aku memelukmu untuk menenangkan siapa tau kau menangis, baguslah kalau begitu “ Ruby menghela nafas lega.
“ Apa ? “ Rai terkejut mendengar jawaban Ruby. Ruby sudah berdiri akan keluar mencari kotak obat.
“ Aaarrgghh... “ tiba-tiba Rai berteriak. Ruby terkejut mendengar teriakannya, berbalik menghampiri Rai lagi.
“ Ada apa ? “ Ruby panik.
__ADS_1
“ Entahlah tiba-tiba sakitnya menjadi berlipat, apa karena aku sudah kehabisan darah ? “ Rai menyandarkan tubuhnya di sofa, berpura-pura lemas. Ruby semakin panik.
“ Hei jangan bercanda, kau bilang itu hanya luka kecil, bagaimana ini ? “ Ruby panik, matanya mulai berkaca-kaca.
“ Aduh kepala ku pusing, sepertinya darah di otak ku sudah habis, aku akan mati kehabisan darah “ Rai menyentuh kepalanya.
“ Bagaimana ini, aku harus berbuat apa ? “ Ruby duduk di samping Rai, bingung harus bagaimana.
“ bagaimana lagi, pegang kepala ku, ini sangat berat, aarrgghh... “ Rai menyandarkan kepalanya di pundak Ruby.
“ Iya iya, seperti ini ? “ Ruby memeluk Rai, membenamkan kepalanya di dadanya. Dia menangis.
“ iya benar seperti ini, sebentar saja sampai darahnya berhenti, biar tubuhku memproduksi darah lagi baru bisa mengisinya ke kepala ku “ Rai berbohong.
“ iya iya aku tidak akan melepaskannya “ Ruby semakin erat memeluknya.
Ternyata aku harus terluka dulu untuk mendapatkan perhatianmu.
Beberapa lama Ruby memeluk Rai, dan sepertinya pendarahan di tangannya sudah berhenti.
" Kenapa ruangan ini bisa begini ? " Ruby bertanya ketus.
" Bukankah aku sudah bilang aku menyukaimu semalam, lalu kenapa kau ingin pamer ke semua orang " Ruby menjelaskan.
" Apa gunanya kau menyukaiku tapi orang lain tidak boleh tau ? " Rai menjawab sinis.
" Hei jadi menurutmu tidak ada gunanya aku menyukaimu kalau orang lain tidak tau ? Jadi kau anggap perasaanku barang pameran yang semua orang harus tau ? Kau sendiri bagaimana, kau juga belum pernah sekalipun bilang menyukai ku, kau selalu mengerjaiku " Ruby marah.
" Apa ? Hei otak udangmu itu benar-benar tidak bisa di gunakan untuk berfikir ya ? Menurutmu kenapa aku selalu marah setiap kali kau dekat dengan laki-laki lain, itu karena aku cemburu, aku menyukaimu lebih dari kau menyukai ku, aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu memohon untuk tidak memecatmu, memangnya kau kira aku menjadikanmu istri karena apa ? Awalnya ku kira istri yang baik itu harus seperti ibu ku, aku berniat menjadikanmu seperti dia, tapi ternyata aku salah, aku menyukai mu yang seperti ini, aku menyukai mu setiap hari sampai di kepala ku hanya ada kau " Rai mengeluarkan semua isi hati nya.
Ruby hanya terdiam mendengarkan, dia tidak menyangka Rai juga menyukainya.
" Maafkan aku " Ruby menjawab lirih.
" Kau bilang waktu itu tidak butuh cinta, hanya butuh untuk bersama " Ruby menjelaskan kembali tentang ucapan Rai di hari pernikahan mereka.
" Itu karena kau sudah lebih dulu bilang tidak mencintaiku " Rai menjawab sinis.
" Tapi bukankah kita baru pertama bertemu, kenapa kau bisa menyukai ku ? " Tanya Ruby heran.
__ADS_1
" Apa kau tidak pernah dengar yang namanya cinta pada pandangan pertama ? " Rai mencibir.
" Cih pandangan pertama mu padaku adalah pandangan kebencian " Balas Ruby ketus.
" Kau bahkan akan memecatku "
" Kalau begitu aku jatuh cinta padamu pada pandangan ke dua " Rai menyangkal asal.
" Hei kau aneh sekali, kenapa tidak kon... " Ruby mengomel tapi kemudian ciuman Rai menghentikannya.
Rai menciumnya dalam, menggigit bibir bawahnya dengan lembut. Ruby meletakkan tangannya di dada Rai yang bidang. Rai mulai menyusuri leher Ruby dengan jarinya, mendaratkan telapak tangannya di dada Ruby. Rai melepaskan ciumannya, dan memeluk Ruby.
" Aku sangat sangat sangat mencintaimu " desahnya di telinga Ruby.
Dia mulai menciumi leher Ruby, membuat tanda cinta di lehernya. Tubuh Ruby merespon setiap sentuhan dari Rai, sensasi geli membuat tubuhnya menegang. Rai mulai membuka satu persatu kancing baju Ruby, terlihat tank top warna hitam berleher rendah. Membuat mereka semakin larut dalam suasana mesra dan perasaan cinta mereka.
" Tok tok tok " Suara ketukan pintu mengejutkan mereka. Ruby mendorong perlahan tubuh Rai, sadar dengan tempat mereka bermesraan.
" Rai hentikan, nanti saja di rumah, ok ? " Ruby berbisik lirih.
" Biarkan saja, aku ingin memakanmu saat ini " Rai tidak memperdulikan Ruby, tangannya merem*as dada Ruby.
Suara ketukan di pintu semakin keras, membuat Rai kesal. Dia menghentikan aktivitasnya. Ruby membenarkan pakaiannya dan posisi duduknya.
" Masuk " Suara Rai tajam dan dingin.
" Haaah " Ignes terkejut dengan kondisi ruangan Rai, dia menutup mulutnya.
" Ada apa ini ? " Ignes bertanya histeris.
" Ah tidak ada apa-apa hanya salah paham " Ruby berusaha menjelaskan dengan tenang.
" Tangan mu kenapa sayang ? " Ignes menghambur ke arah Rai, dia menyentuh tangan Rai yang terbalut sapu tangan.
" Lepaskan tanganmu, jangan lupa aku sudah punya istri " Rai berkata tajam dan mengancam.
Ignes seperti tidak peduli dengan kata-kata Rai, dia acuh dan duduk di sebelah Ruby. Dia membawa tumpukan berkas yang akan di bahasnya bersama Rai. Melihat Ignes yang sepertinya tidak terpengaruh dengan status Rai membuat Ruby semakin yakin harus menyembunyikan status mereka.
Sepertinya dia tipe wanita yang keras kepala yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan Rai. Hilang Vivianne tumbuh Ignes. Ruby menghela nafas.
__ADS_1
Dasar penganggu. Rai menatap Ignes tajam.