Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Misi


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Manager Yo memasuki area club malam milik Klan Loyard, pelayan langsung berlarian menghampirinya untuk membukakan pintu mobil.


" Terima kasih "Jawab Blair malas, jika biasanya dia akan ramah pada siapapun dan mengumbar senyum serta memberi tip, tidak untuk malam ini. Setelah mendapat tamparan keras dari ayahnya, dia menjadi sedikit linglung. Seperti tidak memiliki gairah hidup lagi.


Blair berjalan pelan masuk ke dalam club malam tersebut dan langsung menuju lift. Tempat berkumpulnya para golongannya berada di lantai 3.


Dengan wajah yang sedih dia melihat pantulan bayangannya di pintu lift yang tertutup. Pipi yang tadinya merah dengan bekas tangan itu memang telah tertutupi oleh piawainya kemampuan dirinya dalam bermake up, tapi rasa panasnya masih terasa membakar bahkan sampai ke sumsum tulang-tulangnya.


Sudah lama dia memendam semuanya, jadi anak baik, jadi anak penurut, jadi kebanggaan orang tua. Omong kosong. Ayahnya hanya peduli pada uang dan kekuasaan. Mulai malam ini dia tidak akan menahannya lagi.


Kenapa kau tidak pernah pulang kak, harusnya kau menjemputku dan membawa ku pergi.


Ratap batinnya pilu. Baginya hari ini adalah hari terapuhnya. Dulu Dasya kecil sering sekali melihat ayahnya berdebat dengan Disya kakaknya. Disya selalu saja membantah apapun perintah ayahnya dan melawan perkataannya. Tak jarang ayahnya memukulinya hingga dia jatuh sakit. Tapi entah kenapa sepertinya Disya tidak pernah kehilangan keberaniannya untuk terus melawan ayahnya.


" Kenapa kau terus melawan ayah kak, nanti kau kena pukul lagi " Ucap Dasya kecil kala itu kepada kakaknya yang sedang mengompres luka tamparan di pipinya. Dia menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Wajah kakaknya yang putih itu terlihat seperti buku gambar berwarna-warni. Ungu, merah pekat dan kekuningan, semua itu bekas pukulan ayahnya karena Disya selalu membangkang.


" Dasya kau itu masih kecil, masih belum mengerti apa-apa " Jawab Disya santai, dia seperti sudah merasa kebal oleh rasa sakit.


" Apa yang tidak ku mengerti kak ? Bukankah bu guru bilang kalau kita harus selalu menghormati orang tua dan menuruti semua perintahnya " Jawab Dasya polos.


" Benar, bu guru benar. Tapi harusnya dia juga menambahkan orang tua macam apa yang harus kita patuhi " Jawab Disya dengan suara bergetar. Air mata kini mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia sendiri juga lelah dengan kehidupannya, tapi bagaimana lagi. Mencoba kabur pun percuma, ayahnya selalu bisa tau keberadaannya dan menyeretnya kembali. Lagipula dia tidak punya teman atau sahabat untuk di mintai tolong. Bahkan seluruh kerabatnya pun takut jika berhubungan dengan Dimitri.


" Apa maksudnya kak ? " Tanya Dasya polos.


" Nanti saat sudah lebih dewasa kau akan tau " Jawab Disya membelai lembut rambut adiknya.


Ting !! Suara pintu lift yang terbuka membuyarkan ingatan Blair, dia menghela napas panjang dan masuk ke dalamnya. Menekan tombol dan langsung menyandarkan kepalanya di dinding begitu pintu lift itu tertutup lagi.


Akhir-akhir ini dia semakin sering menghubungi kakaknya, bisa Blair duga dari suara kakaknya yang selalu ceria kalau dia terlihat bahagia bersama suaminya meski mereka menikah karena perjodohan.


Walaupun Blair sering mendengar dari mata-mata ibunya yang melapor kalau suami Disya jarang memperhatikannya dan selalu meninggalkannya untuk urusan bisnis, tapi setidaknya dia membiarkan Disya hidup bebas. Bebas melakukan apapun yang dia mau dan sukai, juga membebaskannya pergi ke tempat manapun yang dia ingini.


Bagi Disya hidupnya kini seribu kali lebih baik jika di bandingkan saat menjadi anak dari ayahnya yang selalu di kurung dan di perlakukan layaknya barang dagangan.


Kau benar kak, dimana pun lebih baik dari pada di rumah.


Batinnya pedih lalu memejamkan mata. Kesedihan dan kekecewaannya sudah sangat dalam. Selama ini dia memang tak membantah apapun perintah ayahnya karena dia menunggu saat yang tepat untuk lepas dari kungkungan ayahnya. 18 tahun. Usia yang telah di akui oleh hukum yang membuatnya bisa menentukan apapun yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Dia bebas pergi dari rumah, bebas tinggal sendiri dan melakukan apapun semaunya. Yang dia lakukan adalah bersabar selama ini, tapi sepertinya saat ini dia mulai kehabisan kesabaraannya dan kelelahan. Jadi dia bertekad akan melawan ayahnya sekarang.


" Oh Blair " Seru seorang laki-laki yang seumuran dengannya begitu pintu lift terbuka. Membuat Blair langsung menegakkan punggungnya dan mengangkat dagunya.


" Hai " Sapanya datar kemudian melangkah keluar dari lift.


" Tumben kau terlambat " Tanya anak laki-laki tersebut, tangannya menahan tombol lift agar tetap terbuka.


" Ya aku sedang malas sebenarnya " Jawab Blair dengan senyum yang di paksakan.


" Kau mau kemana Mark ? " Tanyanya basa-basi.


" Aku mau ke lobby, aku sempat melihat pegawai baru yang bertugas di meja resepsionis, aku akan sedikit merayunya " Jawab anak laki-laki yang di sebut Mark itu.


" Cepatlah, atau kau akan ketinggalan pestanya " Lanjutnya masuk ke dalam lift dan mengerlingkan matanya sebelum pintu lift tertutup.


" Ck dasar " Cibir Blair malas, dia sangat paham tabiat teman-teman satu golongannya. Mereka semua anak-anak pengusaha yang selalu saja berbuat sesuka hati, entah itu merugikan orang lain atau tidak, mereka tidak peduli.


Dengan jengah Blair berbalik badan menyusuri lorong yang sepi itu menuju ruang clubbing.


Suara musik mulai terdengar samar-samar, bisa Blair tebak hari ini akan ada pesta besar-besaran karena dia baru ingat pekan lalu salah satu anggota perkumpulannya mengumumkan ulang tahunnya.


Pantas saja ayahnya tidak mengizinkannya absen malam ini, rupanya karena pesta ini. Blair tersenyum miris menyadari kenyataan yang sedang di jalaninya.


Pesta anak orang lain saja dia hapal, tapi ulang tahun anak sendiri harus orang lain yang mengingatkan.


Cibir batinnya sinis. Dia telah sampai di depan pintu masuk aula tempat mereka berpesta. Suara musik terdengar lebih memengkakkan telinga dari tempatnya berdiri. Dia berhenti sesaat, menghela napas panjang sebelum masuk ke dalamnya.


" Lepaskan saja Blair " Teriaknya keras mengepalkan tangannya ke atas. Lalu dengan wajah yang tersenyum dia masuk.


Suasana di dalam ruang disko itu remang-remang di hiasi lampu warna warni yang berkelap kelip. Suara musik berirama cepat terdengar memengkakkan telinga. Tapi para muda mudi yang ada disana sepertinya sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara dentuman keras dari pengeras suara. Mereka malah asyik berjoget di iringin musik dari DJ.


" Hai Blair " Sapa setiap orang yang berpapasan dengannya dan Blair hanya membalasnya dengan senyuman.


Dia langsung menuju meja yang paling besar, tempat dia dan teman-temannya berkumpul.


" Hai Blair, tumben telat " Sapa seorang gadis seraya mengangkat minuman yang ada di tangannya.


" Ya " Jawab Blair malas lalu menghempaskan dirinya di sebelahnya.


" Kau kenapa ? " Tanyanya saat melihat raut jengah yang di tunjukkan oleh Blair.


" Sedang jenuh saja " Jawab Blair mengambil segelas jus jeruk dari meja yang ada di hadapannya.


" Makanya apa ku bilang " Cibir gadis itu menyandarkan dirinya di sandaran sofa.


" Jangan mau pindah sekolah di sana, sekolah itu memang terkenal tapi juga sebuah penjara. Ketat sekali peraturannya dan lagi mereka tidak memandang strata level, mereka mencampur semua anak menjadi satu, bukankah itu menjijikkan ? " Ocehnya panjang lebar, dan Blair hanya mendengarkannya lewat telinga kanan keluar telinga kiri.


Bukan pertama kalinya dia di ceramahi teman-temannya agar segera pindah sekolah saja, dulu dia benar-benar menggebu-gebu untuk pindah, tapi setelah Dylan masuk ke kehidupannya, entah kenapa sekolah itu terasa sangat nyaman baginya.

__ADS_1


Ck !


Batinnya mencelos kecewa kala Dylan muncul lagi dalam pikirannya, salah satu penyebab hari buruknya sekarang.


Dengan marah bercampur sedih dia meletakkan kembali jusnya ke atas meja dan memilih mengambil soju, sejenis minuman keras yang konon katanya mampu memabukkan, dan langsung meneguknya dari botol.


" Terserah kau mau bagaimana, aku tidak peduli lagi " Teriak Blair kesal, namun teriakan itu hanya terdengar bagai cuitan burung kecil di tengah hutan. Ada tapi tak di dengar.


🍁🍁🍁🍁🍁


" Kak ! " Seru Dylan dari sambungan ponselnya, dia syok melihat apa yang ada di depan matanya saat ini.


Rai hanya diam saja tadi saat dia bertanya tugas apa yang akan di berikan padanya. Dia bilang dia sudah memberitahu sopir dan Dylan hanya perlu duduk manis mengikuti sopir yang akan membawanya. Dia tidak menyangka jika harus di tugaskan di tempat yang di anggapnya terkutuk itu. Dylan baru saja turun dari dalam mobil dan langsung berhadapan dengan gedung bertuliskan " club malam ".


" Apa ? " Jawab Rai santai dari ruang keluarga di mansionnya. Dengan Ruby yang ikut menempelkan telinganya di ponsel Rai, menguping. Dia juga penasaran apa tugas yang di berikan Rai untuk Dylan, kenapa menurut Rai itu bisa membantu Dylan untuk menentukan perasaannya pada Blair.


" Kenapa sopir menurunkan aku disini ? Aku tidak mau " Jawab Dylan ketus.


" Kalau tidak mau ya pulang saja, tapi jangan pakai sopir ku, pulang naik taksi " Ucap Rai santai.


" Iya aku akan pulang, aku tidak bercanda " Jawab Dylan kesal. Dia langsung menutup sambungan teleponnya dan berbalik badan.


Dia sangat membenci club malam, membuatnya selalu teringat tentang image buruk ibunya yang selalu menghabiskan malam-malamnya di sana bersama puluhan laki-laki hidung belang ketimbang menemani anaknya di rumah.


" Tuan " Teriak sopir yang baru saja datang dari tempat parkir. Dylan berhenti dan membalikkan badan. Dia buru-buru berlari menghampiri Dylan.


" Mau kemana ? " Tanyanya bingung melihat Dylan malah berjalan ke arah jalan raya bukannya masuk ke dalam club.


" Mau pulang " Jawab Dylan kesal, berbalik badan lagi dan akan meneruskan langkahnya.


" Tapi tuan " Cegahnya, dengan panik dia berjalan menghadang Dylan di depannya.


" Iya aku tau kalau aku pulang aku tidak boleh minta di antar, kakak sudah memberitahuku " Jawab Dylan malas.


" Bu-bukan itu tuan " Jawab Sopir itu takut-takut.


" Kenapa ? " Dylan mengernyitkan keningnya bingung melihat pak sopirnya yang ketakutan.


" Itu... " Jawabnya menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum sungkan.


" Tuan Rai tadi memerintahkan saya untuk bertanya, kalau tuan Dylan mau pulang apa tuan punya uang ? " Tanyanya canggung. Masa menanyakan uang pada anak tuan Regis, begitu pikirnya.


" Uang ? " Dylan semakin bingung mendengar pertanyaan pak Sopirnya. Pikirannya langsung paham. Tidak mungkin the amburadul familynya tidak merencanakan sesuatu. Dengan panik dia merogoh saku bajunya dan saku celananya.


Kosong. Dompetnya mendadak menghilang.


Batinnya kesal menyadari kalau dompetnya pasti di ambil Rai saat tadi mengantarnya ke pintu utama. Pantas saja, tidak biasanya Rai memeluknya kalau hanya sekedar untuk menyemangatinya. Dia kira itu bentuk dukungan untuknya, nyatanya dia menjadi target pencopetan Rai.


" Tidak ada ya tuan ? " Tanya Sopir itu semakin takut melihat ekspresi Dylan yang mengeras marah.


Dylan merasa tidak kehabisan akal, dia melirik pak Sopirnya dan tersenyum. Menemukan cara untuk pulang.


" Ma-maaf tuan, tapi kata tuan Rai saya tidak boleh meminjami anda uang " Ucap Sopir itu ketakutan dan mundur selangkah. Dia tidak mengira Rai bisa memprediksi sejauh itu kalau Dylan pasti akan meminjam uang padanya. Ternyata tuan Rai sangat sakti, batinnya bergidik ngeri.


" Apa ? " Teriak Dylan terkejut mendengar penuturan pak Sopir. Rai sudah mengantisipasi setiap gerakannya, bahkan sampai sedetail ini.


" Baiklah, aku pulang jalan kaki saja " Jawabnya malas, tidak ingin kalah dari Rai. Dia berjalan melewati sopirnya yang masih terbengong syok.


" Tidak " Gumam Pak Sopir semakin panik, jika dia gagal menjalankan misinya maka habislah dia. Ah !!! dia tersenyum girang saat mengingat pesan Rai.


" Oh nona Blair " Serunya dengan lantang.


Mendengar nama Blair di sebut langkah kaki Dylan langsung berhenti. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Dia membalikkan badannya perlahan.


" Hm ? " Dylan memincingkan matanya mengamati keadaan sekitar, tidak terlihat Blair di mana pun. Dia langsung menatap Pak Sopir dengan tajam.


" Wah nona Blair dengan siapa ya ? Apa itu kekasihnya ? " Ucap Pak Sopir tergagap, keringat dinginnya menetes di pelipisnya. Dia harus terlihat meyakinkan dalam mendalami perannya. Selama 20 tahun bekerja untuk Klan Loyard baru kali ini dia harus terlibat urusan pribadi dari tuannya dan itu sangat menakutkan.


" Mana ? " Tanya Dylan kesal, berjalan mendekat kembali ke arah pak Sopir.


" I-itu... " Tunjuknya ke arah pintu masuk club.


" Su-sudah masuk " Jawabnya semakin gugup, takut kebohongannya akan terbongkar, mengingat Dylan bukanlah anak yang bisa di bodohi dengan mudah.


Dylan menghela napas kecewa mendengar Blair datang dengan seorang laki-laki ke tempat seperti ini, tapi dia segera menyadarkan dirinya. Itu bukan urusannya, bukankah dia sudah memutuskan akan melupakan Blair jadi bukan urusannya Blair datang dengan siapa, atau pergi kemana atau akan melakukan apa.


" Nona Blair terlihat sangat cantik sekali malam ini, tapi sayang sepertinya laki-laki yang bersamanya kelihatan bukan laki-laki baik-baik " Gumam Pak Sopir sengaja sedikit lebih keras agar Dylan mendengarnya.


Dylan langsung terhenyak dan menarik tubuh pak Sopir agar menghadapnya.


" Bukan apa kau bilang ? " Tanyanya panik.


" Bu-bukan apa tuan ? " Jawab Pak Sopir mengkerut takut di tatap Dylan dengan tajam begitu.


" Aish !! " Dylan menyentakkan lengan pak Sopir dengan keras lalu berlari ke pintu masuknya. Dia tidak bisa membiarkan si gadis onengnya di perdaya oleh laki-laki tidak bertanggung jawab. Setidaknya demi rasa kemanusiaan, begitu batinnya beralasan. Meski dia tau bukan itu alasan terbesarnya, alasan utama dia berlari adalah karena dia cemburu.

__ADS_1


" Haah... syukurlah " Pak Sopir itu menghela napas lega sembari mengelus-elus dadanya. Misinya berhasil. Dia juga segera berlari menyusul Dylan masuk ke dalam club malam.


" Kartu ID " Cegat penjaga pintu begitu Dylan sampai di depan pintu masuk.


" Tidak ada " Jawab Dylan acuh, pikirannya kalut dan dia harus segera menemukan Blair sebelum terjadi sesuatu.


" Tanpa kartu ID anda tidak boleh masuk " Hadang penjaga pintu tersebut, dan beberapa pegawai langsung berdiri memblokir pintu masuknya, berjaga-jaga kalau Dylan akan menerobos.


" Aish !! " Sentak Dylan semakin kesal, matanya terus saja menatap ke dalam, dia mencari-cari sosok Blair.


" Aku adiknya Rai J Loyard " Jawabnya asal, ini lah pertama kalinya dia menggunakan nama keluarganya.


" Hahahah... " Terdengar gelak tawa terbahak-bahak dari para penjaga pintu, mereka menatap Dylan dengan pandangan meremehkan.


" Hei kalau kau adiknya tuan Rai, maka aku kakaknya. Lalu kau mau apa ? " Tantang salah satu pegawai dengan sombongnya.


" Hei anak muda " Panggil pak Sopir kepada para penjaga pintu itu.


" Jaga ucapan kalian, jika nanti tuan Rai dengar maka tamat riwayat kalian " Ancamnya tegas.


" Maafkan kami tuan " Para penjaga itu menundukkan kepalanya sopan pada Pak Sopir karena mereka mengenalinya sebagai salah satu sopir terpercaya dari keluarga Loyard.


" Biarkan dia masuk, itu perintah tuan Rai " Perintah Pak Sopir.


" Baik tuan " Jawab semua penjaga pintu itu dengan sopan dan kemudian menundukkan kepala.


" Silahkan masuk tuan " Salah satu dari mereka mempersilahkan Dylan masuk dan yang lainnya segera membukakan pintu untuknya.


Syukurlah, misi ku berhasil. Mimpi apa aku semalam, di usia ku yang tidak lagi muda aku harus berbohong kepada anak muda begitu.


Batin pak Sopir menghela napas lega dan berjalan kembali menuju mobilnya, untuk menunggu langkah selanjutnya sesuai instruksi dari Rai.


Bersambung......


.


.


.


.


.


Epilog


Saat Dylan tengah bersiap-siap di kamarnya, Rai memanggil sopir untuk menghadapnya di ruang pribadinya.


" Ya tuan ? " Tanyanya sopan begitu bertatap muka dengan Rai.


" Aku punya misi penting untuk mu, ini antara hidup dan mati Dylan " Jawab Rai dengan tegas.


Pak Sopir itu menelan ludahnya dengan kaku, mendengar kata antara hidup dan mati membuatnya gemetaran. Itu artinya hidup dan mati Dylan ada di tangannya, yang jika di artikan menurut keluarga Loyard, jika Dylan mati maka kau juga mati.


" A-apa tuan ? " Tanyanya gemetaran.


" Antar Dylan ke club malam dan pastikan dia masuk ke dalamnya " Jawab Rai santai.


Club malam ? Cuma mengantar ? Lalu di mana letak hidup dan matinya.


Batinnya bingung sendiri.


" Ha-hanya itu tuan ? " Tanyanya ragu-ragu, tidak mungkin hanya masalah sepele begitu.


" Ya hanya itu " Jawab Rai santai.


Sopir yang telah berusia lanjut itu pun menghela napas lega, itu hanya tugas yang ringan yang menjadi kesehariannya, mengantar jemput. Bukankah memang sudah seharusnya begitu pekerjaan sopir.


" Tapi... " Lanjut Rai tiba-tiba dengan tajam, membuat Pak Sopir yang tadinya terlihat lega langsung menegapkan pundaknya kembali dan menahan napas.


Sudah ku duga.


Jerit batinnya pilu.


" Bagi Dylan itu adalah tempat yang sangat dia benci, dia tidak akan mau masuk ke dalamnya, jadi ini bukanlah hal yang mudah " Jelas Rai dengan sunggingan senyuman miring yang mengerikan.


Sekali lagi Pak Sopir itu menelan ludahnya dengan kaku, tubuhnya yang kembali gemetaran tanpa sadar beringsut mundur.


" Tapi tenang saja, kalau dia tidak mau masuk pakai saja nama Blair, aku yakin akan berhasil " Ucap Rai santai lalu tersenyum lebar.


" Ah ya satu lagi, dia tidak bawa uang, jadi kalau dia meminjam untuk ongkos pulang, jangan di beri " Lanjutnya lagi.


" Baik tuan " Jawab Pak Sopir dengan senyum kaku.


Senang sekali sih mempermainkan jantung orang lain.

__ADS_1


Batin Pak Sopir saat menatap Rai yang sudah kembali berwajah hangat. Jika ada kategori aktor terbaik, maka dia rasa Rai patut jadi pemenangnya. Sedikit-sedikit santai, sedikit-sedikit seram dan itu membuat seluruh pegawainya bisa sedikit lagi gila.


__ADS_2