
Blair mengikuti Dylan yang ada di depannya, berjalan menuju kelas mereka.
" Blair sini biar ku bawakan buku-buku itu " Pekik seorang siswi yang melihat Blair membawa beberapa buku tebal yang menutupi dadanya.
" Ah tidak apa-apa, tadi guru yang menyuruhku, terima kasih " Tolak Blair sopan, dalam hatinya dia sendiri sedikit merasa takut jika memang benar yang di ucapkan Dylan soal bra hitamnya yang lagi-lagi terlihat.
Dengan cepat Blair berjalan menuju kelas mereka dan langsung ke bangku mereka.
Brak !! Blair menghempaskan dengan keras tumpukan buku yang di bawanya ke meja tempat duduknya.
Dylan yang sudah sampai lebih dulu sedang memilah-milah lembaran kertas ditangannya, mengamatinya satu persatu dan kemudian tersenyum sendiri.
Dia benar-benar gila ya ?
Batin Blair semakin kesal melihat tingkah Dylan.
Blair menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan-lahan melalui mulutnya, menenangkan emosinya lalu duduk di tempat duduknya dengan wajah sudah kembali tersenyum ceria.
Namun baru saja Blair duduk, Dylan malah bangkit berdiri, membuat Blair kebingungan. Dylan berjalan ke depan kelas, ke samping meja guru.
" Ini hasil ujian matematika kalian " Ucapnya singkat lalu menaruh tumpukan kertas yang di pegangnya ke atas meja guru dan kemudian berjalan kembali menuju tempat duduknya.
Semua anak yang mendengar itu segera berlari menuju meja guru untuk berebut mengambil hasil kertas hasil ujian matematika mereka. Berusaha menjadi yang pertama sampai di meja guru agar tidak ada orang lain yang tau nilai mereka.
Blair yang masih bingung itu pun menjadi semakin bingung, dia menoleh kesana kemari melihat anak-anak yang sudah bergerombol di depan meja guru saling berebut mencari kertas bertuliskan nama mereka.
" Punya ku... aduh bagaimana kalau mereka tau hasil ujian ku, karena aku yakin nilainya pasti di bawah rata-rata " Gumam Blair cemas.
Dengan kesal dia melirik Dylan yang terlihat acuh dengan suasana ricuh yang dia sebabkan di depan sana.
" Hei tidak bisakah kau bagikan saja hasil ujiannya ? " Tanyanya sengit. Namun Dylan seakan tak mendengar omelan sinis dari Blair, dia terus saja memandangi kertas hasil ujiannya dan tersenyum-senyum sendiri.
Blair semakin panik tapi tidak mungkin dia ikut berebut kertas hasil ujian di depan sana.
" Aduh bagaimana ini ? " Gumamnya semakin panik. Dia bangkit berdiri namun ragu-ragu saat akan melangkah maju. Jika semua murid tau hasil nilainya dan ternyata buruk, maka itu akan jadi gosip di seluruh sekolah juga di media sosial.
Kerumunan murid-murid itupun perlahan membuyarkan diri setelah berhasil mengambil hasil nilai ujian mereka. Dan berbagai ekspresi tergambar di raut wajah mereka. Mulai dari menghela napas kesal, malas, jengah dan masa bodoh.
" Blair " Panggil salah seorang siswi yang masih ada di depan meja guru. Blair tercekat, dia diam membatu.
Tamat sudah riwayatku.
Batinnya panik. Wajahnya pias dengan keringat yang membasahi dahinya. Dengan susah payah dia berusaha menelan ludahnya yang terasa berat.
" Y-ya ? " Jawabnya gugup, dia menahan napas, tegang sebelum semua aibnya terbongkar.
" Kenapa nilaimu tidak ada ? " Tanyanya bingung.
" Oh ya ? " Blair langsung menghela napasnya lega, namun dia segera menguasi diri agar bisa bersikap normal.
" Apa ada yang membawa nilai hasil ujian Blair ? " Teriaknya pada teman-teman seisi kelasnya.
Mendengar hal itu seisi kelas sibuk memeriksa nilai hasil ujian mereka, siapa tau nilai hasil ujian Blair terselip di antara milik mereka.
" Tidak ada "
" Iya aku juga tidak ada "
" Punya ku juga tidak ada " Jawab semua teman-temannya seraya mengguncang-guncangkan kertas milik mereka agar Blair melihatnya dan percaya.
" Ah ya kemana ya ? " Tanya Blair berpura-pura ikut penasaran dan berjalan ke depan menuju meja guru. Dia memeriksa setiap sudut lantai meja guru, siapa tau nilai hasil ujiannya terjatuh. Tapi dalam hati Blair merasa sangat lega jika kertas itu hilang, bahkan dia berharap kertas hasil ujiannya itu tidak sengaja ikut terbuang dan menjadi bungkus kacang saja.
" Mungkin masih tertinggal di ruang guru, nanti aku akan mengambilnya kesana " Ucap Blair kemudian setelah berpura-pura sibuk mencari di bawah kolong meja.
Dengan wajah yang sumringah dan kembali percaya diri dia melihat berkeliling kelas.
Deg !! Jantungnya tiba-tiba berpacu dengan cepat manakala tatapan matanya beradu dengan tatapan tajam mata Dylan dan ekspresi dinginnya seraya melambai-lambaikan sebuah kertas di tangannya.
Aku yang gagal paham atau memang dia seperti sedang menunjukkan padaku jika itu hasil ujianku ya ?
Batin Blair menatap Dylan dengan serius.
Tidak mungkin, pasti Manager Yo sudah mengaturnya untuk ku, tidak mungkin itu kertas hasil ujian ku.
__ADS_1
Lanjutnya menenangkan diri, namun melihat gelagat aneh yang di tunjukkan Dylan mau tidak mau membuat Blair memiliki firasat lain.
Dylan yang terus saja menatap Blair dengan tajam dan dingin itu seperti mengerti apa yang ada di pikiran Blair, dia kemudian mengangkat tangannya yang lain dengan menenteng kertas yang sama.
Mati sudah aku !!
Pekik Blair dalam hati dan terhuyung mundur beberapa langkah.
Dengan langkah gontai dia berjalan kembali ke bangkunya, dirinya terus berdoa jika yang di pegang Dylan bukanlah kertas hasil ujiannya.
Begitu Blair mendekat Dylan menaruh kembali kedua kertas yang ada di tangannya, menumpuknya jadi satu dan memasukkannya kedalam tas.
Apa ? Kenapa ? Apa dia mempermainkan aku ?
Cecar batin Blair semakin kesal dengan sikap Dylan.
Dengan gugup Blair kembali duduk di bangkunya, hatinya ragu-ragu menimbang apakah harus bertanya pada Dylan atau masa bodoh dengan nilainya, tapi jika memang yang di pegang Dylan adalah nilainya, maka itu akan menjadi masalah.
Tunggu dulu, untuk apa juga dia menyembunyikan nilai ku ?
Batinnya bertanya-tanya.
Ei apa kau tidak tau ? Dia itu haters mu, tentu saja dia butuh sesuatu untuk menjatuhkanmu di media sosial.
Sanggah batinnya lagi.
Blair melirik Dylan dengan ragu-ragu. Namun Dylan sedang asyik membaca sesuatu di bukunya saat ini.
" Blair " Sapa teman yang duduk di bangku depannya.
" Ya ? " Jawab Blair lemas, dirinya masih bingung memikirkan kira-kira kertas apa yang di pegang oleh Dylan tadi.
" Saat ujian kemarin kau bisa menjawab soalnya tidak ? " Tanya teman yang di ingat Blair bernama Bella tersebut.
" Ya kurasa bisa sedikit " Jawab Blair berbohong, padahal dalam kenyataannya selama 1 jam waktu ujian yang di berikan oleh guru itu, hanya 5 soal yang mampu dia kerjakan, selebihnya zonk. Selain karena dia memang lemah di matematika juga karena rasa gugupnya perihal tangannya yang tiba-tiba di genggam oleh Dylan.
" Melihatmu yang tenang begitu aku rasa nilaimu bagus ya ? " Jawab Bella iri, dia lalu menunjukkan kertas yang di pegangnya kepada Blair.
" Ma-marah ? " Tanya Blair bingung.
" Kenapa mereka marah ? Kan nilai ujian mu sempurna ? "
" Sempurna ? Sempurna itu hanya jika nilai ujian ku mendapatkan 100 " Jawabnya polos.
Blair diam membeku sejenak mendengarkan cerita Bella, seumur hidupnya ayah dan ibunya tidak pernah bertanya bagaimana hasil ujiannya, berapa nilai yang dia dapatkan. Berapapun itu orang tuanya tidak peduli. Ayahnya hanya akan marah jika dirinya tidak mau pergi ke club dan mendekatkan diri dengan anak-anak orang kaya lainnya, anak-anak pejabat, pemegang saham-saham besar dan anak-anak pemilik perusahaan terkenal.
Menurut ayahnya, koneksi di bidang bisnis itu lebih penting dari sebuah nilai. Begitu pun tujuan utama ayahnya memindahkan Blair ke sekolah ini, adalah agar dia bisa lebih mengerti tentang Klan Loyard dan bersiap-siap menjadi bagian di dalamnya. Nilai bagus ? Itu hanya sebuah coretan angka di atas kertas, begitulah prinsip ayahnya.
Semula Blair pun malas masuk sekolah yang terkenal ketat dengan peraturannya ini, namun ayahnya berbohong, dia berdalih bahwa belajar adalah yang terpenting dalam hidup, merasa ayahnya sedikit berubah Blair pun menyetujui keputusan ayahnya untuk masuk sekolah ini. Namun seperti ujarnya pepatah kuno " Watuk ( batuk ) ada obatnya, tapi watak tidak ada obatnya ", ternyata semua itu hanya akal-akalan dari sang ayah saja. Itu pun baru di ketahuinya beberapa hari yang lalu saat memergoki Manager Yo berbicara dengan ayahnya di ruang kerja ayahnya yang ada di rumah.
" Blair.... Blair ? " Bella menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Blair yang malah melamun saat mendengarkan ceritanya.
" Oh ? " Blair tersadar dari pikirannya sendiri, dan tersenyum sungkan kepada Bella.
" Maaf ya aku tidak mendengarkanmu, aku merasa agak aneh hari ini. Sepertinya kepala ku sedikit pusing " Jawab Blair seraya memijit-mijit kepalanya.
Dylan yang tadinya tidak peduli dengan obrolan kedua gadis itu pun sedikit memerosotkan bahunya setelah mendengar kata sakit yang di ucapkan Blair.
Sudah ku duga dia sakit, kalau tidak mana mungkin dia berteriak selantang itu di lapangan tadi.
Batin Dylan seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
" Selamat pagi anak-anak ? " Sapa Pak Tomy yang baru saja masuk kedalam kelas dan langsung berjalan menuju mejanya. Suasana yang tadinya riuh ramai membahas hasil ujian kini mulai mereda.
" Bagaimana hasil ujian kalian ? " Tanya Pak Tomy basa basi.
" Ah soalnya susah sekali "
" Nilai ku turun dari ujian kemarin "
" Aish kenapa ditanyakan sih, suasana hatiku sedang buruk nih " Suara menggerutu murid-murid yang kesal itu pun langsung memenuhi ruangan.
Pak Tomy yang sedang membuka bukunya itu pun hanya tersenyum lucu melihat wajah murid-muridnya yang kesal.
__ADS_1
" Baiklah, baiklah lain kali bapak akan memberikan soal yang lebih mudah lagi " Ucapnya berusaha menenangkan keributan kecil di kelas.
" Sekarang buka buku hal 67 " Lanjutnya lagi.
" Pak... " Bella mengangkat tangannya menginterupsi. Pak Tomy yang tadinya menunduk melihat bukunya kini mendongak menatap Bella.
" Ya kenapa Bella ? " Tanyanya santai.
" Hasil ujian Blair tidak ada " Ucapnya lantang, semua anak yang tahu itupun mengangguk sebagai pembenaran.
" Be-bella i-itu... " Dengan panik dan terbata-bata Blair berusaha mencegah Bella yang berinisiatif menanyakan hasil ujiannya.
" Punya Blair ? " Tanya Pak Tomy bingung.
" Semua sudah bapak berikan pada Dylan, dia menghitungnya dan lengkap tadi " Jelas Pak Tomy.
Semua orang kompak menoleh ke arah Dylan, termasuk juga Blair. Memberikan tatapan kesal padanya, bagaimana dia bisa diam dengan tenang padahal dia tau hasil ujian Blair tidak ada, setidaknya begitulah yang ada di kepala teman-temannya, namun hanya Blair yang berdoa semoga Dylan menghilangkannya.
Dylan yang berpura-pura polos merogoh tasnya dan mencari-cari di dalamnya.
" Ah ya maaf, terselip di kertas ku " Jawabnya santai seraya menenteng kertas tersebut.
Remahan kerupuk ini memang paling jago membuat orang sport jantung, dia...dia...
Maki Blair dalam hati seraya menatap tajam Dylan.
" Apa sih anak itu tidak jelas "
" Sekali menyebalkan tetap menyebalkan "
" Pantas saja dia tidak punya teman " Cacian demi cacian di dengungkan oleh murid-murid yang lain begitu mengetahui hasil ujian Blair ada padanya.
" Terima kasih " Jawab Blair sinis lalu dengan kasar merebut kertas miliknya yang ada di tangan Dylan.
" Sudah, sudah, mungkin Dylan tidak sengaja. Sudah ayo cepat, kita mulai pelajaran kita " Pak Tomy berjalan menuju papan tulis dan menuliskan bab pembahasan mereka kali ini.
" Vektor... " Teriak Pak Tomy lantang, lalu melanjutkan dengan penjelasan panjang kali lebar tentang semua materi yang berkaitan dengan vektor.
Semua murid menyimak dengan seksama, begitu juga Blair, namun pikirannya tidak pernah tertuju pada penjelasan dari guru. Dia sibuk memikirkan apa alasan Dylan melakukan hal ini, menyimpan kertas hasil ujiannya.
Dia pasti haters ku, tidak mungkin kan dia menyimpan barang-barangku jika dia bukan haters ku. Masa dia fans ku ? Itu malah teori konsprirasi global yang tidak mungkin terjadi. Dia saja selalu membahas bra ku jika mulutnya terbuka. Omo !!
Pekiknya terkejut dan perlahan-lahan menoleh ke arah Dylan, mengamati Dylan yang sedang serius mencatat pelajaran yang di tuliskan pak Tomy.
Atau dia sebenarnya jatuh cinta padaku ? Gara-gara aku memberinya jaket kemarin ? Ya pasti dia salah paham, siapa yang tidak akan salah paham jika seorang artis memberikanmu sebuah barang. Aish kenapa aku sangat bodoh sih. Padahal itu hanya bentuk rasa bersalahku karena aku merobek-robek jaketnya. Salah siapa selalu membuatku kesal, jadi aku melampiaskannya pada benda tak bersalah itu.
Blair mengutuki dirinya sendiri dan membenamkan wajahnya di meja, memukul-mukul pahanya lalu menghentak-hentakkan kakinya pelan.
Dylan yang melihat itu mengernyitkan keningnya bingung.
Apa dia sesakit itu sampai harus berbaring di meja ?
Batin Dylan cemas. Dengan perlahan dan tanpa suara, dia mengambil jaketnya dari dalam tasnya yang ada di samping meja. Lalu menyelimutkannya ke punggung Blair.
Blair merasakan ada yang menutupi punggungnya itupun sontak bangun dan menegakkan punggungnya. Dia terkejut melihat sebuah jaket menyampir di pundaknya dan menoleh ke arah Dylan dengan cepat dan bingung.
" Apa ini ? " tanya Blair berbisik dan mendelik takut, takut jika firasatnya benar Dylan jatuh hati padanya.
" Pakai saja, kau terlihat sakit " Jawab Dylan bergumam tak jelas.
" Kau yang sakit kenapa aku yang harus pakai jaket ? " Bisik Blair bingung, telinganya menangkap Dylan mengatakan " Aku terlihat sakit ".
" Haah... Dasar oneng " Gumam Dylan tak jelas lagi.
" Mataku sakit harus melihat bra hitam mu itu tercetak jelas di punggungmu, mengerti ? " Jawab Dylan berbisik asal lalu kembali fokus pada pelajaran.
Kau... kau... akan ku buat pelajaran denganmu.
Blair mengepalkan tangannya erat dan giginya gemeratakan menahan emosinya yang sudah mencapai batas titik didihnya.
Aish !! Kenapa selalu bra itu sih yang ku buat alasan, pasti dia berpikir aku orang yang mesum. Aiissh !!
Teriak Dylan malu di dalam hatinya, namun dia berusaha menyembunyikannya lewat wajahnya yang selalu dingin dan serius mendengarkan penjelasan guru.
__ADS_1