Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Kecewa


__ADS_3

Ruby melirik jam yang ada dinakasnya dan terkejut, lalu dengan cepat bangun dan duduk.


" Hei bangun-bangun " Ruby menggoyangkan tubuh Rai yang ada disampingnya.


Rai menggeliat dan memeluk tubuh Ruby, membuatnya kembali jatuh tertidur.


" Aish ! " Ruby berdecak kesal, dia lalu menyingkirkan tangan Rai yang melingkar di lehernya.


" Sudah lebih dari 2 jam kita meninggalkan Raline, dia pasti menangis " Ucap Ruby dan segera duduk kembali.


Mendengar nama Raline di sebut, Rai juga ikut bangkit dan duduk.


" Aku lupa kalau sudah punya anak " Jawabnya spontan dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, disusul dengan Ruby.


Namun Ruby yang sudah mulai terbiasa bergerak cepat sejak memiliki anak itu selesai lebih cepat dari Rai, dia lalu bergegas ke ruang ganti dan dengan asal mengambil baju santai. Tak lupa juga menyiapkan baju untuk Rai dan menaruhnya di atas sofa yang ada di sana.


" Sayang, aku akan menemui Raline lebih dulu ya " Teriak Ruby dari balik pintu kamar mandi.


" Oke " Jawab Rai yang masih sibuk membasuh dirinya di bawah guyuran air shower.


" Bajumu aku siapkan di sofa ruang ganti ya " Teriak Ruby lagi.


" Ok " Teriak Rai sebagai jawabannya.


Ruby segera bergegas menuju pintu untuk keluar dari kamarnya, namun saat dia akan memutar handle pintunya, ponsel Rai yang ada di nakas berdering. Semula Ruby ingin mengabaikannya, namun ponsel itu terus berbunyi.


" Siapa tau itu penting " Ruby kembali dan menghampiri ponsel Rai, mengambilnya. Dokter Noh, begitulah yang tertulis di layarnya.


" Oh ini kan dokter khusus ayah, pasti penting " Tanpa pikir panjang Ruby segera mengangkatnya.


" Selamat sore tuan, maaf mengganggu anda, saya hanya ingin memberitahukan pada anda masalah ayah mertua anda " Dokter Noh langsung saja menjelaskan bahkan sebelum Ruby sempat mengucapkan kata hallo.


Mendengar nama ayahnya disebut Ruby sangat terkejut. Dia mengernyitkan keningnya khawatir, jantungnya berpacu seiring dengan berbagai kemungkinan buruk yang terlintas di pikirannya, tapi selama ini jika dia bertemu dokter Noh, dia selalu menyampaikan bahwa ayahnya baik-baik saja.


" Ehem " Ruby berdehem sebagai jawab untuk dokter Noh.


" Ah begini tuan, kami sudah menemukan jantung yang cocok untuk ayah mertua anda " jelas dokter Noh dan wajah Ruby seketika sumringah, tersenyum lebar hampir memekik girang, bayangan buruk yang sedari tadi menari-nari di kepalanya dalam sekejap menghilang.


" Tapi masalahnya adalah... " Lanjut dokter Noh ragu-ragu, nada suaranya merendah membuat Ruby yang sudah di atas awan merasa kembali terlempar ke bumi dengan keras, ada sesuatu yang salah, pikirnya.

__ADS_1


Ruby segera mematikan sambungan teleponnya dan mengirimkan pesan kepada dokter Noh, karena sepertinya Rai dan dokter Noh menyembunyikan sesuatu.


Kau bisa mengatakannya melalui pesan saja.


Ketik Ruby cepat dan mengirimkannya kepada Dokter Noh. Hanya butuh waktu sebentar saja dan dokter Noh sudah membalasnya.


Maafkan saya tuan, saya tidak tau kalau nyonya Ruby ada disamping anda. Begini, saya sudah menemukan jantung yang cocok untuk ayah mertua anda, tapi masalahnya, keluarga pendonor ingin meminta imbalan sebesar 3 miliyar. Dan juga masalah yang lainnya, kemungkinan tubuh ayah mertua anda menerima jantung barunya juga semakin menurun.


Balasan dari Dokter Noh membuat Ruby membelalak terkejut, ponsel Rai yang ada di tangannya meluncur jatuh, lolos dari pegangan tangannya yang gemetaran membaca pesan dari dokter Noh.


Apa maksudnya ini ?


Batin Ruby bingung, kepalanya tiba-tiba berputar-putar dan dia jatuh terduduk di samping ranjang.


Dengan tangan yang masih gemetaran dia mengambil kembali ponsel Rai, dan membaca semua pesan dokter Noh dari waktu ke waktu.


Ayah mertua anda telah mati otak tuan. Meskipun mendapat donor jantung, saya tidak yakin mertua anda bisa kembali bangun dari komanya.


Deretan pesan-pesan yang di baca Ruby semakin membuat tubuhnya gemetaran hebat. Air mata menggenang di pelupuk matanya, siap untuk mengalir turun menjadi anak sungai yang membasahi pipinya.


" Kau belum pergi ? " Tanya Rai bingung melihat Ruby yang masih ada dikamarnya dan belum keluar.


" Sedang apa kau duduk disitu ? " Tanyanya lagi semakin bertambah heran melihat Ruby yang duduk bersimpuh di dekat ranjang.


" Cari apa ? " Tanya Rai mendekat perlahan.


" Ah ketemu " Pekik Ruby dengan nada berpura-pura girang. Dia berdiri dengan cepat seraya menunjukkan cincinnya.


" Tiba-tiba saja ini terlepas dan menggelinding kesana " Ruby menunjuk kolong bawah ranjang dengan dagunya.


" Oh cincin mu " Jawab Rai mengangguk-angguk.


" Cepat ganti baju mu, aku akan segera turun, dan kau juga cepatlah menyusul kebawah " Perintah Ruby dan dijawab dengan anggukan Rai lalu berbalik menuju ruang ganti.


Setelah Rai menghilang di dalam ruang ganti, Ruby segera mengambil ponsel Rai dan menghapus riwayat panggilan serta pesan dari dokter Noh. Dia akan mencari tahu sendiri ada apa dengan ayahnya, kenapa sampai harus Rai menyembunyikan hal sebesar itu padanya.


Dengan tangan yang masih gemetaran dan perasaan yang kacau di mengembalikan ponsel Rai ke tempatnya semula, lalu berjalan gontai keluar kamarnya.


Setengah melamun dia berjalan menuruni tangga, pikirannya terus saja melayang kepada ayahnya yang ada di rumah sakit.

__ADS_1


3 miliyar, bukanlah uang sedikit, dan lagi donor jantung sekarang juga tidak akan menjamin ayahnya bisa bangun dari komanya dan sembuh total. Tapi bagaimana jika ternyata tubuhnya bisa menerima donor jantungnya, maka ayahnya bisa berkumpul bersama lagi dengannya. Bukankah 1% itu juga kesempatan yang patut di coba. Tapi bisakah dia dengan tega meminta uang sebanyak itu kepada Rai, sedangkan dirinya sudah berhutang terlalu banyak kepada keluarga barunya.


Dengan tingkat konsentrasi yang rendah itulah Ruby berjalan tanpa melihat anak tangga yang di pijaknya, membuat langkahnya tidak terarah dan tergelincir, keseimbangannya goyah.


" Kau baik-baik saja ? " Rai berhasil menangkap tubuh Ruby tepat saat dirinya hampir saja jatuh.


" I-iya " Ruby yang terkejut tiba-tiba Rai sudah menangkapnya menjawab dengan terbata-bata.


" Kau kenapa dari tadi aneh sekali ? " Tanya Rai seraya membantunya berdiri tegak.


" Entahlah, tiba-tiba kepala ku jadi sedikit pusing " Kilah Ruby, mereka kembali berjalan menuruni tangga dengan Rai yang merangkul pinggang Ruby, menjaganya tetap aman.


" Apa itu efek karena kita melakukannya, padahal kata dokter setidaknya harus 3 bulan kita tidak melakukan itu ? " Tanya Rai kepada Ruby.


" Bukan, bukan karena itu, aku hanya... " Ruby berusaha mencari alasan, namun bayangan ayahnya terus saja memenuhi kepalanya.


" Rai... " Panggil Ruby ragu-ragu.


" Hm ? " Jawab Rai tanpa menoleh ke arah Ruby dan terus saja memeluknya seraya berjalan menuju taman belakang mansion.


" Besok akhir pekan, boleh aku mengunjungi ayahku ? " Tanya Ruby takut.


" Tentu saja, bukankah setiap sabtu kau pergi kesana, kenapa harus minta izin lagi " Jawab Rai santai.


" Bukan begitu, aku ingin kesana tanpa membawa Raline, bolehkah ? " Tanyanya lagi.


" Tumben ? " Rai menoleh ke Ruby kali ini, menghentikan langkahnya. Pertanyaan Ruby sedikit mengusiknya, biasanya Ruby tidak akan mau berpisah dengan Raline walau hanya sebentar saja, dan lagi Ruby selalu membawa serta Raline jika mengunjungi ayahnya, untuk mengenalkan Raline pada kakeknya.


" Aku... " Ruby berusaha mencari alasan, dia butuh waktu sendiri untuk berbicara dengan dokter Noh tanpa gangguan, jika bersama dengan Raline maka konsentrasinya akan terpecah.


" Apa kau benar-benar kesakitan ? " Tanya Rai panik karena melihat wajah Ruby yang pucat seperti menyembunyikan sesuatu.


" Tidak " Jawab Ruby cepat.


" Aku baik-baik saja, tidak kenapa-kenapa, aku hanya ingin berdua saja dengan ayah " Ruby berbohong.


" Haaah... syukurlah " Rai menghela napas lega, di peluknya lagi Ruby saat mereka sampai di depan pintu yang menghubungkan halaman belakang dengan bagian dalam mansion.


" Aku takut sekali acara terbang kita tadi membuatmu kesakitan, jangan menahannya sendirian, kau harus membaginya dengan ku, mengerti ? " Lanjut Rai lirih, membenamkan wajah Ruby di dadanya.

__ADS_1


" Tentu saja, aku tidak akan menyembunyikan apapun dari mu, ku harap kau juga tidak menyembunyikan apapun juga dari ku " Jawab Ruby membalas pelukan Rai, hatinya berdenyut nyeri mendengarkan pernyataan Rai, bagaimana bisa dia mengucapkan hal seperti itu sedangkan dirinya sendiri telah menyembunyikan kondisi ayahnya.


Kau bohong Rai, aku kecewa.


__ADS_2