
Ruby meminta maaf kepada petugas yang ada di kantor polisi.
“ Baiklah lain kali mohon di perhatikan rambu-rambu lalu lintas “ Polisi itu memberikan pengarahan.
“ Baik pak, kedepannya saya akan lebih berhati-hati “ Ruby menjawab sopan menundukkan kepalanya.
“ Silahkan “ Polisi itu mempersilahkan Ruby untuk pergi.
“ terima kasih banyak, selamat malam semoga pekerjaan anda lancar “ Ruby berpamitan kepada para polisi.
Ruby keluar dari kantor polisi, Rai menunggu nya bersandar pada mobilnya. Ruby yang melihatnya sok keren tiba-tiba menyesal telah mengakui perasaannya.
Mungkin aku benar-benar sudah gila, mengakui perasaan ku pada laki-laki seperti itu. Aish ini gara-gara pengamen itu sampai-sampai aku dengan bodohnya menyanyi di tempat umum. Tunggu, bisa saja dia cuma menganggap itu hanya sebuah lagu, mana mungkin dia menganggap aku sedang menyatakan cinta, tentu saja, aku akan mengelak kalau itu hanya sebuah lagu. Ruby memandang Rai sinis yang tersenyum lebar kepadanya.
Memakai topi dan kacamata hitam besar untuk menyembunyikan wajahnya. Beralasan menjaga nama baik Klan dia menyuruh Ruby mengakui bahwa itu mobilnya. Karena kartu identitas Ruby belum memakai nama Klan Loyard.
“ Semuanya lancar sayang ? “ Rai tersenyum lebar menyambut Ruby yang mendekatinya.
“ Lepas kacamata mu, memangnya siapa yang malam-malam memakai kacamata hitam seperti itu, membuatmu terlihat seperti orang bodoh “ Ruby memakinya dan mendorong tubuh Rai kesamping, membuka pintu mobil dan membanting pintunya didepan wajah Rai.
“ Sayang “ Rai mencoba memanggilnya. Namun dia sadar bahwa Ruby sedang marah. Dia memutari mobil dan masuk kedalamnya. Duduk di balik kemudi dan melihat Ruby yang sedang cemberut di sampingnya.
“ Sayang jangan marah, aku hanya... “ Rai berusaha menjelaskan tapi urung dilanjutkan karena tatapan tajam Ruby kepadanya. Tidak ingin memperpanjang masalah ini dia pun melajukan mobilnya.
Suasana di dalam mobil sangat hening, Ruby merasa canggung. Dia pun menekan tombol on pada audio mobil. Suara lagu yang tadi di nyanyikan Ruby menggema, wajahnya merona.
Dia melirik Rai kesal, melihat wajah Rai yang tersenyum lebar membuatnya semakin kesal. Dia memindah saluran radio, tapi lagi-lagi hanya lagu itu yang terdengar. Ruby mengernyitkan alisnya.
Apa radionya rusak ya ? Ruby menekan saluran-saluran lain tapi tetap saja lagu itu yang terdengar.
" Hei apa radio mobilmu rusak ? Kenapa hanya lagu ini yang terdengar ? " Ruby bertanya heran.
" Tidak, mana mungkin mobilku rusak " Suara Rai sinis.
" Lalu kenapa hanya lagu ini yang di putar ? " Ruby menunjuk radio mobil itu.
" Aku tadi menghubungi sekertaris Yuri, menyuruhnya membooking seluruh stasiun radio di sini agar cuma lagu ini yang di putar " Suara Rai santai.
" Apa ?!? " Ruby terkejut.
" Daebak !! Kau sungguh luar biasa " Ruby menyindirnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Pagi ini bukan lagi alarm yang membangunkan Ruby, tapi lagu yang dia persembahkan untuk Rai semalam. Bayi besarnya itu memerintahkan pak Handoko agar memutar lagu itu setiap hari di rumah, dia bahkan mengganti nada dering ponselnya, juga nada dering pesannya.
" Rai bisa tolong kau matikan lagu itu, aku kasihan pada penyanyi nya, sepanjang malam dia bernyanyi untuk kita " Ruby memohon malas, dengan asal memberikan alasan.
" Aneh kenapa tiba-tiba kau suka lagu kak ? " Ken juga bertanya heran.
" Itu karena... " Rai antusias menceritakannya.
" Karena lagunya enak " Ruby memotong.
Rai menatap Ruby tajam. Dia tidak suka Ruby yang selalu menyembunyikan perasaannya.
" Wah istri mesum ku rupanya sudah berani memotong pembicaraan ku " Rai berkata tajam.
" Uhuk uhuk " Ken terbatuk mendengar kata-kata Rai. Dia dan Ruby segera menoleh seketika ke arah Ken.
" Rai !!!! " Suara Ruby meninggi.
" Aku tidak mendengar apa-apa, sungguh, aku tidak mendengar apapun " Ken mencoba menengahi.
Rai hanya tertawa keras melihat Ruby yang kesal karena rahasianya terbongkar. Ruby menundukkan wajahnya yang merona merah terbakar karena malu, sekarang bahkan Ken tau dia punya pikiran mesum.
Apa yang akan di pikirkan Ken sekarang, aku tidak percaya jatuh cinta pada ular berbisa itu.
Ruby memukul piringnya dengan garpu.
Baginya sekarang lebih baik terkurung dirumah, setidaknya dia hanya akan melihat Rai saat pagi dan malam hari, tapi sekarang 24 jam yang dia miliki seperti seutuhnya milik Rai.
Ini semua karena keserakahanku, kalau saja aku bersyukur terkurung di mansion, aku pasti tidak akan mendapat julukan istri mesum.
Ruby sudah sampai di depan club, kakinya terasa berat untuk memasukinya.
Ckiiitt !!! Bunyi rem mobil di belakang Ruby. Dia berhenti untuk menghela nafas, siap akan melontarkan makiannya untuk Rai yang pasti sekarang berdiri di belakangnya untuk menggodanya.
Lihat saja, sekali lagi kau menggodaku, kau akan rasakan akibatnya.
Telapan tangan menyentuh pundak Ruby, dia semakin kesal. Kemarahannya mendidih.
" Apa ? Apa ? Kau ingin bilang pada semua orang kalau aku mesum, katakan saja, aku sudah tidak peduli omongan orang, bagiku mendengarmu memanggilku mesum mesum mesum sudah membuatku susah bernafas " Ruby menoleh dan memakinya dalam satu tarikan nafas.
" Apa itu pengakuan mu ? " Ken bertanya, senyumnya tidak enak.
" Apa ?!?! " Ruby berteriak. Membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
Rai yang ada disebelah Ken semakin tertawa terbahak-bahak. Wajah Ruby sudah tidak bisa di gambarkan lagi, merah, ungu, biru, hijau atau apalah.
Ruby berbalik secepat kilat dan berlari menuju ruang cleaning service.
Aku ingin jadi relawan untuk pergi ke mars !!! Teriak hati Ruby.
Semua orang sudah berkumpul di ruang cleaning service untuk melaksanakan apel pagi. Entah kenapa perasaan Ruby tidak enak, kesialan seakan terus mengelilinginya.
Benar saja, Rai masuk ke ruangan untuk mempimpin apel. Ruby tau itu dilakukan Rai hanya untuk menggodanya.
" Selamat pagi semua, saya yang mempimpin apel hari ini. Selalu jaga kedisiplinan kalian dan bekerjalah dengan semangat. Baiklah selamat bekerja, semoga pekerjaan kalian lancar " Rai mengakhiri apel pagi itu.
Semua pegawai bernafas lega karena Rai sudah pergi meninggalkan mereka.
" Ah ya dan kendalikan pikiran kalian, jangan ada yang punya pikiran mesum, demi kesehatan mental kalian " Tiba-tiba Rai kembali menambahkan.
Membuat semua orang yang semula sudah bergerak jadi mematung seketika.
Ular berbisa, otak udang !!!! Ruby menghentak hentakkan kakinya kesal.
Ruby, Ken, dan Rai sedang berada di ruangan 999. Hari ini Rai mengadakan rapat tertutup. Ruby disana tentu saja karena perintah Rai.
Ken yang melihat Ruby terus cemberut tersenyum.
" Aku tidak punya pikiran apapun tentangmu, tenang saja " Ken mencoba menenangkan Ruby.
" Diam " Ruby menjawab sinis.
Rai yang memeriksa dokumen-dokumen yang di bawakan Ken hanya tertawa tanpa memandang mereka.
Brakkk !!!! Pintu terbuka dengan keras. Ken dan Ruby terlonjak.
" Rai !!! " Teriak Ignes yang menghambur masuk, kemarahan tergambar jelas di wajahnya.
" Hei, apa kau tidak punya sopan santun!! " Rai berteriak kepada Ignes.
" Aku tidak punya, bagaimana bisa aku bersopan santun saat aku tau kau mencium wanita lain di alun-alun kota semalam " Suara Ignes meninggi.
" Apa ?!? " Ken dan Ruby kompak terkejut.
Mungkin Ken terkejut dengan berita itu, tapi Ruby terkejut karena dia berpikir bagaimana bisa Ignes tau, apakah rahasianya akan terbongkar.
" Darimana kau tau ? " Tanya Rai santai, dia tidak terkejut sama sekali.
__ADS_1
" Aku melihat video viral mu yang mencium seorang gadis " Ignes melemparkan ponselnya ke atas meja.
" Apa ?!?! " Kali ini mereka bertiga kompak terkejut.