
Dylan yang mencari-cari keberadaan Rai bertemu dengan salah satu petugas keamanan, dia bertanya kemana Rai dan rombongan membawa dokter itu pergi, dan petugas itu menjelaskan bahwa mereka semua pergi ke atap.
Dylan bergegas menyusul mereka, dengan langkah terburu-buru dia menaiki lift. Jantungnya berpacu dengan cepat, bingung apa yang akan di lakukannya nanti saat tau Rai memukuli dokter tersebut.
Dylan bahkan telah menyusun berbagai macam pilihan tindakan apa yang akan di ambilnya nanti.
Satu, melerainya.
Dua, menghentikannya.
Tiga, membiarkannya.
Empat, kabur saja.
" Kalau aku menganggap mereka semua adalah the amburadul family hari ini aku tarik ucapanku, mereka semua the garangs family " Gumamnya panik.
Ting ! Suara dentingan lift membuyarkan pikiran Dylan, pintu lift terbuka dan dia langsung berlari keluar.
Di atap rumah sakit yang luas itu terdapat banyak sekali kursi malas dan juga pohon2 yang tidak terlalu besar namun cukup membuatnya terlihat asri. Di kejauhan dia melihat Rai sedang duduk di salah satu kursi malas namun dengan posisi yang tidak santai. Di kelilingi oleh petugas keamanan yang mengikutinya tadi.
Dia duduk tegak seraya menyangga tangannya dengan tongkat besi pemukul baseball, sedangkan dokter Noh sedang berlutut di hadapannya dengan mengangkat kedua tangannya dan terlihat seperti sedang memohon ampun.
" Tongkat itu benar-benar menganggu ku, bagaimana memintanya dari kakak ya ? " Gumam Dylan panik.
" Kak bisa ku pinjam tongkatnya ? Untuk apa ? Aku ingin latihan baseball. Nih " Dylan mengoceh sendiri, berlatih kalimat yang tepat untuk menyingkirkan tongkat baseball yang di anggapnya berbahaya itu.
" Kalau aku memintanya seperti itu kira-kira dia akan memberikannya dengan baik-baik atau memberikannya dengan cara menghantamkannya ke arahku ya ? " Dylan berspekulasi, menghitung peluang keberuntungannya menghadapi Rai yang sedang hilang kendali seperti itu.
" Aish kenapa tadi aku ikut sih " Dylan menghentakkan kakinya kesal, bingung, dan putus asa.
Dia mengamati Rai untuk sesaat, di lihatnya Rai hanya diam saja dan itu seperti sebuah peluang untuknya meminta tongkat berbahaya itu. Dia mendekat perlahan-lahan.
" Dari mana kau ? " Tanya Rai begitu melihat Dylan sudah ada di dekatnya.
" Kaki ku belum terbiasa berjalan cepat seperti kaki mu " Kilah Dylan asal.
" Siapa tadi yang membekap mulutmu ? " Tanya Rai.
" Itu Dasya " Jawab Dylan cepat.
Rai akan membuka mulutnya untuk melontarkan pertanyaan lagi namun sebuah langkah terburu-buru di belakangnya membuat semua orang menoleh.
Tiga orang penjaga datang bersama kedua perawat yang terlihat ketakutan, dengan bergandengan tangan kedua perawat itu menghampiri Rai dengan ragu-ragu.
" Duduk disini " Ucap Rai menunjuk dua kursi santai yang ada di samping tempatnya duduk dengan pandangan matanya. Namun kedua perawat itu masih saja diam tak bergerak. Rai menatap mereka berdua dengan jengah.
" Duduklah selagi aku masih berbicara normal kepada orang normal seperti kalian " Perintah Rai lagi.
Mendengar ancaman Rai, kedua perawat itu langsung duduk dengan tergopoh-gopoh. Dylan mengamati kedua perawat itu, kaki dan tangan mereka gemetaran hebat.
Dylan mengerti apa yang akan terjadi dengan kedua perawat itu, mereka akan habis dengan cara yang tidak mudah, namun yang masih belum dia mengerti kenapa si dokter juga harus ikut terlibat disini. Bukankah dokter itu tidak punya kesalahan apapun, begitu nilai Dylan yang sedari tadi mengikuti Rai dan mencoba menebak alur pikirannya.
Rai merasakan ponselnya bergetar di dalam sakunya, dia mengambilnya dan melihatnya sekilas.
__ADS_1
" Bagaimana ? " Tanyanya kepada si penelepon.
" Ok " Jawab Rai singkat lalu menutup sambungan teleponnya.
" Baiklah sekarang waktunya bermain baseball " Ucap Rai lantang seraya berdiri. Semua keamanan langsung bersikap siaga dan ketiga target malah semakin menciut takut.
" Kau minggir dulu " Perintahnya pada dokter Noh dan langsung membuatnya berdiri untuk menepi jauh dari Rai.
" Untuk kalian berdua " Rai berdiri di depan kedua perawat yang sudah menangis tanpa suara sedari tadi.
" Bergosip lah " Perintahnya dingin dan membalikkan badan memunggungi kedua perawat yang saling bertatapan bingung dengan perintah Rai.
Semua orang yang ada disana mengerti apa yang di maksud Rai, tapi kedua perawat itu masih tidak paham kenapa mereka di panggil kesini.
" Ma-maafkan kami tuan " Ucap mereka lirih di antara isak tangisnya. Namun tiba-tiba saja Rai berbalik dengan cepat dan mengayunkan tongkat pemukul baseballnya dengan kencang.
Braakk !! Rai memukul kursi malas yang ada di samping kedua perawat itu dengan tongkat pemukul baseball hingga patah berantakan hanya dalam sekali pukulan.
" Aaahh.... " Jerit kedua perawat itu berbarengan, mereka saling memeluk satu sama lain dan semakin keras menangis.
" Aku menyuruh kalian bergosip, bukannya minta maaf " Ucapnya dingin dengan penuh kemarahan.
Namun kedua perawat itu mengatupkan mulutnya erat dan hanya menangis sesegukan. Dylan yang merasa kasihan berinisiatif meredakan amarah Rai.
" Kak coba tolong pelan sedikit, mereka wanita " Ucapnya ragu-ragu.
" Wanita ? " Tanya Rai seraya tersenyum seram.
" Ah ya aku lupa kalau mereka wanita, mereka juga masih wanita kan saat menggosipkan Ruby seperti itu ? Aku benar-benar hampir lupa " Rai tergelak setelah menyelesaikan kalimatnya, namun bukannya merasa lega, seluruh orang yang ada disana malah semakin merasa takut.
" Jadi kalian pilih yang mana ? Spesies laki-laki atau serangga ? " Tanyanya dingin kepada dua perawat yang semakin menangis hingga bahu mereka terguncang dengan kencang.
" Maafkan kami tuan " Kedua perawat itu langsung berlutut di bawah kaki Rai seraya mengatupkan kedua tangannya rapat.
" Baiklah kalau begitu buktikan bahwa kalian menyesal telah menggosipkan Ruby seperti itu " Jawab Rai acuh.
" Tentu tuan, tentu " Seru mereka cepat dan menganggukkan kepalanya penuh semangat, mereka akan melakukan apapun perintah Rai selama itu bisa menyelamatkan nyawa mereka berdua.
" Tampar dia untuk ku " Perintah Rai dingin dan menatap kedua perawat itu dengan tajam.
Mereka berdua mengernyitkan kening bingung dan saling melemparkan pandang.
" Kau menamparnya atau kau menamparnya, atau kalian berdua saling menampar " Lanjut Rai menunjuk kedua perawat itu bergantian.
" Salah satu diantara kalian yang bisa melukai lawannya lebih parah, maka dia akan selamat, tapi bagi yang kalah, bersiap-siaplah " Ancam Rai menyeringai seram.
Plak !!! Sebuah tamparan keras terdengar begitu Rai menyelesaikan kalimatnya. Perawat pertama itu memegangi pipinya dan berurai air mata. Dia menatap temannya tajam penuh kemarahan. Tanpa menunggu lama dia pun membalas tamparan perawat kedua. Dan mereka terlibat aksi saling tampar menampar.
Dylan yang melihat hal itu bergidik ngeri, memikirkan dirinya yang dulu berniat balas dendam kepada Klan Loyard tanpa tau betapa kejamnya Rai, dan ini adalah kemarahan Rai, belum kemarahan Regis, bagaimana jika Regis lah yang marah. Dia semakin bergidik ngeri tidak mampu membayangkannya.
Melihat kedua perawat itu saling tampar Rai menghela napas jengah. Dia kemudian melemparkan tongkat baseball yang sedari tadi di pegangnya ke arah kedua perawat itu.
Bunyi dentingan besi yang beradu dengan lantai seperti sebuah sirine pemisah. Mereka berdua berhenti.
__ADS_1
" Kalau kalian saling tampar seperti itu, sampai besok pun tidak akan ada yang terluka, pakai itu saja, setidaknya itu bisa meremukkan kepala salah satu di antara kalian dengan waktu singkat " Ucap Rai santai.
Kedua perawat dan semua orang yang mendengar ucapan Rai semakin bergidik ngeri, bagaimana Rai dengan santainya merekomendasikan aksi brutal dan kejam seperti itu dengan ekspresi wajah sedatar itu.
" Kenapa ? Kalian takut ? " Ucapnya lagi saat melihat kedua perawat itu diam mematung memandangi tongkat besi pemukul baseball itu.
" Cih " Cibir Rai sinis.
" Begitu saja takut, kalian sama sekali tidak berbakat jadi pembunuh dengan tangan kalian, tapi kalian sangat berbakat sekali membunuh dengan mulut kalian " Sindirnya dingin.
" Baiklah kalau kalian menolak kebaikanku, akan aku ajarkan bagaimana cara memukul yang benar dan membuat lawan kalian ambruk hanya dalam sekali pukulan " Ucapnya santai, lalu tiba-tiba dengan gerakan yang sangat cepat Rai sudah berlari ke arah Dokter Noh dan melakukan tendangan tinggi memutar, menghantam persis rahang Dokter Noh dan membuatnya ambruk seketika.
" Kau " Tunjuk Rai kepada kepala keamanan.
" Jelaskan padanya apa itu tadi " Perintah Rai.
" Itu adalah tendangan tinggi memutar dalam ilmu bela diri taekwondo, tendangan tadi mengincar leher, rahang atau bahkan kepala, jika tendangan di lakukan oleh seorang profesional maka bisa berakibat fatal, dalam sekali tendangan yang mengarah ke leher bisa membuat tulang leher patah berujung kematian, tapi tuan Rai melakukannya dengan sangat hati-hati jadi dokter Noh hanya akan mengalami patah tulang rahang dan membutuhkan waktu paling cepat 4 minggu untuk sembuh " Jelas Kepala keamanan dengan detail.
Baik Dylan maupun kedua perawat itu hanya melongo mendengarkan penjelasan santai yang di berikan kepala keamanan, seakan-akan itu hanya sebuah pelajaran 1+1 maka hasilnya adalah 2.
" Paling tidak buatlah lawan kalian harus sembuh minimal 3 minggu, dengan begitu kalian akan selamat " Perintah Rai lagi kepada kedua perawat itu.
Sedangkan petugas keamanan yang lain segera sigap dan mengangkat Dokter Noh untuk membawanya keruang perawatan.
" Awasi mereka sampai mereka selesai " Perintah Rai kepada petugas keamanan yang tersisa. Lalu kemudian beranjak pergi.
" Ayo " Ajaknya pada Dylan yang hanya terbengong saja.
" Apa salah dokter Noh hingga harus menjadi objek contoh untuk kedua perawat itu ? " Tanya Dylan ragu-ragu.
" Aish anak ini masih belum paham juga " Rai merangkulkan lengannya ke leher Dylan dan memitingnya seraya terus saja berjalan. Dylan yang tidak bisa bergerak terpaksa mengikuti Rai dengan terbungkuk-bungkuk.
" Kau kira aku tidak punya akhlak sampai harus memukuli orang yang tidak bersalah, tanganku ini hanya di gunakan untuk menghukum mereka yang berdosa. Dokter Noh itu bekerja sama dengan keluarga pasien yang koma untuk memeras Ruby, meminta imbalan sebesar 3 miliyar untuk jantung ayahnya padahal dia sendiri tau kondisi ayah Ruby tidak mungkin tertolong lagi, bukankah dia berdosa, adikku yang penuh belas kasih ? " Ejek Rai.
" Cih " Cibir Dylan kesal, jika dia tau yang terjadi sebenarnya dia juga tidak akan menaruh belas kasihan kepada seorang penjahat seperti itu.
" Tidak salah Ken menjadikan mu ranger pink, kau memang pria berhati pink " Ejeknya lagi seraya terus menyeret Dylan pergi dari atap.
" Lepaskan ! " Saut Dylan ketus.
" Coba sendiri kalau bisa " Goda Rai lagi dan semakin menguatkan pitingannya.
" Hei, sakit kak ! " Teriak Dylan keras, dan Rai terus saja melakukannya hingga mereka tiba di parkiran mobil.
Sementara itu di dalam mobilnya Blair, Nania serta manager Yo sedang mengamati keadaan.
" Kenapa kita tidak pulang-pulang Dasya ? " Tanya Nania kesal.
" Ish mama ini diam sebentar saja dong, aku ingin memastikan sesuatu " Jawab Blair ketus.
" Hah ?!?! " Pekiknya keras saat melihat Rai menghampiri mobilnya dengan memiting leher Dylan.
" Apa ? " Pekik Nania ikut terkejut namun tidak tau apa yang di teriakkan Blair.
__ADS_1
" Tamat sudah riwayatmu remahan kerupuk, aku sudah memperingatkanmu tapi kau sok sekali, sekarang aku lepas tangan " Ucapnya sedih dan kemudian memberikan perintah pada Manager Yo untuk meninggalkan area rumah sakit.