Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pemakaman ( bagian 1 )


__ADS_3

Matahari telah beranjak cukup tinggi, Ruby merasa sudah cukup berjalan-jalannya dan hatinya juga sudah merasa cukup tenang, sudah saatnya dia pergi ke rumah sakit dan menemui ayahnya.


" Kau yakin ? " Tanya Rai sekali lagi saat mereka telah sampai di parkiran. Ruby hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun tetap saja masih terlihat gurat kesedihan terpancar dari matanya.


" Kau harus tau kalau kau selalu bisa mengandalkan aku " Ucap Rai mengecup kening Ruby, cukup lama lalu memeluknya erat.


" Aku tau " Jawab Ruby lirih, dan membalas pelukan Rai, menyandarkan kepalanya di dada Rai, merasakan detak jantung Rai yang berdetak dengan ritme teratur, membuatnya sedikit merasa tenang kembali. Ruby mengangkat wajahnya setelah menarik napas panjang, Rai menatap wajahnya dan terlihat sekali bahwa Ruby memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Rai lalu melepaskan pelukannya dan membukakan pintu mobil untuknya.


" Terima kasih " Ucap Ruby lirih dan kemudian masuk ke dalam mobil.


Rai lalu berjalan menuju mobilnya yang lain dan mereka pun pergi ke rumah sakit.


" Ibu minta maaf nanti tidak bisa mengantarmu memakamkan ayahmu, Raline biar ibu saja yang menjaganya " Ucap Adelia saat mereka berada didalam mobil.


" Aku tidak mau merepotkan ibu, biar para pelayan saja yang menjaganya " Jawab Ruby sungkan.


" Merepotkan apa, ini cucu ibu juga, mana ada nenek yang di repotkan dengan cucunya, lagipula ibu senang sekali dengan Raline, dia sangat lucu dan menggemaskan. Lihat ini pipinya yang gembul, dia pasti menyusu sangat banyak " Ucap Adelia seraya menciumi Raline yang sedang tidur di gendongannya.


" Apa dia tadi menangis ? " Tanya Ruby.


" Tidak, dia tidak menangis sama sekali, apa dia masih sering menangis saat malam hari ? " Tanya Adelia, niatnya mengalihkan pikiran Ruby selama perjalanan menuju rumah sakit sepertinya berhasil. Semua ibu pasti akan lupa waktu jika sudah membicarakan anaknya.


" Iya dia masih suka menangis dan pilih-pilih siapa yang menggendongnya " Cerita Ruby antusias.


" Oh ya ? " Tanya Adelia lalu tertawa mendengar cerita Ruby tentang para laki-laki yang sampai harus memakai pakaian khusus jika menggendongnya.


Setelah beberapa lama menempuh perjalanan ke rumah sakit, mereka pun akhirnya tiba. Sopir yang mengemudikan mobil yang di tumpangi Ruby segera menghentikan mobilnya tepat di depan pintu lobby rumah sakit, dan para perawat yang menunggu kedatangan mereka pun langsung bergegas membukakan pintu mobil.


Ruby keluar dari dalam mobil dengan gugup, tangannya basah oleh keringat dingin dan tiba-tiba saja dadanya terasa sesak saat mencium aroma khas rumah sakit.


Para perawat dan juga dokter yang akan melepaskan alat penunjang hidup ayah Ruby pun ikut berpakaian serba hitam, seakan mengucapkan turut berbela sungkawa walau tanpa mengatakannya sekalipun.

__ADS_1


Sekertaris Yuri yang lebih dulu maju menghadap dokter dan berbicara sebentar, setelah itu baru dia mempersilahkan Regis beserta rombongan untuk pergi bersama-sama ke ruang perawatan ayah Ruby.


Rai menggandeng tangan Ruby, karena dia tau bahwa Ruby sangat gugup saat ini. Dia merasakan tangan Ruby merem*snya saat mereka menaiki lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai khusus.


Jangan menangis, jangan menangis...


Ucap Ruby berulang kali di dalam hatinya, dia sudah merelakan ayahnya, dan ini juga demi kebahagiaan ayah dan ibunya, menahannya lebih lama lagi tidak akan memberikan kebahagiaan untuk siapapun.


Ting ! Suara denting lift pun membuat Ruby terhenyak dari lamunannya, hanya tinggal beberapa meter lagi dia akan bertemu ayahnya untuk yang terakhir kalinya.


Terdengar Dokter menjelaskan sambil berjalan tentang prosedur saat nanti melepaskan alat penunjang hidup yang menempel di tubuh ayah Ruby. Namun semua penjelasan dokter sama sekali tidak masuk di ingatan Ruby. Semakin dekat mereka dengan ruang perawatan semakin erat juga Ruby menggenggam tangan Rai.


Kriieett ! Suara pintu yang di buka oleh perawat berdecit panjang, perasaan Ruby semakin campur aduk. Jika saja bukan karena Rai yang menahan punggungnya mungkin Ruby sudah ambruk saat ini, bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya membatalkan keputusannya untuk mengakhiri detak jantung ayahnya, detak jantung yang dia perjuangkan selama ini.


Dokter memakai sarung tangan yang telah di persiapkan oleh perawat. Dan mulai mendekati ayah Ruby yang terbaring tak bergerak di ranjangnya.


" Permisi tuan, saya akan memulainya " Ucap Dokter itu.


Regis menoleh ke arah Ruby seakan meminta persetujuan darinya. Namun Ruby tidak berkonsentrasi karena sibuk menatap wajah ayahnya. Dengan pandangan nanar dia berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya.


" Menangislah sayang " Bisik Rai lirih di telinga Ruby karena dia merasakan Ruby bukan lagi mengeratkan pegangan tangannya, tapi sudah masuk level mampu meremukkan tulang-tulang dengan genggaman tangannya.


Ruby tidak mengindahkan saran dari Rai karena dia sudah berjanji akan melepas ayahnya dengan bahagia, bukan dengan meratapinya serta menangis meraung-raung.


Ayah... aku masih tetap merasa ini tidak benar, aku masih berharap ada keajaiban yang terjadi disini saat ini juga. Aku ingin memperjuangkanmu sampai benar-benar yakin bahwa memang sudah saatnya aku berhenti. Ayah, maaf telah menahanmu selama ini padahal mungkin saja saat ini kau sudah bahagia bersama ibu. Tapi aku mohon... bangunlah, aku juga sama seperti ibu, selalu menunggumu disini. Aku mohon ayah, berilah aku tanda bahwa keputusan yang ku ambil ini salah, bahwa kau akan bangun lagi dan hidup panjang umur bersamaku sampai Raline dewasa. Aku mohon ayah...


Rengek Ruby didalam hatinya, setitik keegoisan dalam hatinya seperti menyala-nyala dan membakar semua niatnya semula yang ingin merelakan ayahnya pergi. Hatinya hancur berkeping-keping saat memikirkan detak jantung ayahnya akan berhenti begitu alat-alat itu di lepas.


Namun seperti ayah Ruby sedang berada di ruangan itu, mendengarkan seluruh keluh kesah putrinya yang tak terucap melalui bibirnya yang sudah berwarna putih pucat, tiba-tiba saja suasana hening pekat yang menyelimuti seluruh ruangan itu di buyarkan oleh suara denting nyaring dari alat pendeteksi detak jantung yang ada di samping ranjang ayahnya.


Ruby berjengit kaget dan mundur satu langkah, berharap itu adalah sebuah pertanda yang di berikan oleh ayahnya bahwa ayahnya akan memenuhi permintaan Ruby untuk bangun lagi. Berharap itu adalah suatu pertanda keajaiban yang sedari tadi di teriakkan oleh hatinya.

__ADS_1


" Permisi tuan " Ucap Dokter itu terburu-buru dan mendekati tubuh ayah Ruby dengan sigap, mengeluarkan pena dari saku jasnya dan menyalakan senter di ujung pena tersebut.


Dengan gerakan cepat dia membuka kedua mata ayah Ruby secara bergantian dan menyinarinya dari sinar senter yang di pegangnya. Lalu menghela napas sedih dan menggelengkan kepalanya.


Tidak, bukan... jangan bilang itu adalah pertanda buruk, jangan bilang.... jangan bilang.


Kekalutan menyelimuti pikiran Ruby saat melihat Dokter yang sepertinya sudah pasrah.


" Maaf tuan, itu adalah tanda kegagalan alat vitalnya yang lain, detak jantungnya kan berhenti bahkan sebelum alat-alat ini di lepas " Ucap Dokter itu kemudian dengan penuh simpati.


Ruby yang mendengar itu kembali mencengkram tangan Rai yang di pegangnya, seolah ayahnya memang memberikan jawaban atas permintaannya, namun bukan jawaban yang di inginkan Ruby.


Tiiiiiiiit ! Nada panjang dari alat pendeteksi detak jantung itu berbunyi lantang, menyayat hati dan menggoreskan perih tak terlihat di hati Ruby, menandakan ayahnya telah pergi untuk selama-lamanya, seolah menolak di bangunkan lagi.


Ayah kenapa kau tega sekali, kenapa kau lakukan ini padaku.


Teriak batin Ruby pilu, tubuhnya sedikit terhuyung mundur namun Rai menahannya dengan kuat.


" Baiklah dokter lepaskan alat-alat itu " Perintah Rai mengambil alih, sudah tidak ada alasan lagi berharap keajaiban, ayah Ruby seperti sudah membuat pilihannya sendiri.


Dokter dan perawat pun bergerak dengan sigap untuk melepas satu persatu alat-alatnya.


" Kau baik-baik saja ? " Tanya Rai khawatir.


" Ya " Jawab Ruby masih berusaha memaksakan diri untuk tersenyum.


" Kau masih ingin disini ? Dokter akan membersihkan tubuh ayahmu sebelum di makamkan, apa kau ingin mengucapkan salam perpisahan ? " Tawar Rai.


" Tidak, aku ingin menunggu di luar saja " Jawab Ruby gemetaran. Rai pun langsung memapah istrinya untuk pergi ke luar, di ikuti dengan seluruh keluarga.


Mereka menuju ruangan di sebelah kamar perawatan ayah Ruby, ruangan yang khusus di bangun untuk Raline saat mereka menjenguk ayah Ruby seharian.

__ADS_1


Rai membantu Ruby untuk duduk di sofa yang ada di sana. Dengan tatapan kosong Ruby hanya mengikuti kemana Rai menuntunnya. Dia masih shock oleh jawaban yang di berikan oleh ayahnya, bahwa ayahnya lebih memilih bersama ibunya daripada harus kembali bangun dan menemaninya.


Tidak tau harus senang atau harus bersedih, hati Ruby hanya terasa kosong.


__ADS_2