
Pagi menjelang, Dylan mengawali harinya dengan penuh semangat. Setelah mendapat pencerahan dari kakak-kakaknya, dia kembali bersemangat dan berjanji akan bersikap lebih baik lagi kepada Blair.
Pukul 06.00, semua orang sudah mulai berdatangan ke ruang makan, Regis yang baru saja berjalan-jalan pagi dengan Raline serta Adelia itu pun sampai lebih dulu di meja makan. Lalu Dylan serta Sekertaris Yuri menyusul. Sedangkan Kiran dan Ken serta Ruby dan Rai masih belum tampak batang hidungnya.
Setelah menunggu beberapa saat, Rai dan Ruby akhirnya turun dan bergabung dengan mereka.
" Maaf ya bu selalu menyusahkan " Ucap Ruby sungkan melihat Adelia menggendong Raline.
" Tidak apa-apa sayang, ibu senang bisa membantu di rumah ini. Ibu sempat bingung harus berbuat apa, mau membantu memasak, para koki melarang. Mau membantu membersihkan rumah, para pelayan melarang, ibu jadi tidak enak tinggal disini hanya makan dan tidur saja " Bisik Adelia sungkan.
" Iya sama, aku juga merasa tidak enak bu, untungnya ada bayi besar itu yang selalu memberiku pekerjaan yang aneh-aneh, jadi aku merasa diriku sedikit berguna disini " Angguk Ruby memahami bagaimana perasaan Adelia.
Mereka semua berkumpul di meja makan, menunggu Ken dan Kiran. Cukup lama mereka menunggu, namun Kiran dan Ken tidak kunjung datang.
" Baiklah kita mulai saja sarapannya tanpa mereka, Dylan bisa terlambat jika harus menunggu mereka " Ucap Regis mempersilahkan semua orang untuk memulai sarapannya. Namun baru saja mereka memulainya Kiran terlihat berlari tergopoh-gopoh menuju meja makan, dia hanya sendirian.
" Maaf aku terlambat, aku masih belum bisa menyesuaikan waktu tidur ku " Ucapnya sungkan.
" Tidak apa-apa " Jawab Ruby santai dan yang lainnya hanya menatapnya maklum.
" Mana Ken ? " Tanyanya kemudian karena melihat Ken tidak menyusulnya.
" Dia masih tidur, susah sekali di bangunkan " Jawab Kiran ragu-ragu.
" Sudah biarkan saja, kalian pasti lelah jadi beristirahatlah di rumah beberapa hari sebelum mulai bekerja lagi " Ucap Regis sabar.
Kiran memang memutuskan akan tetap bekerja di sekolah Loyard menjadi guru BK walau sebenarnya Regis menolak. Tapi mereka semua tidak bisa melarang hak asasi Kiran untuk menentukan pilihannya sendiri.
Kiran segera mengambil tempat duduk di sebelah Dylan, dan mengambil sepotong sandwich lalu meletakkannya di piringnya. Baru saja dia akan memakannya, ponsel yang ada disakunya berbunyi. Bukan hanya ponsel Kiran, tapi juga ponsel ke empat anggota ranger yang lainnya.
Kenapa kalian tidak membangunkanku ?
Pesan dari Ken di dalam grup.
Keempat penerima pesan itupun mengabaikannya dan kembali meletakkan ponsel mereka dengan posisi terbalik di dekat piring.
Tidak ada yang membalas ? Keterlaluan kalian.
Kembali ponsel mereka berbunyi, dengan kompak mereka pun mengecek pesan tersebut. Setelah melihatnya mereka kembali meletakkan ponsel mereka tanpa membalasnya.
Sekertaris Yuri, Regis serta Adelia hanya terus mengikuti gerakan ke empat orang di meja makan.
" Ponsel kalian janjian atau bagaimana ? Kenapa bisa bersamaan begitu saat berbunyi " Tanya Regis heran.
" Ranger hitam " Jawab mereka bersamaan tanpa menoleh ke arah Regis.
Regis hanya menghela napas melihat tingkah laku anak-anaknya yang terkadang di luar normal.
Keluarga macam apa ini ? Darimana mereka semua mendapatkan kekonyolan itu ?
Batin Regis seraya menghela napas panjang.
Tak lama berselang Ken berlarian menuju meja makan, dengan memakai pakaian santai yang kelewat santai, dia hanya mengenakan kaos yang kebesaran dan celana pendek berwarna hitam, dengan cepat dia langsung mengambil tempat duduk di samping Kiran.
" Maaf aku terlambat, aku masih kesulitan menyesuaikan waktuku dengan di selandia baru " Ucapnya dan langsung mengambil makanan.
Mereka semua sarapan dalam suasana hangat, jika dulu suasana di meja makan terasa kaku tanpa suara, kini peraturan itu seakan telah berubah tanpa pemberitahuan terucap. Mereka semua sibuk saling bercerita yang membuat hubungan mereka semakin erat setiap harinya.
__ADS_1
Selesai sarapan mereka semua mulai melakukan aktifitasnya masing-masing, Dylan lebih dulu berangkat sekolah bersama Sekertaris Yuri. Regis bersama Adelia serta Raline kembali menuju taman untuk bermandikan cahaya matahari yang kaya akan vitamin D. Sedangkan ke empat rangers itu menuju ruang keluarga sembari menunggu waktunya Rai berangkat bekerja.
" Kapan kau mulai bekerja ? " Tanya Rai kepada Ken.
" Besok " Jawab Ken santai seraya mengangkat satu kakinya dan menopangkannya ke kaki yang lain.
" Cepatlah bekerja, Sekertaris Yuri sangat kewalahan mengurusi banyak hal, dia menjadi sangat sibuk hingga tidak pernah sempat berkencan " Perintah Rai.
" Iya iya kelak aku akan membalas jasanya dengan mencarikannya seseorang untuk kencan buta " Jawab Ken asal.
" Rai... " Potong Ruby ragu-ragu.
" Hm ? " Jawab Rai seraya menoleh ke arah Ruby yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu namun terlihat takut.
" Aku boleh minta uang ? " Ruby menundukkan kepalanya, belum pernah sekalipun dalam pernikahan mereka Ruby meminta uang.
" Baiklah " Jawab Rai asal tanpa bertanya lebih lanjut, dia kemudian merogoh saku jasnya untuk mengambil dompetnya. Lalu membukanya dan memeriksa uang tunai yang ada di dalamnya.
" Maaf hanya ada ini, aku jarang pegang uang tunai, biasanya jika dompetku kosong Sekertaris Yuri yang akan mengisinya " Rai memperlihatkan dompetnya kepada Ruby, terlihat pecahan uang nominal seratus ribu beberapa lembar.
" Kau kan punya kartu kredit, kenapa tidak pakai itu saja " Lanjut Rai bingung.
" Tempat yang ingin aku membeli sesuatu tidak ada mesin untuk menggesek kartu kreditnya " Jawab Ruby.
" Itu saja kalau boleh untuk ku " Tunjuknya kedalam dompet Rai.
" Ambillah kalau begitu " Dia mengambil seluruh uang yang ada di di dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Ruby.
" Terima kasih " Ucap Ruby seraya mengambil uang tersebut, berniat akan memasukkannya ke dalam dompetnya
" Tunggu " Cegah Rai tiba-tiba dengan suara keras.
" Kenapa ? " Tanyanya bingung.
" Mana dompetmu " Jawab Rai. Dia kemudian merogoh saku celana Ruby untuk mencarinya, hanya beberapa detik merogoh saku Ruby, Rai sudah memegang benda kecil berwarna merah marun tersebut dan langsung membukanya untuk memeriksa. Melihat setiap kantong di dalamnya, bahkan merogoh-rogohnya.
" Kau cari apa ? " Tanya Ruby semakin bingung. Begitu juga Ken dan Kiran.
" Kau tidak menyimpan foto ku didalam sini ? " Tanya Rai ketus.
" Tidak " Jawab Ruby polos.
" Kenapa ? " Rai mulai kesal.
" Y-ya aku tidak menyimpannya saja " Jawab Ruby tergagap bingung.
Rai lalu kembali memeriksa dompetnya, ada beberapa lembar uang seratus ribu juga di dalam dompet Ruby.
" Ini apa ?!? " Sentaknya marah seraya mengangkat uang yang ada di dalam dompet Ruby.
" I-itu uang " Jawab Ruby kembali bingung, tidak mengerti ada apa dengan Rai, begitu juga Kiran dan Ken.
" Ini kau menyimpan foto laki-laki lain di dalam dompetmu " Teriaknya kesal.
Ruby, Kiran serta Ken langsung terhenyak dan mendekat ke arah Rai, ikut memeriksa foto siapa yang ada di dalam dompet Ruby.
Aku tidak menyimpan foto siapapun didalamnya kok.
__ADS_1
Batin Ruby heran.
" Mana kak ? " tanya Ken bingung, dia langsung menyambar dompet Ruby dan ikut memeriksanya, tidak di temukan foto laki-laki manapun, bahkan foto keluarga Ruby juga tidak ada.
Ken bahkan mengeluarkan semua isi dompet Ruby untuk mengeceknya sekali lagi, hanya ada kartu kredit yang di berikan Rai, kartu ATM milik Ruby sendiri, kartu tanda pengenal, serta struk-struk hasil belanja Ruby.
" Kau ini ! " Omel Rai kesal.
" Mata mu tidak awas sekali sih " Lanjutnya lagi.
Dia kemudian mengangkat uang seratus ribuan yang tadi di pegangnya dan menunjukkannya pada mereka bertiga.
" Memangnya ini bukan foto laki-laki ? " Tunjuknya kesal lalu melemparkan uang-uang itu kehadapan mereka. Dan mereka pun segera mengambilnya lalu membolak-balikkan uang tersebut.
" Hei " Ruby tertawa kecut setelah mengerti maksud Rai dengan foto laki-laki lain.
" Ini masih pagi dan kau sudah membuat keributan macam begini ? " Tanyanya di sela tawanya yang kesal melihat sikap Rai.
" Tentu saja aku kesal, kau lebih memilih menyimpan foto laki-laki lain daripada foto ku " Teriaknya marah.
" Ini bukan foto, ini uang, dan gambarnya memang begitu " Balas Ruby tak kalah sengit seraya menyodorkan uang itu tepat kehadapan wajah Rai.
" Kau kan bisa menyimpan uang yang gambarnya hanya wanita, kenapa memilih yang gambarnya laki-laki kalau bukan genit namanya ? " Sanggah Rai asal dan menepis tangan Ruby.
" Aku saja bahkan tidak mengamati gambar siapa yang tercetak di uang itu " Omel Ruby kesal.
" Sudahlah ! Mulai sekarang pakai saja kartu kreditmu dan simpan foto ku di dompetmu " Perintah Rai.
" Memangnya kau butuh uang untuk apa sih ? " Tanyanya lagi.
" Aku dengan ibu Adelia bermaksud ingin menjadi donatur tetap di sebuah panti asuhan yang ada di pinggir kota " Ucap Ruby. Rai menelengkan kepalanya menatap wajah Ruby.
" Kapan kau pernah berkunjung ke panti asuhan ? " Selidik Rai semakin kesal.
" Aku belum pernah kesana, aku hanya mendengar dari Ibu Adelia, beliau sering pergi ke panti asuhan untuk menjadi donatur " Ruby menghempaskan tubuhnya kesandaran kursi dan menyilangkan kedua tangannya didada, kesal melihat tingkah laku Rai.
" Disana itu mereka menjual berbagai macam kerajinan hasil karya anak-anak panti asuhan, aku tidak bisa membelinya dengan kartu kredit karena mereka tidak punya mesin geseknya, jadi selain menyumbang uang aku juga ingin membeli hasil karya mereka dan menjualnya lagi, hasilnya akan di kembalikan pada mereka " Jelasnya malas.
" Ya sudah " Jawab Rai masih marah. Lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Sekertaris Yuri.
" Kau tau uang yang hanya bergambar wanita ? " tanya Rai tanpa basa-basi, mereka bertiga langsung menoleh cepat begitu mendengar pertanyaan Rai kepada Sekertaris Yuri.
" Mulai sekarang sediakan uang itu sebanyak mungkin di rumah, jadi Ruby hanya boleh menggunakan uang yang bergambar wanita " Perintahnya lagi.
Mereka bertiga saling berpandangan semakin heran melihat perintah tidak masuk akal Rai.
" Memangnya ada uang yang gambarnya wanita ? Aku tidak pernah memperhatikan gambar siapa yang ada di dalam uang " Tanya Ruby bingung. Ken mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Ruby, pertanda bahwa dia juga tidak tahu. Sedangkan Kiran terlihat berpikir dan memasukkan tangannya ke saku celananya.
Namun tangan Kiran seperti menyentuh gumpalan kertas kering yang pastinya lupa dia keluarkan sebelum mencuci pakaian. Dia mengeluarkannya dan melihatnya.
" Heol " Pekiknya terkejut.
" Apa ? " Tanya Ken dan Ruby berbarengan.
" I-ini uang yang bergambar wanita " Ucapnya gelagapan dan menunjukkan selembar uang seribuan yang telah usang itu kepada Ruby dan Ken.
Ruby dan Ken mendelik melihat apa yang di tunjukkan Kiran, lalu mereka bertiga menoleh dengan kompak ke arah Rai yang baru saja selesai bicara dengan Sekertaris Yuri dan menaruh ponselnya di saku.
__ADS_1
" Apa ? " Tanya Rai polos di tatap oleh mereka bertiga dengan sengit.
" Cukup Rhoma !!! " Pekik mereka bertiga berbarengan layaknya paduan suara.