
Dylan dan Blair berpisah saat berjalan menuju kantin untuk makan siang. Sebenarnya Blair tidak masalah jika dia menjadi bagian dari gosip bersama Dylan, tapi Dylan bersikeras tidak ingin Blair juga ikut di kucilkan.
Di kucilkan bersama Dylan, seribu tahun juga rela.
Begitulah batin Blair mengacuhkan setiap prasangka yang nantinya mungkin akan muncul. Tapi karena Dylan memintanya dengan lembut dan manis mau tidak mau Blair menurutinya dengan berat hati.
Blair meminta Dylan ke kantin lebih dulu, dengan begitu nanti dia yang akan menghampiri Dylan di mejanya, beralasan tidak ada lagi meja yang kosong. Tentu saja hal itu akan berhasil, memangnya siapa yang mau duduk dengan Dylan. Rencana yang sempurna jika saja Dera tidak terlibat di dalamnya.
Dylan yang sudah lebih dulu duduk di tempat duduknya terlihat sedang sibuk memakan makan siangnya dengan khusyuk. Sementara Blair yang baru saja mendapatkan makan siangnya berpura-pura celingukan mencari tempat duduk yang kosong. Bukan Blair namanya jika tidak pandai berakting, meski terasa janggal karena ada banyak sekali murid yang rela mengosongkan tempat duduk mereka, berharap Blair mau duduk bersama mereka.
Blair berjalan menuju meja Dylan di iringi pandangan mencegah dari murid-murid yang lain, seolah berkata " jangan di sana Blair, sayangi nyawamu ", namun mereka tidak bisa berbuat banyak. Reputasi Dylan yang seorang anak pembunuh itu masih membuat mereka takut.
" Permisi " Sapa Blair manis.
Dylan yang sudah hapal suara Blair memilih mengacuhkannya, dia sadar ini bukan lagi di ruang kelas atau ruang uks di mana mereka bebas bicara dari jarak dekat.
Lho ? Kok dia dingin sekali ?
Blair kebingungan sendiri, namun dia tak patah semangat, dia langsung saja duduk di samping Dylan tidak peduli Dylan akan setuju atau tidak.
Namun terkadang cerita cinta memang tak semulus kulit plastik boneka barbie, Dera yang sedari tadi sudah mengambil ancang-ancang untuk menggagalkan segala bentuk kedekatan Dylan dengan Blair itu langsung ikut bergabung duduk di hadapan Dylan.
" Aku ikut gabung ya, meja yang lainnya penuh " Ucapnya santai dengan sikap manis yang terasa janggal.
Blair yang selalu berpikiran positif itu pun mengiyakan permintaan Dera, di pikirannya jika Dera ikut bergabung maka Dylan tidak perlu menjaga jarak dengannya karena harus menghindari gosip. Bukankah duduk bertiga tidak akan di gosipkan ? Sesimple itu pemikiran Blair.
" Hm.. " Angguk Blair bersemangat.
Dylan yang sudah sangat jengah melihat Dera itu pun mendongakkan wajahnya yang langsung bersitatap dengan wajah Dera yang telah re-touch up make up hingga terlihat fresh di tengah cuaca sepanas ini.
" Tidak apa-apa kan aku duduk di sini ? " Tanyanya dengan manis dan sedikit terdengar manja.
Baik Dylan maupun Blair mengernyitkan keningnya bingung dengan perubahan gaya bicara Dera yang mendadak.
Selama ini Dera selalu menampilkan imagenya sebagai gadis cerdas, mandiri dan dewasa, tapi kali ini, di siang ini tiba-tiba saja Dera mengubah konsep dirinya sendiri. Terlihat juga dari gaya berdandannya yang biasanya bergaris tegas, kini terlihat lebih lembut dan imut-imut.
Blair sendiri mengingat-ingat dimana dia pernah mendengar gaya bicara seperti itu, tapi dia tetap tidak bisa mengingatnya.
Sementara Dylan langsung tersenyum miring begitu mendengar aksen juga gaya bicara Dera yang aneh menurutnya.
Sempurna, ternyata memang benar pengamatan ku. Dia suka dengan seseorang yang bertipe manja.
Batin Dera berjingkrak girang merasa menang dan berhasil.
" Bisa minta tolong bukakan tutup botolnya ? " Dengan setengah merengek Dera meminta tolong pada Dylan dan menyodorkan botolnya.
Dylan semakin tersenyum lebar hingga deretan giginya yang rapi terlihat, senyum yang sangat jarang bahkan bisa di bilang tidak pernah di keluarkan Dylan sebelumnya.
Blair yang sudah bingung dengan perubahan mendadak Dera semakin bertambah bingung melihat reaksi balasan Dylan. Terlebih saat melihat Dylan tersenyum lebar, dia sampai memiringkan tubuhnya dengan sudut 90 derajat untuk melihat Dylan.
Lho ? Lho ? Lho ? Kok jadi begini ?
Batin Blair kebingungan sendiri.
Dan yang membuat Blair semakin syok adalah Dylan menerima uluran botol dari tangan Dera, lalu dengan sekali sentakan keras dia membuka segel tutup botol air mineral milik Dera hingga menimbulkan suara kretak yang khas.
Apa yang terlewat oleh ku ? Kok mereka jadi begini ?
Batin Blair semakin tak karuan, takut bercampur iri juga bingung.
" Terima kasih " Ucap Dera dengan riang dan manis lalu tertawa girang.
Dylan lalu melanjutkan makan siangnya sambil terus menatap Dera dengan senyum miringnya, membuat Dera serasa di atas awan. Bahagia yang tak terkira.
Sementara Blair yang sedang di landa galau, hanya menusuk-nusuk makanannya dengan garpu. Seketika kehilangan nafsu makannya karena sikap Dera terlebih sikap Dylan yang membalasnya. Tidak bisa di pungkiri Blair cemburu, dia takut posisinya sebagai teman tapi mesra akan di lengserkan oleh Dera.
Dalam hati dia mengutuki tindakan bodohnya yang mengiyakan saja keinginan Dera bergabung bersama mereka.
" Enak ya makanannya " Ucap Dera sembari menyuapkan sesendok penuh sayuran ke mulutnya, dan meninggalkan sisa makanan di sudut bibirnya.
Dylan yang masih terus mengawasi Dera kini menggelengkan kepalanya lalu menunduk menahan tawanya yang hampir pecah.
" Iiih kau kenapa sih ? Dari tadi senyum-senyum terus " Ucap Dera manja lalu memukul tangan Dylan yang ada di atas meja.
Blair yang melihat hal itu langsung mendelik syok, untung saja tadi dia sempat makan camilan sebelum makan siang, jika tidak pasti dia sudah terkapar di lantai dengan mulut berbusa melihat kejadian itu. Tapi berhubung kejadian itu tidak terjadi, jadi yang bisa di lakukannya hanya mengamati Dylan dan Dera dalam bengong.
Otaknya yang polos tidak mampu memotong percakapan mereka berdua, tidak mampu mencari topik obrolan lebih tepatnya. Dengan gelisah dia terus saja memperhatikan perubahan sikap Dera dan Dylan.
Kiran yang baru saja memasuki kantin bersama dengan staf guru yang lain itu pun tidak sengaja melihat kejadian itu, kejadian cerita romansa segitiga bermuda yang ada di meja ujung kantin.
Setelah mendapatkan makan siangnya, Kiran berniat menggoda teman tapi mesranya Dylan. Dia berpamitan sebentar kepada guru-guru yang lain dan kemudian berjalan menuju meja Dylan.
" Hallo Dylan " Sapa Kiran riang dengan senyum manisnya.
Waduh !!! Perang dunia nih.
Batin Blair panik, belum lagi dia bisa mencerna perubahan sikap kedua orang di samping dan di hadapannya, kini bertambah lagi satu masalahnya.
__ADS_1
Dengan salah tingkah Blair langsung menunduk dan fokus pada makanan di hadapannya, berpura-pura tidak mendengar sapaan Kiran.
Cih ! Ular penggoda ini mau apa lagi ?
Batin Dera memberengut kesal.
" Oh hai " Jawab Dylan sedikit terkejut melihat Kiran yang sudah berdiri di sampingnya lalu tersenyum membalas sapaan Kiran.
" Sudah dapat tempat duduk ? " Tanya Dylan perhatian.
" Belum nih " Jawab Kiran dengan gayanya yang sok kenal sok dekat.
" Kau mau duduk di sini ? " Tawar Dylan sigap dan langsung berdiri, memberikan tempat duduknya untuk Kiran.
" Jangan ! " Pekik Blair dan Dera bersamaan. Dylan yang sudah berdiri itu pun sampai terhenyak kaget, dia menatap Blair dan Dera secara bergantian.
Terlihat jelas wajah Blair yang memelas memohon agar Dylan tidak membiarkan Kiran duduk di situ dan bergabung bersama mereka, sedangkan di wajah Dera tergambar jelas rasa ketidaksukaannya kalau Kiran ikut bergabung.
Kiran yang juga kaget ikut mengamati kedua murid perempuan yang ada di hadapannya, saat melihat Blair dia ingin tertawa terbahak-bahak melihat binar matanya yang seperti anak kucing, lucu dan menggemaskan. Tapi ketika mengalihkan pandangannya pada Dera dia langsung mengernyitkan keningnya, bingung karena Dera menatapnya dengan tajam menantang tanpa rasa sungkan sedikitpun.
" Ok baiklah, aku tidak akan bergabung dengan kalian, sepertinya kehadiran ku tidak di harapkan " Ucap Kiran kikuk, niatnya semula ingin menggoda Blair berantakan karena tatapan Dera padanya.
" Tidak " Cegat Dylan memegang tangan Kiran.
" Kata siapa kau tidak di harapkan, ini tempat umum " Jawab Dylan sungkan. Lalu dengan kesal dia menoleh ke arah Blair dan Dera.
" Ma-maaf " Ucap Blair kemudian menundukkan kepalanya. Yang harus terjadi terjadilah, aku akan pasrah saja.
" Tapi Dylan, para guru kan biasanya punya meja sendiri, lagi pula tidak etis seorang guru terlalu dekat dengan muridnya begitu, apalagi mereka lawan jenis " Protes Dera masih tetap menolak kehadiran Kiran.
" Kau... " Geram Dylan mulai kehabisan kesabaran.
" Sstt... " Kiran memegang pundak Dylan untuk menenangkannya.
" Sudah sudah, dia benar aku seorang guru, tidak baik kalau anak-anak yang lain membicarakanmu, aku akan makan siang dengan guru-guru yang lain saja " Ucap Kiran penuh kesabaran.
" Tapi... " Potong Dylan sungkan.
" Sudah tidak apa-apa " Kiran menepuk pundak Dylan maklum.
" Aku pergi dulu ya " Pamit Kiran kepada Blair dan Dera.
Dengan sungkan Blair menganggukkan kepalanya.
" Maaf bu Kiran " Ucapnya penuh rasa bersalah.
" Oh ya ! " Kiran berhenti dan membalikkan badannya.
" Ini " Dia memberikan sekotak jus buah dari menu makan siangnya pada Dylan.
" Ibu kantin tadi memberiku 2 kotak jus, makan yang banyak ya. Daah " Ucap Kiran kemudian berlalu pergi.
Dylan yang masih marah menghempaskan tubuhnya dengan keras saat kembali duduk. Di tatapnya Dera dan Blair secara bergantian. Blair yang sudah sangat paham jika Dylan menyeramkam saat marah itu pun lebih memilih menutup mulutnya rapat-rapat, tidak membuatnya semakin marah, begitulah pikirnya.
Sementara Dera yang sudah sangat tidak suka pada Kiran itu pun terlihat masih memberengut kesal.
" Ini Dylan, minum saja jus punya ku " Dera mengulurkan kotak jusnya dan tanpa permisi mengambil jus pemberian Kiran dari tangan Dylan.
" Jangan minum atau makan apapun yang di berikan olehnya " Ucapnya kemudian.
" Kenapa ? " Tanya Dylan dingin, dengan satu tangan yang terkepal di bawah meja dia berusaha untuk menahan amarahnya yang sudah mencapai batas maksimal.
" Kau tidak lihat " Seru Dera.
" Dia sangat genit, mana ada guru yang pegang-pegang muridnya begitu, bukankah itu termasuk pelecehan seksual ? Meskipun dia cantik tapi harusnya dia tahu batasan antara guru dan murid bukan ? Heran, kenapa sekolah Loyard bisa menerima seorang guru dengan kualitas rendahan begitu " Omelnya menggebu-gebu.
Dylan yang sudah berada di level tertinggi emosinya itu pun ingin sekali menampar Dera dengan nampan yang ada di hadapannya saat ini juga, kemudian menyeretnya dan melemparkannya ke bawah kaki Kiran untuk meminta maaf. Dylan tidak suka melihat Dera menjelek-jelekkan Kiran padahal dia tidak mengenal Kiran secara mendalam. Bukan karena Kiran adalah kakaknya, tapi karena dengan begitu saja sudah memperlihatkan bahwa Dera senang menilai orang lain dari penampilan luarnya saja.
Jika Dera terlalu acuh untuk memperhatikan otot-otot serta rahang Dylan yang sudah mengeras menahan emosinya, tidak demikian dengan Blair yang ada di sampingnya. Dengan takut dan tangan yang gemetaran Blair memberanikan diri menggenggam tangan Dylan. Dia khawatir jika Dylan sampai lepas kendali dan membalik meja yang ada di depannya saat ini, karena kalau sampai itu terjadi maka Dylan akan semakin buruk di mata teman-temannya.
Dylan terhenyak begitu tangan dingin Blair menyentuh kulitnya, dia menoleh ke arah Blair. Bisa dia lihat Blair sedang gemetaran saat ini tapi berusaha di tutupinya. Blair berpura-pura fokus pada makan siangnya, mengambil sesendok sayuran lalu memakannya.
Cara sederhana yang di lakukan Blair nyatanya mampu membuat emosi Dylan sedikit menurun, dia menarik napas dalam dan mengeluarkannya lewat mulut secara perlahan.
" Oh ya Dylan kau itu suka tipe perempuan yang bagaimana sih ? " Tanya Dera dengan gaya manjanya lagi.
" Tipe perempuan ? " Ulang Dylan dingin.
" Iya tipe perempuan yang bagaimana ? Kalau aku amati sepertinya kau suka perempuan yang manja ya ? " Tanya Dera lagi dengan sikap manis yang terlalu di buat-buat.
" Kau salah " Jawab Dylan dingin.
" Aku justru sangat benci dengan perempuan yang manja dan bertingkah manis " Lanjutnya dengan seringai yang menyeramkan.
Wajah Dera langsung berubah kecut begitu mendengar jawaban Dylan. Garis bibirnya yang semula tertarik ke atas membentuk senyuman lebar kini perlahan-lahan turun melorot. Bahkan tak bisa di tutupi bibirnya terlihat sangat pias di balik lipgloss pinknya.
Sedangkan Blair yang juga ikut menyimak pembicaraan itu langsung menarik tangannya dari tangan Dylan. Otak onengnya langsung ingat aksen dan juga gaya bicara yang di pakai Dera saat ini adalah aksen dan juga gaya bicaranya.
__ADS_1
Pantas saja dia merasa tidak asing dengan perubahan sikap Dera, ternyata Dera mencontoh dirinya.
Tarikan tangan Blair yang tiba-tiba itu membuat Dylan menoleh dengan cepat ke arah Blair. Di lihatnya Blair yang sedang ketakutan saat ini. Dia menghela napas panjang.
Apalagi yang di pikirkan si oneng ini ?
Batinnya bingung sendiri.
" Ta-tapi Dylan, bu-bukannya kau suka dengan gadis yang manja dan manis ? " Tanya Dera terbata-bata. Tidak mungkin pengamatannya bisa salah, begitu pikirnya. Dia sudah memperhatikan kedekatan antara Dylan dan Blair, sangat berbeda. Jadi dia yakin seratus persen jika Dylan menyukai gaya Blair, tingkah manis Blair. Hanya saja dia tidak mau mengatakan hal itu atau Blair akan besar kepala karena merasa mendapat perhatian lebih dari Dylan.
" Siapa kau merasa mampu mengira-ngira gadis seperti apa yang ku sukai ? " Tanya Dylan dingin.
" Aku bisa suka semua gadis di dunia ini kecuali kau " Lanjutnya kemudian, membuat Dera yang sudah pucat semakin bertambah pucat.
Dunianya serasa runtuh begitu mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Dylan.
" K-kau bercanda kan ? " Tanya sambil tersenyum kecut, masih berharap semoga Dylan sedang menggoda dirinya.
" Kau mau buktinya ? " Tantang Dylan acuh. Dia kemudian melihat jam tangannya lalu berdiri.
" Waktu makan siang hampir habis, jangan terlambat masuk kelas " Pesannya pada Blair yang masih mengkerut ketakutan.
Tanpa mengucapkan apapun pada Dera yang masih syok, Dylan pergi membawa nampannya. Mengembalikannya ke bagian piring kotor lalu keluar dari kantin.
Bagaimana ini ? Ternyata dia tidak suka dengan seseorang yang bersikap manja. Pantas saja dia lebih memilih Raline yang lebih tua darinya, jadi karena itu, karena dia suka pada seseorang yang lebih dewasa. Aku harus bagaimana sekarang ? Kerang ajaib apa yang harus aku lakukan.
Batinnya panik sendiri hingga tidak menyadari jika Dylan sudah tidak ada lagi di sebelahnya.
Blair berjalan dengan linglung saat kembali ke kelasnya, dia tidak menyelesaikan makan siangnya, sempat dia dengar Dera yang mengumpat, memaki dan juga mengutuki entah siapa sebelum dia meninggalkannya di kantin tadi.
Blair kehilangan selera makannya, tentu saja dia kehilangan selera makannya karena membayangkan akan kehilangan sosok Dylan yang penuh perhatian dan manis. Dia belum puas atau tidak akan pernah puas menjadi teman tapi mesra Dylan dan sekarang dia di hantui bayang-bayang perpisahan.
Aku tidak boleh manja lagi, aku harus jadi gadis yang mandiri.
Tekadnya dalam hati.
" Lama sekali sih " Sebuah suara mengagetkan Blair yang sedang berjalan melamun itu.
" Kaget aku " Pekik Blair terhenyak mundur.
" Dylan ? " Serunya kemudian Dia mengernyitkan keningnya heran.
" Iya memangnya kau mengharapkan siapa ? Andromeda ? " Tanya Dylan ketus.
" Siapa yang mengharapkannya " Decak Blair malas membuang muka.
" Kenapa kau lama sekali ? " Dylan mengulang kembali pertanyaannya.
" Memangnya kenapa ? " Tanya Blair bingung.
" Haaah... " Dylan menghela napas panjang. Dasar oneng.
" Bukankah aku tadi menyuruhmu cepat pergi dari kantin setelah aku pergi " Lanjutnya gemas sendiri.
" Oh ya ? Kapan kau menyuruhku ? Kenapa aku bisa tidak tau ya ? " Tanya Blair sembari menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Dylan menepuk jidatnya, sejenak dia lupa jika yang di ajaknya bicara adalah oneng yang bisa memutar dunianya, membuatnya tidak berjalan sebagaimana mestinya, jadi tentu saja dia tidak akan paham kode yang di berikannya tadi sebelum meninggalkan kantin.
" Ya sudahlah ayo cepat pergi sebelum yang lain kembali " Ajaknya kemudian meraih tangan Blair dan menggeretnya pelan.
" Tu-tunggu dulu " Tolak Blair melepaskan pegangan tangan Dylan.
" Kenapa ? " Tanya Dylan bingung.
" Ka-katamu kau tidak suka gadis manja dan manis, dan Dera tadi sepertinya menirukan gayaku, ja-jadi... " Blair tidak bisa melanjutkan kata-katanya, takut sendiri mendengar jawaban Dylan.
" Kalau kau pengecualian, ayo cepat pegang tangan ku " Jawab Dylan santai dan mengulurkan tangannya.
" T-tapi... " Jawab Blair ragu-ragu.
" Jadi tidak mau memegang tangan ku nih ? " Tanya Dylan menggoda.
" Aku hitung sampai tiga loh " Lanjutnya.
" Sa.. "
Belum lagi Dylan selesai menyebutkan angkanya Blair sudah meraih tangan Dylan dan menggenggamnya dengan erat seperti tidak akan melepaskannya.
" Mau...mau... jangan di hitung " Sautnya cepat dengan wajah polos dan takut-takut.
Dylan yang sudah tidak tahan lagi melihat tingkah menggemaskan Blair itu tertawa cukup kencang.
" Ya sudah ayo makan camilan di kelas " Ajaknya lalu memasukkan genggaman tangan Blair ke dalam saku celananya dan berjalan beriringan kembali ke kelas.
Maksudnya kecuali aku apa ya ? Apa aku boleh bersikap manja padanya ? Aaarrgghh entahlah, aku bingung.
Batin Blair bertanya-tanya, dan dia lebih memilih diam daripada bertanya pada Dylan, dia takut jawaban yang di berikan tidak akan sesuai dengan hatinya dan dia akan kecewa. Jadi nikmati saja apa yang ada, urusan Raline ? Di pikir besok. Begitulah Blair memutuskan solusi untuk masalah perasaannya. Dan saat besok datang dia juga akan tetap mengatakan pada dirinya sendiri " di pikir besok " Begitu terus hingga waktu yang tidak di tentukan.
__ADS_1