Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Sesajen Suketi


__ADS_3

Bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid langsung menghambur keluar kelas menuju gerbang depan sekolah. Ada yang berlari dengan buru-buru karena harus mengejar jadwal lesnya, ada yang berjalan santai sambil bersenda gurau dengan teman-temannya, dan ada yang sibuk bermain game di ponselnya sambil berjalan. Mereka semua terlalu sibuk dengan diri sendiri dan jarang memperhatikan keadaan sekitar. Termasuk saat melihat Kiran berjalan dan masuk ke ruang kepala sekolah, mereka tidak curiga ataupun penasaran.


" Sudah selesai " Tanya Kiran begitu masuk ke dalam ruangan Ken dan mendapatinya masih sibuk di depan laptopnya.


" Iya sebentar lagi, aku masih memeriksa berkas-berkas persyaratan yang akan di kirimkan ke panitia olimpiade matematika yang akan di ikuti Dylan " Jawab Ken sambil mengetikkan sesuatu di laptopnya.


" Ada masalah ? " Tanya Kiran penasaran, dia ikut berdiri di samping Ken dan membungkukkan badannya, mengamati layar monitor.


" Hemm, hanya beberapa. Dylan kan minta identitasnya di rahasiakan, sedangkan ayah sudah merubah nama belakangnya menjadi Loyard, dan saat pendaftaran Dylan harus memasukkan nama lengkapnya, jadi aku secara khusus menghubungi panitia olimpiade agar mereka merahasiakan identitas Dylan " Jawab Ken santai.


" Ooh begitu " Kiran mengangguk-angguk paham lalu menegakkan kembali tubuhnya dan berniat berjalan menuju sofa. Dia akan menunggu Ken dengan tenang di sana.


" Mau kemana ? " Ken meraih tangan Kiran dan menahannya agar tidak pergi.


" Mau kesana " Tunjuk Kiran ke arah sofa.


" Duduk di sini saja " Ken langsung menarik Kiran ke dalam pangkuannya, kemudian melingkarkan tangannya di perut Kiran.


" Hei ini masih di sekolah, jangan begini " Bisik Kiran panik.


" Memangnya kenapa ? Kau istriku, apa yang salah dengan memelukmu ? " Tanya Ken santai.


" Bukan begitu, tadi si teman tapi mesranya Dylan bilang kalau di sekolah tidak boleh bersikap mesra, tidak pantas " Jelas Kiran.


" Kalau mereka tidak ada hubungan tentu saja tidak pantas, tapi kau kan istri ku, jadi sah-sah saja " Jawab Ken.


" Iya juga sih, tapi kan mereka tidak tau kalau aku istrimu " Sanggah Kiran.


" Aish kau ini, ya sudah duduk sana " Perintah Ken kesal. Kiran malah meringis dan kemudian mengecup bibir Ken sebentar.


" Ok jangan lama-lama ya " Jawabnya lalu berdiri dan berjalan menuju sofa. Sembari menunggu Ken yang sedang menyelesaikan pekerjaannya dia memainkan ponselnya. Menyusuri situs belanja online dan melihat-lihat.


" Sepertinya akan ada sale besar-besaran deh " Ucap Kiran tanpa melepaskan pandangannya dari layar datar yang di genggamnya itu.


" Sale apa ? " Tanya Ken asal masih tetap sibuk mengetik.


" Semua barang " Jawab Kiran tersenyum-senyum sendiri.


" Kalau ingin beli, beli saja " Ucap Ken kemudian.


" Tidak aku hanya melihat-lihat saja " Tolak Kiran terus menscroll layar ponselnya untuk sekedar cuci mata.


" Memangnya kau lihat-lihat apa ? " Tanya Ken mendongakkan wajahnya sebentar untuk melihat Kiran.


" Baju Raline, lucu-lucu sekali " Jawabnya dengan mata yang berbinar melihat tampilan pakaian anak perempuan dalam berbagai mode.


" Belikan saja untuknya kalau begitu " Usul Ken.


" Tidak, si marimar sudah mewanti-wanti ku agar jangan membelikan apapun untuk Raline, katanya barang-barang Raline bahkan lebih dari cukup untuk 10 tahun ke depan " Decak Kiran sedikit kecewa.


" Ya sudah " Ken mengedikkan bahunya, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


" Kalau kau ingin sesuatu beli saja, ok " Ulangnya lagi.

__ADS_1


" Ok " Jawab Kiran menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran lalu mengacungkannya ke arah Ken tanpa melihatnya.


" Sayang nanti pulangnya kita mampir ke kafe yang ada di depan sekolah ya " Ucap Kiran sambil terus melihat-lihat katalog di aplikasi belanja onlinenya.


" Lagi ? " Tanya Ken terlihat tidak suka dengan ide Kiran.


" Iya, aku ingin membeli dalgona cofee " Jawab Kiran santai.


" Sayang jangan minum itu terus, aku perhatikan kemarin kau terlalu banyak minum dalgona cofee jadi tidak bisa tidur nyenyak, bagaimana kalau malam nanti kau juga tidak bisa tidur lagi " Protes Ken dengan nada tidak suka, dia kembali menghentikan pekerjaannya dan menatap Kiran yang masih asyik bermain ponsel.


Mendengar penolakan dari Ken membuat Kiran langsung menurunkan ponsel yang sedang di tatapnya itu. Lalu dengan wajah yang kecewa dia menoleh ke arah Ken.


" Tapi aku ingin minum itu " Rengeknya memelas.


" Yang lain saja ya " Bujuk Ken lembut.


" Aku sedang ingin minum yang manis-manis, jadi aku tidak ingin yang lain " Tolak Kiran keras kepala.


" Bagaimana kalau jus saja ? Kan sama-sama manis " Ken masih berusaha membujuk Kiran yang sudah mulai memberengut kesal itu.


" Mmm " Kiran menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak tawaran Ken dan tetap kekeh ingin minum dalgona cofee.


" Ya sudah, tapi cukup setengah porsi saja ya, itu juga demi kesehatanmu " Jawab Ken tidak bisa menolak permintaan istrinya saat melihat bibir Kiran yang manyun.


" Yaaah kurang puas kalau cuma minum setengah porsi " Protes Kiran dengan tangan bersidekap di dada.


" Setengah atau tidak sama sekali " Pungkas Ken tegas mengakhiri perdebatan.


" Cih " Decak Kiran kesal lalu membuang muka.


Di tambah lagi kejadian yang tak terduga di kantin tadi, niatnya yang semula ingin mengerjai Blair malah berujung dengan di dapatinya pandangan Dera yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia tidak menyukainya. Semua itu semakin memperburuk suasana hatinya. Alhasil sesiangan ini perasaannya campur aduk tak karuan. Dan makan makanan yang manis-manis bisa menurunkan sedikit ketegangannya.


Sebenarnya sempat terlintas di pikiran Kiran jika kamboja yang di maksud oleh Blair tadi adalah Dera setelah melihat sikap Dera yang sangat sinis padanya, namun setelah dia memeriksa biodata siswa dia merasa praduganya tidak tepat sasaran.


Jika di telisik Dera adalah siswi yang berprestasi, dan sikapnya sempurna tanpa cela, selalu baik dan sopan juga tidak pernah bermasalah dengan murid-murid yang lainnya. Malahan dia menjadi ketua osis setelah mendapatkan hampir 90 persen peroleh suara saat proses pemilihan. Semua itu karena Dera terkenal dengan kebaikannya dan juga sikapnya yang supel. Dan lagi dia berasal dari keluarga yang terkenal memiliki citra yang sangat baik. Jadi Kiran mengira jika sikap Dera tadi hanyalah karena mungkin saja Dera tidak suka kalau ada seorang guru yang duduk bersamanya untuk makan siang, mungkin dia ingin bergosip dengan teman-temannya yang bersifat privasi, begitu pikiran Kiran menyangkalnya.


Sebenarnya Kiran juga ingin menanyakan hal itu pada Ken sejak Blair memberitahunya saat jam istirahat tadi, tapi di urungkannya niat itu. Semua masih belum pasti, apakah yang di katakan Blair benar adanya atau hanya karangannya belaka agar dia menjauh dari Dylan. Tapi di mana-mana yang namanya rasa penasaran pasti akan selalu menang ketimbang rasa-rasa lainnya.


" Um... sayang " Panggil Kiran pelan.


" Ya ? " Jawab Ken masih terus menatap layar monitornya.


" Seumpama ada seorang murid yang datang padamu mengadukan ku karena aku terlalu dekat dengan murid lainnya, bagaimana tanggapan mu ? " Tanya Kiran berusaha terlihat santai, sambil menopangkan tangannya pada bantalan sofa.


" Bagus dong, itu artinya tugas mu sebagai guru BK benar-benar berhasil " Jawab Ken asal.


" Aish bukan dekat yang itu, maksudku ada seorang murid yang cemburu melihat kedekatanku dengan salah satu murid, dan dia berniat melaporkan ku padamu agar aku terkena sangsi, bagaimana menurut mu ? " Jelas Kiran lebih mendetail.


" Mana ada murid yang begitu, kau itu ada-ada saja " Jawab Ken sembari tertawa namun masih tetap sibuk di depan laptopnya. Kiran menghela napas panjang, mulai terbakar kesal mendengar jawaban Ken yang terkesan meremehkannya.


" Jadi kau tidak percaya kalau ada seorang murid yang cemburu padaku ? " Tanya Kiran dengan nada yang sedikit menantang.


" Tidak lah, lagi pula untuk apa murid itu cemburu, kau kan jauh lebih tua di banding mereka, dan lagi mereka mengira kau itu sudah ibu-ibu bukan ?" Jawab Ken santai, masih belum sadar jika Kiran sudah mulai terbakar emosi.

__ADS_1


" Jadi menurutmu aku tua ? Aku sudah ibu-ibu, begitu ? " Kiran mulai meninggikan suaranya, perasaannya yang beberapa menit yang lalu masih terlihat bahagia kini berubah secepat kilat menjadi seperti kumpulan awan gelap yang siap mengelurkan petir dan hujan badainya hanya karena sebuah kata dari Ken. Tua.


" Iya lah kau sudah tua, kau kan memang lebih tua dari mereka " Jawab Ken lagi-lagi dengan asal, masih saja tetap fokus dengan pekerjaannya.


" Apa kau bilang ? " Erangnya mulai berdiri dari duduknya.


" Coba ulangi sekali lagi " Lanjutnya dengan wajah yang sudah menegang marah dan tangan yang mengepal.


Ken mendongakkan wajahnya begitu mendengar suara Kiran yang berubah aneh. Dia langsung berjengit kaget melihat Kiran sudah dalam gahar mode on.


" Bu-bukan begitu maksud ku sayang ? " Ralatnya langsung berdiri dan menghampiri Kiran dengan tergopoh-gopoh, dia masih ingat betul kejadian semalam, dan dia tidak ingin hal itu terulang lagi saat ini ataupun nanti malam.


" Lalu apa maksudnya kau bilang aku sudah tua ? Aku banyak keriputnya begitu ? " Tanya Kiran ketus, suaranya mulai meninggi satu oktaf.


" Aku tidak bilang kau banyak keriputnya, maksud ku kau memang sudah tua jika di banding dengan mereka. Kan selisih umur mu dengan umur murid-murid memang lumayan jauh, jadi benar kan kau lebih tua dari mereka. Tapi kalau bagi ku kau selalu awet muda " Rayunya panik asal bicara. Dia berharap Kiran akan luluh dan berhenti marah. Selama ini Kiran memang sangat mudah di rayu menurut pemikiran Ken, jadi dia yakin ini akan berhasil seratus persen.


" Awas saja sekali lagi kau bilang aku sudah tua " Ancamnya mendelik kesal lalu kembali menghempaskan tubuhnya dengan keras di atas sofa.


Selamat... selamat.


Ken mengusap-usap dadanya dan menghela napas panjang, merasa masih beruntung.


" Aww " Pekik Kiran cukup keras dan kembali bangun sambil memegangi tulang punggung di bagian pinggangnya.


" Kenapa ? " Jantung Ken yang semula sudah mereda dari rasa tegang kini harus berpacu dengan cepat lagi.


" Kursi ini kenapa keras sekali sih ? " Omel Kiran ketus.


Drama apalagi ini neptunus !!


Jerit batin Ken serba salah.


" Masa ? " Ken yang berpura-pura tidak tau itu pun mencoba mendudukinya, empuk dan nyaman. Itu adalah kursi yang di pesan khusus oleh ayahnya dengan kualitas yang terbaik, jadi mana mungkin bisa keras.


" Tidak ah, empuk kok " Lanjut Ken seraya memantulkan tubuhnya di atas sofa.


" Jadi kau menganggap aku bohong begitu ? Iya ? " Tanya Kiran semakin kesal.


Kan ? Kan ? Salah lagi kan !!


Ken menghela napasnya dengan pelan dan memejamkan matanya sebentar.


" Aiyooo... siapa yang menganggap mu berbohong, aku tidak begitu " Ucap Ken dengan tersenyum untuk meredakan kemarahan Kiran.


" Itu tadi kau bilang kalau kursi ini masih empuk sementara aku bilang ini sudah keras, yang artinya salah satu dari kita pasti berbohong, kalau bukan kau ya aku " Kiran menjabarkan hipotesanya dengan ketus.


" Iya sayang tapi bukan berarti aku menganggap mu berbohong " Jelas Ken dengan lembut.


" Terus " Kiran menyilangkan tangannya di dada dan menatap Ken dengan kesal.


" Hmm... sepertinya kau benar setelah ku rasa-rasa kursinya memang sudah keras " Ucapnya mengalah lalu kembali memantulkan dirinya di atas sofa.


" Iya sudah keras " lanjutnya meyakinkan.

__ADS_1


Dia ini kenapa sih ? Tadi beberapa menit yang lalu masih baik-baik saja, sekarang tiba-tiba saja jadi gahar. Apa kau kekurangan sesajenmu wahai suketiiii.


Teriak batin Ken tak habis pikir.


__ADS_2