
Pintu kamar diketuk, Ruby yang sedang menonton drama pagi hari menoleh ke arah Rai, dia sedang sibuk dengan laptopnya.
Melihat Rai yang tidak peduli Ruby membukakan pintu. Terkejut melihat Pak Handoko dan beberapa pelayan datang membawa 3 tas piknik yang besar. Ruby mempersilahkan mereka semua masuk.
“ Tuan mengatakan anda ingin makan sesuatu yang asam “ Pak Handoko berbicara kepada Ruby.
“ Ah iya hanya lapar sedikit, aku rasa semangkok mie sudah cukup, tidak perlu sebanyak ini “ Ruby menjadi tidak enak karena harus merepotkan Pak Handoko dan para pelayan yang lain.
“ Hei bisa kah kau berhenti sebentar dan lihat kekacauan yang kau buat ? “ Ruby mengeram lirih di depan Rai yang sibuk dengan urusannya. Rai mengangkat wajahnya, melihat Pak Handoko dengan para pelayan lainnya.
“ Siapkan saja, aku dan nyonya kesana sebentar lagi “ Jawabnya santai dan kembali pada laptopnya.
Pak Handoko berpamitan pergi dan menuju dapur yang jadi satu dengan meja makan, menata semua makanan yang di bawanya di atas meja. Setelah siap mereka kembali ke ruang rawat dan melaporkannya. Rai menutup laptopnya dan menggandeng tangan Ruby agar mengikutinya.
“ Aku ingin makan berdua saja “ perintah Rai kepada pak Handoko yang artinya dia bisa pergi meninggalkan mereka.
Rai dan Ruby memasuki dapur, ruangan luas dengan dapur modern serta alat-alat memasak yang lengkap terlihat aneh di sebuah rumah sakit. Meja makan minimalis terletak di tengah ruangan.
“ Kau bilang ini rumah sakit ? “ Tanya Ruby mencibir.
“ Iya ibu yang mendesain sendiri ruangan ini “ Rai menjawab santai menuju meja makan. Ruby mengikutinya.
Dia melihat banyak sekali makanan dan sesuatu yang aneh yaitu asam.
“ Kenapa ada asam disitu ? “ Tanya ruby heran.
“ Ah ya tadi kau bilang ingin makan yang asam-asam jadi aku menyuruhnya membeli semua asam di supermarket, tenang saja stoknya masih banyak, kalau kurang bilang saja pada Handoko, dia akan menyiapkan “ Rai menjawab bangga, merasa telah melakukan hal besar terhadap permintaan istri tersayangnya.
“ kau pasti bercanda “ Ruby menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Rai.
“ aku memang ingin makan yang asam-asam tapi bukan asam, kau ingin membuat asam lambungku meningkat karena terlalu banyak makan asam ? “ Ruby setengah berteriak memaki Rai.
“ Hei kenapa kalian para wanita sangat cerewet, di mulut bilang tidak tapi di hati bilang iya, malam bilang menyukai ku, pagi bilang tidak menyukai ku, sekarang ingin makan yang asam-asam, aku belikan asam kau bilang bukan itu, kenapa tidak bilang saja apa yang kau inginkan, jangan berputar-putar “ Rai juga setengah berteriak kesal jerih payahnya tidak di hargai Ruby.
“ Aku tidak bisa berkomunikasi dengan tembok sepertimu “ Ruby kesal dan pergi meninggalkan dapur.
__ADS_1
Dia kembali ke ruangan rawat dan melanjutkan drama pagi harinya. Rai yang kesal masuk dan membanting pintu.
“ Kenapa kau bersikap seperti ini ? Aku sudah berusaha bersikap baik padamu, tapi kau sama sekali tidak menghargainya “ Rai marah, tapi menahan emosinya.
“ Kalau kau tidak tau apa-apa tentangku, jangan menyimpulkan sendiri, tanyakan padaku. Kesimpulanmu yang aneh itu bisa jadi bomerang untukmu dan siksaan untuk ku “ Ruby balas berteriak, kesal dengan tingkah aneh Rai. Dia melangkah pergi.
“ Jadi kau tidak ingin makan buah asam yang aku siapkan khusus untukmu ? “ tanyanya geram.
“ tidak, melihatmu yang berwajah asam sudah cukup untuk membuatku kenyang “ Ruby membuka pintu dan pergi.
“ Hei kau mau kemana !! Kembali kesini !! Aish dasar wanita, kenapa setiap perkataannya selalu berbeda dengan perbuatannya. Dasar kau, mulutmu sangat berbisa “ Rai mengoceh marah sendirian.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ruby berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit, dia seperti familiar dengan tempat ini. Setelah mengingat-ingat dia sadar dulu ibunya di rawat dirumah sakit ini.
“ Ah benar dulu ibu sempat dirawat disini, pantas saja aku merasa seperti familiar dengan tempat ini. Tapi tempat ini sudah banyak berubah “
Dia kemudian berjalan mencari pohon beringin besar yang ada di ujung halaman belakang rumah sakit.
“ apa anak itu masih hidup ya ? “ Pikiran Ruby melayang mengingat masa kecilnya.
“ Dia anak yang manis, sayang sekali tubuhnya lemah karena sakit jantung, kalau dia masih hidup pasti dia akan tumbuh jadi anak yang tampan, hahaha... Lucu mendengarnya dulu berjanji akan menikahi ku “ wajah Ruby merona karena mengingat teman masa kecilnya dulu saat disini. Dia tersenyum sendiri.
“ Aish kenapa aku berfikir yang tidak-tidak, aku bahkan tidak tau siapa namanya “ Ruby menggeleng menyingkirkan bayangan itu.
Ponsel Ruby berbunyi, dia melihatnya. Big Baby.
“ Aish dia merusak suasana indahku saja “ Ruby memakinya, mengabaikan telfonnya. Tapi ponselnya terus berbunyi. Dia akhirnya menyerah.
“ Kenapa ? “ jawabnya ketus saat mengangkat telfon.
“ Kau bahagia sekali disana, tapi bisa langsung berkata ketus saat menjawab telfon ku“ Suara Rai tak kalah ketusnya.
Ruby terkejut dan mencari-cari Rai, dan benar saja dia sedang berdiri mengawasinya dari jauh.
__ADS_1
“ Cih “ Ruby mencibir dan menutup telfonnya.
Rai mendekatinya dan duduk disampingnya, Ruby membuang wajahnya. Dia tidak ingin bertengkar dengan Rai.
“ Kau tidak lapar ? “ Tanya Rai perhatian.
“ Maafkan aku yang tidak bisa mengerti keinginan mu, lain kali aku akan menanyakannya langsung agar tidak salah paham padamu lagi “ Rai berjanji.
" Baguslah kau berusaha mengerti, seperti hal nya aku ingin menyembunyikan pernikahan kita, aku hanya ingin hidup tenang, bertengkar denganmu saja sudah membuat ku kehabisan tenaga, apa lagi kalau harus bertengkar dengan Ignes atau komentar-komentar jahat lainnya " Ruby menjelaskan.
" Aku tidak akan lagi memaksa mu untuk mengungkapkan pernikahan kita, tapi kau harus berjanji kau akan bersikap lebih baik lagi kepada ku " Rai menjawab.
" Hei memangnya aku kurang baik apa lagi ? " Ruby mencibir.
" Tidak bisakah kau bersikap lebih manis dan lembut, selalu memanggil ku hei hei hei, aku punya nama " Rai menjawab ketus.
" Baiklah baiklah aku akan memanggilmu bayi besar ku " Ruby menggodanya dan mengelus elus kepalanya.
" Cih, memangnya kau ibu ku " Rai menepis tangan Ruby, dan menggenggamnya.
" Panggil aku dengan sebutan yang lain " Rai memerintahkan.
" Kau ingin aku memanggilmu apa ? Bukankah kau sudah setiap hari menyuruhku memanggilmu sayang, apa itu belum cukup ? " Ruby menjawab malas.
" Itu karena aku yang menyuruhmu, kau harus berinisiatif mencari panggilan lain yang mesra untuk ku " Rai memalingkan wajahnya, kesal.
" Baiklah nanti aku akan mencarikan mu panggilan kesayangan yang tidak ada dua nya di dunia ini, oke bayi besarku " Ruby menenangkan.
" Jangan panggil aku begitu " Rai menjawab ketus.
" Ayolah jangan cemberut seperti itu, tersenyumlah " Ruby menggoda Rai, dia mengedip-ngedipkan matanya.
" Cih " Rai tersenyum melihat tingkah sok imut Ruby.
" Aduh gantengnya bayi besar ku " Ruby berteriak histeris menggoda Rai.
__ADS_1
Rai tertawa melihat usaha Ruby menggoda nya, dia mencium tangan Ruby yang sedari tadi di genggamnya. Mereka menikmati liburan sederhana mereka di rumah sakit. Saling tertawa dalam suasana yang bahagia.