Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
H-1


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba, bagi sebagian orang hari ini pasti di nanti-nanti. Setelah berhari-hari berkutat dengan kesibukan, biasanya hari sabtu adalah hari untuk mengistirahatkan tubuh dan juga pikiran. Bagi mereka yang telah berkeluarga, hari sabtu merupakan waktu untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama.


Begitu juga bagi Dylan, hari sabtu juga sangat penting baginya, karena itu tandanya kurang satu hari lagi dari janji nonton dirinya dengan Blair, sesuai jadwal kosong Blair yang di beritahukan oleh Sekertaris Yuri. Jika saja ucapan kakak-kakaknya tidak terus menerus berdenging di telinganya dan memupuskan angan-angannya, sudah pasti dia akan bangun dengan wajah sumringah bersemangat dan penuh cinta.


Tapi sebaliknya, semalam setelah mendengar ucapan Rai dan Ken, dia malah menyibukkan diri dengan mengerjakan tugas kelompok yang sejatinya harus dia kerjakan bersama Blair, hanya demi mengalihkan pikirannya dari gadis manis yang menjungkir balikkan dunianya itu.


Dan sebagai oleh-olehnya dia bangun dengan mata hitam panda serta wajah kusut masai. Khas wajah-wajah orang yang sedang patah hati.


" Kau kenapa ? " Tanya Ken yang baru saja bergabung di meja makan. Dia heran melihat Dylan yang sedang menyangga kepalanya dengan satu tangannya yang bertumpu di atas meja.


Rai dan Ruby serta Dylan telah lebih dulu berkumpul di meja makan. Sedangkan Ayahnya dan Sekertaris Yuri harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, sementara Adelia pergi ke kampung halamannya untuk merawat nenek Mis yang kabarnya sedang sakit.


Dylan hanya diam tak menjawab, memandangi semangkuk sereal coklatnya yang sudah melempem terendam susu sedari tadi.


" Sst... " Desis Ruby menempelkan telunjuknya di bibirnya, memberi kode pada Ken untuk jangan bertanya apapun pada seseorang yang sedang galau seperti itu.


" Kau ini tidak peka sekali sih " Kiran menyenggol lengan Ken dengan sikunya, lalu menarik kursi tepat di sebelah Dylan.


" Serealmu hampir menjadi bubur tuh " Kiran memberi tahu Dylan pelan.


" Ya aku tau " Jawabnya dengan helaan napas sarat dengan irama kesedihan yang mendalam.


" Terus kenapa tidak kau makan ? " Tanya Ruby berhati-hati. Orang yang sedang patah hati biasanya hatinya serapuh gelas kaca, tersenggol sedikit saja maka seperti gelas yang jatuh dari ketinggian lima ribu meter. Ambyar !


" Aku tidak lapar " Jawab Dylan kembali dengan helaan napas berat.


Ruby dan Kiran saling bertukar pandang, merasa iba. Mereka tau persis rasanya menjadi Dylan karena sering melihatnya di drama yang sedang mereka gandrungi akhir-akhir ini.


" Hei kau pikir orang makan hanya karena lapar ? " Sinis Rai dengan kesal. Dia merasa sudah cukup melihat Dylan yang seperti zombie itu.


" Rai " Desis Ruby mendelikkan matanya.


" Orang itu butuh makan untuk bertahan hidup, bukan hanya karena lapar. Kalau kau sudah tidak mau bertahan hidup lagi, aku akan maklum, tapi bukan seperti ini caranya bunuh diri " Rai mengabaikan desis peringatan dari Ruby dan terus mengomeli Dylan.


Namun jangan pernah mengajak bicara orang yang sedang patah hati sepertinya sebuah nasehat yang di dasarkan pada kisah nyata. Buktinya, Dylan sama sekali tidak peduli. Dia terus saja memandangi mangkuknya tanpa menyentuhnya sedikit pun.


" Kalau kau tidak mau makan itu, apa kau mau makan yang lain ? " Tawar Ruby halus. Kasihan juga melihat adik iparnya yang biasanya sedingin musim salju, kini harus memelas seperti musim gugur. Rapuh dan, sekali lagi, ambyar seperti dedaunan di pohon yang gugur tertiup angin.


" Tidak kak terima kasih " Jawab Dylan lirih bahkan tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkuk serealnya yang sudah dia abaikan lebih dari 30 menit itu.


Karena tidak bisa tidur, Dylan jadi datang untuk sarapan pukul setengah enam pagi, membuat Pak Handoko yang sedang menyiapkan meja makan itu pun kelimpungan karena para koki belum menyelesaikan masakan mereka.


" Aish " Rai meletakkan garpu yang di pegangnya itu dengan sedikit kasar ke atas piring hingga menimbulkan suara berdenting yang membuat bulu kuduk merinding. Habis sudah kesabarannya.


" Kalau kau tidak mau makan, akan ku telepon sekertaris Yuri sekarang juga untuk menghancurkan keluarga dipsy lalu mengirim mereka kembali ke Rusia selamanya " Ancam Rai dengan serius. Mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja sembari menghitung kesempatan Dylan untuk menuruti kata-katanya.


" Dasya !! " Seru Ken, Kiran dan Ruby kompak meralat ancaman Rai.


" Sama saja !! " Sentak Rai keras membuat ketiga orang yang tadinya sedikit memiliki keberanian untuk menyela itu langsung menciut takut.


Dylan yang sedang menunduk itu pun langsung menengadahkan wajahnya dan di sambut Rai dengan tatapan maut yang seakan bisa mengeluarkan sinar laser mematikan bagi siapapun yang melihatnya.


" Jangan " Pekiknya tanpa sadar, takut.


Takut kehilangan Blair jika sampai Rai merealisasikan ancamannya, juga takut pada mode garang Rai sebagai pemimpin the garangs family.


" A-aku akan makan " Jawab Dylan tergagap lalu dengan cepat meraih sendok dalam mangkok dan memakan sarapannya.


" Ancaman selalu berhasil " Ucap Rai dengan seringai penuh kesombongan melirik ke arah Ruby. Menyindirnya yang semalam terus saja mengeluarkan protesnya karena kalah taruhan 7 ronde berbunga dengannya.


" Itu kan cuma kau " Cibirnya kesal.


Tidak butuh waktu lama untuk Dylan memakan sarapannya yang telah menjadi bubur. Dia langsung menelan serealnya tanpa mengunyahnya lagi. Dia bahkan mengabaikan perhatian Ruby yang menyuruhnya pelan-pelan saja dan tidak perlu takut.


Tidak perlu takut saat di tatap Rai dengan begitu dinginnya ? Mungkin saran Ruby hanya berlaku untuk dirinya sendiri.


" A-aku sudah selesai, aku akan pergi sekolah sekarang " Ucap Dylan masih gelagapan takut. Dengan cepat dia berdiri, menundukkan kepalanya berpamitan lalu berjalan terburu-buru keluar dari ruang makan.


" Kasihan ya dia " Ucap Ruby begitu Dylan sudah menghilang dari pandangan.


" Kasihan kenapa ? " Tanya Rai bingung.


" Ya kasihan, padahal hidupnya sudah hampir sempurna tapi ternyata kebahagiaan masih belum sepenuhnya berpihak padanya " Jawab Ruby pelan.


" Iya padahal sejak bertemu Blair dia sedikit demi sedikit sudah berubah, tidak secuek dan sedingin dulu " Kiran ikut menimpali dengan sedih.


" Ini semua gara-gara kau " Sungut Ruby melirik Rai yang sudah kembali melanjutkan sarapannya dengan santai.


" Kenapa sih kau harus bilang begitu padanya ? Tidak bisakah kau mengawasinya diam-diam saja ? " Omelnya kemudian.


" Cih " Decak Rai malas, kembali menghentikan sarapannya dan memiringkan tubuhnya menghadap Ruby, menyangga pelipisnya dengan tangannya.


" Aku memberitahunya bukan untuk membuatnya patah hati begitu, aku memberitahunya untuk membuatnya menjadi laki-laki sejati " Jelas Rai santai.


" Maksudnya ? " Tanya Kiran mengerutkan keningnya, ikut mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan agar bisa ikut menyimak penjelasan Rai.


" Kami memberitahunya agar bisa melakukan langkah berikutnya, bagaimana pun dia adik kita. Aku dan kak Rai tidak akan melakukan apapun yang berhubungan dengan hidupnya tanpa persetujuan darinya " Saut Ken santai sembari memotong steak well done nya.


" Memangnya dia meminta kalian untuk memberitahunya perihal ayah Blair ? " Tanya Ruby masih belum paham penjelasan Ken maupun Rai.

__ADS_1


" Ck " Decak Rai semakin kesal karena Ruby masih belum bisa mengerti pola pikirnya.


" Kami ini akan bergerak saat Dylan telah membuat keputusan, kalau dia ingin terus maju mendekati dipsy... "


" Dasya " Ralat mereka bertiga kompak. Lalu menggeleng malas karena Rai terus menerus salah dalam menyebut nama Blair yang asli.


" Aish !! " Teriaknya kesal, sudah 2 kali pagi ini pembicaraannya di potong hanya karena seorang gadis remaja pilihan adiknya.


" Sudah ku bilang sama saja " Lanjutnya kesal.


" Iya iya sayang cup cup... " Ruby mengelus punggung Rai agar dia tenang.


" Sampai mana tadi ? " Tanya Rai ketus melirik Ruby yang masih senyum-senyum memasang wajah tak berdosa.


" Sampai Dasya " Jawab Ruby dengan manis.


" Kalau dia ingin terus mendekati si anak Dimitri itu kami akan membantunya sampai Dylan benar-benar mendapatkannya secara utuh, tapi kalau dia tidak ingin mendekatinya lagi, kami juga akan membantunya, kami akan membuat keluarga Dimitri menghilang dari hidup Dylan sampai tak berjejak, sampai-sampai Dylan tidak akan lagi menemukan tanda-tanda kalau si anak itu pernah singgah di hidupnya " Jelas Rai panjang lebar.


" Ooh... " Ruby mengangguk-angguk paham sekarang.


" Jadi kalau Dylan bilang dia akan tetap mendekati Blair, kami akan mempermudah jalannya. Tapi kalau dia bilang akan berhenti berurusan dengan Blair, kami juga akan mempermudah jalannya " Ken merangkum semua penjelasan Rai dengan mudah.


" Kira-kira Dylan akan pilih yang mana ya ? " Tanya Kiran kemudian.


Mereka semua diam tak menjawab, karena yang seharusnya menjawab telah pergi ke sekolah untuk menemukan jawabannya sendiri.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Blair yang merasa mengalami masa-masa paling indah dan bahagia dalam hidupnya itu sedang bersiul-siul girang saat menuruni tangga rumahnya. Mata panda juga wajah pucatnya seakan berbanding terbalik dengan suasana hatinya.


Meskipun sejak pindah di sekolah Loyard dia terus saja kesulitan tidur karena harus bersin-bersin sepanjang malam, tapi dia tetap bersemangat berangkat sekolah. Karena apa lagi jika bukan karena sang pemilik hatinya yang duduk di bangku sebelahnya.


Bayangan akan mengalami satu hari lagi yang penuh keromantisan itu pun sedang memenuhi kepalanya. Dia bertanya-tanya sendiri, tingkah manis apalagi yang akan Dylan lakukan untuknya.


Mungkin saja sebuah pelukan ? Atau malah ciuman ? Aaahhh


Batin Blair girang lalu menutupi wajahnya karena malu sendiri.


" Kau bahagia sekali pagi ini ? " Tanya Nania begitu Blair sampai di meja makan untuk sarapan.


" Iya karena ini akhir pekan " Jawab Blair riang dan mengambil sepotong roti di hadapannya.


" Aneh " Gumam Nania mengerutkan keningnya menatap Blair. Biasanya di hari sabtu pagi Blair akan berwajah masam dan mengeluarkan sederet gerutuannya sejak pagi karena dia akan menerima briefing dari ayahnya tentang tugasnya menjadi mata-mata saat malam nanti.


" Apa ada sesuatu yang bagus ? " Tanya Nania ikut riang.


" Rahasia " Jawab Blair menyuapkan roti ke mulutnya.


Blair menatap Nania, dia tau ibunya orang yang bisa menjaga rahasia dan selalu mendukung keputusannya, tapi dia tetap tidak ingin ada orang lain yang tau tentangnya juga Dylan. Dia ingin menyimpan ini untuknya sendiri, karena jika sampai Dimitri tau, dia pasti akan menyuruh anak buahnya untuk melenyapkan Dylan.


" Kalau ku beritahu bukan rahasia lagi namanya " Jawab Blair dengan mulut yang penuh roti.


" Dasya " Panggil Dimitri yang baru saja bergabung di meja makan.


" Nanti malam kau harus ke club untuk mendekati Andromeda, Pengacara Henry semalam menelepon papa dan bilang kalau Andromeda ingin mengajak mu kencan sepulang dari club malam " Jelas Dimitri santai sembari memakan sarapannya.


" Tidak bisa pa, besok aku ada pemotretan. Papa tidak lihat akhir-akhir ini kalau malam aku kurang tidur, kalau nanti malam aku pergi-pergi lagi maka besok wajahku akan bengkak " Sungut Blair.


" Jalan-jalan sebentar saja agar Andromeda tidak merasa kau abaikan " Balas Dimitri mengabaikan protes Blair.


" Tidak mau " Jawab Blair dengan tegas, ini pertama kalinya dia menolak perintah ayahnya dengan tegas.


Dimitri yang sedang memotong dagingnya itu langsung berhenti mendengar penolakan Blair, dia tersenyum miring dengan menyeramkan.


" Jangan kira papa tidak tau apa yang kau lakukan di belakang papa " Ancam Dimitri pelan, dengan perlahan dia menolehkan wajahnya menghadap Blair yang sudah sedikit gemetaran.


" Kalau kau melawan perintah papa, papa akan mengurungmu di rumah dan mencari tau apa saja yang sudah kau lakukan di belakang papa selama papa tidak mengawasimu, kalau sampai papa menemukan sesuatu yang aneh sedikit saja, papa tidak akan segan-segan " Lanjutnya dengan serius.


Deg ! Jantung Blair langsung memompa darahnya dengan cepat. Begini lah yang di takutkan Blair, ayahnya memang seorang pemain kotor. Siapapun yang menghalanginya akan dia hancurkan. Kalau sampai Dimitri tau dia dekat-dekat dengan Dylan pasti Dylan akan berada dalam bahaya.


" Ingat, papa memberimu kebebasan selama bersekolah di sekolah Loyard karena papa tau kualitas murid-murid yang bersekolah di sana, jadi papa tidak meragukan siapapun yang berteman dengan mu, tapi jika kau membantah papa lain lagi ceritanya " Jelas Dimitri penuh dengan ancaman.


" Ish " Decak Blair malas.


" Iya iya nanti aku akan berbicara dengan Andromeda di sekolah " Jawab Blair asal.


" Bagus " Dimitri mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum puas, Blair masih dalam kendalinya.


" Dekat-dekatlah dengan Andromeda, dia itu salah satu kandidat calon suami masa depanmu " Lanjutnya lalu kembali memakan sarapannya.


Sabar, sabar, demi apartemen, demi kebebasan dan demi Dylan aku harus bertahan sedikit lagi.


Batin Blair mengelus-elus dadanya lalu menghela napas pelan.


" Sudah aku berangkat dulu " Pamit Blair kemudian berdiri dan mencium pipi Nania.


" Daah " Dia melambaikan tangannya lalu pergi menjauh.


Manager Yo sudah menunggunya di depan mobil untuk mengantarkannya ke sekolah seperti biasanya.

__ADS_1


" Terima kasih " Jawab Blair malas saat Manager Yo membukakan pintu untuknya, dia melemparkan tasnya lebih dulu lalu masuk ke dalam mobil.


Manager Yo segera berputar dan masuk ke kursi pengemudi di depan Blair. Mobil pun bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah Blair.


" Besok kau ada pemotretan dari jam 10 pagi sampai sore " Jelas Manager Yo.


" Hah ? " Blair langsung menegakkan punggungnya saat mendengar penjelasan Manager Yo.


" Kenapa sampai sore ? Biasanya juga sampai siang " Protes Blair, dia sudah terlanjur berjanji pada Dylan akan menonton film setelah makan siang.


" Entahlah, Sekertaris Yuri menghubungi ku dan bilang kalau jadwal pemotretan mu dari pagi hingga sore bahkan bisa sampai malam menurutnya " Jawab Manager Yo seraya mengedikkan bahunya. Dia sendiri juga bingung karena tumben saja Sekertaris Yuri yang menghubunginya secara langsung untuk membooking jadwal Blair. Biasanya asisten si photographer yang melakukannya.


" Aduh bagaimana ini " Gumamnya panik. Padahal dia sudah yakin bisa menonton film dengan Dylan di bioskop dan setelahnya berkencan dengan kedok mengerjakan tugas bersama.


" Kenapa ? Biasanya kau selalu siap meski harus bekerja sampai malam " Tanya Manager Yo bingung.


" Besok aku ada janji dengan teman ku untuk mengerjakan tugas kelompok " Jelas Blair dengan memelas.


" Tugas kelompok ? " Manager Yo semakin mengerutkan keningnya, melirik Blair dari kaca spion dihadapannya, Blair sedang gelisah di bangku penumpang dan menggigiti kuku-kukunya.


" Kau kerja kolompok ? " Ulangnya bertanya.


" Kenapa ? " Tanya Blair ketus lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.


" Anak sekolah memang harusnya begitu " Lanjutnya ketus.


" Memangnya kau bisa kerja kelompok ? " Tanya Manager Yo sembari menahan tawanya.


Blair yang menempuh pendidikan dengan cara home schooling bertahun-tahun jelas tidak pernah mendapatkan tugas apapun dari gurunya, pun saat dia mencoba bersekolah di sekolah umum selama beberapa bulan setelah Disya kakaknya menikah, dia tidak pernah sekalipun mengerjakan tugasnya. Karena semua guru dan murid di sekolah lamanya selalu menganak emaskan dirinya. Mereka akan suka rela mengerjakan tugas Blair tanpa di minta. Kenapa justru di sekolah Loyard dia terlihat seperti layaknya seorang murid biasa ? Apa dia sudah kehilangan pamornya ? Pikir Manager Yo.


" Tentu saja bisa " Balas Blair ketus.


" Aku ini murid yang mengutamakan pendidikan " Lanjutnya pongah.


" Mengutamakan pendidikan ? " Manager Yo tidak bisa lagi menahan tawanya.


" Di sekolah lama mu saja kau hanya masuk sebulan 3 kali " Ejeknya dengan tergelak.


Blair memang polos, tidak hanya di mata Dylan tapi juga di mata Manager Yo yang sudah bekerja untuk ayahnya sejak Blair dan kakaknya masih kecil.


" Ck " Decak Blair kesal.


" Jangan sampai malam ya, ku mohon. Kalau aku tidak ikut belajar kelompok nanti namaku akan di coret dari tugas dan aku di anggap tidak mengerjakan tugas, lalu nilai ku akan kosong " Rengek Blair memelas. Padahal sebenarnya dia tidak ingin acara nontonnya dengan Dylan batal.


" Maafkan aku tapi Sekertaris Yuri sendiri yang menghubungi ku untuk menetapkan jadwal mu " Jawab Manager Yo. Dia tentu saja tidak bisa menolak saat Sekertaris Yuri sendiri yang menentukan jadwal pemotretannya.


" Bagaimana ini ? " Gumamnya memelas langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran jok mobil.


Tidak boleh gagal, kesempatan langka begini tidak akan datang 2 kali. Pokoknya aku harus nonton dengan Dylan walau kiamat sekalipun.


Tekadnya dalam hati.


Dengan pandangan jauh keluar jendela dia berusaha mencari cara agar kedua acara pentingnya tetap berjalan lancar.


Apakah otak oneng Blair mampu menyusun rencana dengan baik ? Semoga saja.


**Bersambung....


.


.


.


.


.


Epilog**


" Manager Yo " Ucap Sekertaris Yuri langsung saja pada intinya.


" Jadwal pemotretan nona Blair untuk hari minggu telah di tetapkan, dia akan melakukan sesi pemotretan dari pagi hingga sore bahkan mungkin sampai malam, jadi kau tidak perlu repot-repot menunggunya. Kau bisa beristirahat di rumah setelah mengantarnya ke mall, anggaplah sebagai hari libur mu " Jelas Sekertaris Yuri di sambungan teleponnya.


" Tu-tumben anda sendiri yang menghubungi saya " Jawab Manager Yo tergagap.


" Kenapa ? Kau tidak suka atau tidak percaya ? " Tanya Sekertaris Yuri dingin.


" Ti-tidak tuan saya percaya, saya percaya " Jawab Manager Yo terbungkuk-bungkuk merasa sedang di awasi oleh Sekertaris Yuri.


" Ya sudah. Kalau begitu ingat pesan ku, kau libur saja, kalau nanti pemotretannya sudah selesai biar orang kami yang akan mengantarkan nona Blair pulang " Pungkas Sekertaris Yuri.


" Baik tuan, siap laksanakan " Jawab Manager Yo mantap. Jika Sekertaris Yuri yang menjanjikan hal itu maka tidak ada keraguan di dalamnya sama sekali.


Berarti nona Blair akan aman dan pulang dengan selamat.


Batin Manager Yo meyakinkan dirinya sendiri.


Sekertaris Yuri pun memutus sambungan teleponnya. Lalu mengirim pesan pada Dylan bahwa dia telah membooking Blair untuknya.

__ADS_1


Ini hadiah dari paman, selamat bersenang-senang dan berkencan.


Begitulah baris terakhir dari pesan yang di kirimkannya untuk Dylan tersayang.


__ADS_2