
Suasana pulang sekolah ramai padat merayap. Mobil-mobil mewah saling berderet menunggu sang pemiliknya keluar dari dalam gedung sekolah. Dan murid-murid pun mulai menghambur keluar saat bel pulang sekolah berbunyi.
Blair yang terus saja memegangi perutnya sejak jam makan siang berakhir itu terlihat dengan lesu merapikan buku-buku miliknya.
Aku salut pada orang yang konsisten memegang teguh prinsip diet mereka, tapi bagiku lebih baik aku gendut daripada kelaparan.
Gerutunya dalam hati dan kembali memegangi perutnya yang melilit perih karena kelaparan.
Dylan yang melihat itu pun mengimbangi kecepatan Blair dalam merapikan bukunya, agar mereka bisa selesai bersama dan keluar kelas bersama.
" Dylan " Sapa Dera riang sudah ada di depan bangku mereka.
" Ayo kita pulang bersama " Ajaknya kemudian.
" Ya " Jawab Dylan asal namun matanya terus saja mengawasi Blair yang bergerak semakin pelan, dia melihat tangan Blair yang gemetaran saat memasukkan buku-bukunya kedalam tas.
Dera yang melihat Dylan mengacuhkannya itu pun ikut menatap Blair.
" Oh Blair kau pucat sekali ? Kau baik-baik saja ? " Tanyanya panik melihat wajah Blair yang seperti vampire itu, putih pucat tanpa rona merah.
" Ya " Jawab Blair lemas, lalu menarik resleting tasnya dan berdiri lalu menyampirkan tasnya di pundak.
" Aku duluan ya " Pamitnya dengan suara lirih hampir tak terdengar, dia lalu berjalan pelan menjauhi Dera dan Dylan.
" Kenapa dia ? " Tanya Dera bingung.
" Entahlah " Jawab Dylan cemas, dia terus saja mengawasi punggung Blair yang sudah hampir sampai di depan pintu kelas.
Bruugh !!! Tiba-tiba saja Blair jatuh pingsan. Dylan segera berlari dengan cepat menghampiri Blair.
" Hei kau baik-baik saja ? " Tanyanya panik seraya menepuk-nepuk pelan pipi Blair. Namun Blair tidak juga terbangun. Dengan sigap Dylan segera melepas jaketnya dan menutupkannya ke arah kaki Blair lalu menggendongnya.
" Hei kau " Panggil Dylan kepada Dera yang diam mematung, syok melihat Blair yang tiba-tiba pingsan.
" Bawakan tasnya dan ikut aku ke ruang uks " Perintah Dylan lalu bergegas keluar kelas, berjalan dengan cepat menuju uks.
" I-iya " Jawab Dera linglung dan kemudian segera ikut berlari mengambil tas Blair lalu menyusul Dylan.
Semoga dokter piketnya masih ada.
Batin Dylan panik dan mempercepat langkahnya.
Setelah berjalan menuruni tangga dan berbelok melewati lorong akhirnya Dylan sampai di depan ruang uks tepat saat dokter piket sedang mengunci pintunya.
" Tunggu dulu dokter, dia pingsan " Teriak Dylan panik. Dokter yang sedang mengunci pintu itupun kembali membukanya dengan buru-buru dan memberikan jalan masuk untuk Dylan.
" Baringkan disini " Ucap Dokter itu cepat, membuka tirai yang menutupi ranjang. Dylan membaringkan Blair dengan pelan.
" Kenapa dia bisa pingsan ? " Tanya Dokter itu kepada Dylan.
" Entahlah, tiba-tiba saja dia jatuh " Jawab Dylan cemas.
" Aku akan meme... huaa !! " Teriak dokter itu begitu melihat Blair yang terbaring pucat di ranjang.
" Di-dia a-artis itu kan ? " Tunjuknya dengan tangan gemetaran.
" Iya " Jawab Dylan bingung.
" Cepat panggil kepala sekolah, kita tidak boleh sembarang menanganinya " Perintah dokter itu dan mendorong tubuh Dylan agar segera pergi ke ruang kepala sekolah.
Meskipun bingung tapi Dylan tetap menuruti perintah dokter itu, dia keluar ruangan dan segera menelepon Sekertaris Yuri.
" Paman Dasya pingsan " Ucapnya langsung begitu Sekertaris Yuri menjawab panggilannya. Dylan kemudian hanya mengangguk-angguk dan menutup sambungan teleponnya. Lalu berjalan mondar-mandir di depan ruang uks menunggu Sekertaris Yuri datang.
Sekertaris Yuri datang dengan buru-buru dan menghampiri Dylan.
__ADS_1
" Bagaimana dia bisa pingsan ? " Tanyanya panik.
" Aku tidak tau tiba-tiba saja dia jatuh dan tak sadarkan diri " Jawab Dylan cemas.
" Kau tenangkan dirimu, dia pasti baik-baik saja. Kau pulang saja duluan, aku yang akan menghubungi managernya " Sekertaris Yuri menepuk pundak Dylan berusaha menenangkan Dylan yang terlihat khawatir.
" Tidak paman, aku akan menunggu disini saja " Jawab Dylan.
" Nanti aku akan pulang bersama mu " Lanjut Dylan.
" Ya sudah kau tunggu dengan tenang, aku akan bicara dengan dokter jaga " Sekertaris Yuri kemudian meninggalkan Dylan dan masuk ke ruang uks.
Dylan menyandarkan tubuhnya di dinding, menghela napas berat berulang kali. Sementara Dera yang tadi menyusul Dylan membawakan tas Blair mendengar semua pembicaraan Dylan dan Sekertaris Yuri dari balik tembok.
Jadi dia keponakan sekertaris Yuri ? Orang kepercayaan dalam klan Loyard ? Itu artinya Dylan bukan orang biasa.
Dera menerka-nerka sendiri, dia lalu berbalik dan berjalan agak menjauh. Kemudian mengambil ancang-ancang dan berlari menghampiri Dylan.
" Hah hah hah... " Suara napas Dera yang berpura-pura tersengal-sengal.
" Ma..na...Blair ? " Tanyanya.
" Di dalam " Jawab Dylan menunjuk ruangan dalam dengan dagunya.
" I..ni...tas...nya " Ucap Dera di sela napasnya yang putus-putus. Dia lalu menyerahkan tas Blair yang di bawanya.
Melihat Dera yang kelelahan mengejarnya, Dylan pun merasa sungkan.
" Kau baik-baik saja ? " Tanyanya memegang pundak Dera.
" Ya...ok " Jawab Dera tersenyum dan mengatur napasnya.
" Aku baik-baik saja " Lanjutnya lagi setelah napasnya telah kembali normal.
" Terima kasih dan maaf " Ucap Dylan sungkan.
" Untuk membantuku tadi " Jawab Dylan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
" Ini juga termasuk tugas ketua osis, tak masalah jangan merasa sungkan " Ucap Dera lembut dan tersenyum.
" Ya " Jawab Dylan singkat dan balas tersenyum.
Sempurna, aku memberikan kesan yang baik padanya, langkah kedua ku sudah di mulai.
Batin Dera girang.
" Kau pulang sekarang ? " Tanya Dera.
" Ah maaf aku di minta kepala sekolah untuk tinggal sebentar menjelaskan kronologis kejadiannya, kau tau kan dia bukan orang biasa. Blair " Jawab Dylan gugup karena harus berbohong.
" Tidak masalah, kita bisa pulang bersama lain kali " Dera menunjukkan senyum manisnya dan kedewasaan pola pikirnya.
Ya laki-laki tidak akan suka gadis yang terlalu posesif, jadi aku akan menunjukkan padanya bahwa aku adalah gadis yang berpikiran dewasa dan sangat pengertian.
Dera memulai misinya untuk membuat Dylan jatuh hati padanya. Kini setelah kejadian ini, Dylan tidak akan bersikap dingin dan acuh lagi padanya karena merasa berhutang budi.
" Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, jemputan ku pasti sudah menunggu ku " Pamit Dera pergi.
" Ya baiklah, sekali lagi terima kasih atas bantuanmu " Jawab Dylan sungkan dan menundukkan kepalanya.
" Jangan sungkan. Daah " Dera melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Dylan.
Ponsel di saku Dylan bergetar, dia mengambilnya dan melihatnya. Kak Rai. Dengan buru-buru dia segera menjawabnya.
" Ya kak ? " Tanya Dylan.
__ADS_1
" Kau sudah pulang sekolah ? Kalau sudah langsung pulang jangan main-main, minta sekertaris Yuri mengantarmu ke rumah Ruby ya, kita semua sedang berkumpul disini " Perintah Rai langsung tanpa basa-basi.
" Kita ? " Tanya Dylan bingung.
" Ken dan Kiran, mereka baru saja sampai. Sudah cepat pulang atau kau tidak akan kebagian oleh-oleh " Rai menutup sambungan teleponnya bahkan sebelum Dylan menjawabnya.
" Kok mereka sudah pulang ya ? Bukannya masih minggu depan ? " Gumam Dylan sendiri. Terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai. Dylan menoleh. Dia melihat manager Yo sedang celingukan mencari ruang uks.
" Tuan " Panggil Dylan melambaikan tangannya. Manager Yo segera berlari menghampiri Dylan.
" Dimana dia ? " Tanyanya panik.
" Didalam sedang di periksa dokter " Jawab Dylan sopan dan menunjuk kedalam ruang uks.
" Apa ini gara-gara penyakit jantungnya ya ? " Gumam Manager Yo cemas dan segera masuk kedalam.
Dia punya penyakit jantung ?
Dylan menyandarkan tubuhnya mendengar gumaman manager Yo tadi. Syok.
Kenapa aku jahat sekali padanya, terus saja menggodanya seharian ini. Aarggh !! Bodoh, bodoh, bodoh, harusnya aku bersikap lebih lembut padanya. Dimana hati nurani ku sampai memperlakukan orang yang sakit jantung dengan buruk seperti itu.
Geram Dylan kesal dan meninju-ninju tembok.
Dylan pun berjalan perlahan memasuki ruang uks, ingin melihat bagaimana keadaan Blair.
Blair sendiri sudah sadar dan duduk bersandar pada sandaran ranjang. Dengan di temani Manager Yo di sampingnya yang sedang berbicara dengan dokter.
" Dia tidak boleh terlalu stres " Begitulah samar-samar pesan dokter yang tertangkap di telinga Dylan. Dia menghela napas frustasi dan kembali mengutuki dirinya sendiri. Merasa bersalah menjadi penyebab pingsannya Blair.
Sekertaris Yuri pun keluar dari dalam ruangan dan melihat Dylan yang sepertinya sedang sedih.
" Dia baik-baik saja, ayo kita pulang " Ajak Sekertaris Yuri menuntun Dylan keluar ruangan.
" Tapi paman... " Dylan masih berusaha ingin bertemu dengan Blair.
" Sudah ada managernya, serahkan padanya " Jawab Sekertaris Yuri santai dan sedikit memaksa Dylan agar keluar ruangan.
Mereka pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil. Dylan memberitahukan pesan Rai agar mereka pergi ke rumah lama Ruby. Dan Sekertaris Yuri melajukan mobilnya keluar area sekolah.
Selama perjalanan Dylan hanya diam saja, masih merasa bersalah karena menjadi penyebab pingsannya Blair, setidaknya begitu yang dia pikirkan. Hingga tanpa sadar mobil mereka telah sampai di tempat tujuan.
" Ayo turun " Ajak Sekertaris Yuri.
Dengan malas Dylan membuka pintu mobilnya lalu keluar. Semua orang yang sedang bersantai di teras rumah itupun berdiri menyambut Dylan.
" Adik ku sayang " Sapa Ken begitu Dylan mendekat. Namun Dylan yang sedang pusing itupun tidak membalas sapaan Ken. Suasana hatinya sedang buruk.
" Kau kenapa ? " Tanya Rai bingung melihat Dylan yang memberengut kesal bercampur sedih.
" Hei tidak mungkin kan ?!?! " Pekik Ken terkejut. Rai, Ruby, Kiran dan Sekertaris Yuri serta Dylan pun menoleh ke arah Ken yang sudah membelalak dengan menutupi mulutnya yang mengangga saat menatap Dylan.
" Apa ? " Tanya Rai semakin bingung.
" Kau marah karena kami menjadikanmu nunu si penyedot debu ya ? " Tanya Ken ragu-ragu. Mereka semua kompak menoleh ke arah Dylan dan memandangnya dengan sedih.
" Benarkah ? " Tanya Rai terkejut.
" Aish kau sih ! " Omel Kiran kepada Ken.
" Kau pilih kasih sih, sudah menjadikannya ranger pink dan sekarang si nunu " Omel Ruby juga seakan-akan membela Dylan.
Dylan menghela napas jengah melihat the amburadul familynya.
" Aku tidak ingin jadi nunu " Sentaknya asal. Semua orang terdiam mendengarnya.
__ADS_1
" Aku mau jadi pipanya saja. Kemana perginya teletubbies ya ? " Ucap Dylan menirukan dialog dalam serial teletubbies tersebut dan berpura-pura celingukan seperti mencari-cari sesuatu lalu masuk ke dalam rumah.
Semua orang yang melihat sikap itu hanya bisa membelalak dengan mulut mengangga.