
Sore hari yang sejuk menjelang, sinar matahari yang menyengat mulai berganti menjadi temaram dan menghangat. Suara burung-burung peliharaan Regis juga saling bersaut-sautan semakin menambah hangatnya suasana sore hari.
Ruby dan Kiran sedang menemani Raline mencari udara segar di taman. Mereka berdua duduk di bangku kayu depan air mancur. Raline yang terlihat segar setelah mandi sore itu sedang tertawa terpingkal-pingkal melihat cahaya air mancur dengan di temani Lusi dan Sinta.
" Kau sudah merasa lebih baik ? " Tanya Ruby.
" Baik apanya ? " Kiran malah balik bertanya, bingung.
" Suasana hati mu " Ruby berdecak kesal lalu memukul paha Kiran.
" Suasana hati ku baik-baik saja kok, memangnya kenapa ? " Kiran masih menyangkal jika beberapa hari dia berubah seperti bukan dirinya sendiri. Hingga membuat Ken hampir putus asa dan ingin membawanya ke dukun online.
" Dasar anak ini " Ruby semakin mengeraskan tepukannya di paha Kiran.
" Kau dan masa PMS mu itu benar-benar menyebalkan " Jawab Ruby kesal.
" PMS ? Masa sih ? " Kiran sendiri tidak sadar jika dirinya sedang berada di masa PMS, karena dia sudah lama tidak merasakan hal itu.
" Hei aku saja yang tidak ikut punya tubuh tau jika kau sebentar lagi akan mengalami haid, masa kau yang punya tubuh tidak tau " Cibir Ruby semakin kesal.
" Sebenarnya juga aku merasa ada yang aneh dengan tubuh ku, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah tidak pernah merasakan haid lagi selama 8 bulan terakhir " Jawab Kiran santai. Dia kembali mengingat-ingat kembali masa haid nya 8 bulan yang lalu, sama sekali berbeda dengan sekarang. Dulu masa PMS nya di lalui dengan deraian air mata mengutuki nasibnya yang di rasa sial karena harus berurusan dengan Ganung. Makanya dia sama sekali tidak sadar jika dia sedang mengalami PMS saat ini karena dia tidak merasa sedih berlebihan dengan deraian air mata.
" Kau tidak ingin memeriksakannya ? " Tanya Ruby cemas melihat kondisi Kiran yang menurutnya tidak normal.
" Aku sudah pernah periksa sebelumnya, tapi dokter bilang itu karena faktor tekanan mental ku yang berlebihan, sampai kapan ini terjadi aku juga tidak tau " Kiran mengedikkan bahunya lalu menunduk sedih. Semua itu di luar kuasanya, bukan dirinya yang ingin tubuhnya berjalan tidak pada umumnya.
" Kau tenang saja, ku harap sebentar lagi kau akan sehat dan tubuhmu bisa bekerja secara normal " Ruby mengusap-usap punggung Kiran, dengan suara yang bergetar dia juga ikut bersimpati pada sahabatnya itu.
" Iya ku harap semua akan segera berjalan dengan normal " Jawab Kiran dengan tersenyum lalu memeluk Ruby.
" Kau memang sahabat sekaligus saudara ku yang paling ku sayang " Lanjutnya.
" Kau juga " Ruby mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di pundak Kiran, kemudian menghela napas panjang. Pikirannya sedang melayang pada sosok Vivianne yang dia temui tadi siang. Dia memiliki firasat buruk dengan kembalinya si penyihir licik itu.
Setelah cukup lama, Kiran melepaskan pelukannya dan mendapati wajah Ruby yang terlihat suntuk.
" Kau kenapa ? " Tanya Kiran bingung, bukannya tadi dia yang memberi semangat, sekarang malah dirinya yang lesu tak bersemangat.
" Dia pulang " Ucap Ruby mengalihkan pandangannya dari tatapan Kiran.
" Dia siapa ? " Tanya Kiran bingung, setau Kiran Ruby tidak memiliki sejarah di hantui oleh orang lain, tidak seperti dirinya yang di hantui Ganung. Satu-satunya musuh Ruby adalah Ignes yang dia tau masih ada di rumah sakit jiwa. Di kurung untuk waktu yang sangat lama.
" Penyihir Vi " Jawab Ruby malas menyilangkan kedua tangannya di dada.
" Hah ?!? " Pekik Kiran terkejut lalu menatap Ruby dengan seksama.
" Pulang kemana ? Ke rumah ini ? " Tanyanya dengan rasa penasaran yang tak terbendung.
" Aku rasa tidak, tapi yang jelas dia pulang ke negara ini " Jawab Ruby kembali menghela napas panjang lalu tertunduk sedih.
" Oh dear kau baik-baik saja ? " Tanya Kiran sedih lalu mengelus punggung Ruby. Dia ingat Ruby pernah bercerita jika Vivianne sangat tergila-gila dengan Rai, mungkin saja Ruby sekarang sedang takut kehilangan Rai. Mengingat mereka selalu di kelilingi oleh kumpulan orang yang nekat.
" Entahlah, kalau dia sampai sering datang ke sini aku tidak yakin bisa menahan diri agar tidak menghajarnya, kau tau mulutnya benar-benar berbisa " Jelas Ruby, dia kemudian menceritakan pertemuannya tadi siang dengan Vivianne yang berlangsung dengan dramatis di warnai saling sindir penuh dendam kesumat.
" Memangnya dia kembali kesini untuk apa ? " Tanya Kiran kini berganti menggenggam tangan Ruby.
" Aku belum bilang padamu ya kalau aku mendapat undangan pernikahannya, undangan atas namaku sendiri bukan untuk Rai juga bukan untuk ayah " Jawab Ruby malas.
" Oh ya ? Kapan ? " Tanya Kiran syok. Dia memang sudah lama tidak bertemu dengan penyihir Vi, tapi soal kesombongannya jangan di tanya, Kiran hapal hinggal detailnya.
" Hari minggu besok " Jawab Ruby kembali menghela napas sedih.
" Jangan bilang kau akan datang " Tanya Kiran menebak.
" Entahlah, aku tidak ingin datang sebenarnya, tapi setelah kami bertengkar tadi aku terlanjur menyanggupi tantangannya untuk hadir di pesta pernikahannya " Decak Ruby malas, kini dia menyesali kecerobohannya sendiri yang begitu mudahnya terpancing ucapan Si ular berbisa itu.
" Ish kau ini " Kiran memukul tangan Ruby yang ada di genggamannya.
" Ya habis aku benar-benar emosi melihatnya bertingkah begitu, kalau saja bukan di depan Raline aku tidak akan sungkan-sungkan untuk menguncir mulutnya itu " Jawab Ruby ketus.
" Lalu bagaimana dengan tuan Rai, apa dia setuju kau datang ke acara itu ? " Kejar Kiran. penasaran.
" Aku belum berbicara dengannya masalah ini, tapi dia sepertinya malah terlihat tidak tertarik dengan acara pernikahan Vivianne " Jawab Ruby malas.
__ADS_1
" Bagus lah kalau begitu, jadi kau tidak perlu datang kesana. Lalu kenapa kau masih terlihat galau ? " Tanya Kiran bingung.
" Masalahnya adalah aku merasa berhutang budi pada bibi Na meskipun aku belum pernah bertemu dengannya, kau tau membantu mengurus bayi tentu bukanlah hal yang mudah apalagi itu sekelas Rai, sedikit banyak aku bisa merasakan apa yang ibu mertua rasakan, dia pasti merasa sangat berterima kasih dengan bibi Na, tapi jika melihat kelakuan anaknya, ugh... benar-benar ingin ku hajar saja " Jelas Ruby mengepalkan tangannya kesal, bingung sendiri harus bagaimana, di satu sisi ada bibi Na yang pernah berjasa dalam hidup Rai, disisi lain ada si ular berbisa yang sangat di bencinya.
" Kau tanya kan saja pada tuan Rai, aku yakin dia pasti punya alasan tersendiri kenapa dia tidak mau membahas masalah pernikahn Vivianne dengan mu, aneh juga karena mereka kan teman dari kecil, masa tuan Rai sama sekali tidak terpengaruh " Jawab Kiran memberikan masukannya. Dia tidak ingin terlalu ikut campur urusan Ruby dengan Rai, tapi jika urusan Ruby dengan Vivianne maka dia siap pasang badan untuk melindungi sahabatnya itu.
" Hei kenapa kau terus memanggilnya tuan tuan, bukankah dia sudah jadi kakak ipar mu, panggil saja dia kak " Omel Ruby.
" Aku masih tidak terbiasa memanggilnya kak, karena sedari dulu kita selalu membicarakannya dengan sebutan tuan " Jawab Kiran sambil meringis.
" Gara-gara kau yang memanggilnya tuan aku jadi kalah taruhan. Kau terus memanggilnya tuan jadi membuatnya merasa mampu mengintimidasi mu " Ruby terus mengomeli Kiran dengan kesal, berkat Kiran dirinya jadi harus menanggung hutang beronde-ronde pada si lintah darat ronde.
" Hehehe... maaf ya, aku memang sengaja " goda Kiran meledek Ruby yang sedang memberengut kesal. Mendengar hal itu Ruby langsung mendelik pada Kiran.
" Ampun ampun " Jawab Kiran kembali meringis.
" Eh ngomong-ngomong kemana ketiga beruang itu ? Tumben tidak ikut menemani Raline " Tanya Kiran celingukan mencari ketiga kakak beradik itu.
" Entahlah, di dalam mungkin " Jawab Ruby acuh.
" Ayo selesaikan rasa galau mu, kita bicarakan ini dengan tuan Rai, jangan mau kalah dengan penyihir itu " Ajak Kiran menarik tangan Ruby berdiri dan membawanya berjalan menuju dalam mansion.
" Hei duo merekah, titip Raline sebentar ya " Pamit Ruby sambil berteriak kepada Sinta dan Lusi yang di jawab mereka dengan acungan jempol dari jauh.
Kiran dan Ruby berjalan menyusuri lorong menuju ruang keluarga, mungkin saja ketiga orang itu sedang ada disana.
Benar saja dugaan mereka, Rai dan kedua adiknya terlihat sedang berbicara dengan serius. Ruby dan Kiran lebih memilih menguping saja pembicaraan para lelaki di Klan Loyard itu, penasaran tentang apa saja yang di bicarakan jika lelaki sedang bergosip.
" Seharian ini aku di buat kelimpungan oleh Kiran yang sedang berubah-ubah moodnya, hampir saja aku khilaf dan membawanya ke dukun online " Keluh Ken kepada Rai dan Dylan.
" Memangnya kenapa lagi ? " Tanya Rai asal.
" Dia benar-benar aneh, tadi bilang ingin makanan pedas, lalu tiba-tiba berubah ingin makanan manis, saat sudah ku belikan makanan manis tiba-tiba berubah ingin makanan pedas lagi. Apa memang begini wanita yang sedang PMS itu ? " Keluhnya seraya mengacak-acak rambutnya sendiri, mengusir rasa kesalnya karena lelah harus menuruti keinginan Kiran yang terkadang aneh-aneh.
" Cih begitu saja sudah menyerah " Cibir Dylan meremehkan.
" Hei memangnya kau pernah menghadapi wanita yang sedang PMS ? " Tanya Rai penasaran.
" Sering, setiap bulan malah " jawab Dylan santai.
" Ini ibu ku !! " Potong Dylan kesal.
" Dulu saat ibu ku sedang dalam fase PMS dia akan sangat sensitif, tiba-tiba saja suasana hatinya riang, lalu beberapa menit kemudian tiba-tiba berubah sedih hingga menangis sampai sejadi-jadinya " Jawab Dylan santai.
" Memangnya kak Ruby tidak begitu saat PMS ? " tanya Dylan asal karena melihat Rai yang begitu serius menyimak cerita Dylan.
" Entahlah aku tidak tau, dia memang selalu pemarah entah itu waktu PMS atau tidak aku tidak pernah tau " Jawab Rai santai mengedikkan bahunya.
" Memangnya kau tidak pernah kebetulan harus membelikannya pembalut ? " Tanya Dylan lagi.
" Tidak pernah " Jawab Rai acuh lalu kembali melanjutkan rebahannya.
" Kalau kak Kiran ? " tanya Dylan pada Ken.
" Entahlah aku juga tidak tau, ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu, kami kan juga baru menikah " Decak Ken putus asa, dia hampir menyerah dan sering kehabisan kesabaran saat menghadapi Kiran dengan PMS nya.
" Ku berikan tips ya bagaimana cara menghadapi wanita yang sedang PMS, pertama turuti saja semua kemauannya, cara itu selalu efektif dan berhasil. Kedua berikan perhatian yang lebih lagi padanya, itu bagus untuk menjaga moodnya agar tidak naik turun, ketiga, gosok-gosok punggungnya atau perutnya, biasanya mereka akan kesakitan di dua area itu, jadi sebelum di minta sebaiknya kalian sudah melakukannya, di jamin mereka tidak bakal membuat kalian kesusahan " Jelas Dylan panjang lebar.
" Hooo kau tau banyak sekali tentang hal-hal yang berhubungan dengan wanita " Goda Ken.
" Tentu saja, itu kan di ajarkan saat sekolah, kalian hanya perlu mencatat saja tanggal haidnya, jadi pada bulan berikutnya kalian sudah bersiap-siap, semudah itu menghadapi siklus PMS mereka " Jelasnya sombong.
" Terus kau membeli pembalut itu untuk siapa ? " Tanya Ken menginterogasi Dylan.
" Untuk Dasya, aku tidak sengaja melihat roknya yang penuh dengan noda darah " Jawab Dylan santai.
" Hei sebenarnya sudah seberapa jauh hubungan kalian berdua ? " Tanya Ken kembali menginterogasi Dylan dengan wajah yang di buat seserius mungkin. Sementara Rai hanya berbaring santai di sofa dengan kedua tangannya yang menjadi bantalan.
" Cih " Decaknya malas memalingkan wajah.
" Kami hanya berteman saja kok " Lanjutnya menghindar.
" Iya teman tapi mesra " Potong Ken dengan cepat.
__ADS_1
" Kau tau, karena kau terlalu dekat dengannya hingga membuat Dera cemburu buta dan menuduh Kiran yang tidak-tidak, hampir saja aku bertengkar dengan Kiran karena pengaduannya " Jelas Ken bercerita menggebu-gebu.
" Dera ? " Tanya Dylan bingung. Apa hubungan Kiran dengan Dera ?
" Iya kemarin Kiran bercerita kalau Blair mengatakan padanya ada murid lain yang juga menyukaimu dan cemburu melihat kedekatan mu dengan Kiran, jadi dia berniat mengadukan Kiran pada ku selaku kepala sekolah " Jelas Ken lebih mendetail.
" Ck " Dylan terlihat sangat kesal begitu mendengar cerita Ken.
" Harus ku apakan dia agar berhenti mengejarku, aku bahkan sudah menolaknya dengan tegas " jawab Dylan merasa sungkan telah membuat Kiran dalam masalah.
" Sepertinya dia akan sulit untuk kau atasi, mengingat dia adalah gadis yang sangat keras kepala " Jawab Ken mengangguk-anggukkan kepalanya ikut memikirkan masalah Dylan.
" Tentu saja dia sangat keras kepala " saut Rai yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka berdua.
" Dia anak terakhir dan anak perempuan satu-satunya dari tuan Gavin, sudah pasti dia sangat di manja, dia terbiasa mendapatkan apapun keinginannya, jadi ketika dia tidak bisa mendapatkan mu, itu pasti sangat melukai harga dirinya, dan dia akan terus berusaha mendapatkanmu bagaimana pun caranya " Lanjut Rai panjang lebar.
Dylan hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Rai, dia tidak tau langkah apa lagi yang harus di ambilnya untuk menghindari Dera. Dia merasa sudah melakukan semua hal semampunya yang dia bisa. Baik cara halus sampai cara kasar, baik ucapan yang samar-samar sampai yang to the point.
" Sekarang aku tanya pada mu " Rai menegakkan punggungnya dan menghadap Dylan dengan serius.
" Apa kau benar-benar jatuh cinta dengan Blair atau hanya sekedar suka ? " Tanya Rai.
Mendapat pertanyaan begitu Dylan langsung menundukkan wajahnya malu, dulu dia paling tidak suka membahas masalah asmara karena ingin fokus pada sekolahnya dan membuktikan pada keluarga barunya bahwa dia layak menjadi bagian dari Klan Loyard karena dia memiliki sesuatu yang bisa di banggakan, bukan karena belas kasihan semata. Tapi sekarang rencananya berantakan di tengah jalan, mendadak cinta datang dan memecah fokusnya.
" Ku rasa aku jatuh cinta padanya " Jawab Dylan malu-malu sekaligus takut.
" Kalau kau memang benar-benar jatuh cinta padanya maka kau harus siap dengan segala resiko yang akan kau hadapi " Nasehat Rai kemudian menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh.
" Orang yang kau cintai itu bukan orang sembarangan. Jika boleh jujur aku sangat tidak menyukai keluarga Dimitri karena dia terlalu serakah dan bagiku itu berlaku untuk seluruh anggota keluarganya, termasuk si calon kekasihmu Dipsy " Lanjut Rai.
" Dasya " Potong Ken meralat.
"Kalau dipsy kan kita " Lanjutnya asal.
" Dasya kek, dipsy kek, dupsy kek, aku tidak peduli " Jawab Rai acuh.
" Tapi untung saja ayah tidak berpikiran begitu, jadi kau bisa merasa sedikit tenang karena bisa di pastikan kau akan mendapatkan restu darinya. Dimitri itu begitu berambisi menjadikan Blair nyonya di keluarga ini, dan kalau pikirmu kau bisa dengan mudah mendapatkannya maka kau salah besar " Lanjut Rai panjang lebar.
" Dimitri itu tidak percaya keadilan yang ayah terapkan kepada kita, dia mengira anak angkat tidak memiliki kekuatan di mata hukum yang mana akan berimbas dengan pembagian warisan dan kekuasaan, jika di jelaskan secara kasar menurutnya anak angkat tidak berhak mendapatkan harta sepeser pun dari ayah, ingat semua tentang Dimitri itu selalu bermuara pada uang " Saut Ken ganti menjelaskan.
" Jadi meskipun Dimitri tau tentang identitasmu sekalipun aku yakin dia tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua " Rai ikut menimpali.
" Maka dari itu sebelum kau terluka terlalu dalam pikirkan baik-baik tentang hal ini, karena kalau sampai Dimitri menyakitimu, kami tidak akan tinggal diam. Kami akan membalasnya lebih kejam bahkan sampai ke seluruh keluarganya termasuk si dipsy itu " Lanjut Rai dengan mimik wajah yang serius, dia sedang memainkan perannya sebagai kakak yang akan melindungi adiknya apapun yang terjadi sekarang ini.
Hati Dylan seperti sedang di remas-remas begitu mendengar penjelasan Rai, dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu, tapi kakak-kakaknya bahkan sudah memperlihatkan gambaran perjalanan kisah cinta mereka ke depannya. Yang ternyata tidak akan seindah kisah Dilan dan Milea.
" Sekarang apa yang akan kau lakukan ? Tetap memilih bersamanya meski kau tau jalan mu akan sulit atau menghindarinya selagi kalian belum melangkah terlalu jauh ? " Tanya Rai memastikan.
Dylan terlihat sedang berpikir dengan keras, situasi semacam ini sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya. Jadi dia butuh waktu untuk berpikir dan memutuskannya.
" Pikirkan baik-baik karena ini menyangkut hati mu, karena mungkin hatimu akan patah berkali-kali " saut Ken ikut menimpali.
" Aku akan memikirkannya baik-baik " Jawab Dylan pada akhirnya, dia tidak ingin terlalu gegabah mengambil keputusan yang nantinya malah hanya akan melukai dirinya sendiri ataupun Blair.
Suasana hatinya yang seharian ini di penuhi bunga-bunga itu mendadak langsung terasa gersang saat mendengar penjelasan dari kedua kakaknya. Kepalanya berdenyut nyeri dan perutnya terasa mual.
" Aku ingin istirahat dulu di kamar " Pamit Dylan bangun dari duduknya, menundukkan kepalanya sopan dan pergi keluar dari ruang keluarga itu. Rai dan Ken sepenuhnya menghormati keputusan Dylan dan tidak ingin mempengaruhi pemikirannya.
Sementara itu Kiran dan Ruby yang sedari tadi ikut menguping pembicaraan mereka, langsung bersembunyi di balik pintu begitu Dylan lewat. Mendadak mereka merasa kasihan pada Dylan. Bahkan setelah memiliki keluarga yang sempurna dan bahagia serta bergelimang kekuasaan serta harta tidak menjamin kehidupannya ke depan akan semulus kulit sapi.
" Kasihan ya Dylan " Ucap Ruby dengan sedih. Dia menunggu Kiran ikut berkomentar tapi hening, tidak ada jawaban. Ruby menoleh ke samping.
" Hah ?!?! " Pekiknya terhenyak kaget sampai membuatnya mundur beberapa langkah.
" Ki-kiran " Panggilnya menepuk-nepuk pundak Kiran. Namun Kiran hanya diam saja tak bergerak dengan wajah yang tertunduk. Mode gahar on.
" Jadi si mbok ja yang ingin mengadukan ku pada Ken adalah Dera ya ? " gumamnya dengan nada rendah menyeramkan yang membuat bulu kuduk berdiri. Jadi sedari tadi Kiran hanya fokus pada informasi yang tak sengaja terungkap tentang siapa yang berniat mengadukannya pada Ken.
" Lihat saja akan ku buat perhitungan padanya, aku sangat benci bunga kamboja dan sekarang bunga kamboja itu malah menjadi mbok ja si tukang pengadu " Geramnya kesal.
Waduh Ken gawat, mungkin memang benar kau butuh dukun online.
Batin Ruby kemudian mundur perlahan-lahan lalu pergi dari sana sebelum ikut terkena imbas kemarahan Kiran.
__ADS_1
Kabuuurr !!!