Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Begadang Yang Ada Artinya


__ADS_3

Suasana setiap rumah pasti terasa sepi saat beberapa anggota keluarga pergi, begitu juga suasana mansion milik Klan Loyard. Padahal hanya Ken dan Kiran yang pergi untuk bulan madu, tapi suasana rumah seperti sudah kehilangan separuh penduduknya.


Ruby sedang berjalan-jalan santai di taman dengan mendorong kereta dorong Raline, di temani Rai dan 2 pelayan yang harus selalu siaga berada di dekat Ruby, mereka semua sedang menikmati matahari sore, dan menemani Raline berjemur.


" Kira-kira mereka sudah sampai belum ya ? " Tanya Ruby kepada Rai.


" Kenapa ? " Tanya Rai santai dan terus melihat Raline yang menggeliat-geliat lucu di atas kereta dorongnya.


" Tidak apa-apa, hanya penasaran " Jawabnya santai.


Rai mendongak untuk menatap wajah istrinya, lalu dengan lembut dia membelai wajahnya dan mencium pipinya.


" Hei jangan macam-macam, ada pelayan disini " Bisik Ruby lirih dan mendorong Rai menjauh.


" Biarkan saja, aku memang suka pamer, kalau mereka iri suruh saja mereka cari pasangan juga " Jawabnya asal dan menarik Ruby kembali dalam pelukannya.


" Kau ingin bulan madu juga ? " Bisiknya di telinga Ruby dengan nada menggoda.


" Tidak juga, hanya penasaran mereka lebih cepat sampai atau sama saja walaupun mereka naik pesawat pribadi " Jawab Ruby santai, tapi Rai tidak peduli dia tetap saja menggoda Ruby dan semakin memeluknya erat dan menciumi leher Ruby.


" Memangnya kau belum pernah naik pesawat ? " Rai menghentikan aktifitasnya dan menatap Ruby, mengamatinya dengan sungguh-sungguh.


" Hmm... " Ruby menggelengkan kepalanya lalu tersenyum canggung.


" Aish kenapa semua tentangmu selalu menyedihkan begini sih ? Aku jadi takut setiap kali bertanya padamu, siapa tau mengingatkan pada masa lalumu dan kemudian membuatmu sedih " Jawab Rai ketus, dia kemudian membenamkan wajah Ruby di dadanya.


" Tidak apa-apa, aku baik-baik saja " Jawab Ruby lalu membalas pelukan Rai.


" Ok baiklah karena kau belum pernah naik pesawat, aku akan membawa mu terbang kali ini " Rai melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Ruby.


" Terbang ? " Tanya Ruby bingung.


" Siap ? " Rai mengerlingkan matanya menggoda Ruby.


" Apa ? " Ruby yang masih bingung seperti punya firasat buruk dari kerlingan mata Rai, dan benar saja tanpa menunggu lebih lama lagi Rai meraup Ruby dengan kedua tangannya dan menggendongnya.


" Hei turunkan aku " Ruby meronta pelan.


" Kalian berdua jaga Raline dulu ya " Perintah Rai kepada kedua pelayan yang sedari tadi menyaksikan adegan romantis menyesakkan dada bagi mereka yang sedang sendiri itu.


Rai membawa Ruby berjalan memasuki mansion dan langsung menuju ke atas, tempat kamar mereka berada.


Dia membuka pintu dengan tangannya yang memegang kaki Ruby dan mendorongnya dengan pundaknya.


" Kau siap ? " Tanya Rai menuju ranjangnya.


" Hei turunkan aku, ini masih sore " Ruby meronta-ronta namun sia-sia saja, gendongan Rai terlalu kuat.


Dengan perlahan Rai membaringkan Ruby di atas ranjangnya dan menatap wajahnya.


" Memangnya kenapa kalau masih sore ? " Tanya Rai lirih, mata mereka beradu penuh cinta. Selesai sudah masa nifas Ruby beberapa hari yang lalu, dan pikiran itu membuat wajahnya merah merona.

__ADS_1


" Tidak, hanya saja... " Ruby tersipu malu, tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia membenamkan wajahnya di dada Rai yang berbaring di sampingnya.


" Hanya apa ? " Tanyanya Rai semakin menggoda.


" Kau bilang akan mengajakku terbang, dan ini masih sore, jadi.... " Ruby yang semakin gugup dan malu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Tidak masalah, mau siang, sore ataupun malam, kita bebas melakukannya " Jawab Rai santai.


" Hei... jangan di teruskan, aku malu " Jawab Ruby dari sela-sela tangannya yang menutupi wajah.


" Kenapa harus malu, tidak apa-apa " Jawab Rai meyakinkan.


" Kau siap ? " Ulang Rai lagi.


" Baiklah " Jawab Ruby lirih, dia kemudian membuka kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya.


Rai mengelus punggung Ruby yang ada di pelukannya. Dengan masih saling bertatapan penuh cinta, Ruby perlahan-lahan menurunkan tangannya, membuka kancing bajunya, namun hal tak terduga terjadi. Bersamaan dengan itu, Rai sudah mengangkat tubuh Ruby dan menyangganya di atas kaki Rai yang tertekuk.


" Ya ampun " Pekik Ruby terkejut mendapati Rai mengangkatnya tanpa aba-aba.


" Bersiaplah, pesawat akan lepas landas " Jawab Rai girang dan mengangkat tubuh Ruby setinggi yang mampu kakinya capai.


" Huaa !!! " Teriak Ruby karena belum siap.


" Rentangkan tanganmu " Teriak Rai girang.


Hahahaha.... terbang yang begini ya ? Ku kira terbang yang itu. Aku lupa kalau yang sedang mengangkatku saat ini adalah manusia purba.


Namun tangan Ruby yang masih memegangi kancingnya tak luput dari pandangan Rai.


" Kenapa kau membuka kancingmu ? " Tanya Rai bingung, sedikit memiringkan kepalanya.


" Tidak apa-apa, hanya reflek " Kilah Ruby cepat, dan wajahnya semakin merona merah.


Jangan sampai dia tau, atau dia akan meledekku habis-habisan karena telah berpikiran mesum. Hei otak !! Sadarlah.


Makinya dalam hati.


" Reflek ? " Ulang Rai terlihat tidak percaya.


" Ya, reflek " Jawab Ruby singkat dan memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa malunya.


Namun Rai yang masih belum percaya tiba-tiba saja merentangkan kakinya terbuka, membuat tubuh Ruby jatuh terbanting di atas tubuh Rai. Lalu dengan cepat Rai menguncinya dengan kedua tangan dan kedua kakinya yang bebas.


" Sepertinya bukan reflek ? Apa itu ? " Tanya Rai menyelidik, wajah mereka bertatapan sangat dekat saat ini.


" Iya hanya reflek, aku tidak bohong. Lepaskan aku sekarang, mungkin Raline sedang menangis " Ruby semakin salah tingkah dan wajahnya semakin merona, mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Aku tidak percaya " Rai semakin mengeratkan kunciannya, dan wajah mereka semakin dekat, hingga tanpa sengaja bibir Ruby mencium bibir Rai.


" Ayolah " Rengek Ruby.

__ADS_1


" Aku tau kau sedang berbohong, jadi aku tidak akan melepaskanmu kalau kau tidak mau bilang apa yang sedang berusaha kau sembunyikan " Tolak Rai.


" Baiklah, baiklah. Ku kira kau akan mengajak ku terbang yang itu " Jawab Ruby malu-malu.


" Terbang yang itu ? " Tanya Rai masih bingung.


" Itu...yang itu... " Ruby yang masih malu-malu membenamkan wajahnya diantara ceruk leher Rai.


" Yang erotis " Bisiknya lirih di telinga Rai.


Wajah Rai seketika merah dan dengan cepat melepaskan kunciannya, lalu memutar tubuh Ruby dan sekarang berada di atasnya dengan kaki yang menumpu pada lutut.


" Memangnya sudah boleh ? " Tanyanya girang.


" Ya su-sudah boleh " Jawab Ruby bingung dengan pertanyaan Rai.


" Aish dokter sialan, sewaktu kau melahirkan dan aku melihatmu terus saja memakai sesuatu dan mengeluarkan darah, aku mendatanginya, ku bilang padanya kenapa kau terus saja pendarahan dan tidak berhenti-berhenti, lalu dia bilang kau akan pendarahan paling tidak selama 2 bulan, tentu saja aku terkejut, apa kau tidak akan mati karena kehabisan darah jika selama 2 bulan kau harus mengalami pendarahan begitu, lalu dia tersenyum meremehkan ku dan bilang bahwa tubuhmu itu unik, meskipun kau pendarahan selama 2 bulan kau tidak akan kehabisan darah, dan akhirnya aku memecatnya " Oceh Rai kesal.


" Apa ? Memecatnya ? Kau memecat dokter kandungan ? " Tanya Ruby membelalakkan matanya terkejut, pantas saja dia tidak menemukan dokter itu di rumah sakit saat akan mengucapkan terima kasih.


" Tentu saja, dia kan dokter, kenapa dia bisa begitu santai membiarkan seorang pasien mengalami pendarahan sampai 2 bulan, terlebih lagi itu bukan orang lain tapi istri ku sendiri, bagaimana dia bisa menjadi dokter dengan sikapnya yang sembrono begitu, itu akan merusak citra rumah sakit " Jawab Rai ketus, masih merasa kesal.


" Hei kau ini ! " Ruby memukul lengan Rai keras-keras.


" Aku bukannya mengalami pendarahan, aku memang sudah seharusnya begitu " Jelas Ruby.


" Hm ? " Rai memiringkan kepalanya tidak paham.


Aish bocah purba ini benar-benar, pantas saja almarhumah ibu mertua ku tidak mau repot-repot menjelaskan sesuatu seperti ini, jadi begini rasanya menjelaskan hal pribadi wanita kepada laki-laki yang tidak mengerti apapun.


Omel batin Ruby kesal.


" Kau tau senjata api yang tercanggih saat ini ? " Tanya Ruby malas.


" Tentu saja, senjata api tercanggih saat ini adalah CornerShot, senjata ini memiliki fitur ujung dari senjatanya yang bisa di lengkungkan ke kanan atau ke kiri. Dilengkapi dengan kamera pada ujung senapannya, jadi apabila senjata ini digunakan pada bagian sudut tembok, maka pengguna senjata ini bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sampingnya itu melalui LCD yang berada di samping senjata. Untuk melawan musuh yang memiliki sandera biasanya senjata ini suka digunakan. Tapi sayangnya senjata ini cukup besar dan akan terlihat aneh jika membawanya kemana pun, jadi perusahaan senjata Klan Loyard sedang mengembangkan senjata model baru yang terkoneksi dengan satelit dan bisa terhubung dengan smartwatch, dan peluru yang terpasang gps, jadi kita bisa mengunci target dengan smartwatch dan bisa mengatur tembakan kepada musuh dalam jarak yang lebih jauh lagi tanpa takut salah sasaran " Jelas Rai lancar.


" Wuah !! Kau benar-benar sangat luar biasa " Ucap Ruby tak habis pikir, bisa-bisanya Rai menjelaskan secara detail mengenai senjata namun menjadi nol besar ketika menyangkut masalah wanita.


" Tentu saja, itu pengetahuan dasar masalah senjata " Jawab Rai datar.


" Baiklah, baiklah, sekarang aku benar-benar mengerti apa yang dirasakan ibu mu " Jawab Ruby berdecak malas.


" Hei memangnya benar sudah boleh ? " Tanya Rai kembali ke pokok permasalahan.


" Kau ini, tidak tau apa-apa tapi selalu ingat kalau masalah itu " Sinis Ruby.


" Aku anggap itu jawaban iya " Tanpa bertanya lagi Rai lalu menciumi wajah Ruby dan dengan cepat melucuti pakaiannya.


Akhirnya aku bisa kembali begadang yang ada artinya.


Teriak batin Rai girang.

__ADS_1


__ADS_2