Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Pembalasan


__ADS_3

Ruby keluar dari ruangan Rai, wajahnya merona malu. Rai terus menggodanya dengan menyebutnya istri mesum sekarang.


Aish kenapa keadaan berbalik begitu cepat, baru saja aku mengecap indahnya balas dendam, sekarang aku harus menerima balasannya dengan Rai yang terus menggoda ku. Ketahuan menipu masih lebih baik daripada ketahuan berpikiran mesum. Gila, gila, gila.


Ruby menghentakkan kaki nya.


Dia memutuskan kembali ke ruangan cleaning service. Disana tidak ada orang karena ini masih jam kerja.


Dia duduk di kursi meja besar yang ada di tengah ruangan itu, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi. Seperti karma yang berbalik padanya. Dulu dia selalu mencibir dan mengejek Rai dengan pikiran mesumnya, sekarang dia sendiri malah berpikiran seperti itu.


" Bagaimana aku akan menghadapinya nanti " Ruby membenamkan wajahnya di atas meja.


" Menghadapi siapa ? " Tanya suara Danny tiba-tiba.


" Kaget aku " Ruby terlonjak dan melihat Danny sudah ada di kursi sebelahnya.


" Oh tidak, bukan siapa-siapa " Ruby mengelak.


" Ada apa kau kesini ? " Tanya Ruby mengalihkan pembicaraan.


" Aku haus, aku ingin minum. Oh ya kemana saja kau, aku mencarimu sesiang ini " Danny bertanya, dia menuju lemari es untuk mengambil minuman.


" Ah ya tadi siang Big Bos ada rapat jadi aku tidak membersihkan ruangannya, tapi kemudian ada seseorang yang ingin bicara dengan ku, saat aku ingin bekerja kembali Big Bos menelfon ku agar aku naik dan membersihkan sisa rapatnya " Ruby beralasan.


Wajahnya tiba-tiba merona lagi saat berbohong kepada Danny, dia terus saja ingat panggilan Rai untuknya. Istri Mesum ku.


Dia menghela nafas dan membenamkan wajahnya lagi ke meja. Danny heran dengan tingkah laku Ruby.


" Kau baik-baik saja ? Wajahmu merah, apa kau sakit ? " Tanya Danny setelah mengambil air dan kembali duduk ke kursi sebelah Ruby.


" Ya aku baik-baik saja " Ruby berbohong.


" Ah ya Danny aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu, begini aku punya teman, dia sudah menikah, tapi pernikahan mereka hanya sebuah kesepakatan. Mereka berdua selalu bertengkar, tidak pernah akur, sampai suatu saat suaminya memaksanya melakukan itu, teman ku selalu menolaknya. Suatu hari, temanku melakukan kesalahan, dia berfikir bahwa suaminya akan menghukumnya dengan melakukan itu jadi dia berinisiatif menawarkan diri akan memulainya, tapi kemudian suaminya bilang bisa saja dia menghukumnya dengan hukuman yang lain, kenapa harus berpikiran melakukan itu. Apakah menurutmu teman ku itu mesum ? " Tanya Ruby panjang lebar.


" Tergantung, tapi sejujurnya itu sedikit mesum, melihat teman mu itu selalu menolak saat melakukan itu, dan kenapa sekarang malah dia yang punya pikiran akan mendapat hukuman melakukan itu " Danny memberikan pendapat.


" Itu karena suami nya selama ini terus saja meminta melakukan itu, meskipun dia salah atau tidak, suaminya akan mencari-cari kesalahan dan kesempatan untuk melakukan itu " Ruby menjelaskan dengan emosi.


Danny diam saja melihat reaksi Ruby. Ruby yang sadar sudah berlebihan dalam menyangkal pun tersenyum terpaksa.


" Dia sahabat baik ku, jadi aku juga sedikit emosi dengan ceritanya hehehe " Ruby merendahkan suaranya.


" Kau tau pikiran laki-laki dan perempuan berbeda. Mungkin suaminya sering memintanya melakukan itu, jadi istrinya berfikir kali ini hukumannya akan seperti itu " Danny memberikan pendapat.

__ADS_1


" Itu maksudku, karena dia sering meminta melakukan itu, jadi bukan salah temanku kalau dia berfikir kali ini hukumannya pasti itu " Ruby menjawab antusias.


Lagi-lagi Danny memandang heran Ruby, membuatnya salah tingkah.


" Tapi katamu temanmu tidak suka pada suaminya, dan selalu menolak saat suaminya melakukan itu bukan ? " Tanya Danny kemudian.


" Oh benar " Ruby mengangguk antusias.


" Jadi kenapa dia harus memikirkan hukuman itu, kalau dia selalu menolak harusnya dia memikirkan sesuatu yang lain yang akan dia tawarkan sebagai hukuman, bukan itu " Danny berpendapat lagi.


" Hei kan sudah ku bilang itu hanya karena kebiasaan " Ruby emosi dan memukul meja membuat Danny terlonjak.


" Memang benar, tapi kan temanmu ada dalam posisi tidak menyukai suaminya, jadi harusnya dia menawarkan hal lain sebagai hukumannya " Danny membenarkan pendapatnya.


" Jadi menurutmu, apakah teman ku mesum ? " Ruby bertanya lirih.


" Bisa jadi, mungkin dia juga menikmati hukumannya " Danny mengangkat bahunya.


" Tidak mungkin " Ruby membalas cepat, nadanya mulai meninggi.


" Tapi kenapa kau harus repot-repot memikirkan masalah teman mu itu, bukankah itu urusan suami istri " Danny bertanya.


" Sudahlah, semua laki-laki sama, hanya spesies yang saling membela spesiesnya " Ruby kesal dan meninggalkan ruangan.


Jam kerja sudah berakhir, semua karyawan sedang ada di ruang loker untuk mengganti seragamnya. Ruby masih saja galau dengan kejadian hari ini.


Kalau bisa kabur, aku ingin kabur sehari saja. Kenapa aku bodoh sekali, kenapa aku tidak meminta maaf saja tadi, malah menawarkan diri melakukan itu sebagai hukuman.


Ruby membenamkan wajahnya di pintu loker.


Tina dan Mey yang melihatnya heran.


" Kau kenapa, dari tadi seperti itu ? " Tina bertanya.


" Hei aku ingin tanya pada kalian berdua " Ruby menarik mereka mendekat.


" Kalau kalian punya pikiran mesum pada kekasih kalian, bagaimana kalian akan menghadapi nya ? Maksudku bagaimana kalian akan bertemu nantinya ? " Tanya Ruby lirih.


" Hei siapa yang berpikiran mesum " Mey berteriak kaget.


" Sstt... kecilkan suaramu " Ruby menutup mulut Mey. Mey mengangguk mengerti.


" Aku hanya bertanya " Ruby menjawab lirih.

__ADS_1


" Kau tau meskipun kita sekarang ada di zaman emansipasi wanita, tapi wanita berpikiran mesum itu masih sangat iihh kau tau lah " Tina bergidik.


" Tentu saja, mungkin laki-laki terbiasa berpikiran mesum karena nafsu mereka yang besar, tapi untuk wanita ? Aku masih sangat tidak setuju kalau wanita yang memulainya duluan " Mey menimpali.


" Habislah aku " Ruby bergumam lirih, wajahnya putus asa.


" Memangnya kau berpikiran mesum kepada siapa ? " Tanya Mey kepada Ruby. Tina ikut memandangnya dengan tatapan tajam.


" Apa ? Ei tidak mungkin lah aku punya pikiran mesum, aku kan sendiri, tidak punya pasangan " Ruby mengelak. Tina dan Mey hanya ber oh saja dan mengangguk angguk.


" Baguslah kalau begitu, setidaknya kita wanita harus punya sedikit harga diri dan jual mahal, bukankah begitu Ruby? " Tina merangkul pundak Ruby.


" Tentu saja, ya harga diri " Ruby mengangguk pasrah.


Harga diri ? Aku sudah menggadaikannya saat menerima kesepakatan tentang ayah, mungkin itu masih bisa diterima akal sehat karena nyawa yang di jadikan pertimbangan, tapi kenapa aku juga malah berinisiatif menawarkan itu sebagai hukuman, dan aku juga sudah 2 kali melakukannya karena inisiatif. Apa aku harus menenggelamkan diri saja di laut ? Ruby menggelengkan kepalanya.


Dia sudah selesai berganti baju dan keluar dari ruang loker. Berjalan lambat berharap sampai rumah tengah malam dan Rai sudah tertidur pulas.


Aku akan pulang jalan kaki, dan semoga besok pagi baru sampai di rumah. Lelah karena jalan kaki lebih baik daripada harus menghadapinya saat ini.


Ruby menepuk nepuk pipinya, mengembalikan semangatnya.


Dia berjalan melewati loby, melihat mobil Rai sudah terparkir di sana. Dia berhenti sesaat, melihat kanan dan kirinya, memastikan dia tidak akan berpapasan dengan Rai, dia terlalu malu melihat wajahnya.


Ruby bernafas lega karena Rai tidak terlihat dimana pun.


Mungkin itu hanya sopirnya yang menyiapkan mobil lebih dulu, sebaiknya aku cepat pulang dan berpura-pura tidur sebelum dia pulang, aku tidak ingin melihatnya untuk saat ini.


Ruby bergegas keluar dari club. Tapi baru saja selangkah dari pintu keluar terdengar suara seseorang.


" Halo sayang kau bersalah hari ini, aku akan menghukum mu. Wah wah kau sungguh mesum sekali, padahal aku akan menghukum mu dengan cara yang lain tapi kau malah menawarkan dirimu pada ku " Suara Rai berpura-pura sedang menelfon di sebelah pohon hias di dekat pintu keluar.


Ruby menoleh ke arah Rai yang sudah menatapnya dengan senyum menggoda. Lalu berbalik meninggalkan Ruby dengan tertawa keras. Seakan puas sudah membalas Ruby yang seharian mengerjainya.


Aku tidak akan menggodanya lagi kalau tau karma ku akan datang secepat ini.


Ruby menutup wajahnya malu.


Mobil Rai melaju meninggalkan club. Ponsel Ruby berbunyi. Dia mengambilnya, sebuah pesan masuk. Dia membukanya.


Sampai ketemu di rumah, istri mesum ku.


~ Rai ~

__ADS_1


__ADS_2