
Semua mata menoleh ke arah tunjukan tangan Tina, seseorang dengan pakaian luar biasa aneh dan berbeda datang dari arah bangunan kamarnya. Dengan wajah tertunduk lesu dan langkah gontai.
" Kenapa, kenapa dia seperti itu ? " Ruby bertanya dengan mata melotot, terkejut tidak percaya.
" Ayah tau tentang taruhan kami perihal menyembelih sapi, dan ayah marah karena kami anak-anaknya meragukan kemampuannya, jadi ayah memutuskan akan bertanding gulat dengan Ken malam ini " Rai bercerita sedih, karena dia pun akan bernasib sama sebentar lagi.
" Jadi ayah tetap menghukum kalian ? " Tanya Ruby terkejut.
" Dia bukan aku yang bisa berubah pikiran dengan mudah, ayah sangat konsisten, apa yang dia ucapkan harus terlaksana " Rai menjelaskan dengan nada putus asa.
Ruby kembali mengalihkan pandangannya ke arah Ken, dia sedang mengenakan kimono dengan dada yang terbuka, memperlihatkan sebidang dadanya yang putih mulus dan mengenakan celana ketat untuk pertandingan gulatnya.
Ken menghampiri Ruby dan Rai dengan wajah lesu dan merah menahan malu yang pastinya luar biasa.
" Aku terpaksa melakukan ini karena ayah bilang akan memblokir semua kartu kredit ku dan menyita mobil ku, dengan kata lain aku di miskin kan " Ken merengek seperti anak kecil.
" Ken yang malang, sudah kubilang hati-hati dengan mulutmu, kenapa masih saja membuat taruhan seperti itu " Ruby memarahi Ken, tapi tak urung dia juga merasa ikut prihatin dan menepuk pundaknya.
" Semoga selamat " Ruby memberikan dukungannya.
" Setidaknya bukan aku saja yang akan di permalukan kali ini, tapi dia juga " Ken menunjuk Rai dengan wajahnya.
" Kau juga ? Gulat ? " Tanya Ruby terkejut.
" Tidak aku samurai, semoga saja ayah tidak memakai pedang sungguhan. Kau lihat sendiri, sapi sebesar itu saja langsung tewas dengan sekali sabetan pedang ayah " Rai juga terlihat putus asa.
" Kenapa nasib kalian sial sekali, sepertinya kita harus mengadakan ritual untuk buang sial " Ruby menjawab prihatin.
Tak selang berapa lama, Regis di dampingi pak Handoko memasuki halaman, semua orang juga sama terkejutnya dengan kedatangan Regis yang seperti kedatangan Ken, memakai kimono ala atlet gulat dan bertelanjang dada serta celana ketat pendek.
Pak Handoko akan berlaku sebagai wasit. Beberapa pelayan juga sudah menyiapkan matras untuk alas gulat dengan sangat cepat.
Semua penonton merasa terhibur dengan pertandingan gulat dadakan malam ini. Mereka sangat antusias bahkan sudah melupakan dandanan rapi mereka, bersiul dan bersorak sorai untuk mendukung Tuan Regis. Termasuk juga Tina, dia berteriak paling keras.
Ruby yang sudah ikut bergabung di deretan penonton itu mendekati Tina.
" Kenapa kau mendukung ayah, bukannya Ken ? " Tanya Ruby dengan suara agak keras agar terdengar.
" Ternyata ayah mertua mu lebih macho daripada Ken " Tina menjawab dengan antusias.
" Dasar labil, sebegitu cepatnya mata mu berubah pilihan " Ruby mencibir Tina.
Mereka semua sangat bersemangat melihat jalannya pertandingan antara Ken versus Regis.
Keadaan tentu saja sudah bisa di pastikan pemenangnya adalah Regis, bukan karena Ken tidak berani melawan ayahnya, justru Ken sangat bersungguh-sungguh untuk menang demi menyelamatkan mobil dan kartu kreditnya. Tapi Regis jelas bukanlah lawan seimbang untuk Ken, tubuhnya yang lebih besar dan kemampuan bela diri yang bisa di bilang luar biasa, membuat Ken kalah dengan telak.
Beberapa kali terlihat Regis membanting Ken dan mengunci setiap gerakannya, dan Ken hanya mampu memukulkan tangannya ke matras tanda dia menyerah. Lalu mereka akan bangkit lagi untuk memulai pertandingan, dan Ken di banting lagi, lalu menyerah lagi. Begitu lah terus selama jalannya pertandingan.
__ADS_1
" Dan pemenangnya adalah Tuan Besar Regis J Loyard " Pak Handoko selaku wasit mengumumkan kemenangan Regis dengan dramatis.
Semua penonton bertepuk tangan meriah dan bersorak untuk Regis, entah memang karena kagum atau karena takut.
Ken yang merasakan remuk di sekujur tubuhnya segera bangkit dan mengenakan kimono yang di pegang oleh Rai.
" Aku... tidak... bisa...lebih... kalah... dari... ini " Suara Ken terputus-putus diantara nafasnya yang tersengal-sengal. Rai yang paham kondisi dan situasi Rai hanya bisa memberikan tepukan di pundak untuk menghiburnya. Karena sebentar lagi Ken pasti juga akan melakukan hal yang sama padanya.
" Baiklah pertandingan selanjutnya, samurai antara Tuan Besar Regis J Loyard melawan Rai J Loyard " Pak Handoko kembali mengumumkan dengan suara lantang.
Ruby yang terkejut segera berjalan cepat menghampiri Rai.
" Sayang apa kau juga akan bertanding malam ini ? " Tanya Ruby khawatir karena melihat ayah mertua nya yang sangat bersungguh-sungguh dalam pertandingan ini meskipun lawannya adalah anak kesayangannya.
" Bukankah sudah ku bilang ini akan terjadi " Rai menjawab putus asa dan pergi meninggalkan Ruby untuk bersiap-siap.
Dia segera memakai kimono ala jepang tanpa berganti baju lebih dahulu.
Dan Regis pun juga telah mengenakan kimono nya. Ruby sangat tegang mengingat kejadian spektakuler penyembelihan sapi tadi.
Ayah tidak mungkin menggunakan pedang sungguhan bukan, atau aku benar-benar akan menjadi janda.
Ruby berdoa dalam hati.
Dia bisa bernafas lega karena ternyata mereka menggunakan pedang kayu, tapi pedang tetaplah pedang, yang di buat sebagai senjata yang berfungsi untuk melukai orang lain, begitu juga keadaan yang terjadi saat ini.
Sudah tak terhitung berapa kali Rai mendapat pukulan pedang dari ayahnya, punggung, tangan, kaki, bahkan kepalanya. Kalau saja itu pedang sungguhan mungkin dia sudah terkapar dengan tubuh yang hancur berantakan.
" Aku tidak akan menyerah padamu kisanak, sampai mati pun aku akan bertahan " Teriak Rai yang sedang menahan serangan ayahnya.
" Kalau begitu lakukan itu di neraka " Regis membalas dengan seringai sombong merasa penuh dengan kemenangan.
" Oooohhhh " Semua orang yang menyaksikan ber ooh ria dengan tegang seakan-akan sedang melihat film layar lebar, mereka hanyut dalam pertandingan.
" Tidak bertahanlah " Tina memberikan dukungan penuh pada Rai.
" ku mohon jangan biarkan istri mu menjadi janda hiks hiks hiks " Tina menangis memberi semangat, semua yang menyaksikan pun ikut mengangguk dengan semangat tanda mendukung Rai sepenuh hati.
Daebak !! Mereka semua terlalu mendramatisir.
Ruby menggeleng-gelengkan kepalanya melihat adegan peperangan di depannya terlebih lagi melihat reaksi para penontonnya.
" Aku tidak akan membiarkan istri ku menjadi janda, dan anak ku lahir tanpa ayah. Hiaaaaa " Rai berteriak dengan sekuat tenaga untuk bangkit melawan Regis.
" Rupanya istri mu lah sumber kekuatan mu itu, baiklah rasakan jurus pamungkas ku " Regis tetap menyeringai sombong dan segera mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Menusuk Rai tepat di perutnya dan mendorongnya, memutar pedangnya dan di ikuti oleh Rai yang seperti orang tertusuk pedang sungguhan.
__ADS_1
" Kalau aku mati, setidaknya aku tidak sendiri " Rai kemudian juga menusukkan pedangnya di perut Regis yang tidak terlindungi karena terlalu fokus pada Rai.
" Apa ?!? " Regis terkejut dengan serangan Rai.
Semua orang menangis tersedu-sedu menyaksikan drama dadakan yang di persembahkan oleh Regis dan Rai.
Kenapa aku bisa berhubungan dengan orang-orang seperti mereka, mafia ? Hanya saat di butuhkan, tapi saat mereka santai, lihat betapa konyolnya sikap mereka. Junior semoga kau tidak seperti mereka.
Ruby mengelus elus perutnya.
Saat mereka selesai bertanding, semua orang bertepuk tangan dengan semangat dan bahkan pak Hong sampai menangis meraung-raung membayangkan Tuan Regis benar-benar tertusuk. Teman-teman yang lain berusaha menenangkannya dan menghiburnya.
Ruby yang kembali kepada barisan penonton hanya bisa tersenyum geli dan heran dengan mereka semua. Tapi dia melihat Daniel yang berwajah serius sekali, berbeda dengan yang lainnya.
" Ada apa ? Apa yang kau fikirkan tentang mereka ? " Tanya Ruby yang membuat Daniel terlonjak kaget.
" Tidak aku hanya sedih akan berpisah dari mereka semua, kau tau negara ini memiliki daya tarik sendiri, orang-orangnya, budaya nya, aku merasa ini lah rumah yang sebenarnya. Mereka saling berhubungan, saling menyapa walau pun tidak saling mengenal. Dan seperti yang kulihat barusan, mereka tidak malu untuk melakukan hal itu di depan kami. Kalau di negara ku, mereka semua orang yang egois, dan selalu curiga apabila kita bersikap terlalu ramah. Yeah mind your own businesse " Daniel terlihat benar-benar sedih.
" Kalau begitu sering-seringlah main ke negara ini " Ruby menghiburnya.
" Ya dulu ku pikir aku bisa tinggal disini dengan cara menikahi mu " Daniel membuka rahasianya.
" Hei jangan memulai nya, kau tidak ingin merusak suasana pesta bukan ? " Ruby menjawab dengan tersenyum.
" Absolutely not " Daniel mengangkat kedua tangannya di dada.
Setelah Rai dan Regis juga Ken berganti pakaian, mereka ikut bergabung di dalam pesta.
" Aku ingin menunjukkan pada kalian bahwa aku dan keluarga ku juga masih manusia normal, yang berharap bisa bersosialisi dengan normal tanpa ada pandangan aneh, terlepas apapun profesi pekerjaan kami. Kami hanya bertindak bila kami di serang, kami tidak akan memulai permusuhan dengan siapapun, dan apabila di perlukan kami akan ikut menjaga kedamaian di negeri kita tercinta ini " Regis memberikan beberapa kata sambutan yang di sambut dengan pandangan penuh takjub dari para tamu undangan. Tanpa di duga mereka semakin respect dan salut dengan Klan Loyard sebagai mafia paling di takuti di negara ini dan juga negara-negara lain. Mafia yang memiliki sikap yang baik, menurut pandangan mereka. Klan Loyard berhasil mengubah stigma buruk masyarakat terhadap mafia.
Semua kembali larut dalam pesta sederhana persembahan keluarga Loyard. Semua merasa gembira dan tentu saja sangat kenyang oleh hidangan mewah yang disediakan para koki.
Pesta berlangsung hingga tengah malam. Dan mereka semua yang sudah lelah kini pamit undur diri. Mengucapkan terima kasih kepada Rai dan Tuan Regis.
Terutama pak Hong, dia sampai meminta foto bersama dan tanda tangan dari Tuan Regis di kemeja nya, berjanji dengan jiwa raga tidak akan mencuci kemeja itu.
Kini suasana mansion sudah kembali sepi, Regis telah kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Ken, Rai dan Ruby.
Ruby yang sedang berganti pakaian di ruang ganti di kejutkan oleh suara Rai yang bertanya dengan berteriak.
" Siapa ini ?!? " Tanyanya marah sambil menunjukkan ponsel Ruby yang mendapat pesan masuk.
Hai Ruby, apa kabar ? Aku sangat merindukan mu. Bisa kita bertemu ?
Isi pesan yang telah di terima sejak 4 jam yang lalu.
Rai terlihat sangat kesal dan marah, meremas ponsel Ruby dan menatap tajam padanya.
__ADS_1
Balada prahara apa lagi ini ?
Ruby menghela nafas pasrah.