
Rai bersama Wakil Manager pergi ke tempat fotographer untuk memeriksa hasil pemotretan hari ini, biasanya Wakil Manager akan mengirimkannya melalui email untuk mendapatkan persetujuannya, namun karena kebetulan Rai sedang berada disana maka dia akan memeriksa hasilnya langsung.
Di lantai teratas dari pusat berbelanjaan itu lah studio foto beserta beberapa ruangan lainnya berada.
Rai dan Wakil Manager sedang duduk menghadap sebuah laptop untuk memilih mana foto dari model-model hari ini yang akan di rilis sebagai wajah dari pusat perbelanjaan untuk bulan depan.
" Dia adalah model baru yang sedang naik daun tuan, Blair, putri dari tuan Dimitri " Jelas Wakil Manager saat Rai menghentikan slide gambar tepat di foto Blair dan mengamatinya.
" Aku tau, dia membintangi banyak iklan dalam waktu singkat " Jawab Rai acuh.
" Benar tuan, berkatnya juga produk yang di iklankannya meledak di pasaran " Jelas Wakil Manager sopan.
" Baiklah kalau begitu pasang saja fotonya menjadi wajah dari supermall kita untuk bulan depan, mungkin akan butuh lebih banyak lagi fotonya dalam berbagai gaya " Rai memutuskan dan mengkoordinasikannya dengan Wakil Manager, fotographer serta Manager Yo.
" Baik tuan, kami akan mengambil gambarnya lebih banyak lagi " Jawab Fotographer itu menundukkan kepalanya.
" Hasilnya nanti kirimkan seperti biasanya, aku akan memilih mana foto yang akan di rilis " Jawab Rai dan kemudian bangkit karena merasa pekerjaannya telah selesai jadi dia bisa segera pergi menemuin Ruby.
Sementara itu Blair yang sudah selesai berganti pakaian juga pergi untuk menemui fotographer karena mendapat pemberitahuan dari Managernya bahwa dia yang terpilih di antara model-model yang lainnya untuk menjadi wajah supermall bulan depan.
Dengan perasaan riang dia berjalan seraya bersiul-siul.
Bruuk !! Tiba-tiba saja dia menabrak seseorang saat akan masuk kedalam ruangan hingga membuatnya jatuh.
" Aduuh " Teriaknya, Manager Yo yang melihat itu segera membantunya berdiri.
" Pakai matamu lain kali " Ucap Rai dingin kepada Blair.
Hah ?!? Tu-tuan Rai.
Batin Blair panik lalu dengan cepat dia segera menundukkan kepalanya meminta maaf.
Namun Rai tidak menggubrisnya dan langsung berlalu pergi.
" Aiyoooo... meskipun dia 15 derajat di bawah nol tapi dia tetap sangat mempesona " Gumam Blair takjub melihat Rai yang semakin hari semakin tampan dan berwibawa.
" Jadi pinguin pun aku rela " Blair menutup kedua wajahnya yang merona malu.
Ya ampun !! Bicara apa aku ini, bukankah dia sudah punya istri. Aish Blair sadarlah !!!
Dia lalu memukul-mukul pelan pipinya untuk mendapatkan kembali pikirannya yang sempat melayang tak karuan.
" Tuan Rai memilih mu untuk jadi wajah dari supemall Lord bulan depan, jadi kalau kita harus melanjutkan pemotretannya hari ini, kau tidak apa-apa ? " Tanya Manager Yo karena tadinya Blair merasa sedang tidak bersemangat dan ingin segera pulang.
" Tidak apa-apa, aku akan melanjutkannya saja hari ini, kalau harus menunggu minggu depan terlalu lama " Jawab Blair senang. Namun tiba-tiba saja perutnya berbunyi dan dia sadar dia tidak sarapan dengan benar tadi pagi.
__ADS_1
" Mau ku belikan makanan ? " Tawar Manager Yo melihat Blair yang memegangi perutnya.
" Tidak usah aku akan beli sendiri, apa masih boleh ? " Tanya Blair.
" Ya tentu saja, kita bisa beristirahat paling tidak 1 jam sebelum pengambilan gambar yang selanjutnya " Jawab Manager Yo seraya melihat jam tangannya.
" Kalau begitu aku akan beli sendiri makananku " Ucap Blair lalu berlalu pergi meninggalkan Manager Yo.
Sementara itu Rai yang sudah menyelesaikan pekerjaannya segera menelepon Ruby untuk memberitahukannya.
" Aku sudah selesai, tapi aku masih harus meninjau beberapa outlet dilantai dasar, kau dimana ? " Tanya Rai.
" Kalau begitu aku tunggu di restoran cepat saji yang ada di lantai 3 ya, aku tiba-tiba ingin beli es creamnya " Jawab Ruby.
Dia sedang duduk di meja, sedangkan Dylan yang mengantrekan untuknya. Suasana restoran tidak terlalu ramai meskipun sedang hari libur, tidak banyak yang mengantre.
Blair yang baru saja keluar dari lift pun segera menuju restoran favoritnya. Suasana yang tidak terlalu ramai itu membuatnya merasa nyaman. Meskipun dia sudah menggunakan masker dan kacamata hitam tetap saja dia merasa tidak nyaman berada di restoran yang terlalu ramai karena saat nanti dia membuka maskernya untuk makan terkadang ada beberapa orang yang mengenalinya dan mereka akan mulai bergerombol untuk meminta tanda tangan dan berfoto bersama. Jika pun tidak ada yang mengenalinya karena kacamata hitam lebarnya, tetap saja dia merasa tidak nyaman. Orang-orang pasti akan berbisik-bisik membicarakan sikap anehnya, makan dengan memakai kacamata hitam.
Blair masuk ke dalam antrean yang tidak terlalu panjang itu. Sembari menunggu dia mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut restoran.
" Hah ?!? " Pekiknya kaget ketika melihat Ruby yang sedang duduk di salah satu meja, sedang berbicara di teleponnya.
" Kalau dia disini berarti dia juga disini ? " Blair pun segera menoleh kesana kemari mencari Dylan.
" Di mall ini ada begitu banyak restoran tapi kenapa aku harus terus bertemu dia sih ! " Gerutunya kesal masih tidak bisa menemukan dimana Dylan berada, tentu saja dia tidak bisa menemukannya karena Dylan sedang berjarak 3 orang di depannya.
" Apa itu Dylan ? Tapi dia tadi tidak pakai baju itu sepertinya " Blair menengokkan kepalanya berusaha melihat siapa yang sedang berbicara dengan Ruby karena dia memunggunginya.
Rai yang semula duduk di depan Ruby berpindah tempat duduk di samping Ruby, lalu mencium kening istrinya.
" Apa ?!?! " Pekik Blair terkejut, namun dia segera mengendalikan diri karena semua orang langsung menatapnya heran.
" Bu-bukankah itu tuan Rai, kenapa kekasih remahan kerupuk itu bersamanya ? Pasti dia selingkuh darinya. Sudah ku duga ada yang tidak beres dari perempuan itu. Dimana lagi remahan kerupuk itu sekarang ? " Blair celingukan mencarinya. Dan Dylan yang sudah menerima pesanannya pun berjalan dengan membawa 2 cup es cream. Melihat Dylan datang mendekat, Blair pun langsung merentangkan tangannya kesamping untuk menghalangi Dylan.
" Aish " Decak Dylan kesal karena hampir saja dia menjatuhkan es creamnya. Dia menoleh ke arah Blair.
" Ck dia lagi " Gumamnya semakin kesal saat tau itu adalah ulah Blair.
" Kau jangan kesana " Ucap Blair dan langsung bergeser kesamping, berdiri di depan Dylan.
" Minggir " Perintah Dylan ketus.
" Kau akan terluka nantinya kalau kau terus kesana " Jawab Blair mengingatkan.
" Aku tidak tau kau sebawel ini, dan terlalu ikut campur urusan orang lain " Omel Dylan kesal.
__ADS_1
" Apa ? Bawel ? Hei aku ini orang yang punya rasa setia kawan yang tinggi asal kau tau ! " Geram Blair kesal lalu berpindah ke sebelah Dylan dan menunjuk Ruby serta Rai yang sedang tertawa-tawa dan bermesraan.
" Tuh lihat, kekasih yang kau puja-puja sedang selingkuh dengan tuan Rai " Ejek Blair.
Dylan yang melihat hal itu pun menghela napas lega, sedari tadi Ruby hanya murung saja dan sepertinya sekarang dia sudah lebih baik karena bisa tertawa dengan Rai. Jadi dia memutuskan akan membiarkan mereka berduaan saja. Dia pun berbalik pergi ke tempat pemesanan tadi dan meminta pelayan untuk mengantarkan ice cream tersebut kepada Ruby dan Rai. Lalu berjalan pergi ke luar restoran.
Blair yang melihat itu langsung berlari menyusulnya.
" Tunggu dulu " Blair menarik tangan Dylan.
" Apa lagi sih " Decak Dylan kesal.
" Kau mau kemana ? " Tanya Blair.
" Bukan urusanmu " Jawab Dylan ketus dan kembali membalikkan badan.
" Aku ikut " Saut Blair dan buru-buru menyejajarkan langkahnya dengan Dylan namun Blair tidak melihat papan tanda peringatan bahwa lantai itu licin karena baru saja di pel.
" Hua hua " Blair terpeleset dan hampir saja jatuh ke belakang.
Dylan yang melihat itu segera mengulurkan tangannya untuk menahan tubuh Blair. Wajah mereka saling bertatapan dengan dekat saat ini.
Deg, deg, deg ! Jantung Blair berdetak tak karuan untuk kedua kalinya.
Wajah Dylan merona merah saat melihat Blair dan dia segera memalingkannya.
Omooo !! Imutnya.
Pekik Blair saat melihat Dylan yang tersipu malu.
" Kau dari kemarin belum ganti bra mu ya ? " Tanya Dylan cuek.
" Apa ? " Jawab Blair bingung. Dylan lalu memalingkan lagi wajahnya ke arah Blair dan melirik dada Blair. Dengan kaos berpotongan leher yang rendah yang saat ini di kenakan oleh Blair, dan kecelakaan yang baru saja terjadi, hal itu membuat bra hitam milik Blair sedikit mengintip.
" Tuh, bra mu terlihat lagi " Jawab Dylan acuh seraya menunjuk dada Blair dengan dagunya.
Sadar dengan apa yang di ucapkan Dylan Blair langsung menegakkan punggungnya dan menutup dadanya dengan kedua tangannya.
" Hei dasar kau mesum !! " Teriaknya marah.
" Jaga bicara mu, dan lagi siapa yang kau bilang mesum " Jawab Dylan acuh.
" Kau ! Kau itu mesum, mana ada lelaki yang selalu saja membahas bra seorang wanita " Geramnya kesal dan menatap Dylan sengit namun Dylan hanya tersenyum sinis mengejek, lalu mendekat ke arah Blair, mencondongkan tubuhnya.
" Mau apa kau ? " Lanjut Blair terbata-bata dan mundur perlahan.
__ADS_1
" Itu namanya rezeki, dan tidak baik menolak rezeki yang ada di depan mata " Bisik Dylan menggoda Blair yang sedang marah. Lalu dia menegakkan punggungnya dan segera pergi meninggalkan Blair yang semakin kesal mendengar penuturan Dylan.
" Hei ! Heiii !! " Blair meneriaki Dylan namun Dylan mengabaikannya dan terus saja berjalan.