
Hari belum terlalu larut, dan semua keluarga sedang berkumpul bersama di ruang keluarga, mereka sedang menerima panggilan video dari Ken dan Kiran di layar tv yang terhubung dengan smartphone.
" Mana manis ku... " Teriak Ken gemas mencari Raline.
Dan Ruby yang menggendong Raline langsung mengangkatnya agar Ken dan Kiran bisa melihat wajah keponakannya yang lucu dan menggemaskan.
" Hei kau tau, dia memborong semua baju bayi yang ada di toko, kami tidak bisa membawanya pulang bersama karena saking banyaknya, jadi kami akan mengirimkannya lewat paket " Saut Kiran yang ada di sebelah Ken.
" Kalian tidak perlu repot-repot, nikmati saja waktu kalian berdua " Jawab Ruby.
" Tidak cepat pulang, pekerjaan menumpuk " Saut Rai asal, dan Ruby langsung memukul pelan lengan Rai yang duduk di sampingnya.
" Bagaimana kalau aku menetap disini saja ? " Jawab Ken asal kepada Rai.
" Tidak apa-apa, asal kau mau kembalikan tali yang sudah kau telan itu " Jawab Rai ketus dan disambut gelak tawa dari mereka semua yang ada disana karena melihat wajah cemberut Ken yang kesal aibnya di ungkit kembali oleh Rai.
" Sudah ku bilang jangan ungkit masalah itu ! " Teriaknya kesal dan emosi.
" Tenang saja kak Ken, aku akan membela mu " Saut Dylan santai.
" Ohh... Dylan adik ku yang manis, aku menyayangi mu, marahi dia untukku ya " Jawab Ken dengan sikap manjanya.
" Hei Kak Rai, bagaimana bisa kau selalu saja menyebut kata tali jika melihat wajah kak Ken, bagaimana kalau semua orang tau aibnya, bahwa dia sengaja menelan tali pusar Raline untuk menghilangkan barang bukti kejahatannya ? Dia pasti malu seumur hidup, mau di taruh mana mukanya ? Seorang Ken putra dari Tuan Regis dengan sengaja menelan tali pusar keponakannya, bagaimana jika itu masuk berita ? " Omel Dylan berpura-pura marah, namun hal itu malah di tanggapi Rai dengan gelak tawa yang semakin keras.
" HENTIKAN !!! " Teriak Ken dari layar tv yang mereka lihat.
" Kau ini mau membela ku atau malah menjatuhkan harga diriku dengan mengungkit kembali masalah itu, hah ? " Makinya kesal.
Namun Rai dan Dylan malah berhigh five dan tertawa terbahak-bahak.
" Hei kau belum tau saja, kami ini akur sekali kalau sudah membuka aib mu " Jawab Rai girang dan merangkulkan lengannya ke pundak Dylan yang ada di sampingnya.
" Aku tidak akan pulang, tidak akan, aku akan tinggal disini selamanya sampai aku mati !! " Teriaknya masih kesal lalu menutup sambungan teleponnya.
Semua orang yang memang sudah hafal sifat Ken hanya tergelak melihatnya kesal dan cemberut.
" Ayah sepertinya Raline sudah tidur, aku akan menidurkannya di kamar dulu " Ruby berpamitan dan bangkit berdiri lalu pergi keluar ruangan.
Di temani oleh dua pelayannya, Ruby menuju lantai atas. Setelah berhasil membaringkan Raline dan menyuruh kedua pelayannya untuk pergi, Ruby juga ikut menghempaskan dirinya di atas ranjang.
__ADS_1
Sepanjang sisa sore ini dia sudah berusaha menyembunyikan air matanya dan berpura-pura memasang wajah ceria karena masalah ayahnya. Namun saat sendiri seperti ini, kesedihannya tidak bisa di bendung lagi. Dengan membenamkan wajahnya di balik bantal, dia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan rasa sesak yang sedari tadi menghimpit dadanya, berharap matanya akan segera terpejam hingga dia bisa melupakan rasa sakitnya.
Sementara itu di ruang keluarga, para lelaki Klan Loyard mulai membicarakan masalah serius tentang perusahaan dan perkembangan Klan Loyard, Dylan yang semula ingin pamit di cegah oleh Regis, karena bagaimanapun juga pada akhirnya Dylan harus ikut terlibat dalam masalah klan.
" Penjualan mie instan yang di iklannya di bintangi oleh Blair meningkat tajam tuan, dan lagi supermarket kita lah satu-satunya yang mendapatkan hak paten untuk penjualannya " Lapor Sekertaris Yuri kepada Regis.
" Anak Dimitri ? " Tanyanya lagi dengan kening berkerut.
" Maaf tuan, tapi nona Blair sangat populer di kalangan remaja saat ini, dan mie instan itu juga sangat sesuai dengan selera dari anak muda jaman sekarang " Jelas Sekertaris Yuri ragu-ragu.
" Aku tidak menyukai ayahnya, bukan berarti aku juga tidak menyukai anaknya, ku lihat dia anak yang cukup baik " Jawab Regis santai.
" Cih baik apanya " Gumam Dylan asal dan menyilangkan tangannya di dada seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
" Kenapa memangnya ? " Tanya Rai yang ada di samping Dylan yang mendengarnya menggerutu.
" Tidak, aku hanya tidak suka melihat anak-anak yang lain jadi memenuhi meja ku setiap kali istirahat atau sebelum bel masuk berbunyi, mereka berisik dan sangat menganggu " Jawab Dylan kesal.
" Tentu saja itu karena dia ratu iklan saat ini, memangnya kau tidak tau dia setenar itu ? " Tanya Sekertaris Yuri heran.
" Tidak tau, aku tidak pernah menonton tv " Jawab Dylan asal.
" Hm ? " Dylan mengernyitkan alisnya dan menegakkan punggungnya antusias mendengar saran dari Rai.
" Bilang saja kau anak ayah, aku jamin mereka semua tidak akan berani lagi berkumpul di meja mu " Jawab Rai santai dan disambut helaan napas berat dari Dylan.
" Dia tidak ingin membuka identitasnya tuan " Saut Sekertaris Yuri tersenyum.
" Cih " Cibir Rai.
" Kalau begitu tidak asyik, kau tau melihat mereka semua ketakutan hanya karena tau identitasmu itu suatu kemenangan tersendiri " Jelas Rai.
" Tapi aku belum siap " Jawab Dylab ragu-ragu.
" Belum siap kenapa ? " Tanya Rai heran.
" Aku anak pel... " Gumam Dylan lirih, namun Rai yang mengerti apa yang dirasakan Dylan segera memotong ucapannya.
" Justru karena itu kau harus bersikap sombong dan angkuh, agar mereka semua berhenti memanggilmu seperti itu " Nasehat Rai kesal.
__ADS_1
" Sudah biarkan saja, kalau dia belum siap ya artinya belum siap, suatu saat juga kita akan mengumumkan pewaris kekuasaan dari Klan Loyard, dan saat itu terjadi kalian juga pasti akan terekspose keluar " Saut Regis menengahi.
" Tentu saja, karena kita kan pewarisnya " Jawab Rai pongah.
" Kata siapa ? " Tanya Regis dengan nada meremehkan.
" Bukankah kita bertiga anak ayah ? Jadi sudah pasti kita bertiga yang akan jadi pewarisnya " Jawab Rai bingung dengan maksud pertanyaan ayahnya.
" Jangan senang dulu, aku akan mengumumkan kalau Raline dan juga anak Ken serta anak Dylan kelak yang akan jadi pewarisnya, dan kalian hanya akan berdiri di belakangnya sebagai figuran saja " Jawab Regis terkekeh disambut dengan wajah cemberut Rai dan senyum dari Dylan juga Sekertaris Yuri.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat lain di waktu yang telah lewat tengah malam karena perbedaan waktu yang cukup banyak, Ken dan Kiran sedang asyik bermain kartu.
Seharian ini, dimasa bulan madunya mereka terlalu sibuk jalan-jalan. Masuk dari satu toko ke toko yang lain membeli oleh-oleh untuk Raline.
" Kau sadar tidak kalau wajah Ruby terlihat aneh tadi ? " Tanya Kiran seraya mengamati deretan kartu yang di pegangnya, dia sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya bermain kartu, tapi Ken tetap saja ngotot ingin bermain dengannya.
" Tidak ada yang berbeda, mereka semua masih sama menyebalkannya, hanya Raline yang terlihat menggemaskan " Jawab Ken seraya mengeluarkan kartunya.
" Giliran mu " Lanjutnya memerintah Kiran yang seperti sedang melamun.
" Tidak, aku lihat dia berbeda, sepertinya dia sedang sedih, aku lihat dari senyumnya " Sanggah Kiran seraya berpikir, dan tanpa mengerti apapun dia membuang kartu yang ada di tangannya.
" Full House " Teriak Ken girang dan membuka semua kartunya, menunjukkannya kepada Kiran.
" Apa ? Lagi ? " Keluhnya kesal.
" Ayo cepat " Jawab Ken dan mengedip-ngedipkan matanya menggoda Kiran.
" Aish, harusnya aku tau ini trik mu " Geram Kiran kesal. Dia membuang semua sisa kartu yang ada di tangannya dengan keras dan cemberut menatap Ken. Lalu tangannya menyusup ke dalam selimut yang membungkus tubuhnya untuk melepaskan satu-satunya sisa pakaian yang melekat di tubuhnya.
" Makanya kau harus belajar dengan tekun " Jawab Ken girang melihat Kiran melemparkan pakaian dalamnya ke bawah ranjang. Lalu dengan cepat menerjang Kiran dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.
" Kalau aku tidak taruhan begini, kesannya aku seperti orang mesum yang selalu memaksamu melakukan itu " Jawab Ken lirih berbisik di telinga Kiran.
" Memang dasar kau mesum " Kiran melengus kesal sebagai jawabannya, namun tak urung dia juga membalas ciuman Ken.
" Beginilah bulan madu itu, kita melakukannya setiap hari " Jawab Ken terkekeh dan menutupi seluruh tubuh mereka dengan selimut.
__ADS_1
Bersambung....