
Dylan adalah anak yang rajin dan sangat teratur, dia bahkan terbiasa bangun tanpa suara alarm atau pun di bangunkan.
Setiap pukul 06.00 pagi dia selesai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Memeriksa ulang buku-buku pelajarannya lalu bergegas turun ke bawah untuk sarapan.
Keluarga Loyard sendiri terbiasa sarapan pukul 07 pagi, tapi sejak Dylan bergabung dalam the amburadul family, setidaknya title itulah yang saat ini masih sangat sesuai dengan keluarga barunya, mereka semua mengubah jadwal sarapan menjadi pukul 06 pagi.
Regis yang baru saja selesai berolahraga dengan di temani sekertaris Yuri itu pun terlihat masih mengenakan baju olahraganya saat duduk di meja makan. Sementara Sekertaris Yuri sudah siap dengan setelan jasnya untuk pergi bekerja.
" Yang lainnya kemana ? " Tanya Dylan penasaran.
" Kakakmu dan Kakak iparmu menginap di rumah yang dulu kau pakai untuk bersembunyi " Jawab Regis santai.
" Ah rumah lama kakak ipar " Dylan mengangguk-angguk paham.
" Ku dengar akan ada olimpiade matematika ? " Tanya Sekertaris Yuri kepada Dylan.
" Ya masih untuk bulan depan " Jawab Dylan santai.
" Dari apa yang di rapatkan para guru tempo hari, sepertinya kau yang akan mewakili olimpiade matematika itu " Jelas Sekertaris Yuri.
" Benarkah ? " Tanya Regis berpura-pura terkejut mendengar berita itu. Regis sebenarnya sudah tau tentang semua prestasi Dylan di sekolah, bagaimana dia selalu menjadi peringkat pertama dan selalu memenangkan setiap olimpiade, namun yang Regis tau juga bahwa tidak ada satupun yang memberinya ucapan selamat atau bahkan mengungkapkan rasa bangganya akan prestasi Dylan.
" Ya tuan, Dylan lagi-lagi terpilih mewakili sekolah untuk menjadi peserta olimpiade matematika tingkat nasional " Jelas Sekertaris Yuri sopan.
" Wow kau sangat luar biasa " Puji Regis bersemangat. Mendengar hal itu Dylan merasakan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Belum pernah dia mendapat pujian dari siapapun selama ini.
" Jadi kau selalu menjadi wakil untuk sekolah ? " Tanya Regis antusias.
" Ya seperti tahun sebelumnya ayah, tapi belum ada pengumuman resmi dari para guru " Jawab Dylan sopan.
" Aku nanti yang akan mengumumkannya saat upacara, tapi karena kau sudah tau jadi sepertinya itu tidak akan jadi kejutan untukmu " Goda Sekertaris Yuri.
" Hei mungkin ini bukan kejutan untukmu, tapi kejutan untuk ku " Saut Regis bangga. Regis selalu saja punya cara untuk membuat anak-anaknya terlihat berharga, walau produk gagal sekelas Ken sekalipun.
" Tidak ayah, saya juga tetap terkejut dengan terpilihnya saya menjadi wakil sekolah " Ucap Dylan merendah.
" Kalau menang kau dapat piala tidak ? " Tanya Regis berpura-pura penasaran.
" Ya biasanya begitu, piala dan piagam. Tapi sepertinya pialanya akan di simpan pihak sekolah " Jawab Dylan dengan tersenyum malu.
" Kalau begitu aku akan meminta duplikat piala itu, dan akan ku buatkan kotak kaca untuk menyimpan semua piala dan piagam mu itu " Jawab Regis bersemangat.
Mendengar hal itu Dylan semakin bersemangat untuk memenangkan olimpiade kali ini, meskipun dia yakin bisa memenangkannya seperti tahun-tahun sebelumnya, tapi tahun ini berbeda. Dia ingin menang mutlak dan mencapai hasil yang terbaik agar membanggakan ayah dan kakak-kakaknya.
" Mm... ayah " Panggil Dylan ragu-ragu.
" Apa kakak-kakak yang lain juga memiliki kotak kaca untuk menyimpan piala mereka ? " Tanyanya penasaran. Selama Dylan tinggal di mansion yang luas itu, dia hanya menjelajahi beberapa ruangan, itupun terkadang harus meminta bantuan pelayan untuk menunjukkan tempatnya.
" Tidak ada, mereka tidak punya " Jawab Regis santai, namun Sekertaris Yuri malah tersenyum-senyum mendengar pertanyaan Dylan.
" Tuan Rai dan Ken tidak pernah mengikuti hal semacam itu Dylan, hanya kau satu-satunya anak dari tuan Regis yang menonjol dalam hal akademik " Jawab Sekertaris Yuri.
" Kalau kak Rai menonjol dalam hal apa ? " Tanya Dylan penasaran, dimatanya Rai adalah orang yang sempurna, cerdas, tampan dan berwibawa, tidak mungkin dia tidak pernah mengikuti olimpiade atau perlombaan semacam itu.
" Tuan Rai ahli dalam bidang Klan, senjata, berkelahi, ekonomi bisnis, dan membuat nyonya Ruby kesal sekaligus malu " Sekertaris Yuri terkekeh setelah menyelesaikan jawabannya.
" Kenapa paman berbicara buruk tentang kak Rai ? " Sungut Dylan ketus, lalu menoleh ke arah Regis seakan meminta pembelaan.
" Apa ? " Tanya Regis bingung.
" Ayah tidak marah paman Yuri membicarakan kak Rai seperti itu ? " Tanyanya heran.
" Apa lagi yang harus ku katakan saat semua yang di katakan Yuri benar adanya " Jawab Regis enteng, lalu terkekeh bersama Sekertaris Yuri.
__ADS_1
" Kalau tuan Ken... " Sekertaris Yuri menimbang-nimbang penilaiannya seraya mengetuk-ngetukkan jarinya di dagunya.
" Tidak ada " Jawabnya kemudian.
Dylan semakin mendelik, seorang Ken yang menurutnya penuh kasih sayang dan kakak terbaik itu di anggap tidak memiliki kelebihan apapun di mata Sekertaris Yuri. Lagi-lagi Dylan menoleh ke arah ayahnya, menilik ekspresi ayahnya yang terlihat acuh dengan jawaban Sekertaris Yuri.
" Hei sudahlah, perlu kau tau, dia ini mengenal Rai dan Ken dari luar sampai dalam, dari atas sampai bawah, dari kanan sampai kiri, dari sudut ke sudut, jadi saat dia bilang begitu artinya memang ya " Ucap Regis yang risih melihat Dylan yang terus memandangnya heran.
" Aku tidak pernah peduli anak-anak ku seperti apa, bagiku mereka tetap anak-anak berumur 5 tahun di mataku, jadi saat mereka melakukan kesalahan sebesar gunung pun, sudah seharusnya aku membantu mereka menyelesaikannya, menghukum mereka jika mereka bersalah, memuji mereka jika mereka berhasil, dan memarahi mereka jika mereka nakal, karena hanya itu tugas seorang ayah. Kau tidak perlu berusaha terlalu keras untuk membuktikan dirimu layak untuk jadi anak ku, karena tidak ada kata tidak layak untuk seorang anak dari ayahnya. Semua anak berharga, kau hanya terlihat sedikit lebih muda dari kakak-kakakmu, kau menggemaskan seperti anak berumur 3 tahun di mataku, jadi bersenang-senang sajalah, jangan terlalu menjadikannya beban " Nasehat Regis santai.
" Yang harus kau tau saat berurusan dengan kedua kakakmu adalah jangan gunakan pikiranmu, mereka menaruh pikiran mereka entah dimana jika sudah bersama keluarga " Imbuh Sekertaris Yuri tersenyum.
Mendengar petuah dari Ayahnya, Dylan menjadi semakin bangga dengan sosok Regis, sosok ayah yang tak pernah di rasakannya sedari dia lahir kini bisa di rasakannya dengan sempurna, bahkan lebih dari sempurna menurutnya.
Selesai sarapan Dylan dan Sekertaris Yuri berangkat bersama-sama dengan di antar Regis sampai pintu utama. Mobil mereka pun melaju dan menghilang di jalanan yang lumayan ramai.
" Jaketmu baru ? " Tanya Sekertaris Yuri melirik Dylan mengenakan jaket berwarna hijau tua tersebut.
" Iya, ini ucapan terima kasih dari seseorang " Jawab Dylan acuh. Entah kenapa dia ingin mengenakan jaket pemberian Blair kemarin, mungkin sebagai ucapan terima kasih juga permintaan maaf karena telah berpikiran buruk tentangnya selama ini.
" Oh ya ? " Tanya Sekertaris Yuri antusias.
" Dari siapa ? " Lanjutnya.
" Teman biasa " Jawab Dylan lagi-lagi acuh.
Sekolah dan kediaman mereka tidak terlalu jauh jaraknya, hanya berkendara beberapa menit saja mereka sudah sampai di depan halte bus dekat sekolah, tempat Dylan biasa turun dari bus.
" Kenapa tidak sampai sekolah saja ? " Tanya Sekertaris Yuri heran.
" Akan banyak anak berisik dan bergosip kalau aku terlihat menumpang mobil paman sampai ke sekolah " Jawab Dylan.
" Iya juga sih, mereka akan bertanya-tanya kenapa kau bisa berangkat bersamaku, lalu mereka akan mulai mengeluarkan gosip yang tidak-tidak, melihat kegantengan wajahmu dan wajahku, bisa-bisa mereka mengira kau anak ku, itu tidak boleh, hanya akan mematikan pasaranku sebagai orang tampan yang masih single " Oceh Sekertaris Yuri asal.
" Baiklah aku turun dulu, terima kasih tumpangannya paman " Pamit Dylan sopan dan menundukkan kepalanya sebelum membuka pintu mobilnya.
" Nanti teriak yang lantang ya saat aku memanggil namamu maju ke depan " Goda Sekertaris Yuri mengedipkan matanya.
" Aku tidak akan ikut upacara kalau begitu " Jawab Dylan malas dan menutup pintu mobilnya lalu tersenyum dan melambaikan tangan pada Sekertaris Yuri yang ada di dalam mobil.
Dengan santai dia berjalan menuju sekolahnya. Terlihat sudah banyak mobil berderet-deret untuk masuk ke dalam area sekolah, dia mencari-cari mobil Blair, namun tak melihatnya.
Apa dia tidak masuk ya ?
Tanyanya dalam hati dan mempercepat langkahnya, siapa tau Blair sudah datang lebih dulu, karena hari ini mereka harus upacara.
Dengan terburu-buru Dylan berjalan menuju kelasnya, dan seperti biasa kelasnya penuh sesak oleh anak-anak yang berkumpul menunggu Blair. Namun saat dia melihat mejanya telah di kerumuni oleh murid-murid yang lain, seberkas kebahagiaan membuatnya menarik senyum tipis di bibirnya.
Dia sudah datang rupanya, tumben lebih pagi.
Batin Dylan sinis.
Dengan susah payah Dylan menerobos masuk ke kelas dan membelah gerombolan anak-anak yang mengitari mejanya.
" Gantian dong " Teriak salah satu murid, membuat Dylan mengernyit heran.
" Aku juga "
" Iya aku juga ingin duduk di kursi Blair sebentar saja " Suara-suara para gadis saling bersaut-sautan, terkadang di iringi rasa kesal dan kagum.
Dylan semakin bingung, dia semakin keras memisah anak-anak dan betapa kecewanya dia melihat gadis lain sedang duduk di kursi Blair.
Cih.
__ADS_1
Dylan tersenyum sendiri memikirkan kebodohannya.
Sudah ku duga dia tidak akan datang sepagi ini, anak manja sepertinya berangkat pagi, aku akan berlutut di depannya.
Cibirnya sinis. Dia langsung mendudukkan diri di kursinya begitu dia berhasil sampai di tempat duduknya.
Dia melihat jam tangannya, masih kurang 20 menit lagi sampai bel masuk dan memulai upacara, dia akan menggunakan waktunya untuk belajar. Dylan mengeluarkan bukunya dan mulai membaca kumpulan materi pelajaran yang tertulis disana. Sejenak dia terlarut dalam buku bacaannya, hingga suara seseorang membuatnya terhenti dari membaca.
" Sudah hampir bel masuk tapi kenapa Blair belum datang juga, apa dia tidak masuk ya ? " Suara seorang gadis mau tidak mau membuat Dylan ikut melihat lagi jam tangannya. Benar saja, kurang 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi, tapi tidak ada tanda-tanda kehadirannya.
" Ya ampun !! " Pekik salah seorang gadis seraya menunjukkan ponselnya kepada semua orang.
" Dia mengupload story di Instagr*mnya, dia sedang sakit flu " Ucapnya sedih.
Mendengar hal itu pundak Dylan yang tadinya tegap, perlahan-lahan merosot turun, dia sedikit mencondongkan tubuhnya kesamping untuk mendengarkan seorang gadis yang membacakan caption dari gambar yang di unggahnya.
" Aku rasa aku terserang flu sejak semalam. Hidungku terus saja gatal dan bersin-bersin, emoticon sedih " Suaranya lantang dan di sambut sorakan penuh iba dari yang lainnya.
" Dia menguplaodnya semalam pukul 2 pagi " Lanjutnya memberi informasi.
" Kasihan sekali "
" Mungkin dia tidak masuk hari ini "
" Semoga dia cepat sembuh "
Dan semua murid pun membubarkan diri dengan kecewa.
Dia terlihat sehat kemarin, kenapa bisa tiba-tiba flu dalam semalam.
Batin Dylan penasaran. Bel masuk pun berbunyi, dan dia mengemasi buku-bukunya bersiap-siap pergi turun ke lapangan mengikuti upacara.
Kejadian semalam..
Setelah mendengar penjelasan Sekertaris Yuri tentang hidup Blair yang sebenarnya, Dylan mengambil tas belanja berisikan jaket yang di berikan oleh Blair.
Jam telah menunjukkan lewat tengah malam, tapi Dylan terus saja kepikiran Blair, jika memang benar yang dikatakan Sekertaris Yuri tentang Blair, maka dia merasa bersalah karena memandang Blair sebelah mata dan buruk.
" Masa iya dia anak yang tertindas orang tuanya sendiri ? " Gumam Dylan seraya mengamati jaket yang terhampar di ranjangnya.
" Tidak mungkin, dia pasti bukan anak seperti itu, dia terlihat senang saat bertemu kak Rai, dia pasti memang merencanakan akan merebut Kak Rai dari kakak ipar " Ocehnya yakin.
" Tapi, dia terlihat kesal saat menerima telepon yang menyuruhnya mendekati kak Rai " Sanggah Dylan sendiri saat gambaran Blair yang menghentak-hentakkan kakinya kesal dan memukul-mukul manekin yang ada di hadapannya, terputar kembali di ingatannya.
" Sepertinya dia anak yang baik, buktinya dia melarangku mendekati kakak ipar saat ada kak Rai, karena mengira kakak ipar adalah kekasihku, dia takut aku sakit hati " Dylan kembali menyanggah pendapatnya sendiri.
" Ah tapi dia terlihat sinis saat memandang kakak ipar dan mengatakan kakak ipar berselingkuh, ya benar, dia tidak mungkin anak baik " Gumamnya lagi penuh kelabilan.
" Tapi dia menyelamatkanku saat di rumah sakit " Sanggahnya lagi.
" Ah itu kan karena dia takut dengan kak Rai " Pikirnya lagi.
" Aish terserahlah, mau dia anak baik atau tidak aku tidak peduli " Dylan menghempaskan dirinya di atas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya, menutup wajahnya dengan bantal.
" Berhenti memikirkannya !! " Teriaknya kesal sendiri.
Sementara Blair yang sudah terlelap tidur bangun dan merasakan hidungnya gatal dan terus saja bersin-bersin hingga hidungnya memerah dan berair.
" Aish !! " Decaknya kesal seraya mengusap-usap kasar hidungnya.
" Mendadak gatal sekali " Gerutunya kesal.
Dia mencari remote ac nya bermaksud mematikannya ac nya yang menurut perkiraannya itulah yang membuatnya bersin-bersin.
__ADS_1
" Besok aku harus memanggil tukang ac, sepertinya ac itu sudah kotor dan banyak debunya " Gumamnya kesal dan kembali tertidur dengan masih bersin-bersin.