Cinta Big Bos

Cinta Big Bos
Si Pencuri Kehidupan ( part 1 )


__ADS_3

November. Bulan di mana negara beriklim tropis mulai memasuki awal musim penghujan, cuaca mendung gelap dan rintik-rintik hujan turun mengguyur sedari pagi. Perubahan musim membuat udara terasa sedikit gerah tapi sekaligus dingin. Tingkat kelembaban meningkat drastis.


Suasana di pinggiran kota lumayan sepi, tidak banyak orang berlalu lalang di jalan. Mereka tidak ingin air hujan membasahi kepala juga pakaian mereka. Mereka lebih memilih tetap tinggal di rumah, sekolah atau tempat kerja mereka.


Namun tidak dengan lima laki-laki dewasa yang sedang berkumpul di sudut gang buntu di salah satu pinggiran gedung bertingkat itu. Mereka malah terlihat santai saja bermandikan gerimis hujan.


Seorang laki-laki berpakaian rapi, dengan setelan jas berwarna biru gelap dan sepatu kulit hitam mengkilat itu terlihat gemetaran di pojokan. Terdesak oleh ke empat laki-laki lainnya yang penampilannya sangat berbanding terbalik dengannya.


Wajahnya pucat dan hanya bisa tertunduk pasrah. Rambutnya yang semula tertata rapi itu mulai sedikit berantakan akibat tetesan gerimis.


" Hei kalau bicara yang benar dong " Salah seorang yang bertubuh paling besar dari ke empat laki-laki itu melayangkan tamparannya pada laki-laki malang yang sedang terpojok itu. Dia sedikit terhuyung ke samping.


" Hahaha... " Gelak tawa meledek meluncur dari yang lainnya.


Laki-laki berpakaian rapi itu hanya bisa diam dan tetap menunduk pasrah. Menatap ujung sepatunya dengan pandangan mata yang kabur akibat tetesan air hujan dan genangan air mata di pelupuk matanya.


Semakin merasa besar kepala, laki-laki bertubuh besar itupun sedikit membungkukkan badannya. Menyejajarkan wajahnya pada laki-laki berkaca mata yang ada di hadapannya yang sedikit lebih pendek di bandingkan dirinya.


" Kau kan kaya, kalau uangmu tidak di bagi-bagi lalu untuk apa lagi ? Lagipula kau kan tidak perlu repot-repot kerja seperti kami. Masa kau tega lihat teman sedang kesusahan ? " Tanyanya pelan, tapi di dengar bagaimana pun juga kata-katanya lebih seperti sebuah pemaksaan.


" Ta-tapi aku benar-benar tidak memegang uangnya, ayahku orang yang keras " Laki-laki berkaca mata itu mendongakkan kepalanya dengan ragu-ragu untuk mengungkapkan alasannya.


" Cuih ! " Pria bertubuh besar itu menegakkan punggungnya lalu meludah tepat di kaki laki-laki berkacamata tersebut.


" Ayah, ayah, ayah... kau selalu memakai alasan yang sama sejak dulu. Apa kau ini anak kecil? Kau masih bayi? " Ejeknya dengan penuh kekesalan.


Ketiga laki-laki lainnya semakin mengeraskan tawa mereka sembari menirukan gaya bayi yang sedang menangis.


Malu, kesal, geram. Laki-laki berkacamata itu hanya bisa menundukkan kepalanya lagi dan mengepalkan tangannya. Menelan bulat-bulat setiap ejekan dan bullyan yang dia terima.


Bukankah dia sudah bisa bertahan selama 10 tahun belakangan? Jadi tak masalah kalau dia bertahan sedikit lagi. Ya sedikit lagi. Begitu terus di ulangnya di dalam kepala.


" Aku tidak mau tau, pokoknya besok berikan aku uangnya atau kalau tidak aku tidak akan berteman lagi dengan mu " Ancam laki-laki bertubuh besar itu sembari kembali menempeleng kepala si pria berkacamata.


" A-aku ti-tidak.... " Pria berkacamata itu mencoba menjawab, namun suaranya lebih pelan di bandingkan suara tetesan gerimis yang turun di atas tong sampah di sampingnya.


" Kau bilang apa ? " Tanya laki-laki bertubuh besar itu sembari mendekatkan telinganya ke dekat si pria malang itu. Namun si pria itu sudah kembali terdiam.


" Kalau bicara yang keras, jangan bergumam seperti itu " Dia mulai kesal dan kembali menempeleng kepala lawan bicaranya.


Cukup sudah !! Si pria kacamata itu merasa sangat tidak punya harga diri lagi. Mungkin saja tempelengan itu sudah yang ke seribu atau sejuta kali dia terima sejak duduk di bangku SMA.


Ya mereka semua adalah teman satu SMA.


Selama sepuluh tahun terakhir dia terus saja mendapatkan bullyan dari ke empat laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Mulai dari kekerasan verbal lalu merangkak naik menjadi kekerasan fisik. Tak jarang juga mereka merampas uang sakunya, atau seenaknya memakai barang-barangnya.


Bukannya dia tidak pernah mencoba melawan bullyan yang di alamatkan padanya. Tapi karena fisiknya yang lemah dan bertubuh kecil, hal itu tentu saja sia-sia. Ke empat laki-laki itu akan semakin keras menghajarnya jika dia coba melawan.


Tapi hari ini cukup sudah. Dia sudah jadi pria dewasa, pria dewasa yang harus bisa menjaga dirinya sendiri. Pria dewasa tidak menangis.

__ADS_1


" Kenapa kalian melakukan ini padaku ? " Tanya pria berkacamata itu dengan sedikit lebih keras. Mencoba peruntungannya. Mungkin saja kali ini perlawanannya membuahkan hasil.


Ke empat orang yang sedang tertawa-tawa mengejek itu langsung terdiam dan serempak melayangkan pandangannya pada laki-laki di depan mereka. Laki-laki yang masih tertunduk itu.


" Waaah... " Lenguhan panjang dari laki-laki berambut sedikit gondrong.


" Hei Joni sepertinya teman kecil kita sudah sedikit lebih berani rupanya " Ucapnya dengan nada sarkas.


Joni, si laki-laki bertubuh besar dengan tinggi lebih dari 170an itu kemudian berkacak pinggang.


Dia mendongakkan kepalanya menatap langit. Sedikit syok mendengar laki-laki yang sedari tadi di tatapnya itu mulai berani mengajukan pertanyaan.


" Hei brengsek, bukan kah sudah ku bilang jangan ajukan pertanyaan apapun, tugasmu hanya boleh menjawab iya saja " Teriaknya kesal sembari melayangkan bogem ke wajah pria malang itu.


Dia langsung jatuh tersungkur. Darah segar mengalir dari hidungnya.


" Hahaha.... " Gelak tawa langsung menggema dari mereka semua, para pembully.


" Makanya jangan sok dan turuti saja apa kata Joni " Saut laki-laki yang lainnya sembari terus mentertawakan si pria malang itu.


" Sudah Jon, habisi saja, jangan beri ampun lagi " Saut yang lainnya.


Joni, yang sepertinya memang yang paling kuat di antara ke empat laki-laki itu semakin pongah.


Dia menyeringai sombong.


" Kalau dia ku habisi sekarang, nanti siapa dong yang akan mentraktrik kita makan " Ucapnya dengan sinis. Lalu dengan tanpa merasa bersalah sedikit pun dia menginjak tangan si pria yang sudah jatuh itu.


Si pria malang hanya bisa menjerit pilu di iringi dengan gema tawa yang lainnya.


Mati. Sepertinya itu adalah satu-satunya hal yang di inginkan si pria malang saat ini.


Toh keadilan tak berpihak padanya. Dia hanya menjadi orang lemah yang selalu tertindas.


Dia pasrah, dia memejamkan matanya. Guyuran gerimis semakin lebat, jatuh menimpa wajahnya.


Kalau pun harus mati sekarang ya sudah mati saja


Batinnya tidak peduli lagi.


Namun saat dia telah mengikhlaskan segalanya, takdir seolah masih belum berpihak padanya.


Samar-samar dia mendengar suara seorang bocah laki-laki. Suara yang akan mengubah hidupnya di masa mendatang.


Suara si penyelamatnya.


" Kalian sedang apa ? " Tanya seorang bocah laki-laki berseragam sekolah dari ujung gang.


Dengan percaya diri menatap kelima pria dewasa yang sedang bersama itu.


Joni dan ketiga temannya menoleh bersamaan. Di tengah gerimis mereka melihat bocah ingusan yang sedang main hujan-hujanan.

__ADS_1


" Hei nak kalau mau main hujan-hujanan di sebelah sana saja, di sini bukan tempatnya anak-anak " Salah seorang dari ketiga laki-laki itu menjawab dengan malas, lalu mengibaskan tangannya menyuruh si pelajar untuk pergi.


" Cih " Senyum miring penuh kekesalan tersungging di bibir si pelajar.


" Anak-anak katanya " Gumamnya jengah.


Dia menghela napas sesaat, kemudian melonggarkan bahunya. Bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang harus dia hadapi jika memutuskan ikut campur dalam urusan para om-om bengal di hadapannya itu.


" Ya sudahlah, suasana hati ku juga sedang buruk, tak ada salahnya melampiaskan kepada mereka " Gumamnya lagi lalu menatap para laki-laki di ujung gang itu.


" Kita lihat siapa yang anak-anak " Teriaknya dan tanpa basa basi dia langsung berlari menghampiri mereka semua.


Dengan membabi buta melayangkan pukulan, tendangan, tinjuan dan segala macam jurus bela diri yang di kuasainya.


Hanya dalam hitungan menit, ke empat laki-laki itu sudah babak belur di hajarnya. Mereka semua terkapar di tanah basah. Tidak sadarkan diri. Darah bercampur air hujan menggenang di sekitar mereka.


" Cih bilangnya aku anak-anak, tapi cuma segini kemampuan kalian " Ejeknya sombong sembari mengibaskan tangannya. Menghilangkan bercak darah yang menempel di punggung tangannya.


Si pria malang berkacamata itu hanya meringkuk di pojokan, melihat ke empat temannya yang sudah tak berdaya.


Dalam hati dia sangat senang melihat para begundal itu tak sadarkan diri.


Dia merasa dendamnya terbalaskan meski bukan dari tangannya sendiri.


" Hei om " Suara anak laki-laki itu membuatnya terhenyak dari lamunannya. Dia menengadahkan wajahnya melihat pelajar penolongnya itu. Namun samar-samar, tanpa kacamata dan dengan banyaknya air gerimis di matanya pandangannya kabur. Wajah pelajar itu tidak jelas.


" Lain kali jangan mau di perlakukan begitu, lawan mereka. Kalau kalah lawan lagi, cari cara supaya bisa jadi lebih kuat. Laki-laki tidak boleh lemah " Ucap si pelajar itu padanya.


Entah harus senang atau marah mendengar dirinya di nasehati oleh anak bau kencur itu. Tapi tidak bisa di sangkal, dirinya yang pria dewasa saja tidak bisa menjaga diri sendiri dan malahan harus di bantu oleh seorang pelajar SMA.


" Om bisa bangun sendiri kan ? " Tanya si pelajar lagi.


Dengan ragu-ragu dia mengangguk pelan.


" Ya sudah kalau begitu " Jawab pelajar itu datar.


Dia penasaran siapa pelajar itu, kenapa dia bisa begitu kuat dan juga percaya diri. Sangat jauh berbanding terbalik dengan dirinya yang lemah dan selalu tertindas.


" Si-siapa nama mu " Tanyanya memberanikan diri. Tapi lagi-lagi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Hanya gerakan komat-kamit.


" Kak Rai, kenapa bolos sekolah lagi. Haish !!! " Suara teriakan dari ujung gang itu membuat mereka berdua terlonjak kaget.


Seorang pelajar lain datang dengan tergopoh-gopoh.


" Kalau bolos lagi ku adukan ayah loh " Marahnya kesal pada si pelajar penolong itu.


" Dasar tukang adu. Ya sudah ayo pulang " Jawabnya kesal lalu memiting leher lawan bicaranya.


Dan mereka berdua pun pergi meninggalkan si pria berkacamata itu sendirian.


Rai, jadi namanya Rai.

__ADS_1


Batinnya takjub.


__ADS_2